Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Friday, 23 February 2018

Ibu Tiriku yang Aduhai.

Namaku Jamal, lahir di kota Tegal 25 tahun yang lalu. Aku menyelesaikan kuliah di Fakultas kedokteran 3,5 tahun yang lalu, dilanjutkan dengan praktek asisten dokter (koas) selama setahun dan kemudian mengikuti ujian profesi dokter. Kini aku sudah resmi menyandang gelar dokter di depan namaku dan sebagai tahap terakhir, aku kini sedang mengikuti praktek di puskemas di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian sebelum mendapatkan izin praktek umum. Aku dibesarkan di kota kelahiran ku sampai SMA dan kemudian melanjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebenarnya bukan keluarga broken home, namun karena ayahku yang berpoligami jadi aku agak jarang berinteraksi dengan ayahku, lebih banyak dengan ibuku dan 2 orang adikku. Seperti kebanyakan orang sukses di kotaku, Ayah adalah seorang pengusaha warung makan yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg. Sejak aku SMP, ayahku sudah punya 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta dan 2 gerai di Jogja. Berbekal kesuksesan itulah Ayah yang dulu hanya beristrikan ibuku, mulai buka cabang di Jakarta dan Jogja. Alasannya sederhana, butuh tempat singgah waktu memantau jalannya usaha. Pada awalnya, aku sebagai anak sulung, menjadi anaknya yang menentang poligami Ayah. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA dan Ayah pertama kalinya berpoligami dengan menikahi seorang gadis yang usianya hanya terpaut 10 tahun dariku. Namun justru ibuku yang mendamaikan perselisihan ku dengan Ayah dengan alasan klasik yaitu Ayah sudah berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu. Berbekal pendapatan dari usaha warteg itulah, aku bisa kuliah sampai menjadi dokter saat ini, dan tentu saja ibuku sangat bangga karena aku sebagai putra sulungnya berhasil mandiri dan bisa menjadi contoh buat adik-adikku. Lalu bagaimana dengan perselisihan ku dengan Ayah? Wah, sejak Ibu sudah memaklumi Ayah, aku pun sudah tidak pernah mengungkitnya lagi. Hubunganku dengan Ayah, bahkan dengan dua isteri muda Ayah baik-baik saja. Bahkan Ayah menyempatkan diri hadir dalam wisudaku dulu. Isteri kedua ayah, yang berarti ibu tiriku, bernama Nurlela, tinggal di sebuah perumahan di daerah Bintaro. Dari hasil pernikahan dengan Mama Lela (begitu Ayah menyuruhku memanggilnya), Ayah dikaruniai 2 orang anak. Setelah 5 tahun menikah dengan Nurlela, Ayah kemudian “buka cabang” lagi di Jogja, kali ini dengan seorang janda beranak satu, bernama Windarti, yang aku panggil dengan Mama Winda, usianya bahkan hanya terpaut 6 tahun denganku. Sebagai seorang lelaki, aku harus jujur untuk mengacungkan jempol buat Ayah dalam memilih isteri muda. Kedua “gendukan”-nya, meskipun tidak terlalu cantik, namun punya kemiripan dalam hal body, yaitu “toge pasar”. Rupanya selera ayah mengikuti tren selera pria masa kini yang cenderung mencari “susu” yang montok dan goyangan pantat yang bahenol. Dari dua ibu tiriku itu, tentu saja aku lebih akrab dengan Mama Winda, karena selama aku kuliah di Jogja, setiap akhir bulan aku menyempatkan bermalam di rumahnya yang juga lebih sering ditinggali Ayah. Maklum Mama Winda adalah isteri termuda, meskipun berstatus janda. Bagiku sebenarnya sangat canggung memanggil Winda dengan sebutan Mama, jauh lebih cocok kalau aku memanggilnya Mbak Winda, karena usianya memang hanya lebih tua 6 tahun dariku. Wajahnya manis selayaknya orang Jogja, dan yang membuatku betah bermalam di rumahnya adalah “toge pasar” yang menjadi keunggulannya. Suatu saat, ketika aku masih kuliah. Seperti biasa, pada akhir pekan di minggu terakhir, aku membawa sepeda motorku dari kost menuju rumah Ayah dan Mama Winda. Rupanya saat itu Ayah sedang “dinas” ke Jakarta, mengunjungi Mama Nurlela, sehingga hanya ada Mama Winda dan anaknya dari suami pertamanya yang berusia 5 tahun bernama Yoga. Seperti biasa pula, aku membawakan cokelat buat adik tiriku itu. Saat datang, aku disambut oleh Yoga, sementara ibunya ternyata sedang mandi. Karena belum tahu kalau aku datang, Mama Winda keluar kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel. Melihat kehadiranku di ruang tengah, sontak Mama Winda kaget dan salah tingkah. “Ehhh… ada Mas Burhan”, serunya sedikit menjerit dan melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar. “Glek..”, aku menelan ludah dan menatap nanar pada ibu tiriku yang bertoket brutal itu. Sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sebentar karena Mama Winda segera berlari ke kamar. Dadaku berdegup kencang, birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku ikut berlari mengejar Mama Winda ke kamarnya, menubruknya dan meremas buah dada pepayanya. Sayang aku belum berani melakukannya. Aku hanya bisa “manyun” sambil bermain dengan adik tiriku sampai akhirnya sang ibu tiri keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, dia membungkus tubuh montoknya yang baru saja aku lihat toket brutalnya dengan pakaian muslim, lengkap dengan jilbabnya. Mama Winda sehari-harinya memang mengenakan jilbab. Birahiku langsung “watering down”… layu sebelum berkembang. Sebagai pelampiasan, pada saat mandi aku menyempatkan diri untuk masturbasi, kebetulan ada tumpukan pakaian dalam kotor milik Mama Winda di dalam ember. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai memudar. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku membayangkan dua buah dada besar milik Mama Winda yang sempat kulihat beberapa waktu lalu.Sambil membayangkan buah dada Mama Winda, aku mengambil celana dalam hitam Mama Winda dan menciuminya. Aroma khas vagina masih tertinggal di sana, mengantarkan masturbasiku dengan sabun mandi sampai akhirnya menyemprotkan sperma di dinding kamar mandi. Sesudah mandi aku menonton TV bersama Mama Winda dan adik tiriku. Kami mengobrol akrab sampai sekitar jam 8 adik tiriku minta ditemani mamanya untuk tidur. Sebelum menemani anaknya tidur, Mama Winda masuk kamarnya untuk bertukar pakaian tidur baru kemudian masuk kamar anaknya. Setelah anaknya tidur, Mama Winda keluar kamar dengan kostum tidurnya yang sama sekali berbeda dengan kostumnya tadi sore. Pakaian muslimnya yang tertutup berganti dengan gaun tidur warna putih yang meskipun tidak tipis tapi memperlihatkan bayangan lekuk tubuh montoknya, termasuk warna bra dan celana dalamnya yang berwarna ungu. Kontan birahiku langsung naik kembali. “Wow… Mbak Winda cantik sekali”, pujiku tulus terhadap ibu tiriku yang memang tampak cantik dengan gaun tidur putih itu. Rambut panjangnya tergerai indah menghiasi wajah manisnya. “Huss… kalau Bapakmu tahu, bisa dimarahin kamu, panggil Mbak segala”, serunya agak ketus namun tetap ramah. “Bapak lagi ngelonin Mama Lela, mana mungkin dia marah”, pancingku. “Ih, apa sih hebatnya si Lela itu? Aku belum pernah ketemu”, sergah Mama Winda. Nadanya mulai agak tinggi. “Hmm… menurut saya sih… dan Bapak pernah cerita bahwa dia suka buah dada Mama Lela yang besar”, sadar pancinganku mengena, aku segera melanjutkannya. