Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Wednesday, 30 August 2017

Tante Rossa yang Kesepian

Beberapa minggu pertama terasa berat bagiku. Karena mungkin aku nggak terbiasa hidup jauh dari kedua orang tuaku.
Di rumah tante Rossa cuma ada anak semata wayangnya, Nilla namanya yang masih duduk di bangku SMP.
Sedangkan suaminya pergi ke luar pulau. Karena bekerja sebagai kontraktor jalan, dan mendapat proyek di kota Banjarmasin. Dan terakhir pulang saat lebaran tahun lalu. Tante Rossa dulunya adalah seorang sinden. Dulu, kata beliau tiap hari hampir pasti ada tanggapan. Tapi sekarang dia sudah mengurangi intensitasnya supaya bisa fokus mengawasi anak semata wayangnya sekolah.
Namaku Jonny. Aku anak tunggal. Ayahku, Joko 46 tahun kerja mempunyai usaha mebel yang sudah cukup terkenal di Surabaya. Ibuku, Sri Rahayu 40 tahun juga mempunyai sebuah toko di Pusat Grosir terkenal di Surabaya.
Saat ini aku akan memasuki masa kuliah. Karena aku baru lulus SMU, dan setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, aku diterima di salah satu universitas negeri di kota Jogja. Karena aku harus tinggal di Jogja, Ibuku menyuruhku untuk tinggal di rumah Tante Rossa. Adik Ibu, umurnya lebih muda 2 tahun dari Ibu.
Ibu tidak memperbolehkan aku untuk kost supaya aku ada yang mengawasi.
Hingga pada suatu hari ada suatu kejadian yang membuatku mulai merasa betah tinggal di Jogja. Saat itu aku baru pulang kuliah. Jam menunjukan jam 4 sore. Di rumah ternyata tidak ada orang. Mungkin Karena kecapekan aku tiduran di ruang tengah. Tidak berselang lama tante Rossa datang. Dia memakai kebaya khas sinden. Aku lihat sekilas badannya masih montok. Tidak gendut kayak ibu lainnya. Bahkan menurutku, ibuku kalah montok dari Tante Rossa.
"Lohhhh kamu sudah pulang Jonn", kata tante Rossa.
"Iya tante. Habis kuliah siang, tante habis tanggapan ya?", Jawabku
"Iya dari desa sebelah. kamu sakit ya Jonn. Ya sudah mandi dulu biar segar. Tapi Tante dulu ya yang mandi. Keringetan dari tadi", Kata Tante.
Tante berjalan masuk ke kamarnya. Tidak berselang lama tante keluar dari kamar. Yang bikin aku kaget adalah, Dia waktu itu memakai handuk yang hanya menutupi sebagian dada sampai hanya sebagian pahanya. Jelas terlihat sebagian toket tante Rossa yang gede. Yang seakan mau meloncat keluar. Tapi aku lihat juga tali BHnya. BHnya sepertinya tidak dia lepas. Selain memperhatikan toket yang gede itu, aku sepintas mencuri lihat ke bokongnya yang juga sangat montok pikirku. Hmmmm… perlahan kontolku mulai berontak dan bikin celana sempit saja.
Tante Rossa mondar-mandir seakan ada yang dia cari. Dan dia berhenti di pojokan dekat aku tiduran tadi. Ternyata dia mau mengambil BH dan celana dalam yang kering habis dicuci di keranjang cucian. Karena tempat cucian keringnya berupa keranjang dan ditaruh di lantai, dia mengambil dengan cara membungkuk membelakangiku. Entah nggak sadar atau gimana, saat dia menungging, bokongnya yang super semok itu jelas terpampang. Dan aku melihatnya dengan jelas. Tentu juga celana dalamnya yang seolah nggak muat membungkus bokong itu. Uhhhhhhh… bikin kontolku mulai bangun saja.
