Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Monday, 23 July 2018

Nikmatnya perawan Nella.

Cerita ini bermula waktu jumat malam sabtu sekitar jam setengah 12 malam. Tiba-tiba aku menerima telepon dari Nella, teman kuliahku dulu. Sudah lama aku gak dengar kabar darinya. Dulu aku sering jalan bareng sama dia. Biasalah, waktu di kampus kan kita primodial banget tapi gak ada ruginya juga temenan sama Nella kok, orangnya cantik, tinggi semampai, body aduhai dan yang terakhir yang aku suka banget dari Nella adalah rambutnya. Dari awal kuliah sampai selesai rambutnya yang hitam legam itu selalu panjang. Apalagi kalau di tata sedikit menggelung, hmmm… aku selalu menganggap dia barbie doll banget.
"Hallo Nell ? ada apa nih, tumben telpon aku. Malem-malem gini lagi !" tanyaku. "Lik, bisa jemput aku di XXX gak ?" tanyanya sambil menyebut salah satu tempat hiburan malam yang cukup ternama di kota Surabaya. "Ha ? Kamu ada di Bandung? Bukannya kamu di jakarta ? Terakhir aku dengar kamu udah kerja di Jakarta ?" tanyaku heran, ngapain malam-malam Nella tiba-tiba ada di Bandung. "Lik ceritanya nanti saja deh, sekarang please jemput aku. Sudah malam banget nih" rajuk Nella padaku sedikit memelas. "Ok deh, kamu tunggu sebentar, aku jemput sekarang, 10-15 menit deh" jawabku. Kemudian aku bersiap-siap mengeluarkan mobil untuk menjemput Nella. Dalam perjalanan pikirannku penuh dengan pertanyaan. Pertanyaan terbesar tetap saja, ngapain Rara malem-malem ada tempat hiburan malam di Bandung, sendirian lagi. Yang lebih aneh kenapa minta jemput sama aku ? makin aneh ! Sesampainya di tempat hiburan malam tersebut, aku memarkir mobilku. Setelah turun, aku segera menemukan Nella sedang berdiri di pintu masuk. Kondisinya agak aneh. "Hallo Nell ! Sendirian ?" tanyaku. "Iya Lik..” jawabnya lemah. Matanya kelihatan merah sekali. "Nella,  kenapa kamu ada disini ? Hmm.. sorry ya, kamu mabuk ya ?" tanyaku menyelidik. "Lik bisa kita berangkat sekarang gak ? gak enak nih dilihatin sama orang-orang" ajaknya. Aku melihat sekeliling, memang sih beberapa security dan pengunjung yang baru datang memperhatikan kita dengan tatapan aneh. "Oke deh, ayo. Mobilku kesebelah sana." ajakku ke Nella untuk naik ke mobil. Setelah menghidupkan mobil dan mengemudikan keluar areal parkir, aku bertanya ke Nella "Mau kemana nih Nell ?" tanyaku. "Kemana saja deh Lik” jawab Nella yang duduk disebelahku. “Kamu menginap dimana ?” tanyaku. “Belum punya tempat nginap” jawabnya singkat. “Loh, gimana sih. Sudah malam banget loh Nell, aku anter cari hotel ya” tawarku. “Lik aku boleh nginap tempat kamu gak. Semalam saja, aku lagi butuh di temani nih” pintanya. “Kamu gak apa-apa nginap ditempat aku ? Rumah kontrakan aku kecil loh, berantakan lagi. Biasa, rumah bujangan” jawabku sambil tersenyum. “Aku dah tahu kamu memang berantakan dari dulu” jawabnya tersenyum kecil. Akhirnya dia tersenyum juga “Ya sudah kita pulang saja ya, kayaknya kamu juga sudah capek banget.” ajakku. “Dari Jakarta kapan ?” tanyaku. “Tadi pagi” jawab Nella. “Jadi dari jakarta kamu langsung ke xxx ?” tanyaku heran. Dia