Aku seorang pria yang sudah menikah.
Panggil saja Edo. Aku sekarang tinggal di Jogja, walaupun aku bukan asli jogja, istriku yang asli Jogja. Aku menikah muda, 23 tahun, saat aku masih kuliah, dan istriku juga. Karma kata teman-temanku. Aku bukan PK yang suka ganti-ganti pasangan, hanya tidak bisa menahan hasrat saja. Ini adalah kisahku dengan kakak iparku yang bisa dibilang, tidak akur tapi hanya akur masalah sex.
Istriku anak kedua, hanya dia dan kakaknya yang keduanya wanita, sedangkan aku anak tunggal. Pengalaman sex pertama istriku adalah denganku, sedangkan aku memang sudah rusak dari SD. Dulu di SD aku pernah “main titit” sama adik teman yang juga tetanggaku. Maksudnya ‘main titit’ adalah kami saling menggesekkan alat kelamin, dan itu waktu aku masih kelas 2 SD, bersama 2 teman tetanggaku lainnya. kelas 3 SD aku sudah nonton film porno, mulai masturbasi, mengintip pembantu mandi, dan bahkan memaksa menyusu pada pembantuku. Kelas 5 SD, aku sudah ciuman dan petting tetangga yang memang akan pindah ke luar kota, juga baca novel porno bahasa inggris ayahku. Bahkan SMP aku sudah melepas keperjakaanku.
Istriku, sebut saja Ani, adalah pacar resmi ketigaku, yang memang mengangkat aku dari keterpurukan, memberiku semangat kuliah lagi, dan ingin aku nikahi, aku memang serius. Aku memang tidak bisa pacaran tanpa ML, kedua pacarku sebelumnya pun aku perawani, dan istriku tak terkecuali. Aku memang tidak pernah dan tidak suka ML pakai kondom, sehingga entah aku telat cabut, atau perhitungan istriku salah, akhirnya kami menikah karena dia hamil. Salah satu yang sangat menentang pernikahan kami dan sangat membenci aku adalah kakak iparku, sebut saja Rini. ternyata baru aku tahu dia adalah cewek yang jarang punya pacar, pacarnya yang sekarang adalah pacar yang keduanya, dan bisa dibilang tidak begitu popular dikalangan pria. Beda dengan istriku yang memang banyak yang suka, sehingga aku mematahkan hati cukup banyak pria karena dia menikah denganku. Yang membuat mbak Rini tambah benci kepadaku saat itu, mungkin karena aku tinggal bareng mertua dan masih merepotkan. Jadilah di rumah itu ada 6 orang, Ayah dan Ibu mertua, aku, istri, anak, dan mbak Rini. Ini belum termasuk eyang putrinya istriku.
Setelah putri pertamaku lahir, entah mengapa, aku sangat susah dapat jatah dari istri, bisa 1 bulan sekali, itupun kalau moodnya bagus. Banyak sekali alasannya, mulai dari capek mengurus anak, hingga dia berlendir, yang artinya tanda sedang subur. Mau tak mau aku harus menahan diri. Untungnya aku punya beberapa teman cewek yang baik hati dan mau jadi teman selingkuhanku. Kami melakukannya karena memang suka dan butuh. Tapi kalau memang tidak bisa, ya balik ke selera asal, onani.
Aku bisa agak menyeleneh masalah sex. Aku dari SMA mulai menyukai Panty Fethisism, maksudnya onani sambil mencium celana dalam bekas seorang wanita. Lebih bagus kalau aku tau memang itu celana dalam milik cewek yang aku suka, bekas pakai, jadi masih berbau khas cewek. Nikmat rasanya onani dan akhirnya menumpahkan sperma ke celana dalam bekas itu, sambil membayangkan menumpahkan sperma di memek cewek itu.
Beberapa kali aku terpaksa memakai celana dalam mbak Rini, kakak iparku, saat istriku tak memberiku jatah. Memang kalau masalah cantik, labih cantik dan putih Ani, istriku, tapi kalau masalah body, toket and bokong lebih besar mbak Rini.