Terus aku perhatikan saat dia nungging, terlihat di tengah-tengahnya seperti daging yang menyembul. Agak tembem. Dan terlihat samar2 warna hitam dibalik celana dalam tante. Sssssssshhhh.. ini pasti memek tante Rossa yang ditumbuhi jembut.
jadi makin penasaran pengen melihat betapa tembemnya memek tante Rossa dan lebat jembutnya. Makin lama kontolku makin keras saja. Tidak beberapa lama dia selesai memilih celana dalam dan BH untuk ganti. Waaaaaahhh… rejeki yang kecepetan pikirku. Dan Dia akhirnya masuk ke kamar mandi.
Baru masuk kamar mandi, ada suara "serrrrrrrrr…serrrrrr" keras sekali. ini pasti tante Rossa lagi kencing. Aku semakin penasaran saja sama memeknya. Semprotannya sampai segitu keras. Aku berfantasi yang lebih liar, mungkin karena aku sering nonton film porno di laptop.
Beberapa menit kemudian, Tante Rossa keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai daster. Dan dia menyuruhku untuk mandi.
Aku pun bergegas mandi.
Setelah masuk ke kamar mandi, aku mendapat rejeki lagi. Di kaitan baju dalam kamar mandi terpampang dua benda yang bikin kontolku berdiri secara perlahan. Aku lihat BH dan celana dalamnya. BHnya gede. Celana dalam berenda itu aku lihat ada bekas kuning dibagian depannya. Ini pasti bekas kencing Tante Rossa pikirku. Akhirnya aku gak kuat, karena dari tadi kontolku sudah mengeras saat aku melihat dan memegang Celana dalam dan BHnya. Akhirnya aku selesaikan dengan mengocok sendiri. Aku kocok kocok makin lama makin cepat. Dan.. crrrooooott…crooootttt…. menyemburlah spremaku. Uhhhhh lega… tapi aku masih penasaran sama isi sebenarnya dari BH dan celana dalam Tante Rossa.
Hari makin malam.
Setelah makan malam, aku, Tante Rossa dan Nilla lagi kumpul di depan TV. Malam ini Tante Rossa memakai daster dengan belahan paha yang agak tinggi. Duduknya bersimpuh, Khas seperti sinden. Dia disibukkan dengan menjahit baju. Sedangkan aku dan Nilla tiduran di depannya menghadap TV. Iseng iseng aku mencuri pandang ke arah Tante Rossa. Sepintas aku lihat dia duduk pahanya agak membuka. Walaupun agak gelap dan samar aku bisa melihat mulusnya paha Tante Rossa. Ini yang membuat aku berpikiran jorok dan membuat tegang kontolku.
Hari makin malam, Nilla yang ngantuk pindah ke kamarnya. Sambil menonton TV Tante Rossa dan aku ngobrol-ngobrol.
Tante : "Gimana kuliah kamu Jonn ?"
Aku : "Baik Tante. Temen-temenku seru".
Tante : "sudah punya cewek belum kamu ?"
Aku : "Belum Tante masih pilih-pilih… hehehe".
Tante : "lhoooo itu yang kemarin.. siapa itu namanya ? Wulan ? Itu bukan pacarmu".
Aku : "Oh itu. Belum tante. Aku masih kurang pas. Dia yang ngebet sama aku".
Tante : "0ooo.. tapi kapan hari tante ngintip kamu lagi ciuman, pas dia main kesini".
Mendengar itu aku kaget dan malu. Ternyata diam-diam tante Rossa mengawasiku kalau lagi indehoy. Aku hanya senyum-senyum.
Tante : "gak apa apa jonn, namanya juga anak muda. Tante dulu juga begitu. Selain ciuman kalau lagi berduaan dan sepi kalian ngapain lagi ?"
Tante Rossa menggodaku sambil senyum-senyum
Aku pun dibuat salah tingkah olehnya. "Ngapain ? Gak ngapa-ngapain tante" jawabku sedikit gugup.
Tante : "Hmmmm sudah pintar bohong kamu ya. Padahal Tante pernah ngintip Kalian lagi saling remas barang masing-masing. Hihihihi"
Aku kaget lagi. Ternyata tante Rossa tau kalau aku sering remas remas.
Tante : "gak usah malu begitu. Kalaupun kamu keterusan, yang penting kamu bisa mengerti betul tentang sex"
aku terperangah. Jarang-jarang Tante ngomong seperti ini.
Aku : "eee.eee.. maksudnya tante?"
