Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Wednesday, 23 August 2017

Hadiah Ultah dari Kakakku

Sebelum aku memulai kisah ini, aku akan menyamarkan semua nama termasuk namaku sendiri karena aku tidak mau nantinya aku menerima malapetaka di kemudian hari.
Cerita aku mulai sekarang ya?
Hari itu sabtu, pas dalam hari minggunya, ialah hari Ulang tahunku yang ke-17, jadi orang tuaku sengaja mengadakan pesta Ulang Tahun untukku, anak lelaki satu-satunya.
Maklum saja aku anaknya pemalas banget soal pesta-pestaan, alias kutu buku banget dan smart di sekolah, berbeda dengan kakak perempuanku yang satu-satunya juga, badung dan ogah-ogahan kalau disuruh belajar (padahal pintar juga sekolahnya,sampai lulus SMU dia tidak pernah lolos dari urutan 10 besar dalam ranking sekolahnya).
Dasar kakak cewekku ini badung, dia tidak ada selama sore hari saat berlangsungnya pesta, Aku juga jadinya agak sedih sedikit. Bukan mengharapkan kado darinya, tapi dengan kehadirannya saja aku tentu akan sangat senang sekali, karena minimal aku bisa memperlihatkan pada teman-teman cewekku di sekolah (yang aku undang ke pestaku) bahwa dikeluargaku juga ada cewek cantiknya yang tidak kalah cantik dari semua teman paling cantik di sekolahku).
Pas acara sudah mau berakhir, yaitu acara disco bebas, aku lagi bengong melihat teman-temanku berjoget, Akhirnya kakak cewekku satu-satunya pulang juga. Horeeeee happy banget aku, maklum saja kami memang cuma 2 bersaudara, tidak punya saudara kandung lain. Dia sih sudah kuliah tahun ke-2, sedangkan aku masih SMU kelas 2. “Jon.. selamat Ulang Tahun yah.. sorry aku kagak bawa kado..” kata Fifi sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman setelah melihat tumpukan kado di atas meja. Wah dia pulang saat temanku belum bubar saja aku sudah happy banget, boro-boro mikirin kado,habis salaman aku peluk kakakku dengan kegirangan (kami memang akrab sekali sebenarnya, jadi biasa saja pelukan). Kakakku tidak lupa memberikan sesuatu yang membuatku kaget juga, yaitu ciuman di pipi kiri-kanan di depan teman-temanku. Gila bener.. akrab sih akrab sama kakak, tapi untuk ciuman baru kali ini aku terima sejak beranjak dewasa. Di belakang terdengar suara tepuk tangan dari teman-temanku. Mungkin bagi yang belum kenal dipikirnya pacarku datang kali, tapi bagi yang sudah tahu ya entah apa pikirannya deh. Habis biarpun kakakku tingginya 170 cm, tetap saja kalah tinggi denganku yang 175 cm saat itu. Kadang-kadang, aku memang suka membayangkan bentuk tubuh kak Fifi. Soalnya memang dia cantik. Terlebih sejak aku mengalami mimpi basah pertama kali waktu SMP 1 dulu. yang aku impikan saja kakakku ya si Fifi ini. Wajahnya seperti artis Hongkong, putih cantik dan benar-benar cantik berat pokoknya. Paling hebat saat aku melihat dia cuma berbikini saat berenang, selebihnya cuma dalam mimpi. Sedangkan untuk pacaran.hmmm... aku belum berani, soalnya cita-citaku ranking satu terus, dan idolaku ya si Fifi yang sudah muncul sejak mimpi basah pertama kali dulu. Heran ya? Waktu mau selesai pestanya, temanku yang jadi DJ iseng banget, dia muterin lagu buat slow dance, dan aku disuruh mengajak cewek pilihanku (biasanya kalau saat-saat begini, yang ultah ngajak