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Yang kutahu buah dada Mama Lela memang besar. “Oh ya?… “, benar saja, emosi Mama Winda semakin meninggi. Dadanya ditarik seakan ingin menunjukkan padaku bahwa buah dadanya juga besar. “Bapak kalau di rumah Mama Lela suka lupa diri, pernah mereka ML di dapur, padahal waktu itu ada saya”, cerita bohongku berlanjut,”mereka asyik doggy style dan tidak sadar kalau saya melihat mereka”. “Gila bener… pasti si Lela itu gatelan dan tidak tahu malu ya?”, sergah Mama Winda dengan emosi. “Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku. “Ya memeknya…. “, karena emosi, Mama Winda sudah tidak peduli omongan jorok yang keluar dari mulutnya,”pasti sudah kendor tuh memeknya si Lela!” “Kalau punya Mbak pasti masih rapet ya?”, tantangku. “Pasti dong… saya kan baru punya anak satu”, kilahnya,”…dan saya kan sering senam kegel, Bapakmu gak akan kuat nahan sampai 5 menit, pasti KO”. “Ya lawannya udah tua…, pasti Mbak menang KO terus”, aku terus menyerang sambil menghampiri Mama Winda sehingga kami duduk berdekatan. “Maksudmu apa Kemal?”, Mama Winda mulai mengendus hasratku. Matanya membalas tatapan birahiku pada dirinya. “Sekali-kali Mbak harus uji coba dengan anak muda doong”, jawabku enteng sambil tersenyum. “Welehh… makin berani kamu ya?…”, tangannya menepis tanganku yang mulai mencoba menjamah lengannya. “Enggak berani ya Mbak?”, tantangku semakin berani,”melawan anak muda?”. “Gendeng kamu… aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih. “Ibu tiri yang cantik dan seksi”, puji dan rayuku. “Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena. “Mbak Winda…”, aku terus berusaha,”coba bayangkan Bapak sedang ML sama Mama Lela sekarang dan sementara Mbak Winda ‘nganggur’ di sini”. “Terus?…”, pancingnya. “Ya… saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak…”, kataku persuatif. “Kamu sudah gila Kemal”, ibu tiriku masih nyerocos, namun tangannya kini tidak menolak ketika kupegang dan kuarahkan ke penisku yang sudah mengeras. “Mungkin saya memang gila Mbak, tapi Bapak lebih gila, mungkin dia sekarang sedang nyedot susunya Mama Lela yang besar… atau mungkin sedang jilat-jilat memeknya”, aku terus membakar Mama Winda. “Huh… Bapakmu enggak pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya. “Oh ya?… tapi dia pernah cerita kalau di hobby sekali menjilat memek Mama Lela..”, aku terus berbohong sementara tanganku sudah aktif menarik rok Mama Winda ke atas sehingga kini pahanya yang montok dan putih sudah terlihat dan kubelai-belai. “Kamu bohong…”, katanya pelan, suaranya sudah bercampur birahi. “Ih… bener Mbak, Bapak suka cerita yang begitu pada saya sejak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku. “Awalnya Bapak ingin tahu apakah klitoris Mama Lela itu normal atau tidak, karena menurut Bapak, klitoris Mama Lela sebesar jari telunjuk”. Tanganku semakin jauh menjamah, sampai di selangkangannya yang ditutup celana dalam ungu. Mama Winda sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan matanya semakin sayu. “Stop Kemal, jangan ceritakan lagi si Lela sialan itu…,” pintanya,”Kalau tentang aku, Bapakmu cerita apa?” “Eh… maaf ya Mbak… kata Bapak, memek Mbak agak becek…”, kataku bohong,”Pernah Bapak bertanya pada saya apakah perlu dibawa ke dokter”. “Sialan Bapakmu itu… waktu itu kan cuma keputihan biasa”, sergah Mama Winda. Bagian bahwa gaun tidur putihnya sudah tersingkap semua, memperlihatkan pahanya yang montok dan putih serta gundukan selangkangannya yang tertutup kain segitiga ungu. Sungguh pemandangan indah, terlebih beberapa helai pubis (jembut) yang menyeruak di pinggiran celana dalamnya. “Hmm… coba saya cek ya Mbak…”, kataku sembari menurunkan wajah ke selangkangannya. “Crup…”, kukecup mesra celana dalam ungu tepat di tengah gundukannya yang sudah tampak sedikit basah. Tersibak aroma khas vagina Mama Winda yang semakin membakar birahiku. Dengan sedikit tergesa aku menyibak pinggiran celana dalam ungu itu sehingga terlihatlah bibir surgawi Mama Winda yang sudah basah… dikelilingi oleh pubis yang tumbuh agak liar. “slrupp…. slrupp..”, tanpa menunggu lama aku sudah menjulurkan lidahku pada klitoris Mama Winda dan menjilatnya penuh nafsu. Mama Winda menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu…kamu bandel banget Kemal….okh… okh…”. “Kenapa saya bandel Mbak… slruppp…”, tanyaku disela serangan oralku pada vagina Mama Winda. “Okh…kamu… kamu menjilat memek ibu tirimu…Okhhh….edannn… kamu apakan itilku Kemal…??”, teriaknya ketika aku mengulum dan menyedot klitorisnya. Kini 100% aku sudah menguasai Mama Winda. Wanita itu sudah pasrah padaku, bahkan dia membantuku melucuti celana dalamnya sehingga aku semakin mudah melakukan oral seks. Sambil terus menjilat, aku memasukkan jari telunjukku ke liang vaginanya yang sudah terbuka dan basah. “Oooohh…. edannn…. enak Kemal…”, jeritnya sambil menggelinjang, menikmati jariku yang mulai keluar masuk liang vaginanya. Bahasa tubuh Mama Winda semakin menggila tatkala jari tengahku ikut ‘nimbrung’ masuk liang kenikmatannya bersama jari telunjuk. Maka tak sampai 5 menit, aku berhasil membuat ibu tiriku berteriak melepas orgasmenya. “Okh….. edannn….aku puassss….okh…..”, tubuh Mama Winda melejat-lejat seirama pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang berada di dalamnya. Setelah selesai menggapai orgasmenya, bahasa tubuh Mama Winda memberi sinyal padaku untuk dipeluk. Akupun memeluk dan mencium bibirnya dengan mesra. Dia membalas ciumanku dengan penuh semangat. “Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi. “He’eh…”, dia mengangguk dan terus menciumiku. “Tapi saya belum selesai periksanya lho Mbak…,” kataku manja. “He3x… kamu benar-benar calon dokter yang bandel Kemal…,” dia terkekeh senang,”Kamu mau periksa apa lagi heh?” “Periksa yang ini Mbak…”, kataku seraya meremas buah pepaya yang masih terbungkus gaun tidur dan bra. “Ohh… iya tuh… sering nyeri Dok…”, candanya,”minta diremas-remas… he3x…”. Sejenak kemudian Mama Winda sudah melucuti gaun tidurnya dan mempersilahkanku untuk membuka bra ungunya yang tampak tak sanggup menahan besar buah dadanya. “Hmmm… slrupp… “, dengan penuh nafsu aku segera menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang juga besar. Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan kencang. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah dada impianku itu. “Kemal….”, panggil Mama Winda mesra,”Mana kontolmu?