Tante : "seandainya kamu gak kuat dan terpaksa itu Junior kamu kepingin muntah. seenggaknya kamu pakai kondom"
Tante Rossa ngomong begitu sambil menunjuk kearah celanaku. Dia nggak tahu kalau isinya sudah tegang hasil mengintip paha yang kelihatan karena duduknya agak membuka.
Aku : "ee. I.. I.. iya tante".
Tante : "gimana rasanya teteknya si wulan itu Jonn ? Enak ?"
Aku : "eee… lumayan kenyal tante".
jawabku dengan agak meringis. Dan akupun semakin berani karena arah pembicaraan sudah mulai memanas.
Aku : "Kalau tante gimana. Om kan jarang pulang. Kalau lagi pengin begituan gimana?".
Aku sedikit takut akan pertanyaanku. Tapi ternyata dia merespon pertanyaanku tanpa marah.
Tante : "hmmm.. mau tau saja kamu jonn"
Tante : "Iya kalau kamu jonn, nggak kuat menahan paling-paling dikocok sendiri. Anak muda begitu biasanya"
Tante : "Oh iya Jonn.. nanti kalau jahitnya selesai, kamu pijit tante ya. Pegal semua habis ada tanggapan 2 tempat tadi."
Aku : "siap tante"
Rezeki apalagi ini pikirku. Bisa mijitin badan tante rossa yang montok. Tidak berselang lama tante selesai menjahit. Dan dia mengambil minyak urut di kamarnya.
Tante : "mijitnya di sini saja ya jonn. Sambil nonton TV"
Tante Rossa dengan entengnya membuka dasternya dengan hanya menyisakan BH dan celana dalam berenda warna putih. Aku shock, terdiam. Tetek tante rossa serasa mau loncat dari Bhnya.
Tante : "lhooo jonn.. kenap diam saja. Kayak gak pernah lihat beginian saja. Bukannya sudah biasa sama wulan. Hehe"
Tante pun langsung tengkurap di tikar dan menyerahkan minyak urut ke aku
Aku : "Beda tante"
Tante : "Beda apanya jonn Palingan tetek wulan lebih kenceng dari punya tante".
Sambil melumuri minyak dan mulai mengurut punggung Tante Rossa aku melanjutkan ngobrol.
Aku : "Hmm… punya tante lebih montok. Lebih segar kayaknya. Hehehe. Lagian mana tahu aku kalau punya wulan lebih kencang. Orang aku nggak pernah megang punya tante. Hehehe".
Tante : "husss ngawur"
Karena Tante Rossa masih memakai BH, aku kesulitan untuk mengurut punggungnya.
Aku : “Tante BHnya dicopot saja ya, aku nggak leluasa ngurut punggungnya. Ada tali BHnya”
Tante : “ya sudah, buka saja”
aku buka tali pengait BHnya. Dan tante Rossa agak mengangkat badannya dan melemparkan BH yang gede itu ke samping. Sekilas aku dapat melihat gedenya tetek Tante Rossa dari samping. Aku kembali fokus mengurut punggung tante. Sesekali aku elus punggungnya.
“hmm..mmmm”, Tante sepertinya keenakan dengan pijatanku.
Sesekali aku memijat bagian samping punggungnya. Dan tidak sengaja aku menyenggol teteknya. Tante Rossa keenakan sepertinya. Tangannya yang sedari tadi nempel di tubuhnya sekarang direnggangkan. Hmm.. kulihat di ketiaknya terdapapat bulu yang lumayan lebat. Mirip seperti artis Eva Arnas zaman dulu. Ini membuat aku semakin horny saja.
Tante : “kenapa kamu ngurutnya di punggung saja jonn. Turun biar rata dan pegalnya hilang”
Aku : “Turun kemana tante ?”
pura-pura aku bertanya.
Tante : “ya ke bokong terus ke paha”
Aku : “siap Tante’
aku pun ganti mengurut bokong tante. Sesekali bokong semok ini aku remas-remas.
