Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Friday, 23 February 2018

Menyakiti dengan kenikmatan.

Langsung saja yah gak usah basa-basi.
Perkenalkan namaku Abi (samaran).
Waktu itu acara sarapan pagi, Aku sama sepupuku (sebut saja Citra, tingginya hampir sama denganku. Bentuk badannya proporsional. Mukanya oriental banget padahal gak ada turunan, rambut sepunggung highlight merah. Pokoknya pas banget sama seleraku. Kalau masalah materi, mungkin lebih gede duit jajan Citra daripada gajiku waktu itu. Dia masih SMA. Biologinya always perfect. Jadi dia tau betul dengan anatomi tubuh manusia.) duduk sebelahan sama aku. Bla… bla… bla… acara lagi ramah tamah dia membisikku "Kakak, nanti malam acaranya ngapain?" "Palingan pada karaoke, Kenapa de?" Jawabku. "Enggak…" Balasnya. "Kamu bete ya?" Aku tanya balik. "Pastilah… Kan biasanya aku disuruh ikutan nyanyi juga deh sama papa." "Ya sudah bilang saja sama papa kalau kamu lagi gak pingin nyanyi. Memang kamu sendiri pinginnya ngapain sayang?" (Aku sama sudah biasa memanggil sayang biarpun didepan keluarga gue. "Pokoknya lagi pengen bebas saja… Lagi gak pengen disuruh-suruh" "Ooo… Terus kamu lagi pengen ngapain coba" "bagaimana kalau kita jalan-jalan saja pakai mobil. Nanti aku pinjam mobilnya papa saja. Nanti kamu yang menyetir." (Mobil om gue itu Mersi C Class Komp). 'OK saja deh. Tapi jam berapa? Soalnya jam 5 aku mau menata makanan." (Kita sekeluarga sudah bagi-bagi tugas, gue bagian tata meja.). "Jam 7an saja yah kakakku sayang… Jadi kita sama-sama sudah gak ada kerjaan. Setuju?" "No Problemo".
Jam 7.15 gue langsung ke kamar Citra. Gue ketok pintu 3 kali, trus gue belakangin pintu. (Waktu kecil gue diajarkan gak boleh menghadap pintu kalau habis mengetok pintu.) Sekitar 10 detik kemudian Citra buka pintu, lalu dia menyuruh gue masuk. "Kak, kunci pintunya dong. Aku mau mandi. Kakak sudah mandi belum?" Ternyata Citra cuma pakai handuk waktu buka pintu. "Sudahlah… Masa mau jalan-jalan gak mandi? Emang kenapa mau mandi bareng?" "Boleh… yuk!" Jawabnya antusias. "Gak ah. Orang becanda juga, aku baru mandi tau…" "ya sudah. Aku mandi dulu ya. Kamu tunggu sebentar yah… Kalau mau pakai laptop pakai saja, itu ada di tas. login passwordnya ******." "Ok. I’ll wait then.” Abis itu Citra mencium pipi gue. (Waduh, tumben ini cium gue.) Masih anget ini laptop. Begitu gue start up itu laptop, login, masuk windows, nongol notepad yang isinya: "Kak, lihat keluar jendela deh. Jalanan macet banget. Gak usah jalan-jalan yah… O iya, kayaknya view dari kamar kamu lebih bagus deh. Nanti bawa laptop saja kesana. Jadi kita ngobrol sambil denger lagu." Kok pakai pesan segala… Kenapa tadi gak langsung ngomong saja tadi. Gue masih belum curiga. Soalnya gue mikir, sepupu gue ini… Ngapain mikir yang enggak-enggak. "Cit, jendela kakak buka yah. Kakak mau merokok. O iya minta rokok ya. Rokok aku ketinggalan dibawah…" Teriak gue di depan pintu kamar mandinya. "Pakai saja kak. Rokok aku ada di dalem tas kecilku." Gak berasa sudah 3 batang punya Citra habis. Soalnya gue main game flash yang ada di laptop Citra sambil dengerin mp3 koleksinya sepupu gue. (She had a good taste of music.) Citra keluar dari kamar mandi. Loh? Kok bugil? "Ehhh… Citra… malah telanjang… Jalan-jalan lagi…" Celetukku. "Ah, biarkan saja. Kakak ini yang melihat." Gue cuma bisa geleng-geleng saja. Seketika gue konak gara-gara lihat puting merah muda & memek tanpa bulu + wangi lagi… "sudah baca kan pesanku? Itu loh yang di notepad