Istri ku yang sudah menyusui saja cuma 38b, sedangkan mbak Rini yang belum menyusui sudah 38b juga, kadang kalau tak salah dia pakai yang 40b tergantung merek bra-nya. Aku memang cowok yang tidak begitu mempermasalahkan muka pasanganku, yang penting enak dilihat, karena aku sadar diri aku tidak ganteng. Tapi yang penting cewekku , harus chubby, agak gendut tak apa, asal bokong dan toketnya, wuih. Itulah alasan aku cukup sering memakai celana dalam mbak Rini untuk masturbasi, bodynya itu yang bikin aku sering horny dan membayangkan ML sama dia. Dan semuanya aman-aman saja aku lakukan tanpa ketahuan, hingga suatu malam.
Malam itu seperti malam lainnya, dimana aku gagal minta jatah dan terpaksa mengendap-endap ke mesin cuci mencari celana dalam kotor mbak Rini untuk pelarian. Setelah mendapatkan yang aku cari, aku segera menuju ruang computer yang berada di belakang dekat kamar mandi. Aku mulai menyalakan computer, dan menonton koleksi film pornoku. Aku simpan di folder yang terproteksi password, jadi tak ada seorang pun yang bisa membukanya. Aku sudah hafal kebiasaan rumah ini. Tidak ada yang bangun ke kamar mandi sampai jam 4 pagi, jadi karena sekarang masih jam 12.30 malam, aku aman untuk melakukan pelampiasan hasratku. Sebelum terlalu tenggelam dalam kegiatanku, aku cek sekali lagi kondisi rumah, semuanya tertidur lelap, kecuali mbak Rini yang sedang asyik telepon dengan pacarnya.
Tiba-tiba terdengar suara desahan tertahan dari dalam kamar mbak Rini. Aku yang terbiasa dengan suara seperti itu, jadi penasaran apa benar suara tersebut seperti dugaanku, mbak Rini sedang phone sex. Sampai sekarang aku tak bisa phone sex walaupun pernah sekali mencoba bersama salah satu teman cewekku. Aku menunggu sambil pura-pura nonton tv. Tak berapa lama, mbak Rini keluar ke kamar mandi.
Aku pun mematikan tv dan ikut ke belakang. Mbak Rini pun langsung bertanya, “mau ngapain Le?”, “main computer” jawabku santai. Mbak Rini pun masuk kamar mandi, dan ketika dia keluar, aku pun bertanya dengan santainya, “habis ngapain mbak? kenapa ada suara suara dari dalam kamar tadi?”. Mbak Rini agak kaget, malu dan marah, “maksud kamu apa le? kamu mendengar mbak telpon tadi? sambil pura-pura nonton tv?”
“siapa yang mendengar? kan suaranya kedengeran sampai luar. kalau ada orang bangun nonton tv selain aku juga pasti denger suara desahan mbak di kamar. ngapain sih mbak? gak dapet jatah dari mas adi?” tanyaku santai. “sok tau kamu!” jawab mbak Rini sambil berlalu. Aku pun malas bertanya lagi, dan hanya berkutat di depan computer. Di rumah memang aku dipanggil TOLE oleh mertua dan mbak Rini, karena aku cowok satu-satunya selain mertua laki-laki.
Tak lama, aku mendengar samar ada teriakan tertahan. Penasaran, aku lalu menuju kamar mbak Rini, dan memang terdengar lagi desahan-desahan tertahan. Timbul niat isengku, aku ambil HPku dan merekam desahan-desahan mbak Rini. Hanya sebentar, dan aku yang makin horny karena desahan mbak Rini, segera kembali ke computer dan memulai film pornoku. Celana dalam mbak Rini pun aku keluarkan, dan mulai aku cium-cium aromanya. Aku pun mulai onani dengan santainya.
Lupa dengan kemungkinan mbak Rini keluar dan memergoki aku sedang onani. Dan ternyata benar saja, saat aku sedang hampir orgasme, dengan celana dalam mbak Rini, Aku ciumi aromanya, mbak Rini memergoki aku. Aku yang gagal orgasme, bercampur malu, bingung menyembunyikan celana dalam mbak Rini. “ooo, jadi begini kalau kamu gak dapat jatah dari Ani? Ayo ngaku le! kamu habis ngapain tadi? tunjukkan itu celana dalam.!!!” perintah mbak Rini. “ampun mbak, kalau mbak gak bilang siapa-siapa, aku juga gak bakal kasih tau siapa-siapa tentang phone sex mbak deh.” negoku dengan agak takut, karena memang mbak Rini terkenal galaknya. Mbak Rini pun tak kalah gertak, "mana buktinya kalau aku phone sex? kalau kamu, sudah ada bukti jelas".