orang yang di taksirnya untuk berdansa) turun dan memperkenalkan pada seluruh tamu, wah brengsek. Memang gosipnya ada beberapa cewek yang naksir padaku di sekolah, tapi aku cuek bebek, kurang begitu peduli sama mereka semua, padahal mereka-mereka itu cantik-cantik juga lhooo... dan rebutan cowok-cowok di sekolahku. Bukan apa-apa, kalau aku naksir yang satu yang lain bakalan hilang, mundur teratur mendingan aku tidak memilih satu orangpun? jadinya bisa nempel sama semua cewek iya apa nggak. teman brengsek ini menyuruhku untuk mengajak satu cewek untuk slow dance, seolah mengumumkan siapa cewek pilihanku. Yah sulit dong.. Gila juga.. Tapi akalku jalan cepat sekali, si Fifi aku datangi walaupun lagi mojok di dekat orang tuaku (tapi tidak ngobrol, jadi bagi yang belum kenal Fifi, tetap saja menganggap Fifi cuma temanku). Fifi agak terkejut sedikit waktu tahu dan sadar dia yang aku ajak slow dance, tapi belum berkomentar apa-apa. Begitu kami masuk ke tengah-tengah arena slow dance, di tengah kerumunan pasangan lain baru Fifi berbisik, “Jon… kok ngajak aku slow dance-nya si?” “Iya Fi.. aku belum punya cewek soalnya..” “bukanya banyak teman kamu yang cakep cakep tuh..” masih sambil berbisik. “Yang cantik sih banyak Fi.. tapi yang secantik kamu mana ada..” rayuku pada kakak sendiri. “Gila loh.. cewek cantik banyak begitu disia-siakan..” “Beneran Fi.. nggak ada yang cantik dan dewasa seperti kamu, semuanya ABG doang..” Fifi tidak menjawab lagi, tapi menaruh kepalanya pada pundakku. Harum rambutnya yang tadi sore keramas bercampur dengan sedikit keringat kepalanya di hidungku begitu merangsangnya. Begitu aku geser kepalaku sedikit mendekati telinganya lagi, kali ini makin jelas aku mencium parfum si Fifi yang dipakai pada belakang telinga. Kakakku ini seru tau, suka memakai parfum lelaki! Dan aku mengikuti dia dalam merk parfum. Cuma berhubung bau badan kami beda dikit yah tetap saja aku terangsang mencium bau campuran parfum dan bau badan Fifi. Batang kemaluanku tegang berat waktu itu. Begitu Fifi sadar, aku membaui sekitar belakang telinganya, dia memelukku lebih erat lagi. Alamaaaak.. Cukup terasa juga payudaranya menekan dadaku. Wow.. empuk-empuk nikmat (memang nikmat?!) Pokoknya menimbulkan sensasi tersendiri. Mungkin yang merasakan nikmat si cewek kali kalau bersentuhan dada begitu. Aku sebagai lelaki sih rasanya enak-enak saja. Sepanjang lagu yang satu itu, tanganku yang tidak memegang tangan Fifi aku suruh menjelajahi punggungnya. Dari dekat lehernya sampai ke pinggangnya. Berhubung Fifi memakai gaun malam mini, yah dia tidak perlu pakai rok-rok segala, sudah jadi satu sama atasan, dan baju terusan itu. Mini  maksudku masih setinggi pertengahan paha, dan saat aku mengusap-usap pinggang Fifi, aku tidak begitu merasakan adanya garis celana dalamnya. Timbul niat isengku pada kakak sendiri, sekalian mau tahu juga. “Fi.. kamu nggak pakai celana dalam yah?” kataku sambil berbisik di telinganya. “huuuu.. enak saja.. aku pakai tahu.. nakal kamu Jon tanyanya!” jawab Fifi sambil berbisik. “nggak berasa dipegang Fi.. batas celana dalamnya..” bisikku lagi penasaran. “Coba kamu rabanya turun lagi dikit..” balas Fifi sambil berbisik juga. Lalu kuraba mengikuti