tadi?" Tanyanya. "0ooo, sudah kok. Kenapa kamu gak bilang dari tadi? Ya udahlah, ayo kekamarku." Gue jalan duluan nenteng laptop di tangan kanan, sambil pegang rokok di tangan kiri. Habis buka kamar, gue taruh laptop dimeja terus gue colok kabel speaker aktif kecil yang gue bawa dari rumah. Citra masuk, terus langsung menutup & mengunci pintu kamar. "Kok dikunci cit?" Tanya gue kebingungan. "Biar gak ada yang gangguin." Jawabnya manja. Sambil bernyanyi lagu Michele–Dont make my brown eyes blue. Dia tarik tangan gue, otomatis gue berbalik badan. Terus Citra cium bibir gue sambil bilang. "Ajari aku ML dong kak…" "Masa? Bener? Yakin? Gak salah?" Canda gue. "Emang aku kelihatan lagi bercanda? Mending minta ajari sama kakak." Gak pakai mikir lama, langsung gue kecup bibirnya. "Aku ajari pelan-pelan yah." Tanpa komando, langsung Citra buka semua pakaian yang menempel dibadannya. Gak mau kalah gue juga dalam hitungan detik, langsung bugil Perang bibir pun dimulai lagi. Pelan-pelan bibir gue pindah dari bibir ke kuping. Gue jilat kuping dan sesekali gue gigit kecil. Citra cuma bisa mendesah. Begitu jilatan gue pindah kebagian belakang kupingnya, reflek Astrid pegang pinggang gue. Sementara Citra menggelinjang, bibir dan lidah gue mulai berjalan menuju bagian belakang leher lalu kembali kearah leher dan segera turun ke dada. Tangan kiri gue mulai beraksi di dada kirinya sementara tangan kanan gue bermain di memeknya. Sesekali gue bangkit untuk mencium bibirnya. Sekarang gue mulai menjilat lubang pusarnya. Tak ayal Citra pun memegang rambutku karena kegelian. Gue pun minta Citra untuk duduk diatas tempat tidur yang sudah gue beri alas handuk bekas mandi gue tadi. Gue minta dia ngangkang, dan gue kecup lembut memeknya.
"Aku baru cukur tadi kak… Jadi bagus kan?" "Sudah bagus, wangi pula…" Tanpa panjang lebar, mulai lah lidah gue berkelana di pintu memek Citra sepupu gue sendiri. Ketika lidah dan bibir gue menjamah G-spot miliknya, Citra sembari menggelinjang menjambak rambut gue dan mulai mendesis nikmat. "sss… ssh… don’t stop please… don’t". Mendengar perkataan darinya, gue makin nafsu untuk menjilat dan menyedot cairan dari memeknya yang sudah dari tadi basah. Dan gue mulai mencoba variasi jilatan plus permainan jari didalam memek milik Citra. Setelah sekitar 5 menit kemudian Cita menggelinjang hebat karena telah meraih kenikmatan tiada tara. "Kak, aku mau mencoba punya kamu dong…" "kamu bisa mainkan ini pakai mulut kamu gak?" Sembari menunjuk rudal gue yang sudah menghitam karena kerasnya aliran darah menuju organ tersebut. "Ajari dulu…" Jawabnya dengan nada manja. "Kamu jilat dulu…" minta gue sambil tiduran di sampingnya. Kemudian Citra bangkit dan membungkuk meraih rudalku, dan mulai menjilat perlahan. "Sekarang kamu emut deh." Minta gue. "Muat gak nih?" Maklum agak besar dan panjang dari standar orang indonesia rudal punya gue ini. "Setelah rudal gue masuk kedalam mulut sepupuku yang lama-lama bikin nafsu & khilaf ini, gue minta Citra sesekali pakai lidahnya juga. Setelah 3 menit rudalku di sedot-sedot, Gue minta Citra untuk menghentikan aktifitasnya itu. Gue minta dia tiduran, lalu gue lingkarkan kaki putih dan mulusnya itu di pinggangku. Pelan tapi pasti, gue arahkan rudal gue ke depan memeknya dia. "Be gentle please. Aku masih perawan." Gue cuma bisa mengangguk… "sialan… Bisa sebentar doang ini… Perawan pasti masih peret…" Pikir gue. Pelan-pelan gue masukkan. Ternyata bener! Sempit banget. (Gue tetap jaga pikiran gue biar gak