cuma tersenyum kecil. Dasar nakal ! “Sorry nih Nell, kamu lagi ada masalah ya ?” tanyaku. Dia terdiam sejenak, kemudian menjawab “Ya begitu deh.” jawabnya. “Boleh aku tau gak masalahnya sampai kamu jadi kayak gini” tanyaku lagi. “Lik boleh gak nanya dulu gak ? Please…” pintanya. “Aku cuma butuh di temani sekarang, tapi janji aku ceritain, kamu kan orang yang jadi repot gara-gara masalahku ini” lanjut Nella. “OK deh, kalau kamu lagi gak pengin ngomongin, aku gak bakal tanya lagi” jawabku. Sesampainya di rumahku, ternyata Nella gak ada persiapan apa-apa untuk pergi ke Surabaya, dia cuma membawa tas kecil yang berisi dompet dan peralatan kosmetik. “Nell pakai bajuku saja deh, baju kamu pasti sudah kotor dipakai perjalanan” kataku sambil memberi Rara bajuku yang paling kecil dan celana pendek berkaret. “Ok deh” jawabnya menerima baju tersebut. Kemudian nellN masuk kekamar mandi membersihkan badan dan berganti pakaian. Sementara aku membersihkan kamarku untuk ditempati Rara dan aku menggelar kasur di ruang tamu untuk tempat aku tidur. Aku memang punya kasur cadangan untuk persiapan kalau ada keluarga atau teman yang mau manginap. “Nell kamu tidur di kamar aku saja ya, itu aku sudah siapkan” kataku ke Nella. “Aduh sorry Malik aku jadi merepotkan banget” katanya. “Terus kamu dimana ?” tanya Nella. “itu di ruang tamu, aku punya kasur cadangan kok” jawabku. “Kamu sudah makan malam ?” tanyaku. “sudah, pakai beberapa gelas bir” jawabnya sambil ketawa. “Dasar kamu… Ya sudah aku punya french fries sama nugget, mau aku gorengin gak ?” tawarku. “Bolehlah, dari pada gak ada apa-apa” jawabnya sambil tertawa kecil. Akhirnya aku memasakkan dia kentang goreng, nugget dan sosis, memang cuma ada itu di kulkasku. Aku juga membuatkan dia teh hangat. Setelah makan dan minum, terlihat Nella agak segaran dikit. “Ya sudah Nell, kamu tidur saja sekarang, sudah jam setengah 2 ini” kataku. “Lagian aku juga sudah ngantuk banget” lanjutku. “OK deh” jawab Nella yang kemudian beranjak masuk ke kamar, sebelum masuk dia sempat melambaikan tangan ke aku sambil tersenyum. Dasar ni orang, merepotkan tanpa perasaan Kemudian aku rebahan di kasur dan menyalakan TV. Tv memang ada di ruang tamuku. Aku mengecilkan suaranya supaya tidak mengganggu Nella. Walaupun aku sudah mengantuk, tapi susah sekali aku memejamkan mata. Sekitar 15 menit kemudian, Nella keluar dari kamar dan menghampiri aku. “Ada apa Nell ? butuh sesuatu ?” tanyaku. Nella cuma diam tapi kemudian rebahan disampingku, bahkan dia menarik selimut yang aku pakai supaya dia kebagian. “Kan aku sudah bilang Lik, aku lagi butuh di temani. Aku boleh tiduran disini gak ? Aku masih pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kamu” kata Nella. “Tapi Nell, kita kan beda” jawabku. “Beda gimana ?” tanya Nella yang sudah rebahan disebelahku. “Ya kamu kan cewek, aku cowok, terus kita sudah sama-sama dewasa, apa kamu gak takut” tanyaku. “Hmmm.. masa iya kamu mau menyakiti aku ? Setau aku dari dulu kamu kan baik sama aku Lik.” jawab Rara. Aku cuma menarik nafas, pikirku mungkin aku baik sama dia, tapi kan aku juga