petunjuknya, kali ini buah pantatnya terpaksa harus kuraba-raba. Dan merabanya makin turun saja. Benar juga, akhirnya ketemu dan kutelusuri garis batas celana dalamnya. Dilihatin orang nih dansanya. Nekat kali aku meraba makin ke bawah. Haaaa! Gila apa.. ini kakak sendiri friends. Rabaanku berjalan ke samping saja, menelusuri pelan-pelan garis celana dalam Fifi yang memang sepertinya cuma segaris itu. Oh.. aku tahu sekarang, celana dalamnya model tali saja dan dipakainya berbentuk V. “Fi.. celana dalam kamu modelnya aneh banget sih.. makanya kukirain tadi kagak pake celana,” kataku masih berbisik. “Makanya kamu cari pacar dan pacaran.. nanti jadinya tahu..” balas Fifi masih bisik-bisik saja. “Kalau pacarku seperti kamu si boleh saja Fi..” balasku mesra. Wah pembaca, jangan heran kami bisa ngomong bebas begini karena memang akrab. Dalam kepalaku timbul juga perasaan cemburu sedikit saat itu. Hmmmmm.. sialan siapa saja ni yang sudah pegang-pegang si Fifi sampai dia perlu pakai celana dalam sexy seperti itu. Sialan… mau aku hajar saja rasanya. Belum tahu kali tu cowok, adiknya Fifi jagoan taekwondo, karate sekaligus Merpati Putih. Eh lagi enak-enak memeluk Fifi sambil goyang-goyang lagunya habis.. sialan, temanku mengganti jadi disco lagi. Ya sudah selesai deh slow dance-ku dan Fifi. Aku masih melihat-lihat teman yang lain, si Fifi menghilang entah kemana. Karena acara terakhir pesta rumahan adalah disco, ya tidak lama setelah itu bubar deh pestanya, masak anak SMU pesta di rumahan sampai lewat jam 12 malam si? nggak sopan dong (anak ranking 1 ni yang bilang, aku!). Persis jam 12 lewat 5 menit, teman terakhir sudah tidak kelihatan mobilnya. Aku yang capek banget rasanya mau tidur saja deh, sambil mikirin Fifi. Kemana ya dia? Urusan kado besok saja lah. Tidak mungkin ada yang ngambil ini. Aku naik ke atas dan langsung masuk ke kamarku. Melepaskan pakaian dulu lalu masuk kamar mandi pribadi dan bersih-bersih. Masih bugil aku balik ke ruangan ranjang. Ah biasanya tidur pakai CD, kali ini mau nyobain bugil, sudah gede ini, kan 17 tahun. Yah badanku yang gede dan kontolku juga cukup gede. Panjangnya cuma 15 cm saja. Karena AC kamarku cukup dingin, aku biasa tidur memakai selimut (Tidak lucu sebenarnya, kalau memahami kesehatan, saat tidur itu bagusnya tubuh kita tidak dalam keadaan ‘terikat’ dan udara yang kita hirup sebaiknya memang sekitar 18-24 derajat celsius. Jangan lebih panas dan jangan lebih dingin. Itu baru tidur sehat. ini kata dokter Joni lo hehehe coba saja iseng tanya dokter beneran.) Soalnya bule-bule dalam film banyak yang tidur bugil juga? Masih berbaring, pikiranku melamun pada peristiwa slow dance bersama Fifi, kakak tercintaku. Saat dance tadi aku lupa apakah ngaceng atau nggak, tapi saat mikirin aku inget. Ngaceng kencang! Gila aku pegang si Junior, malah makin bikin tenda di selimutku jadinya. Ya aku usap-usap sayang deh juniorku. Tentu saja sambil membayangkan bagaimana bentuk tubuh si Fifi yang polos dalam keadaan bugil sepertiku, apalagi sambil menari bareng. Wow.. asyik loh. Aku berkhayal.. Tubuh si Fifi mulus tanpa cacat (sepertinya memang belum pernah luka si, paling bekas suntikan cacar di pahanya) payudaranya yang