Aku dengan santainya memperdengarkan hasil rekamanku, dan mbak Rini langsung melunak seketika. “ya jangan gitu le, kamu gak aku bilangin deh, tapi hapus rekaman mu itu. aku malu kalau ketahuan le.” bujuk mbak Rini. Aku santai saja. karena sudah aku back up di computer dengan kabel data sesaat sebelum ini. aku pun menyanggupinya. Dengan mbak Rini yang lebih melunak, dia yang mengajak aku bicara duluan. “gak dapet jatah le?” tanya mbak Rini, sambil mendekatiku, menarik kursi dan duduk agak jauh dariku. “ya iya lah mbak. kalau aku dapat jatah, aku mana mau onani. Bukannya lebih enak ML. tapi dek Ani kan memang ada saja alasannya untuk gak ML sama aku. terpaksa onani aku, daripada ke sarkem” (sarkem itu pasar kembang- tempat prostitusi di jogja). “terus mbak juga ngapain phone sex? Bukannya tiap hari bisa minta mas Adi? masih kurang jatah malam ya? horny amat sih?” tanyaku. Dan entah kenapa mbak Rini diam saja, malah balik bertanya. “itu celana dalamku toh? kenapa kamu pakai onani le? kamu gak cukup sama dek Ani. dan sudah berapa lama kamu kaya begini?” "kalau berapa lama, ya gak tau, tapi setiap ada kesempatan, dan dek Ani gak kasih jatah, ya begini jadinya. aku orang yang gampang horny mbak." jawabku jujur, daripada nanti dia lebih marah lagi, bisa bahaya. "terus mbak sendiri ngapain? tadi belum jawab pertanyaanku lho". Mbak Rini tak menjawab. dia hanya diam, dan mendekatiku. "Le, ‘punya’ kamu sebesar apa coba? coba aku lihat", sambil menarik tanganku yang menutupi kontol dan celana dalamnya.
Agak kaget dia ketika melihat kontolku yang sudah menegang, dan diambilnya celana dalamnya yang sudah basah oleh spermaku, dilihat dan diciumnya celana dalamnya. “bau pejuh kamu le, lumayan kental ya. kontol mu juga sedikit lebih besar dari mas Adi. Dek Ani dulu selalu merasakan itu ya?" Aku lihat mbak Rini yang sepertinya horny juga lihat kontolku, wah kesempatan ini, pikirku. "kalau mau pegang boleh mbak". Tapi mbak Rini malah bangun dan masuk kamarnya, tanpa berkata apa pun, membawa celana dalamnya yang ku pakai onani tadi, entah untuk apa.
Besoknya, aku dirumah sendirian. Ayah dan ibu mertua kerja, istriku ada kuliah, sedangkan mbak Rini sudah pergi entah kemana. Anakku biasanya dititipkan ke tante dari istri ku, karena memang harusnya aku pun sedang mengajar. Aku kerja sambilan jadi pengajar di sebuah lembaga pendidikan. Tapi karena tadi pagi ternyata ada sms tidak ada kelas, aku di rumah saja. aku lantas berinisiatif membersihkan rumah. Maklum numpang mertua, jadi harus bantu bersihin rumah. Tiba-tiba ada suara motor masuk, aku kira istriku sudah pulang kuliah, tapi ternyata mbak Rini yang pulang. Mbak Rini masuk tanpa menyapaku. Aku pun tak peduli, dan selesai bersih-bersih, aku langsung nonton tv. Tak sku duga mbak Rini memanggilku, "le! kesini sebentar..!! aku mau ngomong! penting!" nadanya agak tinggi. Aku yang malas, menghampirinya. Kaget juga aku saat tau di kamarnya dia siap sedang bersiap ganti baju. "Duduk le! Aku Cuma mau kasih tau kamu, kamu gak boleh lagi onani kaya semalam. bagaimana pun juga kamu sudah punya istri. dan kalau tidak bisa tahan dan horny sekali, kamu bisa minta sama aku". kata-kata terakhir mbak Rini adalah kata-kata yang paling aneh yang pernah aku dengar. "Jangan bercanda mbak. nanti kalau aku mau beneran gimana? jawab ku setengah tak percaya.