cowok biasa, mana ada cowok yang gak pusing ada cewek cantik tidur disebelahnya “Ya terserah kamu saja sih, walau menurutku agak aneh. Tapi berhubung kamu sedikit mabuk wajarlah” kataku. Rara cuma tersenyum kecil. “Nell, ngapain kamu ada di Surabaya, terus dari sekian banyak orang di Surabaya kenapa sih kamu minta aku yang jemput ?” tanyaku. “Gak tau Lik. Di pikiranku cuma ada kamu yang bisa aku percaya dan aku repoti” jawabnya. Aku tersenyum kecil, sialan ini cewek, di baikin malah manfaatin. “Inget waktu kuliah dulu gak Lik, kamu kan bantu aku terus” lanjut Nella. Aku terdiam mengingat masa lalu, memang sih Nella dulu gak semangat banget kuliahnya, kalau gak dibantu mungkin gak selesai. “Inget waktu skripsiku dulu gak ? Kan kamu banyak banget bantu aku” lanjut Nella. “Kayaknya aku gak bantuin deh, tapi membuatkan” jawabku sambil tertawa. “Ye… tapi kan aku udah bayar pakai makan-makan” jawab Rara sambil memukul lenganku. “Masa sih bayarnya cuma makan-makan” jawabku sambil terus tertawa. “Jadi dulu gak ikhlas ini” tanya Nella cemberut. “Ya ikhlas lah, namanya juga teman” jawabku. kami berdua tertawa. “Nell, seinget aku, kamu dulu cewek baik-baik banget deh. Walau kamu trendi abis, selalu gaya, tapi gak pernah aneh-aneh. Tapi coba lihat sekarang, tiba-tiba datang ke Surabaya, mabok, terus menginap di tempat cowok lagi” kataku. Rara cuma terdiam sambil memandangi cincin yang dipakai di jari manisnya. Kemudian dia melepas cincin itu dan meletakkannya di lantai. “Ini gara-gara tunanganku Lik” kata Nella lirih. “Jadi kamu sudah tunangan ?” tanyaku. Rara cuma mengangguk kecil. “Dulu..” jawabnya singkat. “Kok dulu ?” tanyaku heran. “Sampai siang tadi sih Lik. Hari ini kan libur, maksud aku sih mau istirahat saja di rumah. Tapi tiba-tiba tunanganku dateng sama seorang cewek. Dia mau memutuskan tunangan kita. Dia mau menikah sama cewek itu minggu depan Lik, cewek itu sudah hamil” kata Nella sambil terisak. “Oh gitu” jawabku prihatin. “Masalahnya dia sudah melamar aku Lik,
 tanggal pernikahan juga sudah ditentuin, persiapan juga sudah dimulai” lanjut Nella dengan tangisnya yang menjadi. “Mau bilang apa coba aku sama keluargaku Lik, aku malu banget” lanjut Nella menangis. “Ya mau bagaimana lagi Nell, masalahnya memang berat banget” kataku kemudian memeluk dia. Lama sekali Nella menangis di pelukanku. Aku gak bisa banyak komentar, memang masalahnya pelik banget sih. Setelah tangis reda, pelukan kami lepaskan, aku dan Nella rebahan saling bersisian kembali. “Mungkin memang dia bukan jodoh kamu Nell” kataku ke Nella. “Iya sih, tapi masa sih dia meninggalkan aku begitu saja” jawab Nella. “habis mau gimana lagi Nell ? Anak yang dalam kandungan cewek itu gimana ? Kan harus ada yang tanggung jawab” jawabku. “Kalau misalnya kamu memaksakan nikah sama dia, apa kamu mau seumur hidup tersiksa mengingat cowok yang kamu nikahin ternyata gak bertanggung jawab sama darah dagingnya sendiri” “Iya juga sih. Kalau aku jadi cewek itu, aku pasti juga nuntut tanggung jawab” kata Nella. “Ya masih untung lah mantan tunangan kamu masih mau tanggung