Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Tuesday, 6 March 2018

Jihan Perawanku.

Aku mengenal yang namanya wanita sejak kecil, kakakku seorang wanita, kedua adikku wanita, ibuku wanita, hehehe… dan pembantuku juga seorang wanita.( Woles kawan)
Aku akui segala kenakalanku waktu aku kecil. Aku suka mengintip pembantuku waktu mandi, melihat mereka menyabuni susu-nya, dan terkadang melenguh saat jari-jarinya menggosok kemaluannya. Dan saat aku duduk di bangku kelas satu SMP, aku pertama kali mengerti yang namanya ejakulasi, ketika secara tak sengaja aku menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke lantai sambil mengintip lipatan kemaluan pembantuku yang sedang tidur dari celah di bawah pintu, konyol...!!! tapi aku akui itu. Aku mencoba merangsang diriku setiap hari dengan memakai BH kakakku, melipat batang kemaluanku ke dalam pahaku, dan menggesek-geseknya ke guling sambil tiduran. Oh, aku belum tahu yang namanya persetubuhan, hanya saja perbuatan itu membuatku merasa enak, apalagi ketika ejakulasi. Aku mengenal yang namanya masturbasi dari teman-teman, dipegang, terus di tarik begini & begitu, memang enak sekali, jadi aku mulai menggunakan tanganku saat mengintip dan menikmati bulu-bulu kemaluan pembantuku saat mandi. Mungkin yang paling berkesan ialah ketika aku mengintip kakakku sendiri (hihihi) lewat celah jendela, setelah dia mandi dan masuk kamar. Ahhhh, aku intip dia melepas handuknya, mengagumi dirinya di depan cermin. Ohh… baru kali ini aku lihat tubuh dewasa kakakku (yang kebetulan memang cantik, banyak penggemarnya), selain kenangan masa kecil saat kami masih oke-oke saja mandi bersama. Tanpa terasa aku pegangi kemaluanku yang menegang saat dia berbaring di tempat tidur, memegangi puting-puting susunya, dan mengangkat kepalanya saat ujung batere itu bergerak-gerak di lubang kemaluannya. "OHhhhh…" aku nikmati setiap gerakannya, sambil menggoyangkan batang kemaluanku dan menarik-nariknya. Ahhh… aku tarik nafas lega dan aku seka keringat dingin penuh dosa di pelipisku ketika aku ejakulasi, seiring dengan turunnya pantat kakakku yang sebelumnya mengejang-ngejang tak karuan. Semenjak saat itu, aku menjadi ketagihan untuk bermasturbasi, mungkin tiga-empat kali sehari. Dan pergaulanku dengan teman-temanku memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati adegan porno dari video, yang entah dari mana kasetnya. Sehingga imajinasiku menggila setiap melakukan masturbasi. Tanpa aku sadari mungkin aku perlahan menjadi seorang maniak seks. Lagi pula itu julukan teman-teman yang mengenalku sekarang, hohoho… penjahat kelamin? Akhirnya aku berhasil mengujinya ketika aku berkenalan dengan seorang cewek cantik bernama Jihan, saat itu aku kelas tiga SMP. Perkenalanku dengan gadis cantik itu mendapat berbagai halangan, baik dari teman-teman (yang sirik), keluarga kami (karena perbedaan religi), dan tentu saja para sainganku (kebetulan Jihan sendiri adalah seorang cewek idola). Hohoho.. masih aku ingat saat sepatunya mendadak terlempar ke kepalaku saat sedang enak-enak duduk, sakit memang, tapi toh ada manfaatnya, hehehe. Jadi, aku berkenalan dengannya. Kami mengakrabkan diri dan aku sempat merasa sangat bangga ketika akhirnya dia menerimaku menjadi kekasihnya, saat itu bertepatan dengan pembagian STTB, hehehe. Dan yang paling menggembirakan, ternyata aku satu SMA dengannya, dan satu kelas pula, alamak! Betapa beruntungnya aku. Kami berdua masih sama-sama polos dalam hal bercinta, mungkin itu yang membuat segalanya menjadi mudah. Dalam tempo tiga bulan aku berhasil mencium bibirnya, ehhh… enak dan lembut. Itu ciumanku yang pertama, hahaha… bergetar.. bergetar. Bayangan akan kelembutan bibirnya membuatku terangsang setiap malam, semakin liar menggosokkan kemaluanku ke guling, membayangkan tubuhnya yang tanpa pakaian menggeliat seperti di film porno saat aku masukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya, ahh… ahhh… ahh….. aku rasakan aku hampir gila karena nafsuku. Lalu, dengan sembunyi-sembunyi aku naiki mobil papaku, dan aku ajak dia berputar-putar keliling kota, hanya sebentar-sebentar, dan tentu saja aku berkompromi dulu dengan sopirku. Akhirnya aku mendapat “SIM-beli” setelah merengek-rengek setengah mampus di kaki papaku. Dan aku mulai mengatur rencana bagaimana aku bisa menikmati tubuh kekasihku, daripada hanya bibirnya, lagipula batang kemaluanku menuntut terus tiap waktu. Jadi pertama aku ajak dia berputar-putar sekeliling kota, alasannya untuk merayakan SIMku. Dan aku coba mencium bibirnya di dalam mobil ketika kami berhenti di sebuah jalan raya, ehhhh… dia tidak menolak. Yah, sebuah pertanda yang bagus… oke. Beberapa hari kemudian, aku mulai agresif mengajaknya jalan-jalan, sampai akhirnya aku berani mengajaknya ke jalan tol di sebuah malam Minggu. Kami berhenti di peristirahatan tol Surabaya-Gempol. Aku matikan mesin, lalu aku mulai melumat bibirnya yang lembut. Dia sama sekali tidak meronta ketika aku meremas-remas buah dadanya yang lumayan besar di telapak tanganku, dan ketika aku buka bajunya, menelanjangi bagian atasnya, alangkah nikmat aku rasakan saat menciumi puting susunya yang kecil yang kencang, nafasnya yang melenguh dan mengerang menambah kenikmatan yang aku rasakan, "Rudalku" berdiri tegak siap tempur, tapi aku tahan saja, karena aku takut dia akan menamparku jika aku melangkah terlalu jauh. Jadi aku gesek-gesekkan saja kemaluanku ke pinggiran kursi sampai ejakulasi. Dan selama itu dia tidak menolak sama sekali, bahkan terkesan pasrah dan menikmati. Dia bahkan sempat bilang "Roy… jangan cerita-cerita Okay?" Oh… tentu tidak dengan menggunakan namanya dan namaku yang asli, hohoho. Nah, hari-hari berikutnya, karena dia tidak pernah menolak, jadi aku pun mulai berani melepaskan baju atasku, menikmati kehangatan dadanya di dadaku sambil menciumi bibir dan telinganya. Mmm… enak sekali aku rasakan saat itu. Kami mulai biasa melakukan embracement di rumahnya, rumahku, dalam mobil dan dimanapun tempat yang kami bisa. Sampai akhirnya kami kelas 2. Saat itu aku mulai mengenal yang namanya pil "koplo", dan karena aku anak band, jadinya pil setan itu menjadi konsumsi wajibku sebelum manggung, ahhh aku rindukan saat-saat “sakauw”. Efeknya, aku menjadi lebih liar, lagi pula Jihan sama sekali tidak tahu aku mengkonsumsi obat-obatan. Dia hanya bingung melihat prestasiku yang melorot 23 peringkat saat semester 1, dan aku bilang saja karena papa dan mama ribut melulu. Toh dia percaya. Suatu saat, ketika kami pulang sekolah (siang), aku ajak dia mampir di Wendy’s. Kami makan, dan kemudian seperti biasa berputar-putar mencari tempat. Akhirnya aku memberhentikan mobilku di sebuah jalanan yang lumayan sepi di dekat Kenjeran. Ah, aku sih bersyukur saja karena kaca mobilku gelap, hehehe…. jadi, aku buka baju dan branya, menikmati puting-puting “susu”nya seperti biasa, sambil sesekali meremas dan menggigit. Nafasnya mendengus-dengus. Aku ajak dia pindah ke bangku belakang. Jihan menurut saja. Lalu aku teruskan hisapanku di “susu”-nya, dan ketika akan aku masukkan tanganku ke dalam roknya, dia hanya diam dan mengeluh. Kutarik celana dalamnya ke bawah, sambil aku ciumi bibirnya yang terbuka. Jihan mengerang lirih saat aku sentuh kemaluannya yang basah. Aku berusaha mendudukkan diriku di sebelahnya, mengangkat roknya dan membuka pahanya, untuk yang pertama kalinya aku melihat kemaluan seorang wanita di depan mataku, bentuknya indah sekali, berbeda dengan yang di film-film porno. Kulihat wajahnya memerah dan matanya memandangku bertanya-tanya. "Aku tahu bagaimana membuatmu enak…" bisikku lirih sok tahu. Kulihat Jihan hanya diam saja, jadi aku tahan pahanya ke sandaran jok belakang, dan kuletakkan telapak tanganku menutupi liang kemaluannya. Jihan mengerang-erang saat kugosok-gosok bibir kemaluannya dengan telapak tanganku, “Ahhh.. hahh… ahhh…” aku juga semakin bernafsu, persis seperti di film, pikirku saat itu. Hanya saja, untuk menjilat aku belum berani, jijik. Jadi kuteruskan saja menggosok-gosok kemaluannya, terkadang cepat, terkadang lambat, “Ahhh… ahh… khh… hhh…” Jihan mengerang-erang, tangannya menjambret kain bajuku yang terbuka, menarik-nariknya. "Aaahh…" aku rasakan tanganku sangat basah, pahanya bergerak-gerak membuka dan menutup. Aku pun menghentikan tanganku sejenak, melihat dan menikmati wajahnya yang memerah dan nafasnya yang terengah-engah. Eh… dia malah berkata, “Gantian. Aku ingin lihat punya kamu!” Oh God, hahahaha… sure, dan kubuka celanaku berikut celana dalam yang menempel di pantatku. Jihan memperhatikan dengan seksama “burung”ku yang tegang dan bergerak-gerak di depannya. “Duduk…” kataku sedikit memerintah. Ku gapit jemarinya dan aku letakkan di batang kemaluanku, Jihan memegangnya tapi dia diam saja, "Salah… Begini loh!" kutunjukkan cara melakukan masturbasi padanya, dan… damm it! it feels soo good. Kurasakan telapak tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menarik-nariknya, enak. Kumasukkan lagi tanganku ke dalam roknya, membuka pahanya dan menggosok bibir kemaluannya, “Ahh… hhh… uhhh… ahhh…” kami mengerang dan mengeluh bersamaan, aku cium bibirnya dan merasakan lidahnya bergerak liar. “Ahh… mmm… hhh… ahhh… enak sekali…” kugerak-gerakkan pantatku ke depan memberi respon pada gerakan tangannya dan akhirnya spermaku keluar mengenai sandaran kursi. Kami terdiam sejenak, melihat cairan kental putih yang menempel di kain sandaran kursi di depan kami. “Iya…” kudengar ia berkata dan kami sama-sama tertawa. Kukecup bibirnya, mengambil tissue untuk membersihkan tangannya dan kain pembungkus sandaran kursi itu tentunya. Lalu kami pulang. Hari-hari berikutnya kami semakin sering melakukan hal serupa di tempat-tempat yang sudah kusebutkan di atas, oh jalan tol merupakan tempat idola kami, hehehe. Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku terhadap obat-obatan, aku mulai mengenal heroin, yang sangat nikmat apabila ditorehkan dalam luka-luka sayat di tanganku, dan juga valium, yang menimbulkan bekas bintik-bintik hitam di pangkal lenganku. Ah, akhirnya Jihan curiga melihat keaktifanku yang semakin liar di group bandku, dan kondisi tubuhku yang mengurus, pelajaranku yang selalu kuakhiri dengan tidur. Dan itulah yang memacunya untuk meninggalkanku dan beralih ke lelaki lain yang sudah kuliah. Hal itu dilakukannya saat aku berangkat ke New York selama tiga bulan untuk studi banding (kebetulan aku lumayan jago dalam sastra Inggris). Waktu aku mengetahuinya aku sempat mengamuk habis, hampir saja aku ke kampus si cowok untuk menawurinya bersama teman-temanku, namun kubatalkan mengingat betapa konyolnya aku untuk marah hanya gara-gara seorang wanita. Jadi kuputuskan untuk pulang perang dengan membawa oleh-oleh berharga. Kutelepon ke rumahnya, memintanya sudi menemuiku untuk yang terakhir kalinya. Jihan menemuiku malam itu, dan langsung kucium bibirnya sambil membisikkan kata-kata kerinduan dan betapa aku tak sanggup kehilangan dia, dan mungkin karena kenangan berseksual-ria denganku (atau mungkin karena aku cinta pertamanya) membuatnya pasrah saat kupegangi payudaranya dan meremas-remas kemaluannya dari lapisan celana ketatnya. Ah, kebetulan saat itu kedua orangtuanya sedang berangkat menghadiri pernikahan, sedangkan kakaknya saat itu sudah kembali ke Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya, jadi aku merasa bebas-bebas saja. Jadi kurangsang dia dengan segenap kemampuanku, kubelai buah dadanya dengan lembut, menciumi wajahnya, lehernya tengkuknya, memasukkan jariku ke dalam celananya, memainkan liang kemaluannya di jariku, membuat nafasnya memburu dan terengah-engah, “Ahhh… ahh… uh… nggg…” aku merasakan nafsuku mulai naik ke ubun-ubun ketika tangannya menyelip di lipatan celanaku dan bergerak-gerak di batang kemaluanku yang menegang hebat. Aku cukup kaget ketika tiba-tiba dia melepaskanku, menangis, aku bingung. Lalu dia bangkit berdiri, menuju ke ruang tengah rumahnya dan telunjuknya memanggilku mengikutinya. Oh God, hohohoho. Kami bergulingan di tempat tidurnya yang lebar, kuciumi seluruh wajahnya, lehernya, kupingnya, dagunya, dan kuhisap puting “susu”nya penuh nafsu, kuangkat pakaiannya melewati kepalanya, “Ahh.. uhh… argg…” kurasakan kenikmatan batang kemaluanku menekan-nekan liang kemaluannya dari balik baju kami. Kubuang BH-nya entah kemana. Kubuka bajuku, menempelkannya di payudaranya, merasakan kenikmatan dan kehangatannya. Kuciumi bibirnya dengan lebih bernafsu. Kuraih celana ketatnya yang pendek dan kutarik, kulepas berikut celana dalamnya, kupegangi dan kuraba kemaluannya yang basah. Pahanya bergerak-gerak menggesek-gesek batang kemaluanku yang masih terbungkus, dan kubuka celanaku cepat-cepat. Kurasakan paha telanjangnya menekan batang kemaluanku. Tangannya meraih batang kemaluanku dan memainkannya dengan gerakan yang membuatku terengah-engah menahan nikmat, “ahhh… ahh… ahh…hh…” akhirnya kuangkat tubuh telanjangku ke atasnya, dan menempelkan batang kemaluanku di liang kemaluannya. “Ahhh… gila… kenikmatan ini… ahhh…” kudengar ia menyebut-nyebut namaku dengan lirih ketika pinggulku bergerak-gerak dan menggesek bibir-bibir kemaluannya ke atas dan ke bawah, ahh. Kucium bibirnya dengan lebih bernafsu, kujatuhkan seluruh tubuhku menindihnya, merasakan tekanan buah dadanya yang berkeringat di kulitku, kugoyang-goyang pinggulku ke atas dan ke bawah, “Ahhh.. ahh..” ke samping ke depan, “Aahh… ah.. ah…” merasakan setiap kenikmatan gesekanku dan pelukan pahanya di pantatku setiap aku bergerak ke samping, “Ahk.. ahk…” Akhirnya kubenamkan bibirku di bibirnya dan menekan pantatku sekuat tenaga ketika nafsuku tak terkontrol lagi dan menyemburkan spermaku melewati dan membasahi permukaan perutnya, Ahhh.. hah…” nafasku terengah-engah penuh kenikmatan, pelukannya mengencang di punggung dan pinggangku. Pantatnya menekan batang kemaluanku kuat-kuat. “Aahh… nikmatnya…” baru kali ini kurasakan nikmatnya melakukan petting. Aku bangkit berdiri, memakai pakaianku yang berserakan di lantai, dan membantunya berpakaian, lalu melangkah kembali ke ruang tamu. “Roy.. jangan teruskan memakai obat-obatan…” Aku mengangguk. Dan itulah kata terakhir yang kudengar dari bibirnya sesaat sebelum kurelakan dia pergi dari sisiku. Dengan perjuangan yang keras selama beberapa minggu, aku berhasil menghentikan kecanduanku pada obat-obatan di sebuah pusat rehabilitasi di Lawang. Memang, setelah dia sudah menjadi pacar orang lain, yang notabene direstui orangtuanya. Namun tak jarang kami melakukan pertemuan rahasia dan melakukan petting. Namanya juga cinta pertama. Sampai akhirnya dia mambantuku menembus UMPTN, dan jarak kami terpisah sangat jauh sekarang. Ahh Jihan, selalu mulutku mendesah mengingat kenangan cinta pertamaku. Terakhir aku berjumpa dengannya Januari 2010, kami melakukan petting lagi di sebuah wisma di kota dimana dia kuliah. Sampai sekarang, aku belum menemuinya lagi. Mungkin kalau ketemu… hohohoho… ah, kekasihku, cintaku. Tapi pengalaman-pengalaman seru dengannya membuatku ketagihan setengah mati, dan bayangkan saja jika aku harus menunggu setahun sekali untuk petting, woah… what a waste of time.. huh? Jadi aku mulai meningkatkan kelasku menjadi seorang perayu wanita. Hampir dua kali seminggu aku melakukan petting, bukan bersetubuh tentunya, karena aku masih cari selamat dan aku paling benci yang namanya perek atau pelacur, hanya bawa penyakit. Oh… aku kehilangan keperjakaanku saat aku melakukan hubungan dengan seorang gadis pecandu sabu-sabu yang aku jumpai sedang menangis di pinggir jalan karena ditinggal teman-temannya ke diskotik. Wah… lagi-lagi aku beruntung, ketika ia mengajakku bercinta, aku mengiyakannya karena sekedar kepingin tahu dan ternyata si gadis itu masih PERAWAN! Oh God, mercy on me, saat kulihat noda darah berceceran di kasurku, hohohoho… dalam keadaan “fly” mungkin ia tak sadar mengajakku, orang yang baru dia kenal untuk bercinta hahaha… dan kuantar dia pulang ke sekitar wilayah makam Banteng, masih dalam keadaan bingung. Jahat memang, tapi masih sempat aku hadiahkan sebuah kecupan di keningnya. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak berhubungan seksual dulu, karena rasanya juga begitu-begitu saja, benar seperti kata orang, yang enak itu pemanasannya, hahaha, lagipula aku sudah pernah mencicipi perawan, hehehe… dan enak gila, jadi aku berambisi mendapat perawan sebanyak mungkin tanpa harus bertanggung jawab. Bajingan? oke, terserah.