lumayan mantap kalau dipegang, dengan puting cukup besar sehingga enak di sedot. Lalu perutnya yang datar dan rata karena hobbynya aerobic dan fitness, dan pantatnya yang aduhai montoknya, tadi saja saat aku pegang waktu slow dance mantap banget rasanya. Hmmmm lagi enak-enak berkhayal begitu, tiba-tiba pintu kamarku diketok. Tok.. tok.. tok.. cuma tiga kali dan tidak kencang. Karena kebiasaan menjaga privacy di keluarga kami, sebelum masuk harus ketok pintu dulu, aku si tidak pernah mengunci pintu. “Siapa?” tanyaku. “Aku Jon..” jawab suara yang tidak asing lagi, sepertinya berbisik tu. OMMMMMGGGG! gadis yang sedang Aku mimpi-mimpikan muncul mendatangiku friends! Aku terdiam bingung. “Jon.. kamu belum tidur kan?” tanya Fifi dari balik pintu. Lalu diam menunggu jawabanku. Hmmmmm gimana ni.. aku sedang bugil dalam selimut begini. Ahhhh biarin saja. “Boleh masuk Jon?” tanya Fifi lagi, padahal aku baru mau menyuruhnya masuk, tapi belum sempat. “Iya, masuk saja Fi..” kataku cukup keras supaya jelas terdengar olehnya, kalau pelan-pelan entar dia tidak jadi masuk lagi, kan bikin sedih jadinya. Si Fifi pun masuk juga, setelah menutup pintu kamar, dia berbalik dan, “Jon lampunya dinyalain ya?” tanya Fifi. Maklum sebelum naik ranjang, lampu terangnya aku matikan, cuma sisa lampu kecil saja, jadi remang-remang. Wah benar juga idenya, jadi aku bisa melihat jelas tubuh Fifi, sepertinya cuma memakai baju tidur waktu bayangannya terlihat saat memasuki kamarku. “Iya deh..” jawabku, lalu sadar, wah.. entar senjataku yang ngaceng kelihatan dong! “Eh…” belum sempat aku ngomong lagi, si Fifi sudah menyalakan lampu. “Blar..” terang deh. Aku memperhatikan Fifi. Dia memakai baju tidur favoritku, karena model baby doll, terusan cuma melewati pantatnya sedikit, warna kuning muda dan agak transparan. Biasanya kalau dia berdiri membelakangi lampu sih kelihatan bentuk tubuhnya, dan pakaian dalamnya. Kali ini belum kelihatan, soalnya lampunya di tengah ruangan, sedang dia masih dekat pintu. “Ada apa Fi?” tanyaku bingung juga dan heran, ada apa malam-malam waktunya tidur begini dia datang ya? Kalau masih sore si aku tidak heran, paling dia mau nanya soal komputer atau soal mobilnya. “Eh sebelumnya sorry lo Jon..” “Kenapa?” langsung aku potong saja. “Aku kan belum ngasih kado buat kamu.. kagak kepikiran mau ngasih apa soalnya.” lanjut si Fifi mencoba senyum menghiburku. Wah bener juga. Aku memang tidak sempat memikirkan Fifi ngasih kado atau tidak, dia mau slow dance denganku saja rasanya aku happy banget. Lalu sekarang mau apa lagi ni? “Ahhhh nggak apa-apa Fi.. nggak masalah soal kadonya.. aku punya kakak sebaik kamu saja sudah merupakan kado yang indah setiap hari..” kataku. Lalu si Fifi berjalan menghampiri ranjang sambil melihat mataku terus. Wah untung tidak melihat ke arah juniorku. Masih ngaceng man! banyangkan sendiri deh cewek cantik, seksi sedang berada di dekat kamu, di ranjang yang sedang bugil. Dan sambil tersenyum manis sekali pada kamu. Sewaktu dia makin mendekatiku, aku menggeser ke tengah ranjang, jadi dia bisa duduk di tepi ranjang kalau memang mau ngobrol agak lama. Nah saat makin dekat itulah lampu kamar dibelakangi olehnya. Wow.. bayangan mulus tubuhnya