… ayo kasih lihat ibu tirimu ini, hi3x…”. Aku segera menurut dan menanggalkan celana panjang dan sekaligus celana dalamku, memperlihatkan batang penisku yang dari tadi sudah mengeras dan mengacung ke atas. “woww… lebih besar punya kamu Mal… daripada punya Bapakmu”, puji Mama Winda seraya menggenggam penisku. Sejenak kemudian ibu tiriku sudah mengemut penisku penuh nafsu. “Weleh…. udah kedut-kedut kontolnya… minta memek ya?”candanya,” Sini… masuk memek Mama…” Mama Winda mengangkang, membuka pahanya lebar-lebar di sofa tengah, membuka jalan penisku memasuki liang surgawinya yang sudah becek. Setelah penisku melakukan penetrasi, kedua kakinya dirapatkan dan diangkat sehingga liang vaginanya terasa sempit, membuat penisku semakin ‘betah’ keluar masuk. Seperti promosinya di awal, Mama Winda mengerahkan kemampuannya melakukan kontraksi dinding vagina (kegel) sehingga penisku terasa terjepit dan terhisap, namun seperti sudah kuduga, aku bukan tipe yang mudah dikalahkan. Aku bahkan balik menyerang dengan mengusap dan memijit klitorisnya sambil terus memompa vaginanya. “Okh… kamu sudah ahli ya Kemal?…. kamu sering ngentot ya…?”, Mama Winda mulai mengelinjang-gelinjang lagi, menikmati permainan penis dan pijatan pada klitorisnya. Semakin lama aku rasakan dinding-dinding vaginanya semakin mengeras pertanda dia sudah dengan dekat orgasme keduanya. Aku semakin mempercepat kocokan penisku pada vaginanya, berupaya meraih orgasme bersamaan. “Mbak… saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi. “Semprot Kemal…okh… semprot aja yang banyak…okh….” Mama Winda terus mendesah-desah, wajahnya semakin mesum. Akhirnya dia kembali berteriak. “Okhhh….. ayo…. okh…. semprot Kemal… semprot memek Mama….”, jeritan jorok, wajah mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku juga tidak tahan lagi. “Yesss…..yess….”, akupun menjerit kecil menikmati orgasmeku dengan semprotan mani yang menurutku cukup banyak ke dalam rahim Mama Winda, ibu tiriku. Orgasme yang spektakuler itu berlangsung hampir menit dan disudahi lagi dengan pelukan dan ciuman mesra. “Terima kasih Kemal…,” katanya mesra,”Enak banget, hi3x….” “Sama-sama Mbak, nanti saya kasih obat anti hamil…”, jawabku sambil melihat lelehan maniku di vaginanya. “Hi3x… enggak apa lagi… tapi peju kami memang banyak banget nihhh…hi3x…” Mama Winda terkekeh girang melihat lelehan mani putihku di vaginanya. “Kapan-kapan pakai kondom ya…. mahasiswa kedokteran kok enggak siap kondom, hi3x….” candanya. “Yaa… saya kan alim Mbak… he3x…” “Ha3x…. bohong banget, kamu jago gitu… pasti udah sering ngentot ya?…”, tanyanya penuh keingintahuan. “Pernah sih sekali dua kali… waktu main di Jakarta…” kataku jujur sambil mengingat PSK di panti pijat yang pernah kudatangi di Jakarta. “Jakarta?… heeee…. jangan2x… kamu…. main sama Lela sialan itu, iya???” sorot matanya berubah, agak emosi,”pantes kamu cerita buah dada Lela besar, klitorisnya juga besar… jangan2x kamu sudah main sama Lela juga ya?….” “Enggak Mbak…. bukan sama Mama Lela… sumpah!” seruku berkilah. “Awas kamu kalau main sama Lela…” serunya dengan nada cemburu. Wajahnya yang mesum tampak manja. “Saya janji tidak akan main sama Mama Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya…he3x….”, pintaku manja. Mama Winda memeluk dan menciumku mesra,”Baik… kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya….” “Siip… saya bawa kondom deh…he3x….” kataku girang. Kami bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde pertempuran sebelum pergi tidur. Itu adalah pengalaman pertamaku dengan ibu tiriku, dan tentu saja bukan yang terakhir. Setiap ada waktu, Mama Winda dengan semangat mengirim SMS dan aku segera datang memenuhi hasrat binal ibu tiriku. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah Mama Winda mengajak aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. Bagaimana kisahnya? Nantikan edisi berikutnya. Petualanganku juga tak berhenti pada Mama Winda, karena aku masih punya satu ibu tiri di Jakarta, Mama Lela, yang juga tak kalah montok dengan Mama Winda. Namaku Kemal, lahir di kota Tegal 25 tahun yang lalu. Aku menyelesiakan kuliah di fakultras kedokteran 3,5 tahun yang lalu, dilanjutkan dengan praktek asisten dokter (koas) selama setahun dan kemudian mengikuti ujian profesi dokter. Kini aku sudah resmi menyandang gelar dokter di depan namaku dan sebagai tahap terakhir, aku kini sedang mengikuti praktek di puskemas di daerah terpencil sebagai bentuk pengabdian sebelum mendapatkan izin praktek umum. Aku dibesarkan di kota kelahiranku sampai SMU dan kemudian menjutkan kuliah di Jogja. Keluargaku sebenarnya bukan keluarga broken home, namun karena ayahku yang berpoligami jadi aku agak jarang berinteraksi dengan ayahku, lebih banyak dengan ibuku dan 2 orang adikku. Seperti kebanyakan orang sukses di kotaku, Ayah adalah seorang pengusaha warung makan yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg. Sejak aku SMP, ayahku sudah punya 2 warteg di kota asalku, 4 di Jakarta dan 2 gerai di Jogja. Berbekal kesuksesan itulah Ayah yang dulu hanya beristrikan ibuku, mulai buka cabang di Jakarta dan Jogja. Alasannya sederhana: butuh tempat singgah waktu memantau jalannya usaha. Pada awalnya, aku sebagai anak sulung, menjadi anaknya yang menentang poligami Ayah. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMU dan Ayah pertama kalinya berpoligami dengan menikahi seorang gadis yang usianya hanya terpaut 10 tahun dariku. Namun justru ibuku yang mendamaikan perselisihanku dengan Ayah dengan alasan klasik yaitu Ayah sudah berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu. Berbekal pendapatan dari usaha warteg itulah, aku bisa kuliah sampai menjadi dokter saat ini, dan tentu saja ibuku sangat bangga karena aku sebagai putra sulungnya berhasil mandiri dan menjadi contoh buat adik-adikku. Lalu bagaimana dengan perselisihanku dengan Ayah? Wah, sejak Ibu sudah memaklumi Ayah, aku pun sudah tidak pernah mengungkitnya lagi. Hubunganku dengan Ayah, bahkan dengan dua isteri muda Ayah baik-baik saja. Bahkan Ayah menyempatkan diri hadir dalam wisudaku dulu. Isteri kedua ayah, yang berarti ibu tiriku, bernama Nurlela, tinggal di sebuah perumahan di daerah Bintaro. Dari hasil pernikahan dengan Mama Lela (begitu Ayah menyuruhku memanggilnya), Ayah dikaruniai 2 orang anak. Setelah 5 tahun menikah dengan Nurlela, Ayah kemudian “buka cabang” lagi di Jogja, kali ini dengan seorang janda beranak satu, bernama Windarti, yang kupanggil dengan Mama Winda, usianya bahkan hanya terpaut 6 tahun denganku. Sebagai seorang lelaki, aku harus jujur untuk mengacungkan jempol buat Ayah dalam memilih isteri muda. Kedua “gendukan”-nya, meskipun tidak terlalu cantik, namun punya kemiripan dalam hal body, yaitu “toge pasar”. Rupanya selera ayah mengikuti tren selera pria masa kini yang cenderung mencari “susu” yang montok dan goyangan pantat yang bahenol. Dari dua ibu tiriku itu, tentu saja aku lebih akrab dengan Mama Winda, karena selama aku kuliah di Jogja, setiap akhir bulan aku menyempatkan bermalam di rumahnya yang juga lebih sering ditinggali Ayah. Maklum Mama Winda adalah isteri termuda, meskipun berstatus janda. Bagiku sebenarnya sangat canggung memanggil Winda dengan sebutan Mama, jauh lebih cocok kalau aku memanggilnya Mbak Winda, karena usianya memang hanya lebih tua 6 tahun dariku. Wajahnya manis selayaknya orang Jogja, dan yang membuatku betah