Salam.
******************
Cerita lainnya Disini



Jihan my Virgin.

I know the name of a woman since childhood, my sister is a woman, my two sisters are women, my mother is female, hehehe ... and my maid is also a woman. (Slowly comrade).
I admit all my mischief when I was little. I like to peek at my maid when I take a bath, to see them soaping her milk, and sometimes bellowing when her fingers are rubbing his cock. and when I was in junior high school, I first understood the name ejakulasi, when I accidentally rubbing my groin to the floor while peering through the folds of my maid's nanny who was sleeping from the gap under the door, ridiculous ... !! ! but I admit it. I try to stimulate myself every day by wearing my brother Bra, folding my groin in my thighs, and rubbing it into the bolster while lying down. Oh, I do not know the name of intercourse, it just made me feel good, especially when ejaculation. I know the name masturbating from my friends, held on, hold on like this & so, it's so good, so I started using my hands while peeping and enjoying my pubic hairy hairs in the shower. maybe the most memorable is when I peek my sister (hihihi) through the window gap, after he showered and entered the room. Ahhhh, I peeked she took off her towel, admiring herself in front of the mirror. ohh ... just this time I see my adult brother's body (which happens to be pretty, a lot of fans), in addition to childhood memories when we were okay with the bath together. I felt uncomfortably grasping my tense groin as he lay in bed, clutching his nipples, and raising his head as the tip of the battery shifted in his cock hole. "OHhhhh ..." I enjoy every move, while shaking my groin and pulling at it. Ahhh ... I breathe a sigh of relief and I wipe a cold sweat full of sin in my temples when I ejaculate, along with the fall of my sibling's ass who previously choked up unnecessarily. since then, I've become addicted to masturbation, maybe three or four times a day. And my association with my friends provides an opportunity for me to enjoy the pornographic scene of the video, which is out of nowhere from the tape. So my imagination craze every masturbation. without me realizing maybe I slowly become a sex maniac. Besides, it's the nickname of friends who know me now, hohoho ... sex criminals? Finally I managed to test it when I met a beautiful girl named Jihan, then I was third grade junior. my acquaintance with the beautiful girl got various obstacles, both from my friends (the sissy), our family (due to religious differences), and of course my rival (Jihan coincidence itself is an idol girl). hohoho .. still I remember when his shoes suddenly thrown into my head while sitting nice, sick indeed, but anyway there are benefits, hehehe. So I got to know her. we familiarize ourselves and I was very proud when he finally accepted me to be his lover, when it coincided with the division of STTB, hehehe. And the most exciting, I was a high school with him, and one class too, alamak! How lucky I am. we both are still equally innocent in terms of lovemaking, maybe that's what makes things easy. Within three months I managed to kiss his lips, ehhh ... nice and soft. That's my first kiss, hahaha ... shaking .. vibrating. the shadows of the softness of his lips make me aroused every night, the more wildly rubbing my groin to the bolsters, imagining his body without clothes writhing like in a porn movie when I insert my groin into the hole of his cock, ahhh ... ahh ... .. I feel I almostcrazy because of my lust.then, with clandestine ride my father's car, and I invite him to circle around the city, only intermittently, and of course I compromise with my driver. Finally I got a "SIM-buy" after whining half-dead at the feet of my dad. and I started to plan how I could enjoy my beloved's body, rather than just his lips, and my groin demands all the time. So first I invite him to circle around the city, the reason for celebrating my driver's license. and I tried to kiss her lips in the car when we stopped on a highway, ehhhh ... she did not refuse. Well, a good sign ... okay. A few days later, I began to aggressively take him for a walk, until I finally dared to take him to the highway on a Saturday night. we stopped at the Surabaya-Gempol toll road. I turned off the engine, then I began to crush his soft lips. she did not wriggle when I wringed her rather large breasts in my palm, and when I opened her shirt, stripped her top, how delicious I felt when I kissed her tight little nipples, her moaning and moaning breaths addedthe pleasure I feel, "Rudalku" stands ready for combat, but I hold it, because I'm afraid he'll slap me if I go too far. so I just rub my groin to the edge of the chair until ejaculation. And during that time he did not refuse at all, even seemed resigned and enjoy. He even said "Roy ... do not tell Okay stories?" Oh ... certainly not by using his name and my real name, hohoho. nah, the next days, because he never refused, so I started daring to take off my shirt, enjoying the warmth of his chest in my chest, kissing his lips and ears. Mmm ... I feel so good at that moment. we started to do embracement in his house, my house, in the car and wherever we could. Until finally we are 2nd classthat time I started to know the name of the pill "koplo", and because I'm a boy band, so the devil pills into my mandatory consumption before the gig, ahhh I miss the moments "sakauw". The effect, I became more wild, anyway Jihan did not know I was taking drugs. he just confused to see my achievement that dropped 23 ratings in semester 1, and I just say because papa and mama noisy only. Yet he believes. One time, when we came home from school (noon), I invited him to stop at Wendy's. we ate, and then as usual went round and round looking for a place. Finally I stopped my car on a fairly quiet street near Kenjeran. ah, I'm just thankful because my windshield is dark, hehehe .... so, I take off his clothes and bra, enjoy his nipples "milk" as usual, while occasionally squeezing and biting. Her breath snorted. I invited him to move to the backseat. Jihan obeyed. then I continue my suction in her "milk", and when I will put my hand into her skirt, she just silent and complains. I pulled his underwear down, as I kissed his open lips. Jihan moaned softly as I touched his wet cock. I tried to sit next to her, lift her skirt and open her thigh, for the first time I saw a woman's genitals in front of my eyes, beautifully shaped, unlike the ones in pornographic films. I saw his face turn red and his eyes looked at me wondering. "I know how to make you feel good ..." I whispered softly knowingly. I saw Jihan just shut up, so I held his thigh against the back of the back seat, and I put my palms over his cock. jihan moaned as I rubbed his cock lips with my palm, "Ahhh .. hahh ... ahhh ..." I'm also more passionate, just like in a movie, I thought at the time. Only, to lick I have not dared, disgusted. so I just scrubbed his cock, sometimes quickly, sometimes slowly, "Ahhh ... ahh ... khh ... hhh ..." Jihan moaned, his hands grabbing my open shirts, tugging at him. "Aaahh ..." I felt my hands very wet, his thighs twitching open and close. I stopped my hand for a moment, looked and savored her blushing face and panting breath. Uh ... he just said, "Take turns. I want to see have you! "Oh God, hahahaha ... sure, and I opened my pants following the panties that stuck to my ass. jihan careful attention to my "bird" that tensed and moved in front of him. "Sit down ..." I say a little roughly. I cocked his fingers and I put it on my groin, Jihan held it but he said nothing, "Wrong ... Look here!" I showed him how to masturbate him, and ... damm it! it feels soo good. I feel the palm of his hand grasping my groin and pulling at it, delicious. I put my hand in her skirt, opened her thighs and rubbed her cock lips, "Ahh ... hhh ... uhhh ... ahhh ..." we moaned and complained together, I kissed her lips and felt her tongue move wild. "Ahh ... mmm ... hhh ... ahhh ... so good ..." I moved my ass forward to respond to his hand movements and finally my sperm came out about the back of the chair. We paused for a moment, noticing the viscous white fluid attached to the back of the chair in front of us. "Yeah ..." I heard him say and we both laughed. I kissed her lips, picked up a tissue to clean her hands and wrap the back of the chair. Then we went home. the following days we do more often in the places I mentioned above, oh the highway is our idol place, hehehe. I was deeply immersed in my pleasures of medicine, I began to recognize heroin, which is very delicious when it is incised in the cuts of the incision in my hand, and also the valium, which gives rise to black spots at the base of my arm. ah, Jihan finally suspicious of my increasingly wild activity in my band group, and the condition of my body that takes care of, my study that I always end up with sleep. And that's what drives him to leave me and move on to another man who's in college. it was done when I left for New York for three months for a comparative study (I happen to be pretty good at English literature). when I found out I was running out, I almost went to the boys' campus to look after him with my friends, but I canceled how silly I was to get mad just because of a woman. So I decided to go home to war with a precious gift. I called her home, asked her to see me for the last time.jihan met me that night, and immediately kissed her lips while whispering words of longing and how I could not lose her, and maybe because memories of sex with me (or maybe because I love first) make him resigned while I was holding her breasts and wringinghis cock from his tight pants lining.ah, by chance at that time his parents were leaving to attend the wedding, while his brother was back to Bandung to finish college, so I feel free-free only. so he lacked all my ability, I gently caressed his breasts, kissed his face, his neck was his neck, put my finger into his pants, played his cock in my finger, made his breath pursue and puffed, "Ahhh ... ahh ... uh ... nggg ..." I feel my lust startrising to the top of his head as his hand slid into the folds of my pants and moving around in my stiffening stem. I was quite surprised when suddenly he let me off, crying, I was confused. Then he stood up, headed for his living room and his forefinger called me to follow him. Oh God, hohohoho. we rolled on his wide bed, I kissed his whole face, his neck, his ears, his chin, and I sucked his nipples lustfully, I lifted his clothes over his head, "Ahh .. uhh ... argg ..." I felt the pleasure of my groin ragging the hole his cock from behind our shirt. I throw away his bra somewhere. I open my shirt, paste it on her breast, feel the pleasure and warmth. I kiss her lips more passionately. I grabbed the short tight pants and pulled them aside, I took off the panties, grabbed and wiped his wet cock. her thighs twitching against the stem of groin that is still wrapped, and I open my pants quickly. I felt his bare thighs press against my groin. his hands grabbed my groin and played it with a movement that made me panting to hold back the favor, "ahhh ... ahh ... ahh ... hh ..." finally I lifted my bare body onto it, and put my groin on the shaft of his cock. "Ahhh ... crazy ... this pleasure ... ahhh ..." I heard him mention my name softly as my hips twitched and rubbed his cock lips up and down, ahh. I kissed her lips more passionately, I dropped my whole body over her, felt the pressure of her sweaty breasts on my skin, rocking my hips up and down, "Ahhh .. ahh .." sideways forward, "Aahh ... ah .. ah ... "feeling every pleasure of my swipe and the hugs of her thighson my ass every time I move sideways, "Ahk .. ahk ..." Finally I slim my lips on his lips and press my ass as hard as my lust is out of control and spurt my sperm passing and moistening the surface of his stomach Ahhh .. hah ... "my breath is full of breath enjoymenthis arms tightened in my back and waist.his ass pressed my groin tightly. "Aahh ... delicious ..." This time I just felt the pleasure of doing petting. I got to my feet, put on my clothes scattered on the floor, and helped her get dressed, then stepped back into the living room. "Roy .. do not go on drugs ..." I nodded. And that was the last word I heard from his lips shortly before he left him from my side. with a hard struggle for several weeks, I managed to stop my drug addiction at a rehabilitation center in Lawang. Indeed, after he had become someone else's boyfriend, who in fact sanctioned his parents. but we often do secret meetings and petting. His name is also first love. Until he finally helped me through UMPTN, and our distance is very far apart now. Ahh Jihan, always my mouth sighing memories of my first love. the last time I met him in January 2010, we did petting again at a guesthouse in the city where he was in college. Until now, I have not seen him yet. Maybe if you meet ... hohohoho ... ah, my love, my love. but the exciting experiences with her make me addicted to death, and just imagine if I have to wait once a year for petting, woah ... what a waste of time .. huh? So I started upgrading my class into a female seducer. almost twice a week I do petting, not intercourse of course, because I'm still looking for congratulations and I hate the name of a recruit or a prostitute, just bring disease. oh ... I lost my virginity when I had a relationship with a girl shabu-shabu I met was crying by the side of the road because left friends to discotheque. wah ... again I was lucky, when he asked me to make love, I agreed it because just wanted to know and it turns out the girl is still VIRGIN! oh God, mercy on me, when I saw blood stains splattered on my mattress, hohohoho ... in the state of "fly" maybe he unconsciously invited me, a new person he knew to make love hahaha ... and I took him back to the tomb area of ​​the Bull, still in a state confused. evil indeed, but still I had time to give a kiss on his forehead.since then I decided not to have sexual intercourse, because it feels so-just like that, right as people say, the good is warming up, hahaha, after all I've tasted virgins, hehehe ... and delicious crazy, so I'm ambitious to get as many virgins as possible without mustto be responsible.
be liable answer ccommitoneself face the music
bastard? okay, whatever.