“sssstttt… hmmm.. enak jonn pijatanmu”
Tante keenakan sepertinya. Matanya mulai merem merasakan nikmat. Habis aku pijat sambil meremas-remas, aku mulai turun ke pahanya. Aku mencoba untuk hanya mengelus-elus pahanya. Dari bawah jalan ke atas sampai bokongnya. Aku coba tanganku aku selipkan di selangkangannya. Hmmm.. terasa itu memek tante dibalik celana dalamnya. Terasa tembem kayak kue apem.
Praktis pijatanku ini membuat tante keenakan. Erangan halusnya makin sering terdengar.
“shhhh.. hhhhh.. hmmmmm”
Saking enaknya, dia sampai sedikit membuka kakinya. Dan memek tembemnya makin kelihatan, Samar2 aku lihat jembutnya di balik celana dalamnya. Bahkan beberapa jembut keluar dari celana dalamnya. Pemandangan jelas membuat aku semakin horny. Kontolku sepertinya mau berontak keluar. Aku semakin meningkatkan intesitas mengurutku di daerah ini.
Tante : “hmmmm… enak jonn. Makanya si wulan seneng banget kalau kamu remas remas jonn"
Aku : “Hehehe… tante kalau di lihat-lihat badannya masih sekel, bagus dan Montok lagi. Padahal tante nggak pernah olahraga”
Tante : “Tante rutin minum jamu. Jamu sehat wanita”
Aku : “enak ya jadi si om. Tante minum jamu melulu soalnya"
Tante : “Nanti kalau kamu sudah kawin kamu bisa merasakan enaknya”
Pikiranku sudah mulai ngalor-ngidul. “Ahhhh sekarang saja aku ngentot sama tante. Merasakan enaknya kayak si om” batinku
Mungkin karena sudah birahi, terlihat celana dalam Tante Rossa agak basah.
“Ini mijetnya sudah Tante ? Mana lagi ini yang mau dipijit ?” Aku terpaksa ngomong begitu karena tanganku sudah terasa capek.
“yang depan belum jonn”
What… ini mah rezeki nomplok. Kapan lagi aku bisa menikmati tetek tante rossa. Tanpa basa-basi tante rossa langsung membalikkan badan. Woooooowww…. tetek tante Rossa yang selama ini cuma bisa aku bayangkan sekarang ada di depan mata. Mimpi apa aku semalam.
“ayo jonn jangan diam saja. Tetek tante pegal ini. Ayo cepet dipijet.”
Aku pun menurut sama tante. Aku urut itu tetek tante. Terlihat tetek tante pentilnya sudah mulai item. Tapi gede. Awalnya tidak ada reaksi saat aku memijat sambil meremas tetek tante. Tapi lama kelamaan tante menikmatinya.
“wenaaaak joooonnnn….”
Mata Tante sambil tertutup menikmati pijatanku ini. Kusenggol pentilnya yang hitam. Sesekali aku pilin pentilnya. Shhhhhh.. begitu erangnya.Dan entah ada dorongan dari mana, aku mencoba mendekat. Aku coba menjilat itu pentil. “slllrrrrppp…” sesekali aku kecup… aku sedot sedot… Tanganku satunya meremas tetek satunya lagi…
“ssssh… aahhhhhhhhh” erang tante
Slrrrrrpp… cupppp…ceppppp… slrrpppp. “Hmmm tetek tante kenyal banget. Punya wulan kalah tante”
“Terus jooonnnn… enak… badan tante geli semua” Tante meracau.
Bibirku sekarang mencoba menggapai Bibir tante. Aku cium dan Lidahku masuk ke bibirnya. Aku sedot sedot. Sampai air liurnya masuk ke mulutku. Ciumanku mulai berjalan dari bibir Tamte Rossa turun melewati leher dan ke tetek lagi. Aku kenyot kenyot itu tetek. Tanganku satunya berjalan ke arah selangkangan tante Rossa. Celana dalamnya yang basah aku gosok gosok. Pinggul tante Rossa mulai bergoyang goyang menikmati karena keenakan. Aku masukkan tangganku ke dalam celana dalam. Terasa itu lebatnya memek Tante Rossa. Aku cari cari akhirnya ketemu juga lubang memeknya.
“shhh achhhh… ashhh achhhhh….”