yang sempurna sekali (nggak kayak gitar, tapi melengkung dan meliuk indah) makin jelas saja terlihat. Benar saja dia duduk dekat pinggangku, persis sebelah pinggang dan juniorku yang ngaceng berat. Selimutku yang bergeser membuat si junior mengangguk-angguk kegelian karena gesekan itu. Tangan kiriku yang masih dalam selimut terpaksa harus memegangi si Junior nih. Fifi berlagak tidak melihat dan tetap senyum manis sekali. “Jon.. aku mau ngasih kado spesial buat kamu, tapi.. kamu nggak boleh cerita sama siapapun juga, setuju?” Langsung saja aku mengangguk, walaupun bingung menduga-duga kado spesial apaan, apakah Blow Job? Belum tentu, terusin saja baca ceritanya. “Janji ya Jon..” “Saya berjanji, Fifi kakakku tersayang..” kataku menegaskan dari sekedar mengangguk. “Jon, Fifi mau tahu.. kamu beneran belum pernah pacaran? maksudnya ngedate berduaan sama cewek?” tanya dia. “Bener Fi.. bukannya setiap malam minggu, kalau kagak ada pesta ultah, ya aku di rumah saja surfing di internet, kamu si kelayapan melulu malah tinggalin aku sendirian kalau malam minggu” kataku, dia senyumnya makin lebar. “Jadi belum pernah pegang-pegang tubuh cewek dong?” tanyanya lagi, memancing dikit. “Ya pegang si belum cuma kalau melihat sering?” “Ohhh ya? dimana?” tanya Fifi kaget sedikit. “Di internet..” jawabku cepat, memang betul si. Dia tersenyum lagi.. heran kayaknya makin lama melihat Fifi tersenyum makin manis saja tu senyumnya, wah aku rasanya makin senang dan happy sekali melihat bibirnya yang tersenyum. “Jadi yang real dan asli belum pernah dong?” kata Fifi masih dengan tersenyum. Bagiku ini bukan ledekan, tapi ucapan tulus kakak pada adik yang memang akrab. Aku mengangguk. “Fifi mau kasih hadiah khusus, tapi kamu harus janji tidak boleh ngapa-ngapain kalo kagak disuruh. Mau nggak?” tanya Fifi, kakak tersayangku ini. Aku mengangguk. “Ehhh janji dulu..” “Iya Joni janji Fifi sayang..” kataku memuaskan keinginan Fifi. “Siap menerima hadiah?” tanyanya lagi sambil menegakkan badannya yang tadinya duduk santai. Aku mengangguk lalu berkata, “Siap boss..” Fifi kemudian menaiki ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan tubuhku untuk bergeser sedikit. Ranjangku si ukuran 160 lebarnya, jadi muat saja kalau mau tidur berduaan. Lalu Fifi berlutut tegak di sampingku, memandang mataku lekat-lekat masih dengan senyum manisnya. Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya. Ops.. Fifi terlupa sesuatu.. buru-buru dia turun ranjang dulu, menuju ke lemariku yang ada componya, dia pilih buru-buru salah satu CD lalu diputarnya. Kemudian muncul lagu romantis, dipasangnya cukup keras tapi tidak mengganggu keluar ruangan. Mungkin sekedar supaya pembicaraan kami tidak terdengar saja kali. Lalu dia berjalan ke pintu dan mengunci pintu. Aku merasa sedikit heran, mau ngapain ni. Si Fifi balik lagi ke sampingku, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti irama lagu. Tangannya balik lagi memegang ujung bawah baju tidurnya dan mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Wah ini si striptease. AKu tungguin saja deh. Begitu bawah bajunya mulai naik setinggi bawah selangkangannya, aku makin deg-degan! Cepat sekali naik lagi perasaanku. Lalu muncul celana