bermalam di rumahnya adalah “toge pasar” yang menjadi keunggulannya. Suatu saat, ketika aku masih kuliah. Seperti biasa, pada akhir pekan di minggu terakhir, aku membawa sepeda motorku dari kost menuju rumah Ayah dan Mama Winda. Rupanya saat itu Ayah sedang “dinas” ke Jakarta, mengunjungi Mama Nurlela, sehingga hanya ada Mama Winda dan anaknya dari suami pertamanya yang berusia 5 tahun bernama Yoga. Seperti biasa pula, aku membawakan cokelat buat adik tiriku itu. Saat datang, aku disambut oleh Yoga, sementara ibunya ternyata sedang mandi. Karena belum tahu kalau aku datang, Mama Winda keluar kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel. Melihat kehadiranku di ruang tengah, sontak Mama Winda kaget dan salah tingkah. “Eh… ada Mas Kemal..”, serunya sedikit menjerit dan melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar. “Glek..”, aku menelan ludah dan menatap nanar pada ibu tiriku yang bertoket brutal itu. Sayang sekali pemandangan indah itu hanya berlangsung sebentar karena Mama Winda segera berlari ke kamar. Dadaku berdegup kencang, birahiku langsung naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku ikut berlari mengejar Mama Winda ke kamarnya, menubruknya dan meremas buah dada pepayanya. Sayang aku belum berani melakukannya. Aku hanya bisa “manyun” sambil bermain dengan adik tiriku sampai akhirnya sang ibu tiri keluar kamar. Tidak tangung-tanggung, dia membungkus tubuh montoknya yang baru saja kulihat toket brutalnya dengan pakaian muslim, lengkap dengan jilbabnya. Mama Winda sehari-harinya memang mengenakan jilbab. Birahiku langsung “watering down”… layu sebelum berkembang. Sebagai pelampiasan, pada saat mandi aku menyempatkan diri untuk masturbasi, kebetulan ada tumpukan pakaian dalam kotor milik Mama Winda di dalam ember. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai memudar. ‘Pantas besar seperti pepaya’ pikirku membayangkan dua buah dada besar milik Mama Winda yang sempat kulihat beberapa waktu lalu. Sambil membayangkan buah dada Mama Winda, aku mengambil celana dalam hitam Mama Winda dan menciuminya. Aroma khas vagina masih tertinggal di sana, mengantarkan masturbasiku dengan sabun mandi sampai akhirnya menyemprotkan sperma di dinding kamar mandi. Sesudah mandi aku menonton TV bersama Mama Winda dan adik tiriku. Kami mengobrol akrab sampai sekitar jam 8 adik tiriku minta ditemani mamanya untuk tidur. Sebelum menemani anaknya tidur, Mama Winda masuk kamarnya untuk bertukar pakaian tidur baru kemudian masuk kamar anaknya. Setelah anaknya tidur, Mama Winda keluar kamar dengan kostum tidurnya yang sama sekali berbeda dengan kostumnya tadi sore. Pakaian muslimnya yang tertutup berganti dengan gaun tidur warna putih yang meskipun tidak tipis tapi memperlihatkan bayangan lekuk tubuh montoknya, termasuk warna bra dan celana dalamnya yang berwarna ungu. Kontan birahiku langsung naik kembali. “Wow… Mbak Winda cantik sekali”, pujiku tulus terhadap ibu tiriku yang memang tampak cantik dengan gaun tidur putih itu. Rambut panjangnya tergerai indah menghiasi wajah manisnya. “Huss… kalau Bapakmu tahu, bisa dimarahin kamu, panggil Mbak segala”, serunya agak ketus namun tetap ramah. “Bapak lagi ngelonin Mama Lela, mana mungkin dia marah”, pancingku. “Ih, apa sih hebatnya si Lela itu? Aku belum pernah ketemu”, sergah Mama Winda. Nadanya mulai agak tinggi. “Hmm… menurut saya sih… dan Bapak pernah cerita bahwa dia suka buah dada Mama Lela yang besar”, sadar pancinganku mengena, aku segera melanjutkannya. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Yang kutahu buah dada Mama Lela memang besar. “Oh ya?… “, benar saja, emosi Mama Winda semakin meninggi. Dadanya ditarik seakan ingin menunjukkan padaku bahwa buah dadanya juga besar. “Bapak kalau di rumah Mama Lela suka lupa diri, pernah mereka ML di dapur, padahal waktu itu ada saya”, cerita bohongku berlanjut,”mereka asyik doggy style dan tidak sadar kalau saya melihat mereka”. “Gila bener… pasti si Lela itu gatelan dan tidak tahu malu ya?”, sergah Mama Winda dengan emosi. “Apanya yang gatelan Mbak?”, tanyaku. “Ya memeknya…. “, karena emosi, Mama Winda sudah tidak peduli omongan jorok yang keluar dari mulutnya,”pasti sudah kendor tuh memeknya si Lela!” “Kalau punya Mbak pasti masih rapet ya?”, tantangku. “Pasti dong… saya kan baru punya anak satu”, kilahnya,”…dan saya kan sering senam kegel, Bapakmu gak akan kuat nahan sampai 5 menit, pasti KO”. “Ya lawannya udah tua…, pasti Mbak menang KO terus”, aku terus menyerang sambil menghampiri Mama Winda sehingga kami duduk berdekatan. “Maksudmu apa Kemal?”, Mama Winda mulai mengendus hasratku. Matanya membalas tatapan birahiku pada dirinya. “Sekali-kali Mbak harus uji coba dengan anak muda doong”, jawabku enteng sambil tersenyum. “Welehh… makin berani kamu ya?…”, tangannya menepis tanganku yang mulai mencoba menjamah lengannya. “Enggak berani ya Mbak?”, tantangku semakin berani,”melawan anak muda?”. “Gendeng kamu… aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih. “Ibu tiri yang cantik dan seksi”, puji dan rayuku. “Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena. “Mbak Winda…”, aku terus berusaha,”coba bayangkan Bapak sedang ML sama Mama Lela sekarang dan sementara Mbak Winda ‘nganggur’ di sini”. “Terus?…”, pancingnya. “Ya… saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak…”, kataku persuatif. “Kamu sudah gila Kemal”, ibu tiriku masih nyerocos, namun tangannya kini tidak menolak ketika kupegang dan kuarahkan ke penisku yang sudah mengeras. “Mungkin saya memang gila Mbak, tapi Bapak lebih gila, mungkin dia sekarang sedang nyedot susunya Mama Lela yang besar… atau mungkin sedang jilat-jilat memeknya”, aku terus membakar Mama Winda. “Huh… Bapakmu enggak pernah jilat memek, ngarang kamu..”, sergahnya. “Oh ya?… tapi dia pernah cerita kalau di hobby sekali menjilat memek Mama Lela..”, aku terus berbohong sementara tanganku sudah aktif menarik rok Mama Winda ke atas sehingga kini pahanya yang montok dan putih sudah terlihat dan kubelai-belai. “Kamu bohong…”, katanya pelan, suaranya sudah bercampur birahi. “Ih… bener Mbak, Bapak suka cerita yang begitu pada saya sejak saya kuliah di kedokteran”, ceritaku. “Awalnya Bapak ingin tahu apakah klitoris Mama Lela itu normal atau tidak, karena menurut Bapak, klitoris Mama Lela sebesar jari telunjuk”. Tanganku semakin jauh menjamah, sampai di selangkangannya yang ditutup celana dalam ungu. Mama Winda sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan matanya semakin sayu. “Stop Kemal, jangan ceritakan lagi si Lela sialan itu…,” pintanya,”Kalau tentang aku, Bapakmu cerita apa?” “Eh… maaf ya Mbak… kata Bapak, memek Mbak agak becek…”, kataku bohong,”Pernah Bapak bertanya pada saya apakah perlu dibawa ke dokter”. “Sialan Bapakmu itu… waktu itu kan cuma keputihan biasa”, sergah Mama Winda. Bagian bahwa gaun tidur putihnya sudah tersingkap semua, memperlihatkan pahanya yang montok dan putih serta gundukan