jawab” kataku. “Sebenernya dia dulu pernah minta ML sama aku, tapi aku tolak Lik. Mungkin kalau dulu aku kasih enggak jadi begini kejadiannya” kata Nella blak-blakkan. “Walaupun demikian Nell, menurut aku gak bisa jadi alasan terus dia selingkuh dan menghamili cewek lain” Kataku. “Dasar cowok, kenapa sih pikirannya seks melulu” kata Nella sedikit meninggi. “memang tuh, makanya aku gak mau pacaran sama cowok” jawabku sambil tertawa. Nella ikutan tertawa. “Malik, kamu sudah pernah ML gak ?” tanya Nella menyelidik. Aku cuma tersenyum kecil. “Kenapa gak jawab ? Sudah pernah ya ?” tanya Nella dengan sangat ingin tau. “Tuh kan diam saja, berarti sudah pernah. Dasar cowok sama saja, pikirannya gak jauh-jauh dari selangkangan” kata Nella sambil memukuli dadaku. “Ya walaupun sudah pernah tapi aku kan gak mengkhianati tunanganku dan menghamili cewek lain” jawabku menggoda Nella sambil tertawa. “Sama saja, dasar cowok. Brengsek semua” kata Nella sambil mengubah posisi yang awalnya menghadapku menjadi menghadap keatas. Aku masih tertawa. “Lik memang ML enak banget ya, kenapa banyak banget sih yang belum nikah tapi sudah ML, sampai hamil lagi” tanya Nella. “Enggak Nell, ML sakit banget, makanya aku gak mau lagi” jawabku becanda. Nella mencubit pinggangku. “Ihhhh… di tanya serius malah becanda” kata Nella. “habis kamu pakai tanya segala. Ya pasti enak lah, kalau enggak kenapa semua orang pengen ML dan jadi ketagihan lagi” Kataku. “Mungkin kalau ML gak enak manusia sudah punah kali. Gak ada yang mau punya anak kalau ML gak enak atau sakit” kataku bercanda. Nella cuma ketawa kecil. “memang enaknya kayak gimana sih” tanya Nella. Aku terdiam sejenak. “Gimana ya Nell, aku susah untuk menjelaskannya, tapi memang ML kegiatan paling enak dari semua kegiatan. Entar kamu juga mengerti kalau sudah mengalami” jawabku. “Hmm… enaknya kayak coklat gak ?” tanya Nella semakin aneh “Gimana ya Nell, kalau kita makan coklat kan rasa enaknya konstan, sebanyak yang kamu makan ya enaknya kayak gitu saja. Tapi kalau ML enaknya ada tahapannya. jadi enaknya berubah-ubah tergantung tahapnya, kayak ada sesuatu yang dituju, ya orgasme itu” jawabku. “memang orgasme itu kayak apa sih ?” tanya Nella lagi. “Aku gak mengerti orgasme cewek ya, tapi kalau di cowok sih orgasme biasanya bareng sama keluarnya sperma. Di cewek kayaknya sih mirip, habis kalau cewek sudah orgasme biasanya vaginanya banjir lendir” jawabku. “Gitu saja ?” tanya Nella. “Ya enggak lah” jawabku. “Kalau sudah orgasme badan rasanya rileks banget, kayak di awang-awang gitu deh sangking enaknya”. lanjutku. “Jadi mau..” kata Nella dengan muka pengen. Aku mendorong jidat Nella sambil berkata “sudah tidur sana, pikiran kamu sudah kacau tuh”, walaupun sebenarnya aku juga jadi mau “Tapi bener Lik, aku jadi mau. Kamu mau gak ?” tanya Nella. Aku cuma diam. “Kenapa Lik, aku kurang cantik ya ? atau aku kurang seksi sampai kamu gak mau ?” tanya Nella. “Bukan begitu Nell. Kamu tuh lagi mabuk, belum sadar bener. Pikiran kamu jadi kacau. Mendingan kita tidur saja deh, dari pada melakukan sesuatu yang mungkin nanti kita sesalkan besok