terlalu kebawa nafsu. Kalau nafsu semua gak sampai 2 menit juga keluar). Kira-kira 3 menit prosesi sakral itu berlangsung, gue merasa kayak ada yang menghalangi rudal punya gue ini menuju sasaran. Kami french kiss sembari gue meneken sedikit lebih keras rudal gue. Tiba-tiba lidah gue digigit sama Citra, "Sakit…" rintihnya sambil menitikan air mata. Tembus ini… "Aku cabut saja yah." Gak tega juga menyakiti adik sepupu sendiri. Ditahannya badan gue pakai kakinya waktu gue mau mencabut rudal dari memeknya. "Katanya sakit?" Gue tanya. "Gak apa-apa, yang penting kakak senang." "Bener ini?" Gue tanya lagi. Citra cuma mengangguk. Sambil mencium dia, gue tekan lagi pelan-pelan sambil memainkan toket putih dan kelentitnya yang berwarna pink itu… Sekitar 10 menit kemudian, Citra menjerit kecil. Ternyata sudah mentok. Gue jilat leher & kupingnya sambil pelan-pelan gue goyang rudal punya gue keluar masuk. 4 menit berlalu ketika Citra mendesah dan meracau "Faster please, sakit… tapi… enak…" Citra menjerit kecil waktu rudal gue mentok di rahimnya. Gue memperlambat gerakan gue. Masukkan pelan-pelan, tapi mundur seketika, maju pelan-pelan, mundur secepat kilat. Citra terlihat menikmati sensasi yang gue bikin barusan. Ternyata hal itu bikin Citra makin liar. Sejurus kemudian Citra sangat menggairahkan (terlihat darah perawannya mengalir pada pahanya) membalik badan gue. Akhirnya… Posisi yang gue suka, WOMAN ON TOP. Kayaknya gak sampai 20 menit, Citra sudah kayak profesional saja. Sedotannya mantap, tarikannya kenceng. Ah… Bisa mati konak sebelum muncrat nih pikir gue. Keringat bercucuran dikamar yang berudara dingin puncak itu. Keliatannya Citra sudah mau keluar nih. Coz, sedotan memeknya makin kencang & temponya semakin cepat. Suara-suara nafsu pun mulai menggema dikamar gue yang agak besar dan agak terpencil.
Gue merasa rudal gue kayak disedot pakai vacum cleaner. Rasanya kencang banget! Ternyata Citra baru saja keluar. Citra terkulai lemas di atas badan gue. "Sayangku, sekarang gantian yah. Aku berasa tanggung ini." Minta gue, "Terserah kamu kakakku sayang…" Tanpa basa-basi, gue merubah posisi Citra sehingga menungging di depan gue. Posisi tangan gue di pinggang Citra sepupuku yang cantik & menggairahkan. Dan mulai gue genjot dari belakang. Setiap kali rudal gue mentok, Citra menjerit kecil. Dan mulai bermain dengan clitoris miliknya sendiri. Sekitar 15 menit menggenjot, gue sudah berasa mau keluar. "Sayang, kamu… mens… kapan?…" Tanya gue tanpa putus genjotannya bahkan mempercepat. "Ah… 2 ha… aw… 2… hari… ah… lagi… kena… kenapa?" "Kakak… sudah… mau… keluar…" Erang gue… "Terserah…" "Hamil, hamil deh. Masa Bodoh" Pikir gue, "sayang… kakak… mau… keluar… Aarrgh…" Gw menjerit kecil. Gue mentokkan dalam-dalam rudal gue. Dengan tangan gue masih di pinggang Citra, gue tarik pinggang Citra kearah gue sehingga menimbulkan rasa mentok yang luar biasa… Citra menjerit sambil menitikkan air mata ketika gue keluarkan sperma gue didalam memeknya. Gue melonggarkan pegangan gue di pinggangnya setelah tetesan sperma gue yang terakhir. Gue duduk di samping dia & mencium keningnya. "I am sorry, sorry if i’d cum inside of you." "Gak apa-apa. Kalaupun aku hamil, kita nikah saja sekalian ya kak…" Sambil gue jilat air mata dia, dia bisikkan sesuatu… "Yang terakhir itu sakit tapi bisa bikin aku puas banget lho kak. Kapan-kapan kita ulangi lagi ya. I love you." "I love you too my sweety."
Salam.
************
Cerita lainnya Disini.



No comments:

Post a Comment