selangkangannya yang tertutup kain segitiga ungu. Sungguh pemandangan indah, terlebih beberapa helai pubis (jembut) yang menyeruak di pinggiran celana dalamnya. “Hmm… coba saya cek ya Mbak…”, kataku sembari menurunkan wajah ke selangkangannya. “Crup…”, kukecup mesra celana dalam ungu tepat di tengah gundukannya yang sudah tampak sedikit basah. Tersibak aroma khas vagina Mama Winda yang semakin membakar birahiku. Dengan sedikit tergesa aku menyibak pinggiran celana dalam ungu itu sehingga terlihatlah bibir surgawi Mama Winda yang sudah basah… dikelilingi oleh pubis yang tumbuh agak liar. “slrupp…. slrupp..”, tanpa menunggu lama aku sudah menjulurkan lidahku pada klitoris Mama Winda dan menjilatnya penuh nafsu. Mama Winda menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu…kamu bandel banget Kemal….okh… okh…”. “Kenapa saya bandel Mbak… slruppp…”, tanyaku disela serangan oralku pada vagina Mama Winda. “Okh…kamu… kamu menjilat memek ibu tirimu…Okhhh….edannn… kamu apakan itilku Kemal…??”, teriaknya ketika aku mengulum dan menyedot klitorisnya. Kini 100% aku sudah menguasai Mama Winda. Wanita itu sudah pasrah padaku, bahkan dia membantuku melucuti celana dalamnya sehingga aku semakin mudah melakukan oral seks. Sambil terus menjilat, aku memasukkan jari telunjukku ke liang vaginanya yang sudah terbuka dan basah. “Oooohh…. edannn…. enak Kemal…”, jeritnya sambil menggelinjang, menikmati jariku yang mulai keluar masuk liang vaginanya. Bahasa tubuh Mama Winda semakin menggila tatkala jari tengahku ikut ‘nimbrung’ masuk liang kenikmatannya bersama jari telunjuk. Maka tak sampai 5 menit, aku berhasil membuat ibu tiriku berteriak melepas orgasmenya. “Okh….. edannn….aku puassss….okh…..”, tubuh Mama Winda melejat-lejat seirama pijatan dinding vaginanya pada dua jariku yang berada di dalamnya. Setelah selesai menggapai orgasmenya, bahasa tubuh Mama Winda memberi sinyal padaku untuk dipeluk. Akupun memeluk dan mencium bibirnya dengan mesra. Dia membalas ciumanku dengan penuh semangat. “Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi. “He’eh…”, dia mengangguk dan terus menciumiku. “Tapi saya belum selesai periksanya lho Mbak…,” kataku manja. “He3x… kamu benar-benar calon dokter yang bandel Kemal…,” dia terkekeh senang,”Kamu mau periksa apa lagi heh?” “Periksa yang ini Mbak…”, kataku seraya meremas buah pepaya yang masih terbungkus gaun tidur dan bra. “Ohh… iya tuh… sering nyeri Dok…”, candanya,”minta diremas-remas… he3x…”. Sejenak kemudian Mama Winda sudah melucuti gaun tidurnya dan mempersilahkanku untuk membuka bra ungunya yang tampak tak sanggup menahan besar buah dadanya. “Hmmm… slrupp… “, dengan penuh nafsu aku segera menciumi buah dada besar itu dan mengulum putingnya yang juga besar. Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan kencang. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah dada impianku itu. “Kemal….”, panggil Mama Winda mesra,”Mana kontolmu?… ayo kasih lihat ibu tirimu ini, hi3x…”. Aku segera menurut dan menanggalkan celana panjang dan sekaligus celana dalamku, memperlihatkan batang penisku yang dari tadi sudah mengeras dan mengacung ke atas. “woww… lebih besar punya kamu Mal… daripada punya Bapakmu”, puji Mama Winda seraya menggenggam penisku. Sejenak kemudian ibu tiriku sudah mengemut penisku penuh nafsu. “Weleh…. udah kedut-kedut kontolnya… minta memek ya?”candanya,” Sini… masuk memek Mama…” Mama Winda mengangkang, membuka pahanya lebar-lebar di sofa tengah, membuka jalan penisku memasuki liang surgawinya yang sudah becek. Setelah penisku melakukan penetrasi, kedua kakinya dirapatkan dan diangkat sehingga liang vaginanya terasa sempit, membuat penisku semakin ‘betah’ keluar masuk. Seperti promosinya di awal, Mama Winda mengerahkan kemampuannya melakukan kontraksi dinding vagina (kegel) sehingga penisku terasa terjepit dan terhisap, namun seperti sudah kuduga, aku bukan tipe yang mudah dikalahkan. Aku bahkan balik menyerang dengan mengusap dan memijit klitorisnya sambil terus memompa vaginanya. “Okh… kamu sudah ahli ya Kemal?…. kamu sering ngentot ya…?”, Mama Winda mulai mengelinjang-gelinjang lagi, menikmati permainan penis dan pijatan pada klitorisnya. Semakin lama aku rasakan dinding-dinding vaginanya semakin mengeras pertanda dia sudah dengan dekat orgasme keduanya. Aku semakin mempercepat kocokan penisku pada vaginanya, berupaya meraih orgasme bersamaan. “Mbak… saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi. “Semprot Kemal…okh… semprot aja yang banyak…okh….” Mama Winda terus mendesah-desah, wajahnya semakin mesum. Akhirnya dia kembali berteriak. “Okhhh….. ayo…. okh…. semprot Kemal… semprot memek Mama….”, jeritan jorok, wajah mesumnya dan sedotan vaginanya membuatku juga tidak tahan lagi. “Yesss…..yess….”, akupun menjerit kecil menikmati orgasmeku dengan semprotan mani yang menurutku cukup banyak ke dalam rahim Mama Winda, ibu tiriku. Orgasme yang spektakuler itu berlangsung hampir menit dan disudahi lagi dengan pelukan dan ciuman mesra. “Terima kasih Kemal…,” katanya mesra,”Enak banget, hi3x….” “Sama-sama Mbak, nanti saya kasih obat anti hamil…”, jawabku sambil melihat lelehan maniku di vaginanya. “Hi3x… enggak apa lagi… tapi peju kami memang banyak banget nihhh…hi3x…” Mama Winda terkekeh girang melihat lelehan mani putihku di vaginanya. “Kapan-kapan pakai kondom ya…. mahasiswa kedokteran kok enggak siap kondom, hi3x….” candanya. “Yaa… saya kan alim Mbak… he3x…” “Ha3x…. bohong banget, kamu jago gitu… pasti udah sering ngentot ya?…”, tanyanya penuh keingintahuan. “Pernah sih sekali dua kali… waktu main di Jakarta…” kataku jujur sambil mengingat PSK di panti pijat yang pernah aku datangi di Jakarta. “Jakarta?… heeee…. jangan2… kamu…. main sama Lela sialan itu, iya???” sorot matanya berubah, agak emosi,”pantes kamu cerita buah dada Lela besar, klitorisnya juga besar… jangan2x kamu sudah main sama Lela juga ya?….” “Enggak Mbak…. bukan sama Mama Lela… sumpah!” seruku berkilah. “Awas kamu kalau main sama Lela…” serunya dengan nada cemburu. Wajahnya yang mesum tampak manja. “Saya janji tidak akan main sama Mama Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya…he3x….”, pintaku manja. Mama Winda memeluk dan menciumku mesra,”Baik… kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya….” “Siip… saya bawa kondom deh…he3x….” kataku girang. Kami bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde pertempuran sebelum pergi tidur. Itu adalah pengalaman pertamaku dengan ibu tiriku, dan tentu saja bukan yang terakhir. Setiap ada waktu, Mama Winda dengan semangat mengirim SMS dan aku segera datang memenuhi hasrat binal ibu tiriku. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah Mama Winda mengajak aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. Bagaimana kisahnya? Nantikan edisi berikutnya. Petualanganku juga tak berhenti pada Mama Winda, karena aku masih punya satu ibu tiri di Jakarta, Mama Lela, yang juga tak kalah montok dengan Mama Winda.