Mendengar erangan Tante Rossa aku coba masukkan jariku ke memeknya. Aku coba gosok klentitnya. Dan aku coba gosok itu memek.
“sshhhh.. enak jonn. Terus jonn… ya itu disitu jonn… enak jonnn”
goyangan pantat tante Rossa ke atas ke bawah. Aku coba buka celana dalam tante. Tante Rossa membantunya dengan membukanya sendiri.
Kenyotanku pada teteknya aku hentikan. Aku sekarang dapat melihat betapa rimbunya memek Tante Rossa. Dia mekangkang dan Wajahku mencoba mendekat. Aku ciumi itu jembutnya. Aku sibak jembutnya. Setelah memek tembemnya kelihatan Aku jilati bagian luarnya. Lidahku memainkan jilatan di klitorisnya. Aku masukkan lidahku ke lubang memek tante.
“ahhhhh… ahhh.. argghhhh.. wenak… wenak… arhhhhh… awww… enak joooonnn…”
untuk menghentikan erangan Tante Rossa aku lepas semua baju dan celanaku. Aku coba mengambil gaya 69.
Tanpa aku komando, tante Rossa dengan rakusnya mengenyot kontolku. Dia jilat dan disedot dengat enaknya.
“Kontolmu enak jooon, cepp ceppp..slrrrrppppp”…
Aku juga melanjutkan menjilat memek tante Rossa. Tidak Lama setelah lidahku merongrong memeknya, sepertinya dia mendapatkan orgasme pertamanya.
“shhhhh.. jooooooon tante mau keluar… ahhh ahhhhh”
Dengan diikuti gerakan bokongnya keatas… dan kepalaku dia jepit sekuat kuatnya…
“ahhhh… ahhhhh…argghhhhh…”
Setelah itu tante melanjutkan mengulum kontolku. Karena aku merasa akan keluar aku cabut kontolku dari mulut Tante Rossa. Badanku berbalik. Sekarang posisiku diatas Tante Rossa. Kontolku sekarang ada di depan memeknya. Aku gosok gosokan kontolku ini di luar memek itu.
“ahhhhhh… jooon… masukin kontolmu joooon… memek tante sudah pengin di sodok jooooonnn… masukin”
setelah tante terasa tersiksa begini aku coba pelan pelan memasukan rudal ke memek tante Rossa. Awalnya agak susah, pelan pelan aku dorong dan sekarang …. blesssss…
“arghhhhhh…. genjot jooon”
Aku genjot pelan pelan memek tante Rossa.
“awwwww… arghhhhh.. shhhhhhh… enak…kontolmu joooon…. mantap jonn”
Aku mainkan irama kontolku. Cepat… terus melambat.. cepat lagi… melambat lagi…
“ayo.. jon… genjot lebih cepet memek Tantemu ini… ahhhh… ahhhhh”
aku genjot semakin cepat…
“tante.. aku mau keluar tante… ahhhhh… shhhh”
“sama jooonnnn…. Tante juga sudah nggak kuat.. mau keluar lagi. Keluarin di dalam saja jonn…”
Tidak seberapa lama terasa memek Tante Rossa melumuri kontolku dengan cairan orgasmenya… memeknya berkedut… sepertinya kontolku di hisapnya…
“”awhhhhhhh.. awhhhhhhhh… enak joooo…. n”..... dan aku pun sudah nggak kuat lagi menahan… crott..croottt.croott..
“enak Tante… ahhhh. Ahhhhhh… arhhh”
Akhirnya kami pun lemas. Aku terbaring diatas tubuh tante Rossa....
Tante : “Kamu nakal jonn… tapi enak tadi kontolmu.. sudah lama aku nggak ngentot sama om kamu joon…”
Aku : “Iya tante.. memek tante juga enak… punyaku terasa disedot… Minum jamunya yang sering ya tante”
Tante : “Hussss kamu.. tapi ini rahasia ya jonn. Jangan sampai orang lain tahu’
Aku : “Beres tante.. asal aku nanti dikasih memek tante yang enak ini”
Tante Rossa tersenyum dan akhirnya kami biasa melakukannya bila kami lagi pengin.
**********
Cerita lainnya Disini

No comments:

Post a Comment