dalamnya yang transparan dan seperti tadi waktu dansa berbentuk V dan sebagian besar tali. Warnanya si hitam, ada merahnya sedikit persis ditengah dekat bawah pusarnya, eh itu merah bunga kecil, cuma satu. Gila friends.. bulu kemaluannya terlihat. Belahan kewanitaannya si terbayang dalam bungkusan CD halus itu yang mengikuti bentuk bibir kemaluannya. Wow.. sialan aku janji tidak boleh ngapa-ngapain. Wah pingin sekali untuk menjamahnya. Tangan kiriku terpaksa memegangi juniorku. Makin keras saja ngacengnya soalnya. Makin tinggi Fifi menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya terlihat. Begitu bagian bawah payudaranya muncul. Wow.. aku sampai menelan ludah. deg-degan makin keras. Ops.. sial ada BH-nya! Eit tunggu dulu, BH-nya seru banget.. juga hitam transparan dan puting susunya yang kuduga besar, benar saja muncul dan terlihat jelas, kali ini aku tidak perlu menebak-nebak lagi, ternyata warnanya merah sedang, nggak pink si, lebih tua sedikit tapi tidak coklat gelap. Saat bajunya melewati kepalanya, aku ingin sekali memegang payudaranya. Tapi ingat janji.. wah brengsek.. padahal si Fifi kan tidak melihat. Dan saat bajunya sudah lolos melewati kepala, Fifi langsung membuangnya ke atas karpet kamarku. Tangannya kembali turun lagi yang membuat payudaranya terlihat dan berbentuk semakin menonjol saja. Gila bener.. sss.. wwwwwaaaaaaaaawwwwww nggak tahan ni.. Kemudian Fifi menggeser posisi berlututnya kali ini dia mengangkangiku. Wow.. sepertinya aku semakin tidak tahan deh. Mana tangan kiriku sudah tidak lagi memegang si Junior lagi dan dengan posisi baru ini otomatis Fifi menindih perutku. Dia masih bergerak meliuk dan menari. Mungkin tidak nyaman menari di atas selimut, dia menggeser dulu lalu mendadak menyingkapkan selimut untuk membuangnya. “Eit.. sorry Jon.. aku nggak tahu kamu kalau tidur juga bugil!” kontan kedua tanganku menutupi juniorku. Tapi mana bisa..soalnya lagi siaga satu gitu. Lagi pula dia ngomong dengan kalimat ..juga bugil! Wah dia kalau tidur bugil juga?! kenapa tidak dari dulu aku masuk kamarnya kalau dia sedang tidur. Karena aku diam saja tidak berkata apa-apa, Fifi balik lagi berlutut di atas perutku menghadap wajahku dengan sebelumnya mengambil tanganku untuk melepaskan pegangan yang menutupi si Junior. Terpaksa tanganku posisinya seperti orang menyerah kalau berdiri, aku taruh di samping kepala. Sepertinya Fifi sedang bergerak menari sambil membuka BH-nya .. tapi susah atau sengaja susah membukanya? “Fi.. boleh aku bantuin membuka BH kamu?” “Memang aku pikir tadinya mau nyuruh kamu yang bukain.. tapi aku kagok..” lalu sambil berkata begitu dia rebahan sedikit, tangannya menopang tubuhnya di samping kepalaku, hembusan nafasnya dekat sekali menyapu wajahku. Karena posisi berlututnya di perutku, ya mulut dan hidungku cuma kebagian lehernya saja. Wah wangi juga lehernya.. tanganku mulai memeluknya dan mencari kaitan BH-nya di punggungnya. Biarpun sudah ketemu sengaja aku lama-lamain. Enak gila.. memeluk tubuh hangat cewek cantik seperti ini. “Ayo Jon.. jangan nakal, hadiahnya masih banyak..” kata Fifi lalu menggeser tubuhnya yang berada di atasku sehingga menurun sedikit dan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Alamak.. hembusan