Salam.
************
Cerita lainnya Disini.



Hurt with Pleasure.

Just right no need small talk.
Introduce my name Abi (cover).
It was a morning breakfast, I was with my cousin (let's call it Citra, the height is almost the same as me.It's body is proportional.The face is really oriental but there is no derivative, the red sepunggung red hairjust the same fit my taste. If material problem, maybe bigger money Citra snack than my salary at that time. He's still in high school. Biology is always perfect. So he knows very well with the anatomy of the human body.) Sitting next to me. bla ... bla ... blah ... more friendly events she whispered me "sister, tonight the show is doing?" "At karaoke, why de?" I replied. "No ..." he replied. "Are you all right?" I asked back. "Certainly ... Kan usually I was told to sing along well papa deh same." "Yes, you have to say the same papa if you do not want to sing anymore. Do you really want to do what?" (I'm just used to calling my dear even in front of my family" Anyway I want to be free anyway ... Again do not want to be told" "Ooo ... So what else do you want to do?" "How about we just take a car, I'll borrow the car and you'll drive." (My om car is a C Class Comp Miter). 'OK that's it. But what time? because at 5 o'clock I want to arrange the food. "(We have a family to share the task, I'm part of the table arrangement.)" Just 7an well my sister dear ... So we both have no job. Agreed? "
" No Problemo ".
At 7:15 I went straight to Citra's room. I knocked the door 3 times, then I went behind the door. (When I was taught I was not allowed to face the door when I knocked.) About 10 seconds later Image opened the door, then he told me to come in. "Sister, lock the door dong, I want to take a shower. Did you have a bath yet?" Apparently Citra just wear towel opening time of the door. "Never mind ... Do you want to walk the streets do not bathe? Emang why want to bathe together?" "Can ... yuk!" The answer is enthusiastic. "People do not joke, I just bathed tau ..." "Yes I did .. I take a shower then you wait a minute well ... If you want to use a laptop just use it, it's in the bag, login password ******." "Oki'll wait then. " that Citra kiss me on the cheek. (Wow, this tumben kiss me.) Still anget this laptop. Once I start up the laptop, login, login windows, sticking notepad that it says: "Sister, look out the window dehdo not have a walk well ... O yes, I think the view from your room is better deh. Later take the laptop there. So we chatted while listening to the song. "Why use any message ... Why did not you just say it earlier? I'm still not suspiciousbecause I think, my cousin ... Why do not think baseball. "Come on, my sister's window is open, I want a cigarette, O yes cigarettes yes .. Cigarettes I missed..." I shouted in front of the bathroom door. "Wear it, kak, I'm in my little bag." not taste 3 cigarettes have Citra out. Because I play flash games on Citra laptop while listening to my cousin's mp3 collection. (She had a good taste of music.) The image came out of the bathroom. Lho? Why naked? "Ehhh ... Citra ... even naked ... Streets again ..." I chirped. "Ah, let it go, this brother is looking." I can only shake it. Immediately I was confronted by seeing a pink nipple & pussy + fragrant again ... "have you read my message? Is that a note in the notepad?" He asked. "0ooo, why are you not saying thatyes go on, let's get my room. "I walk first to the laptop in my right hand, while holding the cigarette in my left hand.Open the room, I put the laptop on the desk and I plug in the small active speaker cable that I brought from home. & locked the room door"How is it locked?" Ask me confused. "Let's not bother you." The answer is spoiled. While singing the song Michele-Dont make my brown eyes blue. He pulled my hand, I automatically turned. Continue Image kiss my lips while saying. "Teach me ML dong kak ..." "Time? Sure? Not wrong?" my joke. "Indeed I look again joking? Mending to ask to teach sister." Not wearing old thinkers, I just kiss his lips. "I taught you slowly." Without command, direct Citra open all clothes clinging dibadannya. do not want to lose me also in a matter of seconds, directly naked War lip started again. Slowly my lips moved from my lips to my ears. I lick my ears and once in a while I have a small bite. The image can only sigh. so lick I moved to the back of his ears, reflex Astrid hold my waist. While Citra menggelinjang, my lips and tongue began walking towards the back of the neck and then back towards the neck and immediately down to the chest. my left hand started acting in his left chest while my right hand was playing in his pussy. Every now and then I get up to kiss her lips. Now I started to lick the hole in her navel. No doubt Image holds my hair because of the iciness. I also asked Citra to sit on the bed that I have given bath towel used my bath earlier. I asked him to straddle, and I kissed him softly.
"I just shaved it kak ... So good right?" "It's good, fragrant too ..." Without length, start is my tongue wandering in the door memek Citra my own cousin. When my tongue and lips touched his G-spot, Citra while menggelinjang grabbed my hair and began to sizzle deliciously. "sss ... ssh ... do not stop please ... do not". heard the words from him, I increasingly lust to lick and suck the liquid from his pussy that had been wet. And I started to try variations of licks plus finger games in the memek belonging to Citra. after about 5 minutes then Citra stiffen great because it has achieved unbearable pleasure. "Sister, I want to try to have you dong ..." "Can you play this with your mouth?" While pointing to my blackened missile due to the rigors of blood flow to the organ. "Teach first ..." She replied in a spoiled tone. "You lick first ..." I asked while lying beside him. Then Citra got up and bowed to my dick, and started licking slowly. "Now you sucking please." Ask me. "Do not load it?" knowing rather big and long from the standards of Indonesian missiles have got this. "After my missile entered into the mouth of my cousin who long make this lust & err, I ask Citra occasionally use his tongue as wellafter 3 minutes of my rudalku in suction, I asked Citra to stop his activity. I asked him to lie down, then I circled his smooth white and legs in my waist. Slowly but surely, I point my missile in front of her pussy. "Be gentle please, I'm a virgin." I can only nod ... "shit ... It could be this minute ... The Virgin must still be a peret ..." I thought. Slowly enter. Apparently bener! Very narrow. (I keep my mind not too lustful, if lust all not up to 2 minutes also out). roughly 3 minutes of the sacred procession going on, I feel like someone is blocking my missile from getting to the target. We french kiss while I signed a little harder my missile. Suddenly my tongue was bitten together Citra, "Pain ..." he moaned while shedding tears. this translucent ... "I just pull it off." Unable to also hurt his own cousin. Holding my body wearing his legs when I want to unplug the missile from his pussy. "Was he sick?" I asked. "It's okay, it's important that my sister is happy." "This bener?" I asked again. The image just nods. while kissing him, I pressed again slowly while playing the white breasts and the pink clitoris ... Around 10 minutes later, Citra screamed small. It turned out to be stuck. I licked his neck & his ears as I slowly rocked the missiles got me in and out. 4 minutes passed when Citra sighed and raved "Faster please, sick ... but ... nice ..." The image screamed small when my missile stuck in his womb. I slow down my movement. enter it slowly, but backtracked instantaneously, progressing slowly, backing out in a flash. The image is seen enjoying the sensation that I made just now. Apparently it makes the image more wild. A moment later Citra very exciting (visible blood virgin flowing on her thigh) turned my body. finally... The position I like, WOMAN ON TOP. I do not think up to 20 minutes, Citra is like a professional course. The straw is steady, the pull is fast. Ah ... Can die before I squirt ya thought. Sweat was pouring down in the cold peaks. Citra itu seems already going out ya. Coz, pussy straw the faster & faster the tempo. Lust sounds began to echo my rather large and somewhat desolate room.