Regards.
***********************
More stories Here.


Saturday, 3 March 2018

Cinta Monyet Dewasa.

Cerita ini sudah sekitar 10 tahun lamanya terjadi. Pada saat itu umurku masih 14 tahun kelas 2 SMP. pacarku ialah adik kelasku sendiri. Hubungan kami sudah cukup lama karena kebetulan kami juga satu SD. Namanya juga cinta monyet nembaknya juga pakai surat-suratan. Dengan surat cinta aku tembaklah dia dengan berbagai kata indah yang akhirnya aku dapatkan kata "iya" darinya. Sebut saja Nama pacar pertamaku itu Ranty, dia sama halnya dengan anak SMP lainnya dengan tubuh yang masih kecil dan dada yang baru mulai tumbuh, rambutnya lurus panjang kulit putih dan lumayan cantik. layaknya pacaran anak-anak walaupun setiap hari sudah bertemu di sekolahan maunya ketemuan dan ketemuan lagi apalagi cinta pertama. Pacarannya pun hanya duduk berdua sambil cerita dan pegangan tangan. waktu pacaran yang kesekian kalinya aku ajak dia ciuman walau dia awalnya takut akhirnya dengan alasan sayang apa gak sama aku, akhirnya dia mau juga untuk ciuman. Karena kami sama-sama belum pernah ciuman akhirnya aku minta dia untuk memejamkan matanya karena aku juga agak malu kalau dia melihatnya. setelah dia memejamkan matanya aku mulai mencium matanya yang terpejam hidungnya yang gak terlalu mancung terus turun kebibirnya. Setelah itu aku minta dia buka matanya. matanya tajam menatap mataku ketika matanya terbuka, lama sekali kami saling bertatapan dan akhirnya Ranty bilang "kakak cowok pertama yang mencium aku". malam itu dengan di akhiri pelukan ala cinta monyet. Aku pun pamit pulang. kencan minggu berikutnya aku melakukan yang lebih dari yang aku lakukan minggu kemarin pada Ranty karena malam sebelumnya aku sempat nonton porno di rumah temanku, jadi aku ingin praktek bagaimana rasanya melakukan adegan seperti di film yang aku tonton itu. Karena izin ciuman sudah aku dapat, aku pun tanpa harus minta lagi berani cium Ranty secara langsung dan diapun sudah berani balas mencium pipi dan bibirku walau adegan kami agak sedikit kaku namun tetap seru rasanya. ciuman kami tidak ciuman panjang layaknya film yang aku tonton hanya beberapa kali ciuman terus berhenti ngobrol dan ciuman lagi tapi akhirnya karena aku sudah kebelet ingin merasakan adegan film yang aku tonton kemarin aku pun kembali cium dia di kening dan bibirnya, ciuman di bibirnya aku buat agak lama, walau belum tau dimana nikmatnya ciuman aku teruskan saja mencium bibirnya yang berwarna merah tanpa lipstik itu. kalau sekarang aku tau kata orang bibir jenis bibir Ranty itu bibir sensual. lama-kelamaan aku pindahkan tanganku yang dari tadi di bahunya ke arah dadanya. ketika tanganku menyentuh dadanya Ranty sedikit kaget dan bilang "lho ngapain kak..?" "gak boleh ya kakak pegang susu kamu" jawabku. "bukan gak boleh kak, aku takut kalau nanti ayahku tau dan memarahi kita" balasnya lagi dengan alasan sayang lagi dan sedikit bujukan lama kelamaan dia bisa aku yakinkan kalau orang tuanya gak bakal tau karena hanya kita berdua yang tau, kataku padanya. Akhirnya izin memegang susunya pun bisa aku dapatkan. Aku pegang susunya yang masih mangkal dan aku mainkan pentilnya yang baru tumbuh dengan jari-jari tanganku. Dengan sedikit candaan aku bilang sama Ranty "sayang, kakak boleh mimi gak"? Dia gak menjawab pertanyaanku dan aku lihat wajahnya ternyata dia lagi memejamkan mata (mungkin karena kegelian atau terangsang aku gak tau).
Akhirnya tanpa tau dia ngasih izin apa gak, aku emut saja susunya dan menyusu seperti anak bayi. Ranty sedikit mengeluarkan desahan ketika aku mulai menyusu dan mempraktekkan cara mencium susu di film porno yang aku tonton. padahal aku tidak tahu kalau ternyata itu adalah cara merangsang cewek. malam itu aku tidak jadi mempraktekkan adegan tidur-tidurannya dengan Ranty, itu karena kami sama-sama punya alasan sama orang tua kami, kalau ada PR kelompok yang harus di kerjakan di tempat teman dan Ranty bilang kalau dia harus sudah di rumah sebelum ayahnya pulang kerja. kebetulan ayah Ranty pulangnya jam 9 ya…. mau gimana lagi sebelum jam 9 kami harus pulang. Malam itu aku jadi gak bisa tidur, aku masih kepikiran apa yg telah aku lakukan sama Ranty, walau usia masih muda tapi pacaran sudah seperti orang dewasa pakai ciuman dan pegang susu segala. Jujur aku masih ingin melanjutkan adegannya yang tidur-tiduran karena aku jadi pengin mencobanya karena melihat orang yang dalam film itu menikmati sekali adegan tidur-tidurannya. Akhirnya fantasi liarku muncul dan aku beranjak dari ranjangku pergi kekamar mandi dan memainkan burungku dengan sedikit di olesi sedikit sabun aku pun mengocok burungku sampai aku keluarkan kencingku yang agak kental. Besoknya di sekolahan pas lagi istirahat aku ajakin Ranty kerumah temanku yang kebetulan rumahnya lagi kosong, karena ibunya lagi kepasar belanja sedang adik dan abangnya semua masih di sekolah, ayahnya apalagi sedang keluar kota dengan bisnisnya. Di kamar temanku ini lengkap sekali perabotannya bahkan di kamar pribadinya sudah ada PS dan TVnya serta penyetel CD juga TVnya. aku pun minta temanku jaga di luar kalau ada orang yang akan datang. Dikamar aku mulai mencumbu Ranty seperti minggu kemarin adegan ciuman bibirpun kami lakukan di lanjutkan adegan menyusu karena aku pengin Ranty juga merasa ingin mencoba adegan tidur-tidurannya, aku putar saja film porn yang aku tonton kemarin. "Sayang…kita nonton dulu ya" kataku, "film apa ??" Jawabnya tanpa aku jawab langsung saja aku putar filmnya dan sengaja aku percepat ke adegan paling panasnya karena waktu istirahat hanya 30 menit. awalnya Ranty sedikit malu-malu nontonnya tapi akhirnya menikamati juga dan sedikit bengong waktu melihat burung pemeran cowoknya di film itu, karena film porn eropa otomatis burungnya besar-besar. Ranty jadi ngomong sendiri "memang bisa ya kak segede itu masuk ke memek?" sambil dia menyandarkan kepalanya ke pangkuanku dan anehnya lagi mungkin karena rangsangan di film itu Ranty sendiri yang minta aku melihatkan burungku sama dia. "Kak… aku kan sudah kasih lihat susuku padamu… boleh gak kak mery lihat burung kakak" katanya. waooooowww masuk perangkap juga ini kataku dalam hati, "boleh dong, tapi kita sama-sama lihatin ya" kataku. Akhirnya secara spontan kami pun sama-sama melepas seragam SMP yang kami kenakan dengan tubuh sama-sama telanjang aku sebenarnya agak sedikit malu tapi mungkin nafsu sudah merasuki jalan pikiran kami yang masih bau kencur, semua sudah gak ada malunya lagi. waduuuuuh…..jauh lebih merangsang ternyata melihat tubuh cewek telanjang langsung daripada melihat koran porno dan film porno. Ranty pun memegang burungku dan menggenggamnya. "kok... gak segede burungnya orang itu kak" katanya sambil menunjuk ke arah TV, "kalau segede itu aku jadi takut sendiri" katanya lagi. "ya…kita kan masih kecil jawabku sekenanya…. Sambil melihat tangannya memegangi burungku. Seperti ada aliran listrik lain rasanya ketika tangan Ranty yang memegang dedek kecilku, spontanitas aku pejamkan mata dan aku rasakan tangan mungil Ranty mengocok burungku….karena gak tahan aku minta Ranty mempraktekkan adegan 69 seperti yang sedang kami tonton, aku pun mempermainkan memeknya. Pinggiran memeknya aku putari dengan jariku di sana dan bergantian dengan lidahku, karena sudah sama di ubun-ubun nafsu yang merasuki kami dan ingin segera di tuntaskan akupun membalikkan badanku, aku turun ke lantai. Sedangkan Ranty tetap di tempat tidur, dan aku pegangi kedua kakinya mulai aku melebarkan kedua pahanya sambil mendekatkan burungku ke arah memeknya. Setelah di depan gawang kewanitaannya itu aku berusaha mencetak gol dengan menusukkan kaki ketigaku ke sarangnya. waduh sulit banget ternyata… sudah perih rasanya burungku mencoba menerobos pertahanannya belum juga tembus. Mungkin karena ukuran dedekku melebihi anggaran sarangnya, waktu itu burungku masih berukuran 12-13cm dengan diameter 4-4,5cm. Akhirnya bantuan datang juga dari tanganku mendorongkan si kaki ketiga ke memeknya. setiap sodokanku selalu di iringi dengan rintihan kesakitan darinya… "aduchhhh…kak, sakit pelan-pelan"….. "iya…nanti juga akan nikmat  sama dengan yang di TV" kataku….. membalasnya entah sodokan yang keberapa kalinya baru aku berhasil memasukkan burungku ke memeknya.
Aku sedikit iba melihat Ranty meringis agak kesakitan waktu burungku masuk karena memang ada suara yang aneh pas masuknya burungku dan aku lihat ada darah yang keluar dari memeknya dan mengolesi burungku… aku diamkan burungku supaya rasa sakit Ranty hilang dulu, baru kemudian aku goyang perlahan untuk membuat Ranty menikmatinya. Lama-kelamaan goyanganku dapat dirasakan oleh Ranty… itu aku lihat dari dia saat memejamkan matanya sambil berkata iya…….kak..enak….kak…terus kak…. nikmat……kak ya…… ya….kak.. kata-katanya membuat aku jadi semakin menjadi-jadi. menggoyangkan burungku dalam memeknya….semakin cepat goyanganku semakin cepat pula kata-kata yang keluar dari mulutnya…. enak sayang kataku tanpa sengaja dengan hunjaman memperdalam masuknya burungku kedalam memeknya….. sambil mempercepat goyanganku….. iya…kak kata Ranty…. entah berapa lama kami dalam permainan tidur-tiduran ini kami lakukan, aku rasakan semakin licin dan semakin enak masuknya burungku ke memeknya….tapi semakin nikmat rasanya burungku karena semakin kuat pijatan dalam memek ranty… ternyata itu pertanda Ranty mau keluar…entah hantu apa yang merasukinya Ranty mencengkeram kuat-kuat pahaku…. dan di akhiri teriakan yang sedikit keras ( tapi gak mungkin kedengaran keluar karena aku sengaja menyalakan musik keras-keras sebelum main). Aku rasakan panasnya kencing kental Ranty keluar yang membuat aku juga semakin kejang ingin keluar dan aku makin cepat saja menggoyang-goyangkan burungku akhirnya aku cabut burungku dan kencingku yang kental akan aku tumpahkan di paha Ranty. Akhirnya kenikmatan itu dapat kami rasakan walau ada sedikit perih di burungku dan ringisan kesakitan di awalnya oleh Ranty tapi puncaknya kami puas. Aku dan Ranty berpelukan dan aku minta maaf sama dia karena merenggut keperawanannya, tapi dia bilang merelakannya untukku. "kakak cowok pertama yang melakukan semua sama Ranty… ya…ranty harap kakak juga yang terakhir walau perjalanan kita masih panjang" katanya… aku jadi kepikiran waktu itu, kok cewek lebih cepat dewasa dari cowok yaaaaaaaaa…? baru umur segini sudah kepikiran kesana pikirku dalam hati… setelah kami bereskan ranjang dan semua yang berantakan di kamar temanku (oh…ya nama temanku itu Bento, dia juga pernah cerita sama aku kalau dia pernah ML sama cewek gak benar, makanya aku berani main di kamarnya). Ternyata ketika kami ke sekolah kembali anak-anak yang lain sudah masuk semua, akhirnya kami bolos saja sekalian dan main ke bioskop nonton film romatis. Aku sudah lupa judulnya yang jelas dalam bioskop itu kami hanya bercumbu walau tanpa ML. Bento juga mengajak pacarnya bolos maka klop lah sudah. oh…ya! Aku dan Ranty belum pernah mengatakan putus sampai sekarang cuma terakhir kali aku bertemu saat aku lulus sekolah dan melanjutkan kuliah di Jawa timur, setahun kemudian kita tidak berhubugan lagi….. karena aku memang tidak pernah pulang kampung…....