Mbak Rini dengan tak terduga melemparkan celana dalam yang kemarin aku pakai onani kepadaku, dan lalu melorotkan celana pendek jins yang dia pakai. Aku diam dan kaget melihatnya, Gila, ada apa dengan mbak Rini ? tanya aku dalam hati. Setelah celananya lepas, dia pun melepas celana dalamnya, lalu melemparkannya padaku. "Cepat onani lagi pakai celana dalamku, aku juga mau onani lihat kamu onani. biar adil kita" Aku hanya diam, walau kontolku sudah tegang, dan sangat terangsang melihat dia mulai duduk mengangkang dan memainkan klitorisnya sendiri. Aku mengambil celana dalam yang dipakainya, hitam, agak transparan, dan aku cium, lalu ku sentuhkan ke kontolku dan mulai onani.
Tak tahan dengan pemandangan dan tau kalau mbak Rini belum akan orgasme, aku menawarkan sesuatu pada mbak Rini, "mau aku bikin orgasme enak gak mbak? dijamin minta lagi". Tanpa menunggu jawaban, aku pun menghampiri mbak Rini dan mendekat wajahku ke memeknya. Mbak Rini tampaknya tahu apa yang akan sku lakukan. Aku mulai dengan mencium bibir memeknya, mulai menjilati selangkangan dan bagian dalam pahanya. Lalu aku mulai naik menjilati klitorisnya. Mbak Rini yang dari tadi sepertinya menahan desahan, tiba-tiba menekan kepalaku ke memeknya. Aku mulai menikmati seluruh bagian memeknya. Aku sangat suka menjilati memek wanita, baunya yang khas, rasanya yang khas, semuanya menggodaku untuk terus menjilat, mencium dan menghisap memeknya. Mbak Rini ternyata sangat suka ketika aku menghisap dan menggigit klitorisnya. Desahannya makin menjadi saat aku lakukan itu. Jariku pun tak mau diam, aku mulai memasukkan jari manis dan tengah aku mencari g-spot-nya. Tiba-tiba mbak Rini membuka semua sisa pakaiannya, lalu menarik tangan kiriku ke toketnya, dan aku mulai merangsang toketnya. Tak lama, dengan intens-nya rangsangan di g-spot dan klitorisnya, mbak Rini pun orgasme, dengan aku yang masih menghisap klitorisnya kuat-kuat. Basah semua mulutku dengan cairan memeknya.
Mbak Rini yang sepertinya sudah cukup pulih tenaganya menarik aku duduk di sebelahnya. Aku pun mulai lagi rangsangan di memek dan mulai menghisap putingnya. Tanpa aku duga, mbak Rini menarik mukaku dan mencium bibirku penuh nafsu, dan aku layani ciumannya, sambil terus melakukan rangsangan di toket dan memeknya. Tangan mbak Rini tiba-tiba aktif mengocok kontolku. Selepas ciuman, mbak Rini langsung mengarahkan mulutnya untuk menghisap kontolku. Aku sambut dengan sedikit menjambak rambutnya, agar batang kontolku bisa masuk semua dan bisa menyentuh kerongkongannya. Teknik blowjob mbak Rini ternyata hebat, entah belajar dimana dia. Istriku tak pernah mau mem-blowjob aku, jadi aku sangat suka saat mbak Rini ternyata mem-blowjob aku. Kepala kontolku dihisap keras-keras, dan lubang kencingku dijilatinya begitu nikmat hingga hampir saja aku orgasme.
Tak tahan lagi ingin mencoba kakak ipar sendiri, aku langsung minta ijin memasukkan kontolku ke memeknya yang lumayan sempit. (dibanding istriku yang sudah pernah melahirkan). Mbak Rini tak menjawab apa-apa, hanya membuka pahanya lebar, lalu melepaskan kontolku dari mulutnya, lalu mulai menciumi aku. Perlahan aku arahkan kontolku ke memeknya. Aku tekan pelan, mulai masuk, dan akhirnya masuk semua batang kontolku dalam memek mbak Rini. Mulai aku genjot pelan, kami pakai gaya misionaris. Mbak Rini mulai mendesah agak keras, aku pun mulai mempercepat genjotanku. “Enak le? sama dek Ani enak mana?” tanya mbak Rini pada ku yang sibuk menghisap dan menggigit putingnya. “Dek Ani sudah agak longgar mbak, lebih sempit memek mbak. Aku suka banget mbak. Apa lagi aku sudah hampir 1 bulan gak dapat jatah. Ini benar-benar sangat enak. Toket mbak memang mantap, lebih padat dan besar dari dek Ani. Kemarin-kemarin cuma bisa onani sambil bayangin ngentot mbak Rini. Eh, sekarang malah ngentot beneran. Mbak sendiri kenapa akhirnya mau mbak?” tanyaku sambil tetap menggenjot. Mbak Rini yang kelabakan dengan genjotanku, menjawab sekenanya. "gak puas ma mas adi le, dan penasaran sama kontolmu. enak gak kalau masuk ke memekku? Ternyata gede dan enak ya le. Tau begini, dari dulu-dulu mbak ngajak kamu ngentot mbak suka banget kamu jilatin memek mbak kaya tadi. nanti lagi ya". "oke mbak, asal aku dapat memek mbak, aku pasti puaskan mbak".