I feel like my missile is being sucked with a vacuum cleaner. It feels very fast! The image has just come out. The image limped over my body. "My dear, now take turns well, I feel this responsibility." Ask me, "It's up to you my dear sister ..." Without further ado, I changed the position of the Image so that menungging in front of me. the position of my hands at the waist Citra my beautiful cousin & exciting. And started boosted from behind. Every time my missile stuck, Citra screamed small. And start playing with his own clitoris. About 15 minutes ramped up, I already feel willing to come out. "Honey, you ... mens ... when?... "I asked without breaking his boosted even speed up." Ah... 2 ha... aw... 2... day ... ah ... again ... hit ... why? "" Sister ... already ... want ... out ... "Erang me ..." Whatever ... "" Pregnant , pregnant deh. The Fool "I thought," dear ... brother ... want ... out ... Aarrgh ... "I screamed a little, I fixed my missile deeplywith my hands still on the waist Citra, I pull the waist Citra towards me so as to cause a great sense of stinging ... Citra screaming while shedding tears when I remove my sperm inside pussy. I loosened my grip on her waist after my last drop of sperm. I sat next to him & kissed his forehead. "I am sorry, sorry if i'd cum inside of you." "Nothing. even if I'm pregnant, we'll just marry ya ... "While I licked her tears, she whispered something ..." The last one was sick but it can make me really happy you know. Sometimes we repeat again yes. I love you. "" I love you too my sweety. "
Regards.
********************
(NB : Kak = call for Brother in Indonesia)

More stories Here.





Menyakiti dengan kenikmatan.

Langsung saja yah gak usah basa-basi.
Perkenalkan namaku Abi (samaran).
Waktu itu acara sarapan pagi, Aku sama sepupuku (sebut saja Citra, tingginya hampir sama denganku. Bentuk badannya proporsional. Mukanya oriental banget padahal gak ada turunan, rambut sepunggung highlight merah. Pokoknya pas banget sama seleraku. Kalau masalah materi, mungkin lebih gede duit jajan Citra daripada gajiku waktu itu. Dia masih SMA. Biologinya always perfect. Jadi dia tau betul dengan anatomi tubuh manusia.) duduk sebelahan sama aku. Bla… bla… bla… acara lagi ramah tamah dia membisikku "Kakak, nanti malam acaranya ngapain?" "Palingan pada karaoke, Kenapa de?" Jawabku. "Enggak…" Balasnya. "Kamu bete ya?" Aku tanya balik. "Pastilah… Kan biasanya aku disuruh ikutan nyanyi juga deh sama papa." "Ya sudah bilang saja sama papa kalau kamu lagi gak pingin nyanyi. Memang kamu sendiri pinginnya ngapain sayang?" (Aku sama sudah biasa memanggil sayang biarpun didepan keluarga gue. "Pokoknya lagi pengen bebas saja… Lagi gak pengen disuruh-suruh" "Ooo… Terus kamu lagi pengen ngapain coba" "bagaimana kalau kita jalan-jalan saja pakai mobil. Nanti aku pinjam mobilnya papa saja. Nanti kamu yang menyetir." (Mobil om gue itu Mersi C Class Komp). 'OK saja deh. Tapi jam berapa? Soalnya jam 5 aku mau menata makanan." (Kita sekeluarga sudah bagi-bagi tugas, gue bagian tata meja.). "Jam 7an saja yah kakakku sayang… Jadi kita sama-sama sudah gak ada kerjaan. Setuju?" "No Problemo".
Jam 7.15 gue langsung ke kamar Citra. Gue ketok pintu 3 kali, trus gue belakangin pintu. (Waktu kecil gue diajarkan gak boleh menghadap pintu kalau habis mengetok pintu.) Sekitar 10 detik kemudian Citra buka pintu, lalu dia menyuruh gue masuk. "Kak, kunci pintunya dong. Aku mau mandi. Kakak sudah mandi belum?" Ternyata Citra cuma pakai handuk waktu buka pintu. "Sudahlah… Masa mau jalan-jalan gak mandi? Emang kenapa mau mandi bareng?" "Boleh… yuk!" Jawabnya antusias. "Gak ah. Orang becanda juga, aku baru mandi tau…" "ya sudah. Aku mandi dulu ya. Kamu tunggu sebentar yah… Kalau mau pakai laptop pakai saja, itu ada di tas. login passwordnya ******." "Ok. I’ll wait then.” Abis itu Citra mencium pipi gue. (Waduh, tumben ini cium gue.) Masih anget ini laptop. Begitu gue start up itu laptop, login, masuk windows, nongol notepad yang isinya: "Kak, lihat keluar jendela deh. Jalanan macet banget. Gak usah jalan-jalan yah… O iya, kayaknya view dari kamar kamu lebih bagus deh. Nanti bawa laptop saja kesana. Jadi kita ngobrol sambil denger lagu." Kok pakai pesan segala… Kenapa tadi gak langsung ngomong saja tadi. Gue masih belum curiga. Soalnya gue mikir, sepupu gue ini… Ngapain mikir yang enggak-enggak. "Cit, jendela kakak buka yah. Kakak mau merokok. O iya minta rokok ya. Rokok aku ketinggalan dibawah…" Teriak gue di depan pintu kamar mandinya. "Pakai saja kak. Rokok aku ada di dalem tas kecilku." Gak berasa sudah 3 batang punya Citra habis. Soalnya gue main game flash yang ada di laptop Citra sambil dengerin mp3 koleksinya sepupu gue. (She had a good taste of music.) Citra keluar dari kamar mandi. Loh? Kok bugil? "Ehhh… Citra… malah telanjang… Jalan-jalan lagi…" Celetukku. "Ah, biarkan saja. Kakak ini yang melihat." Gue cuma bisa geleng-geleng saja. Seketika gue konak gara-gara lihat puting merah muda & memek tanpa bulu + wangi lagi… "sudah baca kan pesanku? Itu loh yang di notepad tadi?" Tanyanya. "0ooo, sudah kok. Kenapa kamu gak bilang dari tadi? Ya udahlah, ayo kekamarku." Gue jalan duluan nenteng laptop di tangan kanan, sambil pegang rokok di tangan kiri. Habis buka kamar, gue taruh laptop dimeja terus gue colok kabel speaker aktif kecil yang gue bawa dari rumah. Citra masuk, terus langsung menutup & mengunci pintu kamar. "Kok dikunci cit?" Tanya gue kebingungan. "Biar gak ada yang gangguin." Jawabnya manja. Sambil bernyanyi lagu Michele–Dont make my brown eyes blue. Dia tarik tangan gue, otomatis gue berbalik badan. Terus Citra cium bibir gue sambil bilang. "Ajari aku ML dong kak…" "Masa? Bener? Yakin? Gak salah?" Canda gue. "Emang aku kelihatan lagi bercanda? Mending minta ajari sama kakak." Gak pakai mikir lama, langsung gue kecup bibirnya. "Aku ajari pelan-pelan yah." Tanpa komando, langsung Citra buka semua pakaian yang menempel dibadannya. Gak mau kalah gue juga dalam hitungan detik, langsung bugil Perang bibir pun dimulai lagi. Pelan-pelan bibir gue pindah dari bibir ke kuping. Gue jilat kuping dan sesekali gue gigit kecil. Citra cuma bisa mendesah. Begitu jilatan gue pindah kebagian belakang kupingnya, reflek Astrid pegang pinggang gue. Sementara Citra menggelinjang, bibir dan lidah gue mulai berjalan menuju bagian belakang leher lalu kembali kearah leher dan segera turun ke dada. Tangan kiri gue mulai beraksi di dada kirinya sementara tangan kanan gue bermain di memeknya. Sesekali gue bangkit untuk mencium bibirnya. Sekarang gue mulai menjilat lubang pusarnya. Tak ayal Citra pun memegang rambutku karena kegelian. Gue pun minta Citra untuk duduk diatas tempat tidur yang sudah gue beri alas handuk bekas mandi gue tadi. Gue minta dia ngangkang, dan gue kecup lembut memeknya.