Salam.
*********************
Cerita lainnya Disini


Love the mature monkeys.

This story has been around for 10 years. At that time I was still 14 years of grade 2 junior high. my boyfriend is my own sister. Our relationship has been long enough because by chance we are also one elementary school. His name also love the monkey shoots also use the mail-order. with a love letter I shoot him with various beautiful words that I finally get the word "yes" from him. call it My first girlfriend name is Ranty, she is the same as other junior high school children with a body that is still small and chest that just started to grow, her hair straight long white and pretty pretty. like the courtship of children even though every day have met in school wants to meet andmeeting again let alone first love.his courts were just sitting together while the story and handrails. the courtship time the umpteenth time I invite him to kiss even though he was initially scared at last with no reason what I love, he finally wanted also for a kiss. because we both had never kiss I finally asked him to close his eyes because I'm also a little embarrassed if he saw it. after he closed his eyes I started kissing his eyes that closed his nose that is not too sharp continue to fall his lips. after that I ask him open his eyes. his eyes sharply staring into my eyes when his eyes open, long time we stared at each other and finally Ranty said "brother first boy kiss me". that night with ending the hug-style love monkey. I went home. dating the following week I did more than I did last week to Ranty because the night before I had time to watch porn at my friend's house, so I want to practice how it feels to do a scene like in the movie I watch it. because I have permission to kiss, I was without having to ask again dare to kiss Ranty directly and he had dared to kiss my cheeks and lips even though our scene is a bit stiff but still exciting taste. our kiss is not a long kiss like a movie that I watch only a fewtime kisses continue to stop chatting and kissing again but finally because I was desperate to feel the scene of the movie that I watched yesterday I was back kiss him on the forehead and his lips, kisses on his lips I made a little long, though not know where the delicious kiss I just continue to kiss his red lips without the lipstick. if now I know the word lips kind of lip Ranty's sensual lips. I gradually move my hand over his shoulder to his chest. when my hand touched his chest Ranty a little surprised and said "lho want to do kak ..?" "can not ya hold your milk" I replied. "I'm afraid my dad will know and scold us" he replied again with the excuse again and a little persuasion over time he can I assure that his parents will not know because only we both know, I told him.finally the license to hold the milk can I get. I hold the milk that is still hanging and I play the new nipple grow with my fingers. With a little joke I say the same Ranty "baby, brother may not suction milk you"? he did not answer my question and I see his face it turns him again closed his eyes (maybe because of the arrogance or arousal I do not know).
Finally without knowing what he gave permission, I just sucked his milk and sucked like a baby boy. a little ranty let out a sigh as I started to suckle and practice how to kiss the milk in the porn movie I watch. but I do not know if it is a way to stimulate girls. that night I did not practice the sleeping scene with Ranty, it was because of usboth have the same reasons our parents, if there is a group PR to do at the place of friends and Ranty said that he must have been at home before his father came home from work. Ranty's father happened to be home at 9 o'clock .... want to do again before 9 o'clock we have to go home. that night I can not sleep, I still think what I have done the same Ranty, although young age but dating is like an adult wear kiss and hold milk everything. honestly I still want to continue the sleeping scenes because I want to try it for seeing the person who in the movie enjoys once sleeping scenes. finally my wild fantasy came up and I went from my bed to go to the bathroom and play my bird with a little bit with a little soap so I shake my bird until I remove my rather thick piss. the next day in school fitting again rest I aantin Ranty my friend's house that happened to empty his house again, because his mother again shopping shop is brother and brother all still in school, his father let alone was out of town with his business. in my friend's room is fully furnished even in his private room there is a PS and TV and also set the CD and TV. I also ask my friends to keep on the outside if there are people who will come. in the room I started to fondle Ranty like last week kissing lip scene we did in the continue breastfeeding scene because I want Ranty also feel like trying to sleep scenes, I just turn the porn movie that I watched yesterday. "Honey ... we just watch ya" I said, "what movie ??" he replied without me answer I just play the movie and I accidentally speed up to the most hot scene because the rest time is only 30 minutes. At first Ranty was a little shy to watch it but ended up enjoying it too and was a little dumbfounded when she saw her male star in the movie, because European porn movie automatic bird big. Ranty so ask own "it can ya kak as big it into the pussy?" as he leaned his head into my lap and strangely again maybe because the stimuli in the movie Ranty himself who asked me to see my bird with him. "Sister ... I've already seen my milk to you ... may not kak mery see sister bird" he said. waooooowww enter the trap also this I said to myself, "may dong, but we both seein ya" I said. finally spontaneously we were both off uniform Junior High School that we wear with the body equally naked I was actually a little embarrassed but maybe lust has penetrated the way of our minds that still smell kencur, all have no shame anymore. waduuuuuh ... .. far awaymore stimulating turns to see the body of a naked girl directly than to see pornographic newspapers and porno movies. ranty holds my bird and holds it. "Why... Not as big as the bird that person kak" he said while pointing towards the TV, "if that's so I'm afraid of myself" he said again. "yes ... we're still small I reply ... .. while watching his hand holding my birdlike there is another electric current when Ranty's hand that holds my little dedek, spontaneity I close my eyes and I feel the little hands Ranty shuffle my bird .... because I can not stand I asked Ranty to practice the scene 69 as we were watching, I was playing with his pussy. the edges of pussy I put it with my finger there and alternate with my tongue, because it is the same in the head of the passions that permeate us and want to finish in complete I turn my body, I go down to the floor. while Ranty remained in bed, and I held both legs as I spread my thighs as I brought my bird closer to the pussy. after in front of his feminine goal I tried to score a goal by jabbing my third leg into the nest. waduh very difficult it turns out ... it's sore my bird trying to break through the defense has not been translucent. probably because the size of my dedek exceeds the budget of his nest, at that time my bird still measuring 12-13cm with a diameter of 4-4,5cm. finally help came from my hand pushing the third leg to pussy. every poke is always accompanied by a groan of pain from him ... "aduchhhh ... kak, sick slowly" ... .. "yes ... later will also be the same with that on TV" I said ... .. reply to either poketime I just managed to put my bird into his pussy.I was a little sorry to see Ranty wince a little pain when my bird comes in because there is a strange sound fit my bird entry and I see there is blood coming out from pussy and smear my bird ... I let my bird so that pain Ranty lost first, then I rocking slowlyto make Ranty enjoy it.gradually my wobble can be felt by Ranty ... that I see from the pengaman his eyes while saying yes ...... .. kak..enak ... .. sak ... continue kak .... delicious ...... kak ya ...... yes .... kk .. his words make me become more and more become. wiggle my birds in his pussy .... the faster my wobbles get faster toowords coming out of his mouth .... delicious unfortunately I say accidentally with hunjaman deepening the entry of my bird into his pussy ... .. while accelerating my sway ... .. yes ... kak said Ranty .... I do not know how long we are in this sleeping game we do, I feel more slippery andthe more delicious the entry of my bird to the pussy .... but the more delicious it feels my bird because the stronger the massage in Ranty's pussy ... it was a sign Ranty would come out ... whatever ghost of what possessed Ranty gripped my thighs strongly .... and ending a slightly loud scream (but not possiblesounds out because I accidentally turn on the music aloud before playing).I feel the heat of thick urine Ranty out that makes me also more and more seizures want to come out and I just wiggle my bird I finally pull my bird and my thick kenc I will spill on Ranty's thighs. ultimately the pleasure that we can feel though therea little pain in my bird and the rush of pain in the beginning by Ranty but our apex satisfied.Ranty and I embraced and I apologize to him for grabbing her virginity, but he told me to give it up for me. "brother of the first guy who did all the same Ranty ... yes ... Ranty hope brother is also the last even though our journey is still long" he said ... I so thoughts back then, really girls faster than adults yaaaaaaaaa ...? new age already thought to mind my mind in mind ... after we settle the bed and all the messy in my friend's room (oh ... yes my friend's name is Bento, he also never told me if he ever ML the same girl is not right, that's why I dare to play in his room). it turns out that when we went back to school the other children had all gone, we finally skipped everything and played to the movies to watch the romantic movie. I have forgotten the clear title in the cinema that we just make love even without ML. Bento also invite her boyfriend to skip then klop already. Oh, yes!Ranty and I have never said break up until now only the last time I met when I graduated from school and continue to study in East Java, a year later we are not related anymore ..... because I really never go home ....
Regards.
*********************
More stories Here.


Sum Pembantuku yang Nakal.

Demi mengembangkan usaha, aku membuka cabang usaha baru di Jogyakarta. Daerah ini menurut analisaku cukup berpeluang besar. Usaha seperti yang aku jalankan di Jakarta, sepertinya belum dikembangkan di yogya. Itulah ringkasan cerita mengapa aku sekarang mondar-mandir, Jakarta–Jogyakarta. Usahaku di Jakarta sudah berjalan baik, bahkan dapat diibaratkan sudah bisa auto pilot, sehingga tanpa kehadiranku setiap hari, usaha berjalan normal. Perhatian lebih besar ku curahkan di cabang Jogya, sehingga waktu ku lebih banyak aku habiskan di Jogya. Keluarga ku di Jakarta tidak terlalu bermasalah, anak-anak ada 2 orang sudah kuliah semua. Istri mempunyai usaha salon.Setelah 6 bulan usahaku di Jogya mulai berjalan normal, tetapi belum bisa dilakukan auto pilot. Memang benar potensi di Jogya ternyata cukup besar, sehingga aku pun bergairah menggarapnya. Selama ini ini aku menyewa kamar kost di daerah yang tidak jauh dari tempat usahaku. Pikiranku jadi berubah ketika aku melihat ada peluang untuk juga bermain properti di Jogyakarta. Aku mengakusisi sebidang lahan yang menurutku cukup strategis untuk dikembangkan menjadi bangunan ruko-ruko. Benar dugaanku, 30 ruko yang aku bangun dalam waktu singkat sudah sold out, padahal, belum satu bangunan pun berdiri. Mereka sudah tertarik melihat gambar saja. Dari sejumlah ruko yang aku bangun ada 3 ruko yang tidak aku jual. Aku memilih untuk menunda dulu. Bangunan ketiga ruko itu dua berjajar dan satu ruko bertolak belakang. Satu ruko itu kemudian setelah selesai dibangun, aku siapkan untuk tempat tinggalku selama di Jogja. Ruko berlantai 3 kamarku di lantai paling atas dan lantai kedua untuk ruang makan, ruang tamu dan kamar pembantu. Jadi aku desain seperti penthouse. Aku memerlukan seorang pembantu, tetapi mencari pembantu yang cocok dengan seleraku, tentu persoalan yang tidak mudah. Akhirnya aku mencoba memasang iklan di kolom lowongan kerja, yang bunyinya kira-kira : dicari pembantu perempuan usia 25 – 35 tahun tinggal di dalam, gaji sesuai dengan UMP (Upah Minimum Provinsi), Aku pasang di koran lokal selama seminggu. Ternyata peminatnya banyak sekali, aku tidak mengira, begitu banyak orang ingin jadi pembantu, padahal yang melamar sebagian besar bukan tampang-tampang pembantu, malah ada yang S-1. Mulanya aku bingung memilih, karena semuanya mantap-mantap. Akhirnya aku menemukan kriteria yakni berwajah khas Indonesia, badannya sekal, wajahnya manis, kelihatan jujur, berbadan sehat, single, agak genit, susunya besar, bokongnya besar, pokoknya khas Jawa banget. Dengan kriteria itu masih ada 4 orang yang memenuhi syarat. Ini makin membingungkan. Akhirnya satu persatu aku interview lagi dengan cara ngobrol. Alhasil terpilih satu orang. Dia bukan yang paling ayu, tetapi aku rasa sesuai dengan keinginanku. Namanya Sumiarti, janda tanpa anak sudah 3 tahun, karena ditinggal suaminya, hidup bersama orang tuanya di luar Jogyakarta. Umurnya 26 tahun lulus SMA tidak lama kemudian kawin. Suaminya dulu bekerja sebagai supir bus malam. Kelihatannya orangnya ramah, cekatan dan mau bekerja berat untuk menghidupi orang tuanya. "Mbak Sum sampeyan saya terima dan besok mulai bekerja, bawa semua pakaian dan perlengkapan langsung ke alamat rumah saya jam 5 sore" begitu perintah saya kepadanya. Dia kelihatan sangat senang langsung menyalami tangan saya dan menciumnya. Jangan senang dahulu, saya coba dulu 3 bulan, kalau cocok bisa terus, tetapi kalau nggak cocok ya terpaksa tidak bisa lanjut, kata saya. Dia lalu berjanji akan bekerja sungguh-sungguh. Keesokan harinya HP saya berdering, saya lihat no nya Mbak Sumiarti. Saya bergegas turun ke bawah dan membuka rolling door dan mempersilakan dia masuk. Dia membawa sebuah tas pakaian yang tidak terlalu besar dan sebuah tas tangan. Saya menunjukkan kamarnya tempat dia tinggal, sebuah kamar berukuran 2,5 x 3 m lengkap dengan spring bed dan AC serta sebuah lemari dan meja yang bisa digunakan untuk merias atau menulis. Selanjutnya aku mengajak keliling rumahku untuk menunjukkan semua fasilitas yang ada. Dia mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan dariku. Pekerjaan pertama adalah membereskan rumah ku yang