Cukup lama juga gaya misionaris ini. Lalu mbak Rini mulai berinisiatif diatas, memperlihatkan goyangan toketnya yang besar itu sambil aku remas dan aku hisap, bahkan aku gigit yang ternyata membuat mbak Rini tambah liar menggoyangkan pantat dan bahkan seperti menggencet kontolku. Tak kuat akan orgasme, aku minta mbak Rini menungging dan aku mulai gaya favoritku, doggie style, yang ternyata juga gaya favorit mbak Rini. Sebelum aku sodok, aku jilati dulu belahan dan lubang pantat mbak Rini. “Geli le, tapi enak” katanya. Saat aku sodok dan aku pacu memeknya dengan agak kasar dan cepat, aku masukkan juga jari telunjukku ke lobang pantat mbak Rini. Mbak Rini mendesah lebih seru seperti menikmati sodokan di kedua lobangnya. Tak lama mbak Rini meminta aku memacu lebih keras dan cepat, "yang cepat le, lebih dalam lagi, agh…agh…enak le…yang kuat le…agh…mmmhhh…agak kasar…pantatku sodok saja le…agh…masukin lagi jarimu….enak le….bentar lagi aku orgasme…agh…agh….agh…aaaaaagggghhhhh…… !!!!” teriak mbak Rini yang tak peduli apa-apa lagi selain nikmatnya sex. Aku pun mengistirahatkan sejenak kontolku. Setelah cukup pulih dan selesai orgasme mbak Rini, kembali aku pacu dengan cepat memeknya.
Sebentar saja, aku bertanya, “mbak, aku keluarin dalam memek ya. biar plong rasanya, dan puas bisa orgasme dalam memek mbak.” Mbak Rini hanya terus mendesah dan aku anggap itu jawaban “ya”. “mbak…enak mbak…di empot mbak…kempot kontolku mbak…enak mbak…agh…agh…keluar mbak!…” aku tunggu berhenti muncratnya pejuhku, lalu aku cabut kontolku agar aku bisa berbaring disebelah mbak Rini. Tapi mbak Rini langsung menyambar kontolku dan menghisap, mungkin membersihkan sisa pejuhku. “enak pejuhmu le. pantes dek Ani suka. tapi tenang, aku punya pil. kan mas Adi juga gak mau menumpahkan pejuh di luar memekku.” aku cium mbak Rini, lalu mulai aku rangsang lagi dia. Pejuhku yang keluar dari memeknya diambilnya dengan jari dan dijilatnya. “kalau mau coba nanti bisa aku keluarin di mulut mbak. mau coba? dek Ani gak pernah mau, jadi aku kira mbak gak suka” kataku.
Mbak Rini tak berkata apa-apa, tapi langsung memegang kontolku dan mulai mem-blowjob. “Nikmatnya, tau begini dari dulu ya mbak. coba bisa tiap hari begini. asyik deh” Mbak Rini tak berkomentar dan terus mem-blowjob. Aku pun tak mau kalah, aku jilat dubur mbak Rini. Semoga mbak Rini mau di anal.
Aku yang sudah tak tahan lagi, mulai mencoba memasukkan kontolku dalam memek mbak Rini. Mulai aku genjot dia dari samping. dan aku pun mulai merayu dia untuk aku anal. "sakit le kalau ke anus. dan aku gak bisa Buang air besar lho. kalau pakai jari tadi memang enak. tapi kalau pakai kontol masih takut". aku terus membujuknya, dan meyakinkan kalau rasa dan sensasinya mirip ngentot di memek. Dan entah bagaimana, akhirnya mbak Rini mau mencoba anal. Dengan ini, mbak Rini jadi cewek ke 7 yang aku perawanin anusnya. Cewek-cewek sebelumnya, semua teman sex aku, dan tak jarang cewek yang aku ajak One Night Stand pun aku anal, karena mereka sudah pernah di anal. Aku memang suka anal, sempit gimana gitu, sensasi rasanya beda dengan memek.