pagi.” kataku. Nella mengangguk kecil. “Ya sudah, kita tidur. Tapi sebelum tidur aku boleh peluk kamu gak ? Sekali saja..” tanya Nella. Aku memandangi Nella kemudian memeluknya. Nella melingkarkan tangannya di leherku sedang aku memeluk pinggang langsing Nella. Paha Nella menjepit pahaku di selangkangannya. “Makasih ya Lik, kamu selalu bantu aku kalau aku ada masalah” kata Nella. “Iya, iya, sekarang kamu tidur istirahat, biar pikiran kamu tenang besok” kataku sambil mengelus-elus rambutnya. Kemudian aku mengecup kening Nella. Pelukan Nella makin erat, aku melanjutkan mengelus-elus rambutnya, kadang aku mengelus punggungnya. “Lik cium lagi dong” kata Nella. Aku mengecup keningnya lagi. “Bukan disitu” kata Nella lagi. “Disini ?” kataku sambil menunjuk pipinya, kemudian aku mengecup pipi yang merona merah itu. “Bukan disitu” kata Nella lagi sambil menutup mata dan memajukan bibirnya. Wah si Nella bener-bener menguji imanku. Sebenarnya aku sudah nafsu banget dari tadi, tapi dalam hatiku aku gak mau manfaatkan cewek yang lagi gak 100% sadar. Aku kecup bibirnya. Tapi setelah aku kecup Nella masih menutup mata dan menyorongkan bibirnya ke aku. Aku kecup sekali lagi, kali ini agak lama. Nella bereaksi dengan ikut menghisap bibirku. Aku lepas ciumanku, kemudian aku memandang Nella yang sedang melihatku dengan penuh harap. Well… wtf lah, aku gak peduli lagi, akhirnya aku cium Nella dengan buas. Aku mencium Nella dengan menghisap bibir bawahnya, Nella membalasnya dengan menghisap bibir bawahku. Kadang-kadang aku masukkan lidahku ke mulutnya. Awalnya Nella gak bereaksi, tapi lama-lama saat lidahku masuk dia menghisap kencang, kadang-kadang Nella gantian memasukkan lidahnya ke mulutku. Selama ciuman, aku mengelus rambutnya, kemudian elusanku turun ke punggungnya, turun lagi ke pinggangnya. Kemudian aku memberanikan diri untuk meremas pantatnya. Nella melenguh kecil “Uhh….” sambil menekan selangkangannya kearah selangkanganku. Setelah beberapa kali mengelus bagian belakang sampai meremas pantatnya, aku meremas dadanya. Hmmm… payudara Nella mantap sekali. Besar sekali dibandingkan dengan tubuhnya. “Hmm… Hgmmm.. Hgmmm” lenguh Nella karena payudaranya diremas-remas olehku, dengan tidak melepaskan ciumannya. Birahi memuncak saat meremas-remas sepasang daging kenyalnya. Kemudian aku mengelus punggungnya kembali. Kali ini aku masukkan tanganku kedalam kausnya dan mengelus punggungnya langsung di kulit. Shit, ternyata Nella tidak pakai bra, pantas saja tadi waktu payudaranya aku remas dari luar terasa kenyal sekali. Saat aku mengelus-elus punggungnya, aku elus juga bagian samping tubuhnya sehingga pangkal payudara ikut terelus. Sepertinya Nella sangat menikmati elusanku, kemudian dia memegang tanganku dan mengarahkan tanganku agar meremas-remas payudaranya. Gila, asyik banget payudaranya. Payudaranya mancung ke depan dengan pentil yang besar ! Aku sangat menikmati meremas-remas payudaranya, terkadang aku memainkan pentilnya. Sepertinya Nella juga sangat menikmatinya, tubuhnya bergetar sambil mengeluarkan lenguhan-lenguhan kecil “Uggrhh….ugrh….”