agak berantakan. Sambil dia bekerja aku mengajaknya ngobrol, mengenai latar belakang kehidupannya. Sampai 1 bulan bekerja kami sudah akrab. Dia bahkan sudah terbiasa memijat badanku manakala pulang dari kantor. Sebetulnya itu bukan permintaanku, tetapi maunya dia sendiri yang menawari mau memijat. Awalnya ya memijat di ruang bawah sambil aku duduk dan menonton televisi. Sambil ngobrol, dia memijat pundakku. Pijatannya lumayan enak juga. Lama kelamaan dia menawarkan untuk memijatku seluruh badan. Aku mulanya telungkup di sofa. Tetapi karena memijatnya kurang leluasa akhirnya pindah ke tempat tidurku. Suasana di kamar terasa berbeda, otak mesumku meradang jadinya. Aku meski sudah mendekati usia 50 tahun, tetapi nafsu sexku masih tinggi. Dalam keadaan telungkup dengan hanya mengenakan celana dalam dan sarung dan bagian atas tidak mengenakan apa-apa, senjataku tidak mau diatur. Dia tegak dengan kemauannya sendiri. Pada posisi telungkup aku bisa menyembunyikannya, meskipun sarungku sudah melorot. Mbak Sum agak nakal juga dia, tangannya sengaja menyenggol-nyenggol kantong menyan, sehingga makin membuat senjataku keras sempurna. Ketika berbalik, aku tidak bisa lagi menyembunyikan ketegangan itu, Malah kepalanya agak mencuat keluar sedikit dari balik karet kolor celana, sehingga setengah kepalanya jadi seperti mengintip. Aku tidak mungkin menutupi kemaluanku dengan tangan, karena akan kelihatan norak, jadi aku pasrah saja membiarkan apa adanya. “Wah pak adiknya marah ya, itu mau keluar dari celana,” kata Mbak Sun. “Ah marah kenapa, yang mana,” kataku pura-pura tidak mengerti. “ Ini ,” katanya sambil menyubit pelan. Aku terjingkat juga ketika tangannya menyentuh ujung penisku. “Geli ya,” katanya. “Bukan geli, tapi enak” kataku. “Ih bapak genit,” katanya. “Mbak rasanya sakit kesingset sama celana, boleh nggak dibuka saja,” kataku. “Sapa takut,” katanya genit sambil menarik kebawah celanaku. Aku jadi bugil dengan senjata kaliber 15 cm mengeras sempurna sehingga posisinya 45 derajat ke arah perut. “Mantap juga pak kelihatannya,” kata Mbak Sum sambil menggenggam tangannya ke batang penisku. Pikiranku sudah terbang kemana-mana. Sentuhan tangannya membuat aku makin terangsang, apalagi dia mulai mengocoknya perlahan-lahan. Aku sudah kehilangan akal sehatku dan hanya rangsangan birahi yang memenuhi kalbuku. Aku mendesis nikmat. Mbak Sun malah menambahkan cream body lotion untuk memperlicin gerakan mengocok tangannya. Cukup lama dia mengocok batang penisku. Aku memang sulit mencapai ejakulasi melalui kocokan, rasanya malah ngilu di sekitar kepala penis. Topi baja penisku memang melebar jadi kalau dikocok pakai tangan jadi agak ngilu mengurangi rangsangan. “Bapak kok nggak keluar-keluar ya sampai tangan saya pegal,” katanya. “Iya memang agak susah keluar kalau dikocok,” kataku. Tiba tiba dikulumnya batang penisku dan Mbak Sum berusaha menghisap sekuat-kuatnya, mungkin dia ingin menarik spermaku agar cepat keluar. Dia mengulum dan hampir semua batang penisku masuk kemulutnya. Kulumannya nikmat tetapi aku masih bisa bertahan tidak muncrat hanya dengan kuluman. Aku pasif saja dipelakukan begitu, tidak berusaha merambah ke tubuhnya. Aku memejamkan mata.bahkan aku menutup mataku dengan handuk sehingga aku tidak melihat bagaimana dia melakukannya. Cukup lama Mbak Sum mengoral penisku, “Pak mulutku pegel pak lama-lama, “ katanya mnyudai aksi oralnya. Aku diam saja seperti orang tidur dan tetap menutup mataku. Aku hanya mendengar suara seperti dia sedang membuka baju. Aku tetap pasif dan mematung membujur. Dari gerakan kasur, aku merasa dia berdiri di kasur dan terasa dia mengangkangi tubuhku. Tidak lama kemudian tangannya meraih batang penisku dan diarahkan ke lubang surganya. Lalu dia menekan perlahan-lahan sampai akhirnya penisku masuk penuh ke dalam liang vaginanya. Mbak Sum melakukan gerakan maju munur, sepertinya dia berusaha menggesekkan clitorisnya ke batang penisku. Gerakannya makin lama makin cepat dan dia sendiri pun mengerang sendiri. Mungkin hanya 2 menit dia sudah ambruk menimpa tubuhku dan terasa liang vaginanya berkontraksi memijat penisku. “Pak maaf ya saya nggak kuat, jadi saya masukkan saja bapak punya ke punya saya, habis kepala saya lama-lama jadi mumet nahan nafsu,” katanya. “Sekarang gimana,” tanya saya. “Wah plong banget rasanya pak, itunya bapak enak banget, keras, jadi rasanya memek saya penuh banget,” kata Mbak Sum. Posisi aku dibawah memang membuat aku mampu bertahan agar tidak ejakulasi. Sehingga Mbak Sum akhir mendahului mencapai orgasme. Aku membalikkan posisi dan aku berada di atas sambil mengarahkan batangku memasuki liang surgawinya. Perlahan-lahan aku tekan, Mbak Sum kelihatan meringis. Aku tanya kenapa meringis, dia kata merasa enaknya batangku masuk ke lubangnya. Mungkin karena lebar topi bajanya sehingga ketika aku menarik batangku membuat vaginanya seperti divakum. Ini membuat vaginanya terasa mencekat meskipun sudah dibanjiri cairan orgasme dan pelicin. Aku melakukannya dengan ritme pelan, sambil membayangkan letak G Spot si Mbak Sum agar kesundul topi baja ku. Mungkin G Spotnya berkali-kali tergerus oleh topi bajaku, sehingga dia merintih-rintih tak terkendali, jika aku percepat, ritme rintihannya juga menjadi ikut cepat, lama-lama rintihannya seperti dia akan mendapat orgasme, mendengar reaksi itu rangsanganku jadi makin memuncak dan aku merasa sebentar lai aku akan melekedak, akhirnya aku mempercepat gerakanku dan mengabaikan rintihannya. Menjelang aku orgasme dia sudah menjerit mencapai O-nya dan berusaha merangkulkan kakinya ke pinggangku agar tubuhku merapat, terutama kemaluan ku menekan kemaluannya. Kuhunjam dalam-dalam-dalam batang penisku dan terasa kedutan yang sangat mencekat membuat aku tak mampu lagi bertahan dan tumpahlah semua spermaku ke dalam liang vaginanya. Kelamin kami saling beradu kontraksi sampai akhirnya kami berdua lemas. “Uedan pak, enak banget rasa ne sampai aku lemes banget, Pak maaf ya pak aku nggak kuat berdiri, mataku ngantuk banget, aku numpang tidur sebentar ya, badanku lemes banget pak,” katanya sesaat selesai orgasmenya. Mungkin dia mendapat orgasme G Spot yang mengakibatkan badannya lemas dan memebuat ngantuk. Aku bangkit dan memperhatikan tubuh telanjangnya. Teteknya cukup besar, akhirnya aku tahu BH nya ukuran 38 C, berpinggang dan bagian pinggulnya melebar, pahanya tebal dan bulu jembutnya tidak terlalu lebat, tetapi bentuknya menggunung. Orang setempat menyebutnya menthul. Warna kulitnya kuning langsat, bagian dalam yang sering tertutup pakaian lebih terang daripada bagian luarnya. Kutaksir tinggi Mbak Sum sekitar 160 cm, cukup tinggi bagi rata-rata perempuan Jawa. Rambutnya lurus sebahu dan lumayan lebat, bibirnya agak tebal, hidungnya normal tidak termasuk pesek. Meski pahanya tebal, tetapi tumitnya kecil dan dekok (sorry susah menerjemahkan). Aku kekamar mandi membersihkan senjataku dan membawa handuk lembab untuk membersihkan sisa maniku yang berada dan meleleh di sela-sela vaginya. Beberapa tetes sempat membasahi sprei, tetapi tidak terlalu banyak. Setelah itu kami tidur berselimut dan telanjang ei bawah selimut. Aku jatuh tertidur mungkin sekitar 3 jam. Karena kulihat jam di dinding menunjukkan jam 1 malam ketika aku terbangun. Kantong kemiku terasa penuh sehingga aku bangkit menuju kamar mandi sambil tetap telanjang dan melepaskan hasrat kecilku. Tidak lama kemudian Mbak Sun nyusul dan dia langsung duduk dan berdesir suara tekanan kencingnya. Mak Sun juga telanjang bulat ke kamar mandi. Aku membersihkan senjataku, tetapi kemudian diraih oleh Mbak Sun dan disabuninya senjataku lalu diguyur shower dengan air hangat. Dia pun lalu menyabuni memeknya sendiri sambil jongkok. Setelah mengeringkan diri dia menyeretku kembali masuk ke bawah selimut. “Bapak main e pinter banget sampai aku semaput,” katanya. Di tidur bagaikan kami suami istri. Tanpa rasa sungkan lagi dia memelukku sambil meremas-remas batangku di bawah selimut. Mendapat perlakuan begitu, perlahan-lahan senjataku jadi mengeras, meskipun tidak sampai 100%. Tanganku juga ikut meremas dan memelintir putingnya, Putingnya masih termasuk kecil, karena dia belum pernah hamil. Pada kesempatan itu kutanyakan dia apakan sekarang dia sedang masa subur. Dia menjawab, bahwa dia tidak bisa punya anak. Menurut dokter, indung telurnya tidak sempurna memproduksi telur. Teteknya yang tebal terasa mantap di telapak tanganku, Aku bangkit lalu menghisap kedua putingnya, sampai kedua nya makin keras. Melalui jilatan di kedua putingnya saja Mbak sun sudah mereintih nikmat. Tanganku meraba belahan memeknya terasa berlendir. Menandakan dia sudah terangsang dan siap di tusuk kembali. Aku tidak mau terburu-buru, Aku menciumi perutnya dan menjilat di sekitar pusarnya. Mbak Sum menggeliat kegelian . Kurengangkan kedua kakinya dan mulutku turun terus menciumi gundukan atas memeknya yang ditumbuhi bulu agak jarang. Mbak Sum sungkan dan berusaha menarik kepalaku. Pak jangan diciumi anuku pak aku, sungkan pak, jijik pak. Aku tidak peduli dengan rintihannya lidahku mulai menyapu belahan memeknya. Kubuka belahan memeknya dengan kedua tanganku terlihat bentuk vaginanya sempurna. Clitorisnya merah mengkilat menonjol di atas, sehinggan mudah menemukannya, bibir dalamnya tidak bergelambir, meski berwarna ungu tua, di dalamnya berwarna merah muda dan basah. Mbak Sun berkali-kali berusaha menarik kepalaku ke atas, karena katanya dia malu dilihatin begitu. Tetapi tidak kupedulikan malah aku mulai menjilati clitorisnya. Bagian clitoris yang menonjol menjadi mudah bagiku mencucupnya dan menjilaitnya. Mbak Sum sudah kelojotan gak karuan, sehingga aku terpaksa menekan kedua lenganku menahan pahanya agar memudahkanku menjilati clitorisnya. Dia menjerit-jerit nikmat sambil menekan-nekan kepalaku sampai akhirnya menjerit panjang manakala orgasmenya sampai. Terasa seluruh permukaan memeknya berkedut dan celah vaginanya membanjir cairan kental. Aku bertahan beberapa saat sampai dia menuntaskan orgasmenya baru mulutku kuangkat dari memekunya. Aku lalu duduk bersimpuh dan perlahan-lahan meencolokkan jari manis dan jari tengah ke dalam lubang memeknya sampai ambles semua. Perlahan-lahan aku kocok. Mulanya tidak ada reaksi dari tubuhnya, tetapi lama-lama mulutnya merintih nikmat lagi. Makin lama makin keras dan akhirnya aku menandai bahwa dia segera mancapai orgasmenya. Menjelang orgasmenya cepat-cepat aku tarik jariku dari lubang memek dan membuka lebar belahan memeknya sampai terlihat lubang kencingnya. Tak lama berselang muncrat cairan kental berkali-kali sehingga mengenai mukaku. “Pak maaf ya pak aku nggak bisa nahan ngompol, sampai kena muka bapak ya,” ‘ katanya sambil mengelap muka ku yang belepotan cairan ejakulasinya. “Pak sumpah, saya seumur hidup belum pernah ngrasai sampai gini enaknya, kalau sampai saya ketagihan nanti jangan salah in saya Pak,” sambil matanya sayu. Dia mengaku lemas sekali. Tetapi senjataku yang sudah mengacung keras memerlukan penuntasan. Aku langsung menerjang dan menggenjotnya. Cukup lama juga karena ronde kedua ku biasanya biasanya lama sekali. Sudah setengah jam aku genjot dia sudah berkali-kali mendapat orgasme sampai katanya badannya kayak tidak ada tulangnya. Dia sudah mohon-mohon untuk menyudahi permainan karena badannya sudah tidak kuat berkali-kali orgasme. Aku tidak perduli dan terus berkosentrasi untuk mendapatkan orgasmeku. Ketika aku sampai di puncak, Mbak Sun juga menyertai. Aku merasakan kontraksi bersamaan dan Mbak Sun kemudian terdiam dan tak lama keudian dia sudah mendengkur. Aku pun langsung tertidur. * * * Sejak saat itu kami hampir setiap hari selalu berhubungan kelamin. Kadang-kadang ketika aku sedang nonton TV, Mbah Sum memelorotkan celanaku lalu duduk dipangkuanku dan menancapkan senjataku ke vaginanya. Kami duduk berhadapan, aku diam saja, dia yang aktif memainkan peran sampai akhirnya mencapai orgasme. Sering aku tidak sampai orgasme dia sudah lelah, sehingga aku membiarkan pertandingan usai meski aku belum game. Permainan disambung lagi di tempat tidur sampai tuntas. Mbak Sum ternyata nafsunya besar sekali. Lebih sering dia yang meminta dari pada aku yang memulai. Dia selalu menggoda untuk menjurus pada hubungan sex. Oleh karena itu selama dirumah kami jarang mengenakan baju. Kami telanjang saja sambil makan, sambil nonton TV, atau kadang-kadang aku bekerja di komputer, barangku di bawah dikulum dan di hisap-hisap. Jadi kami di rumah ini sudah menerapkan kehidupan nudist. Aku memang tidak selamanya berada di Jogya, karena beberapa hari aku berada di Jakarta untuk mengawasi jalannya perusahaan di sasana dan berada di rumah . Jika aku tidak di Jogya, Mbak Sum pulang ke rumah orang tuanya, begitu selalu. Tidak terasa sudah 6 bulan aku hidup bersama Mbak Sun, gajinya sudah kunaikkan menjadi dua kali lipat. Dia senang sekali karena selain gajinya utuh, dia juga sering mendapat uang tips dari aku. Suatu hari setelah kami bertempur, Mbak Sum berbicara kepadaku bahwa dia minta izin dari ku untuk membawa saudaranya untuk menemani. Saudaranya ini anak sebatang kara karena sudah tidak punya orang tua yang meninggal karena kecelakaan. Dia seorang anak perempuan berumur sekitar 12 tahun, sekolah baru mau naik kelas 6 SD. Sebetulnya aku agak keberatan, karena dengan hadirnya orang ketiga, kegiatan sex kami bisa terganggu. Itu aku kemukakan ke Mbak Sum. Dia pun katanya sudah mempertimbangkan itu, tetapi dia berjanji berusaha mengatur agar kehadiran anak itu tidak mengganggu. “ Kasihan Pak anaknya pintar dan manis, tapi miskin tidak punya orang tua, dia selama ini tinggal sama orang tua saya.” katanya. Aku pikir kasihan juga Mbak Sum jika aku tinggal ke Jakarta, yang kadang-kadang cukup lama, dia harus mondar mandir ke kampung. Akhirnya aku setujui dengan syarat Mbak Sum yang mengatur anak itu. Ketika aku kembali ke Jogya, Mbak Sum sudah ditemani oleh keponakannya. Anaknya sopan, manis dan menyalami sambil mencium tangan. Di sebut namanya Rachmawati. Kulitnya lebih gelap sedikit dibanding Mbak Sum. Sejak ada Rahma, kegiatan sex kami memang berkurang. Kami tidak leluasa lagi bermain. Jika hasrat sudah memuncak, kami melampiaskannya tengah malam setelah anak itu pulas di kamar mbak Sum dan kami main di kamarku. Jika kami main, sebetulnya aku was-was juga, karena kamarku diatas tidak berpintu, Khawatirnya anak itu tiba-tiba muncul karena tengah malam terbangun, melihat Mbak Sum tidak ada disebelahnya bisa saja dia mencari ke atas. Kekhawatiranku akhirnya terbukti juga. Mungkin juga karena kami lengah, karena setelah 3 bulan kami main kucing-kucingan akhirnya jadi kurang waspada. “Bude” katanya lirih ketika Mbak Sum masih telanjang berada di atas tubuhku. Kami berdua kaget dan tidak sempat bersembunyi lagi karena jarak antara Rahma berdiri dengan bed hanya sekitar 3 m dan penerangan meski remang-remang tetapi masih cukup terang. Ada apa kata Mbak Sum dalam bahasa Jawa dan masih dalam posisi bugil di atas tubuhku. “Aku takut dibawah sendirian,” katanya. Kami tidak bisa menyembunyikan diri dan mengubah posisi untuk berlindung dari pandangan Rahma. Mbak Sum yang sudah tinggi nampaknya merasa tanggung, maka dia meneruskan permainan dan mengabaikan saja kehadiran si Rahma. Lalu Mbak Sum menyuruh anak itu duduk ditepi ranjang sehingga dia bisa jelas melihat kami berdua dalam keadaan bugil. Mulanya dia buang muka, mungkin merasa malu melihat kami berdua telanjang . Tetapi lama-lama karena kami melanjutkan adegang yang tertunda dan Mbak Sum tidak bisa menahan rintihannya, maka anak itu terpancing juga melihat, budenya main kuda-kudaan. “Bude ngapain sih sama bapak,” katanya dalam bahasa Jawa setelah sekian lama membuang muka akhirnya melihat permainan kami berdua. Dalam bahasa Jawa Mbak Sum mengatakan bahwa kami sedang bersenang-senang. Dasar anak ini masih polos dia bertanya, bersenang-senang kok telanjang dan saling menindih. Kedengarannya malah budenya seperti merintih kesakitan. Budenya menjawab sejujurnya bahwa dia bukan kesakitan tetapi saking enaknya. “Apa ne sih bude sing enak,” katanya. Dia menjadi penasaran dimana enaknya bertindih-tindihan seperti itu. Kosentrasiku jadi terganggu sehingga ejakulasiku jadi makin jauh meski batang ini masih mengeras, tetapi bagi Mbak Sun kelihatannya tidak, karena rintihannya makin seru meski pun disambil berkomunikasi dengan keponakannya. Dia akhirnya mencapai puncaknya juga dan rubuh ke tubuhku. Nafasnya mendengus seperti habis lari marathon. Setelah itu Mbak Sun bangkit dan menggandeng anak itu masuk ke kamar mandiku. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Mbak Sun kembali dan meraih bajunya lalu sambil tetap nudist dia berjalan menggandeng Rahma turun. Terdengar mereka masuk kamar. Tidak terdengar suara apa-apa lagi, mungkin mereka sudah tertidur. Aku bangkit dan mencuci senjataku yang tadi belum tuntas. Tapi karena sudah terbiasa begitu akhirnya aku cuci senjata dalan langsung masuk selimut tidur. Aku tidak bisa langsung tidur, Pikiranku melayang membayangkan apa yang dilakukan Mbak Sun kepada Rahma yang memergoki kami sedang bersebadan. Akhirnya aku tertidur juga dan jam 6 pagi aku bangun, seperti biasa turun kebawah minum teh dan sarapan roti. Sambil menonton berita di TV. Selepas sarapan aku naik keatas bersiap mandi dikamar mandiku. Kamar mandiku di dalamnya ada bak jakuzi berbentuk seperempat bundaran. Nikmat sekali rasanya berendam air hangat sambil melamun, senjataku pelan-pelan bangun karena terendam air panas. Aku dikejutkan oleh kemunculan Mbak Sun dan Rahma di kamar mandiku. Mulanya Mbak Sun menelanjangi dirinya, lalu meneyuruh Rahma juga telanjang. Rahma agak ragu dan malu menelanjangi dirinya, tetapi karena diperintah budenya dan katanya ini sebagai hukuman memergoki kami telanjang. Akhirnya Rahma bugil juga. Mereka buang air kecil bergantian di toilet lalu menyiram dirinya dengan shower baru Mbak Sun membimbing Rahma masuk bergabung dengan ku. Rahma agak takut dan kaku melangkah masuk ke dalam bak. Kami duduk bertiga berhadap-hadapan dalam bak. Tangan Mbak Sun langsung menggenggam penisku yang setengah penuh. Dia lalu meraih tangan Rahma dan memerintahkan tangannya menggenggam penisku. Rahma menunduk menahan rasa malu dan tangannya agak kaku sehingga dipaksa Mbak Sun sampai akhirnya tangan kecil itu benar-benar menggenggam batangku. Terasa tangannya gemetar dan diam tidak bergerak. Tangannya baru bergerak mengocok setelah tangan Mbak Sun mengarahkan gerakan itu. Tidak lama kemudian Mbak Sun berdiri dan menarik Rahma dan aku berdiri juga. Dia meraih sabun cair dan meminta Rahma menyabuni tubuhku, dan aku menyabuni tubuh Mbak Sun. Rahma kaku membelai tangan yang penuh sabun ke tubuhku. Kuperhatikan tubuhnya mulai tumbuh. Teteknya meski sudah berkembang tetapi masih sebesar perkedel, pinggulnya sudah mulai mekar, memeknya masih gundul dengan belahan rapat di bawahnya. Pentil di teteknya masih kecil seperti pentil tetekku. Dia ragu-ragu ketika menyabuni bagian kelaminku tetapi dia lakukan juga sambil tangannya gemetar. Setelah tuntas ganti aku menjamahi tubuhnya dengan sabun dan mencoba menekan teteknya yang mengkal, lalu menyabuni memeknya dan mencari itilnya. Dia sempat berjingkat ketika itilnya tersenggol. Dia kupeluk dari belakang sehingga batangku yang agak keras menempel di punggungnya sambil aku meremasi teteknya dan menyabuni memeknya. Dia menggeliat-geliat. Setelah peristiwa itu, kami jadi lebih terbuka dan lebih bebas. Mbak Sun yang memang nafsunya besar makin cuek bermain di sofa di depan keponakannya. Si Rahma jadi terbiasa menyaksikan kami bermain, bahkan dia sering ikut tidur bertiga di kamarku. Sebulan kami terbuka dengan Rahma, sampai akhirnya dia memperhatikan kedua kelamin kami yang sedang beradu. Semua dia tanya proses bersetubuh itu, dan dia tanyakan apakah proses itu menyakitkan . Dia pun tahu bahwa kemaluan laki-laki akan menegang jika terangsang. Rahma setelah sebulan mulai berani ikut menciumi kemaluanku diajari oleh Mbak Sun. Aku sekarang sering dioral oleh Mbak Sun dan Rahma. Kami pun sudah biasa bertelanjang di seputar rumah . Kelihatannya Rahma penasaran ingin merasai di oral pula sehingga suatu hari dia berujar, kepingin merasai dioral memeknya. Aku memulai dengan mencium kedua bibirnya. Reaksinya Rahma agak kaku dan diam saja, tetapi lama-lama ikut bergerak dan nafasnya makin cepat. Bersamaan dengan itu aku merabai tetek kecilnya tanpa aku remas. Karena tetek yang baru tumbuh akan merasa sangat sakit jika diremas. Aku kemudian memintanya duduk di sofa dan membentangkan kedua kakinya sehingga memek gundulnya terbuka dan terlihat lipatan bibir dalamnya yang ujungnya berlipat menonjol. Aku mulai menjilati kedua putingnya. Dia kegelian. Aku rasa itu wajar, ketika seorang wanita apa lagi yang masih dibawah umur belum begitu terangsang, maka rasa geli akan menerpanya. Aku menjilat dan sesekali menghisapnya. Lama-lama rasa gelinya mulai berkurang dan dia mulai mendengus-dengus. Kuraba belahan memeknya mulai terasa basah dengan lendir. Dia sempat terkejut ketika tanganku menggapai belahan memeknya. Setelah dia makin terangsang aku berpindah menjilatai belahan memeknya. Rahma bergelinjang-gelinjang, geli katanya. Aku harus bersabar sambil terus menjilati belahan memeknya, gundukannya. Sampai dia mulai terbiasa merasa jilatan di bagian memeknya. Aku tidak langsung menjilat itilnya, karena pasti dia tidak tahan dengan rasa geli yang amat sangat. Memeknya makin berlendir, nafasnya makin memburu sampai dia mulai merintih nikmat. Saat itulah baru aku berani lidahku menjelajahi itilnya. Rahma sempat berjingkat ketika lidahku menyentuh bagian pinggir itilnya. Lidahku mulai merasa itilnya mengeras. Clitoris anak di bawah umur masih belum menonjol, dia berada di bawah lipatan ujung bibir dalam kemaluan. Lidahku mengeksplor lipatan itu sampai menemukan tonjolan kecil yang keras. Rahma kembali berjingkat, agak ngilu tapi mulai ada rasa nikmat. Aku sapu perlahan-lahan itil yang tersembunyi itu sampai Rahma mengerang tanpa dia sadari. Pinggulnya terlonjak-lonjak seirama dengan jilatanku, sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya. Mungkin ini adalah orgasmenya yang pertama seumur hidupnya. Memeknya berkedut-kedut lama sekali dan badannya ikut berjingkat seirama dengan gelombang orgasmenya. Sehabis itu dia mengaku badannya lemas dan pikirannya plong. Dia pun akhirnya mengakui rasanya enak banget. Rahma memeluk diriku dan dia mencium bibirku erat sekali. “Pak aku sayang bapak” katanya. Itulah pengalaman pertamanya di oral, seterusnya dia sering minta dioral, dan dia sudah mampu mengatasi rasa gelinya sehingga aku tidak perlu berlama-lama merangsang dirinya sampai dia siap dijilat itilnya. Mungkin 3 bulan dia terbiasa dengan jilatanku, bahkan jika aku menolak menjilatinya dia mulai berani ngambek. Kalau ngambek dia duduk dipangkuanku sambil bugil dan menggoyang-goyangkan pantatnya di atas penisku yang masih lemas. Sampai akhirnya penisku jadi terangsang. Setiap kali aku berhubungan dengan Mbak Sun dia memperhatikan dan berkali-kali tanya gimana sih enaknya, apa beda enaknya di jilat sama memek dijejali penis. Mbak Sun berusaha meyakinkan dia bahwa dia belum bisa di entot, karena lubang memeknya masih kecil. Awalnya dia percaya, tapi mungkin rasa ingin dan penasaran mendorong dia juga ingin merasakan disumpel memeknya sama kontol. Dia bahkan berkali-kali merengek ingin mencoba memeknya diadu dengan penisku. Selama ini aku berusaha menolak, karena khawatir akan mencederainya. Namun rengekannya tidak berhenti, sehingga akhirnya aku menyiapkan pelicin K-Jelly. Aku cuma ingin menempelkan kepala penisku di depan lubang memeknya dan menggeser-gesernya tanpa berusaha memasukinya. Dengan begitupun kata Rahma dia sudah merasa nikmat. Tapi namanya permainan yang tidak tuntas, tentu saja dia ingin mencoba menjejalkan kepala penisku ke lubang memeknya. Aku akhirnya menyerah dan pasrah mengikuti kemauannya. Aku tidur telentang dan melumasi ujung penisku banyak dengan jelly dan juga di belahan memeknya terutama di sekitar lubang masuknya. Dia ku suruh mengarahkan sendiri memasukkan penis ke dalam memeknya. Sehingga jika dia merasa sakit dia akan berhenti. Dia seuju dan mulai melakukan aksi mengarahkan kepala penisku ke gerbang memeknya. Karena licin kepala penisku bisa mengarah ke lubang yang dituju, apalagi diarahkan oleh tangan Rahma. Terlihat lubang memeknya terkuak mengikuti besarnya kepala kelaminku. Dia meringis, agak sakit katanya, namun karena penasaran dia memaksa merendahkan badannya sehingga kepala penisku masuk sekitar dua centimeter. Terasa tidak muat dan dia juga merasa sakit akhirnya dia berhenti mencoba. Seminggu dia tidak merengek memintaku mencoba memasukkan penisku ke memeknya. Tapi itu hanya seminggu karena setelah itu dia penasaran ingin mencoba lagi. Kali ini percobaannya bisa melesatkan kepala penisku memenuhi rongga. Dia tidak berani menekan-nekan lebih jauh karena katanya perih. Tiga hari kemudian dia ingin mencoba lagi dan berhenti sampai kepala penisku terbenam. Berkali kali di coba di hari hari berikutnya ya mentoknya di situ-situ juga. Aku tahu bahwa batas itu adalah batas dimana selaput daranya berada. Proses membenamkan kepala penis sudah dapat berjalan lancar, tetapi lebih dari itu dia tidak bisa meneruskan karena rasa sakitnya. Meski pun begitu dia tetap penasaran, karena jejalan kepala penisku ke dalam memeknya dia rasakan cukup nikmat. Hanya saja lebih dari itu dia tidak tahan rasa pedihnya. Akhirnya yang biasa dia selalu berada di posisi diatas kini akulah yang menindihnya dan aku minta dia mengarahkan kepala penisku yang sudah licin karena lumuran jelly demikian juga lubang memeknya. Pada posisi itu kepala penisku sudah terbenam di dalam memeknya dan berhenti di selaput daranya. Ketika kutekan dia memundurkan pantatnya karena sakit. Kupeluk dia lalu aku cium bibirnya sampai dia sangat bernafsu, bersamaan dengan itu aku menegangkan penisku sambil sedikit menekan, badannya terhentak, tetapi aku tetap mempertahankan posisiku yang kurasa agak masuk, gerakan yang sama kuulangi lagi sampai terasa didalam “krek” . Rahma meringis tanda kesakitan tetapi aku tetap mempertahankan posisi sampai dia terbiasa lubangnya menerima kehadiran batang penisku. Setelah terlihat dia tidak merasa sakit aku tekan perlahan-lahan dan terasa bisa melaju meskipun jepitannya terasa ketat sekali. Aku sulit menduga sudah sejauh apa penisku masuk, sehingga aku meraba sisa batang penisku, ternyata sudah semua batangku tenggelam di memeknya. Aku agak kurang percaya dan berusaha menekan lagi, ternyata memang sudah tidak bisa karena sudah mentok. Rahma mengernyit setiap aku melakukan gerakan, karena lubang vaginanya seperti dipaksa memuai oleh batang penisku. Aku mencoba menarik pelan. Dia meringis, aku tekan lagi , dua tiga kali maju mundur rasanya sudah mulai licin, meskipun masih mencekam. Penisku mulai agak lancar maju mundur . Akibat ketatnya lubang memek itu, aku pun tidak mampu bertahan lama, karena gelombang orgasme rasanya makin besar melanda sampai akhirnya aku tembakkan didasar memek Rahma. “Anget pak, Bapak pipis di dalam memek Rahma ya,” katanya. Mbak Sun yang dari tadi memperhatikan proses pemerawanan itu langsung mengatakan bahwa itu yang terasa anget adalah pejuh atau sperma. Aku biarkan batang penisku agak lama di dalam lubang memek Rahma sampai agak menciut baru aku keluarkan. Ada bercak merah seperti darah bercampur lelehan air maniku. Namun darahnya tidak terlalu banyak. Rahma mengeluh memeknya terasa perih. Mbak Sun lalu me lap lelehan mani di memek keponakannya sampai bersih dan membimbing Rahma ke kamar mandi untuk membersihkan bagian dalamnya. Rahma berjalan tertatih-tatih. “Pak rasanya masih ada yang ngganjel di dalam memekku,” katanya. Seminggu dia tidak berani minta dientot, tapi ya cuma seminggu setelah itu dia minta mencoba lagi. Meski pakai jelly pada awalnya masih perih, tetapi kocokan berikutnya sudah kurang perihnya. Rahma berusaha menikmati entotan di sela-sela rasa sakit yang masih ada. Sampai persetubuhan ke empat setelah diperawani, Rahma baru mampu mencapai orgasme melalui hubungan kelamin. Dia akhirnya mengatakan bahwa ngentot memang enak, meski pada awalnya perih banget. Setelah itu Rahma selalu minta bagian jika aku bermain dengan budenya. Meski masih 12 tahun, tetapi memek yang sudah berkali-kali diterobos penis akhirnya tidak terlalu ketat juga rasanya. Setelah lebih dari 10 kali aku menggauli Rahma, rasanya memeknya hampir sama saja dengan memek budenya. Bedanya budenya servicenya lebih lihai, sementara Rahma masih cenderung pasif. Berkat mentor budenya Rahma ketika menginjak usia 13 tahun dimana dia mulai haid, dia sudah piawai bermain sex. Teteknya juga sudah makin menggembung, lemak di pantatnya juga semakin besar dan di pepeknya mulai tumbuh bulu-bulu halus, terutama diujung atas belahan memeknya. Di usia 14 tahun Rahma sudah tumbuh menjadi gadis yang ayu dengan gelembung susunya yang makin besar dan pantatnya makin nyembul. Permainannya juga sudah memabokkan diriku. Untuk mencegah kehamilan dia terpaksa minum pil KB. Aku pun hati-hati melepas sperma di dalam memeknya. Tidak kuduga, nafsu Rahma tinggi juga seimbang sama budenya. Jika aku dua hari berada di Jakarta, setelah kembali ke Jogya aku seperti diperkosa kedua wanita itu siang malam, mereka menuntut dipuaskan keinginan sex nya.