"Beneran enakkan le, awas kalau sakit dan gak enak.” kata mbak Rini cemas. Aku jilati anus mbak Rini, dan aku pastikan kontolku sudah cukup licin. Mbak Rini aku minta menungging, dan sku coba buka lubang anusnya, dan mulai aku tusukkan kontolku perlahan,. Mungkin karena cukup licin, ½ kontolku sudah masuk ke anunya. Kubiarkan beradaptasi dulu, lalu mulai aku pacu pelan. Tampak mbak Rini menahan sakitnya, tapi mendesah cukup keras. lama kelamaan, karena mulai terbiasa, aku pacu lebih cepat anus itu. “Enak le, agh…agh…agak cepat sedikit le…enak anusku…. Memekku di kobel dong le….agh…agh…agh…” pinta mbak Rini. Otomatis tangan kananku memainkan klitoris dan g-spot mbak Rini.
Aku masukkan jari tengah dan jari manisku lagi. sementara, mbak Rini sibuk mendesah dan mencubit puting, dan kadang klitorisnya sendiri. Tak lama, mbak Rini meminta aku mengganti posisi. Dia ingin diatas, dan aku menyodok silitnya lagi. “Enak ternyata le, besok lagi ya, agh..agh..” setelah agak lama, mbak Rini pun orgasme, tapi aku tak memperlambat laju ku. "agh..aku sudah le” “sabar mbak, sebentar lagi aku juga sampai.... agh…agh..... aaagghhh.." aku keluarkan semua sisa pejuhku di anus mbak Rini. Tak lupa sisa yang masih ada di kontolku di jilat bersih oleh mbak Rini. Aku menciumnya dan bilang "makasih ya mbak, memek dan anus mbak memang top. jangan marah kalau besok aku minta lagi ya mbak", dan mbak Rini hanya tersenyum “aku juga puas banget le. Sudah sana cepat. kamu ada les toh. aku juga mau ketemu temen-temen. keburu dek Ani pulang juga", Mbak Rini bergegas ke kamar mandi, sedang aku masak mie instant karena lapar sekali. Aku dan mbak Rini makan bersama. dan baru ketemu lagi malamnya.
Malamnya, kami bertingkah biasa saja, kecuali aku tetap tak bisa tidur. Mbak Rini yang terbangun tengah malam bertanya "kenapa belum tidur le? gak capek? aku saja capek banget. jangan bilang kamu minta jatah sama aku malam ini. aku gak bisa. capek banget", dan setengah bercanda, aku perlihatkan kontol ku yang memang lagi tegang padanya. “gak bisa tidur kalau masih tegang begini. Blowjob dong mbak, biar loyo dan bisa tidur.” Mbak Rini pun tanpa ragu memegang penisku, dan mulai mem-blowjob “Jepit pakai toket dong mbak, tapi nanti keluarinnya semua di mulut mbak, gak boleh ada yang tumpah. kalau tumpah aku mau anus mbak". mbak Rini terus mem-blowjob sambil membuka baju tidur yang ternyata dia tidak pakai bra. Langsung dijepit toket 40b mbak Rini sambil dihisap kepala kontolku. Akhirnya, aku pun orgasme yang langsung dihisap semua dalam mulut mbak Rini. Tanpa sisa, dan tanpa komentar selain "memang lebih enak pejuh kamu le daripada mas Adi. gak nyesel aku ngentot sama kamu”, dia menciumku dan masuk ke kamar lagi.
Banyak sekali cerita seru seks aku dengan mbak Rini. Dia memang tempat pelampiasan utama seks aku. Aku akui aku jauh lebih sering ngentotin mbak Rini daripada istriku. Tentu semua tanpa ketahuan. Saat rumah sepi, atau quickie di kamar mandi, mbak Rini selalu mau dan minta aku entot. Yang paling favorit tetap anusnya yang sempit itu. Sekarang dia kerja di jakarta. Tapi kalau pulang ke jogja, dia pasti minta jatah pejuh padaku, dan aku akan menikmati anus sempit kakak iparku.
*************
Cerita lainnya Disini

No comments:
Post a Comment