"Aku baru cukur tadi kak… Jadi bagus kan?" "Sudah bagus, wangi pula…" Tanpa panjang lebar, mulai lah lidah gue berkelana di pintu memek Citra sepupu gue sendiri. Ketika lidah dan bibir gue menjamah G-spot miliknya, Citra sembari menggelinjang menjambak rambut gue dan mulai mendesis nikmat. "sss… ssh… don’t stop please… don’t". Mendengar perkataan darinya, gue makin nafsu untuk menjilat dan menyedot cairan dari memeknya yang sudah dari tadi basah. Dan gue mulai mencoba variasi jilatan plus permainan jari didalam memek milik Citra. Setelah sekitar 5 menit kemudian Cita menggelinjang hebat karena telah meraih kenikmatan tiada tara. "Kak, aku mau mencoba punya kamu dong…" "kamu bisa mainkan ini pakai mulut kamu gak?" Sembari menunjuk rudal gue yang sudah menghitam karena kerasnya aliran darah menuju organ tersebut. "Ajari dulu…" Jawabnya dengan nada manja. "Kamu jilat dulu…" minta gue sambil tiduran di sampingnya. Kemudian Citra bangkit dan membungkuk meraih rudalku, dan mulai menjilat perlahan. "Sekarang kamu emut deh." Minta gue. "Muat gak nih?" Maklum agak besar dan panjang dari standar orang indonesia rudal punya gue ini. "Setelah rudal gue masuk kedalam mulut sepupuku yang lama-lama bikin nafsu & khilaf ini, gue minta Citra sesekali pakai lidahnya juga. Setelah 3 menit rudalku di sedot-sedot, Gue minta Citra untuk menghentikan aktifitasnya itu. Gue minta dia tiduran, lalu gue lingkarkan kaki putih dan mulusnya itu di pinggangku. Pelan tapi pasti, gue arahkan rudal gue ke depan memeknya dia. "Be gentle please. Aku masih perawan." Gue cuma bisa mengangguk… "sialan… Bisa sebentar doang ini… Perawan pasti masih peret…" Pikir gue. Pelan-pelan gue masukkan. Ternyata bener! Sempit banget. (Gue tetap jaga pikiran gue biar gak terlalu kebawa nafsu. Kalau nafsu semua gak sampai 2 menit juga keluar). Kira-kira 3 menit prosesi sakral itu berlangsung, gue merasa kayak ada yang menghalangi rudal punya gue ini menuju sasaran. Kami french kiss sembari gue meneken sedikit lebih keras rudal gue. Tiba-tiba lidah gue digigit sama Citra, "Sakit…" rintihnya sambil menitikan air mata. Tembus ini… "Aku cabut saja yah." Gak tega juga menyakiti adik sepupu sendiri. Ditahannya badan gue pakai kakinya waktu gue mau mencabut rudal dari memeknya. "Katanya sakit?" Gue tanya. "Gak apa-apa, yang penting kakak senang." "Bener ini?" Gue tanya lagi. Citra cuma mengangguk. Sambil mencium dia, gue tekan lagi pelan-pelan sambil memainkan toket putih dan kelentitnya yang berwarna pink itu… Sekitar 10 menit kemudian, Citra menjerit kecil. Ternyata sudah mentok. Gue jilat leher & kupingnya sambil pelan-pelan gue goyang rudal punya gue keluar masuk. 4 menit berlalu ketika Citra mendesah dan meracau "Faster please, sakit… tapi… enak…" Citra menjerit kecil waktu rudal gue mentok di rahimnya. Gue memperlambat gerakan gue. Masukkan pelan-pelan, tapi mundur seketika, maju pelan-pelan, mundur secepat kilat. Citra terlihat menikmati sensasi yang gue bikin barusan. Ternyata hal itu bikin Citra makin liar. Sejurus kemudian Citra sangat menggairahkan (terlihat darah perawannya mengalir pada pahanya) membalik badan gue. Akhirnya… Posisi yang gue suka, WOMAN ON TOP. Kayaknya gak sampai 20 menit, Citra sudah kayak profesional saja. Sedotannya mantap, tarikannya kenceng. Ah… Bisa mati konak sebelum muncrat nih pikir gue. Keringat bercucuran dikamar yang berudara dingin puncak itu. Keliatannya Citra sudah mau keluar nih. Coz, sedotan memeknya makin kencang & temponya semakin cepat. Suara-suara nafsu pun mulai menggema dikamar gue yang agak besar dan agak terpencil.
Gue merasa rudal gue kayak disedot pakai vacum cleaner. Rasanya kencang banget! Ternyata Citra baru saja keluar. Citra terkulai lemas di atas badan gue. "Sayangku, sekarang gantian yah. Aku berasa tanggung ini." Minta gue, "Terserah kamu kakakku sayang…" Tanpa basa-basi, gue merubah posisi Citra sehingga menungging di depan gue. Posisi tangan gue di pinggang Citra sepupuku yang cantik & menggairahkan. Dan mulai gue genjot dari belakang. Setiap kali rudal gue mentok, Citra menjerit kecil. Dan mulai bermain dengan clitoris miliknya sendiri. Sekitar 15 menit menggenjot, gue sudah berasa mau keluar. "Sayang, kamu… mens… kapan?…" Tanya gue tanpa putus genjotannya bahkan mempercepat. "Ah… 2 ha… aw… 2… hari… ah… lagi… kena… kenapa?" "Kakak… sudah… mau… keluar…" Erang gue… "Terserah…" "Hamil, hamil deh. Masa Bodoh" Pikir gue, "sayang… kakak… mau… keluar… Aarrgh…" Gw menjerit kecil. Gue mentokkan dalam-dalam rudal gue. Dengan tangan gue masih di pinggang Citra, gue tarik pinggang Citra kearah gue sehingga menimbulkan rasa mentok yang luar biasa… Citra menjerit sambil menitikkan air mata ketika gue keluarkan sperma gue didalam memeknya. Gue melonggarkan pegangan gue di pinggangnya setelah tetesan sperma gue yang terakhir. Gue duduk di samping dia & mencium keningnya. "I am sorry, sorry if i’d cum inside of you." "Gak apa-apa. Kalaupun aku hamil, kita nikah saja sekalian ya kak…" Sambil gue jilat air mata dia, dia bisikkan sesuatu… "Yang terakhir itu sakit tapi bisa bikin aku puas banget lho kak. Kapan-kapan kita ulangi lagi ya. I love you." "I love you too my sweety."
Salam.
************
Cerita lainnya Disini.