Salam.
****************
Cerita lainnya Disini


Miss Sum my naughty housekeeper.

In order to expand the business, I opened a new business branch in Jogyakarta. This area according to my analysis is quite a big chance. Business like I run in Jakarta, seems not yet developed in yogya. That is the summary of the story why I am now pacing, Jakarta-Jogyakarta. my business in Jakarta is running well, even can be likened to auto pilot, so without my presence every day, the business runs normally. I give more attention in the branch of Jogya, so more time I spend in Jogya. my family in Jakarta is not too problematic, children have 2 people have all lecture. Wife has a salon business. After 6 months my business in Jogya start running normally, but can not be done auto pilot. it is true the potential in Jogya was quite large, so I was excited about working on it. During this time I rented a boarding room in an area not far from where I am business. My mind was changed when I saw an opportunity to also play property in Jogyakarta. I acquired a plot of land that I think is strategic enough to be developed into a shop-shop building. True to my guess, 30 shophouses that I built in a short time already sold out, but not a single building was standing. They are interested to see the picture only. from a number of shophouses that I built there are 3 shophouses that I do not sell. I chose to postpone. The third building of the shop is two rows and one shop opposite. One shop then after the completion of construction, I prepare for my residence in Jogja. my 3-storey shophouses on the top floor and the second floor for the dining room, living room and maid's room. So I design like a penthouse. I need a maid, but looking for a maid to match my tastes, of course that is not easy. I ended up trying to put an advertisement in the vacancy column, which reads: look for female helpers aged 25-35 years living in, salary according to UMP (Province Minimum Wage), I put in local newspaper for a week. I was not expecting, so many people want to be a maid, but who applying most of the maid does not look, there is even a S-1. At first I was confused to choose, because everything is steady. I finally found the criteria of a typical Indonesian-faced, his body once, his face is sweet, looks honest, able-bodied, single, somewhat flirtatious, big milk, big butt, just typical of Java really. With that criteria there are still 4 people who qualify. This is more confusing. finally one by one I interview again by way of chatting. Consequently one person elected. He's not the most beautiful, but I think I want to. Her name Sumiarti, widow without children is 3 years, because left her husband, living with his parents outside of Yogyakarta. age 26 years old graduated from high school shortly then married. Her husband used to work as a night bus driver. It seems that people are friendly, nimble and willing to work hard to support their parents. "Mbak Sum sampeyan I received and tomorrow started work, bring all clothes and supplies directly to my home address at 5 pm" so my command to him. He seemed very happy to instantly shake my hand and kiss him. do not be happy first, I try first 3 months, if suitable can continue, but if not suitable yes forced to not go, I said. He then promised to work hard. The next day my HP rings, I see its no Mbak Sumiarti. I rushed down and opened the rolling door and invited him in. He was carrying a small suitcase and a handbag. I show her room where she lives, a room measuring 2.5 x 3 m complete with spring bed and air conditioning and a cabinet and table that can be used to make up or write. Next I invited around my house to show all the facilities. he nodded hearing an explanation from me. The first job is to clean up my house a bit messy. As he worked I invited him to talk, about his background. Up to 1 month of work we are familiar. he's even used to massaging my body when I come home from work. Actually it's not my request, but she wants to offer herself a massage. At first I was massaging in the basement while I sat and watched television. While chatting, he massaged my shoulder. the massage is pretty good too. Eventually he offered to massage me all over the body. I was lying face down on the couch. But because the massage was less free finally moved to my bed. The atmosphere in the room feels different, my nasty brain becomes inflamed. I am even close to the age of 50 years, but my sex appetite is still high. In my stomach by wearing only my underwear and sarong and the upper part wearing nothing, my weapon will not be arranged. He is upright in his own accord. on my stomach I can hide it, even though my sheath is sagging. Mbak Sum is a bit naughty too him, his hand deliberately nudge the bag pocket, so that more make my weapon hard perfect. when I turned back, I could no longer hide the tension, instead his head was slightly sticking out from behind the pale rubber band, so half his head looked like a peek. I could not cover my groin with my hands, because it would look tacky, so I just let it go just the way it is. "Well sir sister angry yes, it would come out of pants," said Mbak Sun. "Ah upset why, which one," I said, pretending not to understand. "Here," he said, pinched slowly. I was also prompted when his hand touched the tip of my cock. "Amused," he said. "No amusement, but good" I said. "I'm a flirtatious man," he said. "Mbak it hurt the same pants suit, may not open it," I said. "Frightened," he said flirtatiously as he pulled down my pants. I'm so naked with a 15 cm caliber gun hardened perfectly so that its position 45 degrees toward the stomach. "Steady also sir it seems," said Mbak Sum while holding his hand to the shaft of my cock. My mind was flying everywhere. the touch of his hand made me even more aroused, let alone he started shaking it slowly. I've lost my senses and only a lusty stimulus that meets my heart. I sizzle deliciously. Mbak Sun even added cream body lotion to memperlicin movement shake his hand. long enough he shuffled my cock. I really find it difficult to reach ejaculation through whisk, it feels even pain around the head of the penis. Armor of my dick is widened so if shaken by hand so a little pain to reduce stimulation. "You really do not go out and out until my hands are sore," he said. "Yeah it's a bit hard to get out when shaken," I said. Suddenly dikulumnya stem of my cock and Mbak Sum trying to suck hard, maybe he wanted to pull my sperm to get out quickly. he sucked and almost all of my cock rod went into his mouth. Kulumannya delicious but I can still survive not spurt with only kuluman. I'm just passive to be treated, not trying to penetrate into his body. I closed my eyes. Even I closed my eyes with a towel so I did not see how he did it. Long enough Mbak Sum mengoral my cock, "Pak my mouth pegs pack a long time," he said mnyudai oral action. I just kept quiet as a sleeper and kept my eyes closed. I just heard a sound like he was undressing. I remain passive and statue stretched out. From the motion of the mattress, I felt him standing on the mattress and felt him straddling my body. Not long afterwards his hand grabbed my cock and directed to the hole of his paradise. then he pressed slowly until finally my dick entered full into the vagina. Mbak Sum did a mild forward movement, it looks like she was trying to swipe her clitoris down my cock. His movements grew faster and he himself moaned on his own. maybe only 2 minutes he had collapsed hit my body and felt his vagina pit contracted massaging my dick. "Sorry I'm not so strong, so I just put my father got to have me, my head out for long so mumet nahan lust," he said. "Now what," I asked. "Well plong really pack, it's really nice, hard, so it feels full pussy me," said Mbak Sum. The position I'm under does make me able to survive so as not to ejaculate. So the final Mbak Sum precedes reach orgasme. I turned the position and I was on top while pointing my rock into his heavenly hole. Slowly I press, Mbak Sum looks grimacing. I asked him why he winced, he said it felt good batangku get into the hole. probably because of the width of the steel cap so that when I pull the batangku make her vagina like a vacuum. This makes her vagina feel sticky even though it has been flooded with orgasm and lubricant fluid. I do it with a slow rhythm, while imagining the location of G Spot the Mbak Sum for my head helmet cap. maybe G Spotnya repeatedly eroded by my helmet cap, so he whimpered uncontrollably, if I speed up, rhythm moans also become fast, long-perioded moans like he will get an orgasm, hear the reaction that my stimulation becomes increasingly peak and I feel a momentlai I will burst, finally I speed up my movement and ignore the moans.before I had an orgasm she was screaming reaching her O and trying to wrap her legs around my waist so that my body was docked, especially my genitals pressed his cock. deep inside my cock and feeling a very tight twitch made me unable to survive and spilled all my sperm into her vagina. Our sex collided with each other until we were both limp. "Uedan sir, really nice taste ne until I really lemes, sir sorry yes sir I can not stand up, my eyes are sleepy, I ride a little sleep ya, my body lemes really sir," he said after his orgasm. maybe he got a G Spot orgasm that resulted in his body limp and make sleepy. I got up and watched her naked body. the stool is big enough, I finally know the BH is 38 C, waisted and the hips widened, thick thigh and fur jembutnya not too dense, but the shape is mounting. Local people call it menthul. the color is yellow leather, the inside of which is often covered in clothing lighter than the outside. Mbak Sum high approximate about 160 cm, high enough for the average Javanese women. Her hair is straight shoulder length and quite thick, slightly thick lips, normal nose not including pug. although her thighs are thick, but her heels are small and dekok (sorry hard to translate). I went to the bathroom to clean my gun and bring a damp towel to clean up the rest of the maniku that was and melted in between her vagina. A few drops had wet the sheets, but not too much. after that we slept covered and naked ei under the covers. I fell asleep probably about 3 hours. Because I saw the clock on the wall showed at 1 pm when I woke up. my pocket felt so full that I got up to the bathroom while remaining naked and let go of my little passion. Not long after Mbak Sun came and he sat down and rustled his urine pressure. Mak Sun is also naked to the bathroom. I cleaned my weapon, but then achieved by Mbak Sun and disabuninya my gun and shower showered with warm water. He then then soaping his own pussy while squatting. After she dried herself she dragged me back under the covers. "Father playing really smart until I'm caustic," he said. In bed like we're husband and wife. Without any more embarrassment he hugged me while wringing my quill under the covers. Got the treatment so, slowly my weapon so hard, although not to 100%. my hands also participate squeezing and twisting his nipples, Putingnya still including small, because he had never been pregnant. On that occasion I asked him whether he was in his fertile days. He replied that he could not have children. according to doctors, the ovaries are not perfect producing eggs. The thick numbness was firm in my palms, I got up and sucked on both nipples, until both of them got harder. Through licking in both nipples only Mbak sun has been smashing favors. my hands feel the slime pussy feel slimy. Indicates that he is aroused and ready to be stabbed again. I do not want to hurry, I kissed her stomach and licked around her navel. Mbak Sum wriggled with indignation. both legs croaking and my mouth down continue kissing the mound over the pussy is overgrown with feathers rather rare. Mbak Sum shy and trying to pull my head. Sir do not kiss my anuku sir, shy sir, disgust sir. I do not care about the groans of my tongue began to sweep the pussy slits. I opened the pussy slits with both my hands look perfect vagina form. Her shiny red clitoris protruded above, so easy to find it, her inner lips did not sag, although dark purple, inside was pink and wet. Miss Sum repeatedly tried to pull my head up, because he said he was embarrassed to be seenin so. But no matter how I started licking her clitoris. The prominent part of the clitoris made it easy for me to slur it and lick it. Miss Sum is not so good, so I had to press my arms to hold her thighs to make it easier for me to lick her clitoris. He screamed deliciously while pressing my head until finally screamed long when his orgasm arrived. felt the entire surface of her pussy twitching and her vaginal opening flooded viscous fluid. I lasted a few moments until he finished his new orgasm my mouth lifted from his memekunya. I sat down and kissed her ring finger and middle finger into her pussy hole until it sank all. Slowly I shake. At first there was no reaction from his body, but for a long time his mouth moaned delicious again. grew louder and eventually I signaled that he soon reached his orgasm. Approaching his orgasm quickly I pull my finger from the pussy hole and open the width of her pussy until it looks like a piss hole. not long ago spurted thick liquid over and over again about my face. "I'm sorry sir I can not nahan wet, until you face the father yes," 'he said as he wiped my face that ejaculated fluid. "Sir swear, I have never lifetime feel up to here delicious, if I get hooked later do not get me wrong sir," while his eyes glazed. He confessed very weak. But my hard-packed weapon requires completion. I immediately hit and boost it. long enough also because my second round usually is usually very long. It's been half an hour I genjot he had repeatedly got an orgasm until he said his body like no bones. He has begged to finish the game because his body is not strong many times orgasme. I do not care and keep concentrating on getting my orgasm. When I got to the top, Miss Sum also accompanied me. I felt the contractions together and Miss Sum then fell silent and soon he was snoring. I immediately fell asleep. * * * Since then we almost every day always have sex. Sometimes when I was watching TV, Miss Sum pulled my pants down and sat on my lap and drove my gun into her vagina. we sit facing each other, I'm silent, he who actively plays the role until finally reaching orgasm. Often I'm not until orgasm he's tired, so I let the game over even though I have not gaming. The game is connected again in bed until complete. Miss Sum turns out to be very big. More often than he who asks from me who started. She is always tempting to lead to sex. Therefore during the house we rarely wear clothes. we are naked while eating, watching TV, or sometimes I work on the computer, my underwater sucking and in suction-suction. So we in this house have applied nudist life. I am not always in Jogya, because a few days I was in Jakarta to oversee the company in the sasana and be at home. If I'm not in Jogya, Miss Sum goes home to her parents, so always. did not feel already 6 months I live with Miss Sum, salary has doubled. He