Pahaku yang dijepit diantara selangkangan sengaja aku gesek-gesekkan ke memeknya supaya Nella makin terangsang. Nella meresponnya dengan ikut menekan-nekan memeknya lebih kuat ke pahaku. Kalau aku berhenti menggesekkan pahaku, maka dia menggerak-gerakkan sendiri pinggulnya. Tangan kananku kembali meremas pantatnya. Kali ini aku masukkan tanganku ke celananya. Berhubung dia pakai celana berkaret, aku dengan mudah memasukkan tanganku. Dan yang bikin aku lebih kaget ternyata Nella tidak memakai celana dalam. Aku dengan mudah meremas pantat bulat itu. Setiap aku meremas pantatnya, Nella makin menekan memeknya ke pahaku. Aku mencoba untuk memegang memeknya dari belakang. Saat tersentuk, tubuh Nella seperti tersetrum, sambil melenguh “Uhh….”. Hmmm… ternyata Nella benar-benar terangsang, memeknya sudah sangat basah. Sekarang aku memegang memeknya dari depan. Dan mulai mengelus-elus bibir luar memek-nya yang sudah banjir itu. Nella melepaskan ciumanku. Sekarang setiap aku menggosok bibir luar vaginanya, Nella memekik kencang “Ohgh….Ohgh…. Ohgh…..”. “Enak Lik, enak banget. Kamu apakan aku, kenapa enak banget” kata Nella sambil merem melek (membuka dan menutup mata). Dengan jari tengahku aku mencari klitorisnya, kemudian aku usap perlahan. “Akhhh…” teriak Nella saat klitorisnya aku usap. Kemudian Nella menahan tanganku, sepertinya dia tidak kuat kalau klitorisnya diusap terus. Akhirnya aku telentangkan Nella. Kemudian aku membuka kaos yang dikenakannya sehingga dia 1/2 bugil sekarang. Aku buka pahanya lebar-lebar dan aku tempatkan tubuhku diantara selangkangannya. Sasaranku berikutnya adalah payudaranya. Sekarang aku menjilati pentil payudara kanannya. Tubuh Nella begerak-gerak keenakan, sepertinya dia suka sekali aku menjilati dan menghisap-hisap pentilnya. Kadang Nella menyatukan kedua payudaranya agar lebih maju. Aku berhenti sebentar, memandang wajah Nella. Sebenarnya aku ingin sekali membuka celananya dan menusuk-nusuk memeknya dengan penisku. Tapi aku sedikit ragu. “Lik, setubuhi aku dong, aku sudah gak tahan ini” kata Nella sambil memandangku penuh harap.
Permintaan Nella seperti menghapus keraguanku entah kemana. Aku mencari celana Nella dengan mudah, apalagi dia membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian aku berdiri, membuka kaos dan celanaku, sehingga sekarang aku dan Nella sama-sama bugil. Sesaat aku memandang tubuh Nella. Badannya yang langsing tinggi dibalut dengan kulit putih mulus, di tambah payudara besar di dadanya. Kakinya yang panjang dan jenjang memiliki betis sempurna. Aku terpukau sesaat apalagi saat melihat vaginanya yang di tumbuhi bulu hitam tipis diantara pahanya yang sudah terbuka lebar. “Kenapa cuma dilihatin ?” tanya Nella. Aku terseyum kemudian menempatkan tubuhku diantara selangkangannya. Aku mencium Nella sekali lagi, dia membalasnya dengan cukup buas, kemudian ciumanku turun ke payudara besarnya. Aku cuma mau memastikan Nella cukup terangsang sebelum aku menembus memek perawannya. Saat mencium penisku menggesek-gesek memeknya walaupun belum masuk. Aku posisikan tubuhku dan menuntun penisku ke memeknya. “Nell, pertamanya sakit, tapi nanti enak kok” kataku. “Iya gue juga sering dengar”. jawab Nella. Aku mulai mendorong penisku kedalam memek Nella. Nella hanya memandangku sambil menggigit bibirnya. Saat penisku sudah masuk 1/2, Nella memekik “AKhh…sakit” . Aku berhentikan sebentar penisku. Setelah selang beberapa saat aku goyang sedikit penisku kemudian aku dorong lagi sampai full. “Aduh sakit banget” kata Nella memelas. “Tenang, paling sakitnya sebentar, nanti juga enak” kataku menenangkan. “Enggak, sakit banget, bisa kamu cabut dulu gak” pintanya sambil menahan sakit. Aku juga gak tega melihatnya akhirnya aku cabut penisku. Dan "waaawwww" Saat aku cabut penisku diselimuti darah perawannya. Dari vaginanya juga aku melihat darah mengalir. Hmmm… memang lebih banyak daripada darah perawan yang pernah aku lihat. “Lik kok berdarah sih ?” tanyanya panik. “Itu namanya darah perawan sayang. Selaput darah kamu sudah pecah” jawabku. “Aku mau kekamar mandi dulu yah, mau bersihin dulu” katanya. Aku mengantarkannya kekamar mandi dan menunggunya dari luar, untuk memastikan dia gak apa-apa. Setelah dia keluar dari kamar mandi, vaginanya sudah bersih. Tapi nafsuku sudah turun, sepertinya nafsu Nella juga sudah turun. Akhirnya kami hanya rebahan saling berdampingan, masih bugil. “Lik kok sakit banget ya” tanya Nella. “Iyalah, itu kan pertama kalinya kamu, memek kamu masih sempit ditambah ada selaput dara” jawabku. “Masih mau lanjut gak ?” tanyaku padanya. “Mau Lik, tapi pelan-pelan ya” jawab Nella. Akhirnya Aku tempatkan tubuhku diatas tubuhnya lagi. Aku mulai menciumi tubuhnya. Dari bibirnya, pipi, leher dan payudaranya. Aku seperti gak puas-puas menciumi dan menjilati tubuh mulus yang masih sekel itu. Kadang tanganku mengelus memeknya. Aku memang tidak berencana mencium vaginanya, takutnya dia shock dan merasa jijik, bisa batal orgasme malam ini Setelah Nella sudah cukup terangsang, aku arahkan penisku ke vaginanya. Kali ini Nella tidak terlihat tegang seperti waktu yang pertama. Aku dorong penisku masuk. “Heghh..heghmm…” lenguh Nella saat penisku masuk. Kali ini vaginanya tidak terlalu sulit dipenestrasi, mungkin karena tidak tegang sehingga cairan vaginanya cukup. Aku dorong penisku sampai mentok. Aku melihat ada sediki darah mengalir dari vaginanya, mungkin sisa selaput daranya masih ada yang belum pecah. Aku goyang perlahan penisku, tubuh Rara terguncang sedikit, Nella masih menggigit bibirnya. Goyanganku aku percepat sedikit, nikmat sekali memek Nella. Sangking sempitnya serasa penisku terhisap kuat oleh vaginanya. Aku percepat goyanganku, sekarang Nella mulai melenguh, “Akh…Akh…Akhhh…” seirama dengan keluar masuknya penisku di vaginanya. “Lagi ..Lagi ..Lagi” desahnya sambil memegangi pantatku seakan ingin menekannya terus. “Gila, memek kamu enak banget, sempit banget”. kataku. “Penis kamu juga keras banget, enak…” jawab Nella disela-sela lenguhannya. Aku memang tidak berniat untuk memakai gaya lain. Untuk pertama kalinya Rara cukup pakai gaya konvensional, laki-laki diatas. Dengan demikian aku bisa ngontrol tusukan penisku kedalam memeknya. Aku tusuk perlahan memek Nella, kadang aku percepat. Kadang aku berhenti sesaat kemudian aku tusuk dengan keras. Kadang aku tusuk kearah samping. Tiba-tiba tubuh Rara sedikit menegang, sepertinya dia ingin orgasme. Aku percepat goyanganku, soalnya aku mau orgasme sama-sama. Kalau sama yang perawan kadang gak mau terus kalau dia udah orgasme, cepek katanya. “Ahhh…Akhh….Aghkhh..” pekikan Nella makin keras seiring dengan makin cepatnya tusukan penisku. “Lagi sayang…lagi…lagi..” pekik Nella. Akupun merasa aku sedikit lagi akan orgasme. Tiba-tiba tubuhnya menegang dan terguncang hebat sambil berteriak “AKHHHH….” Dia mendekapku erat dan melingkarkan kakinya di tubuhku, Aku pun sudah tidak kuat lagi, tapi aku gak bisa melepaskan tubuhku dari Rara. Akhirnya aku nekat, aku tekan penisku dalam-dalam dan aku tembakkan spermaku ke rahimnya 5 atau 6 kali. Aku puas sekali menggagahi Nella komplit, dari merawanin sampai orgasme didalam memeknya. Setelah beberapa lama akhirnya penisku mengecil dan Nella melepaskan dekapannya. “Gila enak banget, pantas banyak yang ketagihan” Kata Nella setelah rebahan disebelahku. Akhirnya Nella pulang ke Jakarta hari minggu sore. Aku dan Nella beberapa kali mengulangi persetubuhan kami disela-sela aku dan dia jalan-jalan di Bandung, atau lebih tepatnya aku dan Nella jalan-jalan disela-sela persetubuhan kami.
Salam.
***************
Cerita lainnya Disini