is happy because besides his salary intact, he also often get money tips from me. one day after we fought, Miss Sum spoke to me that he asked my permission to bring his brother to accompany him. This brother is child alone because he has no parents who died in an accident. she is a girl about 12 years old, a new school is going to grade 6 elementary school. Actually I kind of objected, because with the presence of a third person, our sex activities can be disrupted. That I told Mbak Sum. he said he had considered it, but he promised to try to keep the child's presence unobtrusive. "Poor Mr. his son is smart and sweet, but poor have no parents, he has been living with my parents," he said. I think pity too Miss Sum if I stay to Jakarta, which is sometimes long enough, he must be pacing to the village. Finally I agree with the terms of Miss Sum that governs the child. When I returned to Jogya, Miss Sum was accompanied by his nephew. his children are polite, sweet and greeting while kissing his hands. It's called Rachmawati. The skin is a little darker than Miss Sum. Since there is Rahma, our sex activities are reduced. We are not free to play anymore. if the craving has culminated, we wreaked it out at midnight after the boy was sound asleep in Sum's room and we played in my room. if we play, actually I was anxious too, because my room is above the door, Worried that the child suddenly appeared because the middle of the night woke up, seeing Miss Sum no beside him could have him looking up. My worries finally proved too. maybe also because we were careless, because after 3 months we play cat finally become less alert. "Bude" he said softly when Mbak Sum is still naked on top of me. we were both surprised and did not have time to hide again because the distance between Rahma standing with a bed only about 3 m and lighting though dim but still quite bright. There is what Mbak Sum said in Javanese and still in a naked position on my body. "I'm afraid of being alone," he said. We can not hide ourselves and change positions to take shelter from Rahma's view. Mbak Sum who already high seemed to feel the responsibility, so he continued the game and ignore the presence of the Rahma. then Mbak Sum told the boy to sit on the edge of the bed so he could clearly see us both in a naked state. At first he looked away, maybe embarrassed to see us both naked. but as long as we continue the delayed adanggangan and Mbak Sum can not hold his moans, then the boy was hooked also see, his piggy-headed play. "Bude doing the same father," he said in Javanese after a long time looked away finally saw our game together. In the Java language Mbak Sum said that we are having fun. The boy's basics are still innocent he asked, having fun naked and overlapping each other. it sounded like his budenya moaning in pain. The Bude answered truthfully that she was not in pain but so good. "Is ne bude sing good," he said. He became curious as to how easy it was to overcome it. My concentration was so disturbed that my ejaculation became even further though the stem was still hard, but for Mbak Sun it did not seem, because the moan was even more exciting even though it was communicated with his niece. He finally reached its peak as well and collapsed into my body. his breath snorted like he'd run a marathon. After that Mbak Sun got up and took the child into my bathroom. I did not hear what they were talking about. Mbak Sun returns and grabs his clothes and while still nudist he walks holding Rahma down. they heard coming into the room. No more noise, maybe they're asleep. I got up and washed my previously unfinished weapon. But because I was so used to finally wash the weapon dalan directly into the blanket to sleep. I can not sleep right away, my mind drifts imagine what Mbak Sun did to Rahma who caught us being on the brink. Finally I fell asleep as well and at 6 am I wake up, as usual downstairs drinking tea and breakfast bread. While watching the news on TV. After breakfast I went upstairs preparing to take a bath in my room. My bathroom inside was a jakuzi tub in the form of a quarter of a roundabout. It was so nice to soak in the warm water while dreamy, my gun slowly wake up in hot water. I was struck by the appearance of Mbak Sun and Rahma in my bathroom. At first Mbak Sun stripped her naked, then told Rahma naked as well. Rahma was a bit hesitant and embarrassed to expose herself, but because she was ruled by her buddies and said this as a punishment to catch us naked. finally Rahma naked too. They urinate alternately in the toilet and watered themselves with a new shower Mbak Sun led Rahma to join me. Rahma was a little scared and stiffly stepped into the tub. We sat the three of us face to face in the tub. Mbak Sun's hand immediately grasped my half-full cock. She then took Rahma's hand and ordered her hand to hold my dick. Rahma looked down at her embarrassment and her hands were a little stiff so she forced Mbak Sun until finally the small hand actually grabbed my bat. felt his hands shaking and still not moving. His hands just move shuffling after Mbak Sun's hand directs the movement. Not long after Mbak Sun stood up and pulled Rahma and I stood up too. he grabbed the liquid soap and asked Rahma to soap me, and I soaped Mbak Sun's body. Rigid Rahma stroked a hand full of soap into my body. I watched her body begin to grow. teteknya even though it has grown but still as big as cotton, hip already started blooming, pussy is still bald with the part of meeting under it. Pentil in teteknya still small like nipple tetekku. she hesitated as she lathered my womb but she did as she trembled. After a thorough change I touched his body with soap and tried to suppress his taut thick, then soap pussy and seek itilnya. He was tiptoeing when itilnya knocked. he hugged me from behind so that my rather hard rock stuck to his back as I trimmed his tits and soaked his pussy. He wriggled. After that event, we become more open and more free. mbak Sun who is a big lust more cuek playing on the couch in front of his niece. The Rahma got used to watching us play, even she often went to sleep the three in my room. A month we opened with Rahma, until finally he noticed our two sexes were clashing. he asks the process of intercourse, and he asks if the process is painful. He also knows that the male genitals will tighten if aroused. Rahma after a month began to dare to kiss my childhood taught by Mbak Sun. I am now often dioral by Mbak Sun and Rahma. we were used to naked around the house. It seems that Rahma is curious to feel in oral too, so one day he said, want to taste dioral pussy. I started kissing both of her lips. Rahma's reaction was a bit stiff and silent, but gradually moved and breathed faster. At the same time I ran his little tits without me squeezing. Because the newly grown will feel very sore if squeezed. I then asked her to sit on the couch and spread her legs so that her bald pussy was open and she could see the folds of her inner lips with the edges folded prominently. I started licking her two nipples. He's a shadow. I think it's natural, when a woman what else is still underage is not so aroused, then the tingling will hit it. I licked and occasionally sucked it. For a long time the taste of his gel began to diminish and he began to snort. I felt slits pussy began to feel wet with mucus. He was shocked when my hand reached the pussy slit. After he was more aroused I moved to lick the split pussy. Rahma jogged, amused her. I have to be patient while licking his pussy slits, mound. Until he began to get used to feel licking in the pussy. I did not immediately lick his clitoris, because surely he can not stand with a very tingling sense of amusement. his pussy is getting slimy, his breathing increasingly hunted until he started moaning favors. It was then that I dared my tongue to explore his clitoris. Rahma could tiptoe when my tongue touched the edge of clitoris began to feel clitoris hardened. Underage child clitoris is still not prominent, it is under the fold of the tip of the lips in the genitals. My tongue explores the crease until it finds a small, hard bulge. Rahma back on tiptoe, a little aching but began to have a sense of pleasure. I slowly bury the hidden itil until Rahma groaned without realizing it. His hips jumped in tune with my lick, until he finally reached his orgasm. Perhaps this was his first orgasm of his life. his pussy twitched for a long time and his body joined the tip in tune with his orgasmic waves. After that he confessed his body weak and his mind plong. He finally admitted it tastes really good. Rahma hugged me and she kissed my lips very tightly. Mr. I love you" he said. that's his first experience in oral, so he often ask for in oral, and he was able to overcome his sense of his gel so I do not need to linger to stimulate him until he is ready to lick clitoris. Maybe 3 months he got used to my lick, even if I refused to lick it he started daring sulking. When she sulked she sat on my lap while naked and waggle her ass on my penis that still limp. Until finally my cock became aroused. every time I connect with Miss Sum he noticed and asked many times how it feels good, what is good in lil jelat same pussy entered his penis. Miss Sum tries to convince her that she can not yet be admitted, because her pussy hole is still small. initially he believed, but maybe the curiosity and want to encourage him also want to feel the same pussy of my dick. She even nagged a lot of times trying to pussy pitted with my dick. I had been trying to resist, for fear of hurt him. but the whining did not stop, so I finally set up K-jelly lubricant. I just want to put the head of my cock in front of the pussy hole and shuffle it without trying to enter it. In the same way Rahma said she had felt good. but his name is an unfinished game, of course he wants to try to shove the head of my cock into his pussy hole. I finally gave up and resigned to his will. I sleep on my back and lubricate the tip of my dick a lot with jelly and also in the pussy slit, especially around the entrance hole. He told me to direct myself to put the penis into his pussy. So if he feels sick he will stop. he seuju and start doing the action to direct the head of my cock to the gate pussy. Because the slippery head of my cock can lead to the intended hole, let alone directed by Rahma's hand. Visible hole memeknya unfolded following the size of my baby's head. he grimaced, a little sick he said, but out of curiosity he forced his body down so that the head of my cock came in about two centimeters. Feel not fit and he also felt sick he finally stopped trying. A week she did not whine to ask me to try to put my cock into her pussy. but it was only a week because after that he was curious to try again. This time the experiment can melesatkan the head of my cock to fill the cavity. He did not dare to press any further because he was sore. Three days later he wanted to try again and stop until the head of my cock went down. many times in try in the next day ya ya stuck in there too. I know that the limit is the boundary where the hymen is located. The process of burying the head of the penis can run smoothly, but more than that he can not continue because of the pain. though he was so curious, because the jawalan head of my dick into his pussy he felt quite delicious. It's just more than that he can not stand the pain. finally the usual he was always in the position above now I was the overlap and I asked him to direct the head of my penis is already slippery because of jelly as well as the pussy hole. In that position the head of my cock was buried in the pussy and stopped in his hymen. when I pressed him to rewind his back with pain.I hugged him and I kissed his lips until he was very passionate, at the same time I tensed my cock as he pressed a little, his body jerked, but I still maintain my position I think somewhat enter, the same movement I repeat again until it feels inside "krek". rahma grimaced the sign of pain but I retained the position until he was accustomed to the hole to accept the presence of my cock rod. After the look she did not feel pain I pressed slowly and felt able to go even though the clasp was very tight. I was hard to guess how far my cock had come in, so I felt the rest of the shaft of my cock, it was all my batter drowned in pussy. I'm a little less confident and trying to press again, it was already can not because it was stuck. rahma frowns every time I do the movement, because the vagina hole like forced to expand by the shaft of my cock. I tried to pull slowly. He winced, I pressed again, two or three times back and forth it was starting to slippery, though still gripping. My dick started to smoothly back and forth. due to the tightness of the pussy holes, I was not able to survive long, because the wave of orgasm seemed to grew bigger until finally I fired at the base of Rahma's pussy. "Warm Sir".
Mr. Pussy in the pussy Rahma yes," he said. Miss Sum who had noticed the process of pretending that immediately said that it feels anget is a sperm or a sperm. I let my cock sticks long in the hole pussy Rahma until a little shrink new I remove. there are red spots like blood mixed with my semen water. But the blood is not too much. Rahma complained her pussy was sore. Miss Sum then wipe the semen melt in her nephew pussy until clean and guide Rahma to the bathroom to clean the inside. Rahma staggered. "Sir it's still there are prop in my pussy". he said. A week he did not dare ask for making love but yes only a week after that he asked to try again. Although wearing jelly at first still sore, but the next shake is less sore. Rahma tried to enjoy making love on the sidelines of the pain that still exists. Until the fourth intercourse after being married, Rahma is only able to reach orgasm through sexual relationships. He finally said that ngentot is delicious, even though at first it was really painful. after that Rahma always ask for part if I play with his auntie. Although still 12 years, but the pussy that has been repeatedly penetrated penis ultimately not too tight also taste. After more than 10 times I making love Rahma, it feels pussy almost the same with pussy bud. the difference is more skilful servic cults, while Rahma still tend to passive. Thanks to his mentor Rahma when he reached the age of 13 years where he started menstruating, he was good at playing sex. Breast also been increasingly bulging, fat in the ass also getting bigger and in pussy begin to grow the fine hairs, especially at the tip of her pussy. At the age of 14 years Rahma has grown into a girl who ayu with a bubble of milk is getting bigger and his butt more poking. the game also has to blend myself. To prevent pregnancy she was forced to take birth control pills. I also carefully remove the sperm in the pussy. Unexpectedly, the high lust of Rahma is equally balanced in the same way. if I was two days in Jakarta, after returning to Jogya I was as raped by the two women that day and night, they demanded to be satisfied by their sex desire.
Regards.
********************
More stories Here.