nafasnya yang menyentuh wajahku membuatku konak lagi dan semakin bernafsu. Tidak tahu siapa yang memulainya, tahu-tahu bibir kami nempel dan lidah Fifi menyapu bibirku. Sepertinya si Fifi juga nafsu sekali mau menciumku kali, habis wajahku tetap lurus, tapi wajahnya miring-miring. Berarti dia yang berusaha lebih keras buat menciumku? “buka mulutnya Jon.. aku ajarin ciuman..” kata Fifi. Lalu aku ikuti membuka mulut, membiarkan lidah Fifi masuk ke dalam mulutku. Dia menyapu gigi depanku, lalu lidahku didorong-dorong dan dibolak-balik segala, dan malah lidahku dikitik-kitik dengan lidahnya juga. Wah seru juga lo, tukar-tukaran ludah. Aku lupa bahwa tanganku sudah melepas BH-nya apa belum yang jelas tanganku mengusap punggungnya dengan bebas tanpa ganjalan BH segala. Aku usap-usap terus punggungnya yang mulus dan hangat. Dada kami si masih terpisah oleh BH-nya. Ops.. baru aku bilang masih terpisah, Fifi menarik BH-nya untuk disingkirkan. Sambil ciuman begitu, otakku mikirin bagian bawah kami. Wah senjataku tergesek-gesek sama celana dalam mini si Fifi ni, sakit dikit si, lecet nggak yah? “Fi.. boleh aku lepasin celana dalam kamu nggak? kontol gue sakit kegesek-gesek.” kataku melepaskan ciuman sekejab. Akibatnya malah lepas terus-terusan tu. “Eit.. jangan nakal dulu. Sudah bisa ciuman yang kuajarin?” “Iya boss..” jawabku. “kamu diam saja ya...” kata Fifi. Lalu dia bergerak semakin turun. Kali ini sampai dia duduk di kakiku. Dia persisnya menduduki bagian ujung kakiku, nggak diduduki habis si, dia bersimpuh sedikit, sambil bergerak perlahan-lahan wajahnya ikutan turun sambil mencium badanku juga. Geli sekali loh, apalagi waktu dia mencium putingku. Wow.. sampai kupegang kepalanya gara-gara geli. Untung dia tidak marah. Waktu hidungnya kena bulu kemaluanku, makin geli dan si Junior mulai kena dengusannya dan dikecup kepalanya, sepertinya si kena mata tunggal di kepala si Junior tu.. geli banget si. Gila friends.. kali ini kuduga bakal dapat pengalaman dikaraokein deh, aku mau menikmati rasanya di karaokein kakak tersayang ini. Dimulai dengan jepitan erat bibirnya pada kepala kemaluanku, rasanya sukar dilukiskan, yah geli-geli enak deh. Apalagi waktu bibir itu masih dalam jepitan erat bergerak turun menyentuh lingkaran helm senjataku. Wah rasanya mau ngecrit saat itu. Gila bener.. untung juniorku tahan juga. Apalagi sensasi yang timbul saat bibir Fifi makin turun menjalari batang juniorku yang keras dan penuh urat-urat. Waduh, gesekannya sukar dilukiskan (namanya juga pertama kali) apalagi saat itu juga helm di kepala kemaluanku dijilati oleh lidah hangat Fifi. Wow.. mana tahan, beneran mau ngecret rasanya. Dan saat jepitan erat bibir Fifi, kakak tersayangku ini semakin turun kearah bulu-bulu kemaluanku yang mulai memenuhi pangkal senjataku, ujung kepala helm si junior juga menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan Fifi. Weleh.. weleh.. gila man.. nikmat sekali! dan, “Cret.. cret.. cret.. cret.. cret..” beberapa kali aku ngecret. Kulirik ke sana, si Fifi melirikku juga, gila pandangannya itu.. wow.. sexy sekali.. (sering aku membanyangkan dan terbayang-bayang terus wajah Fifi saat dia sedang mengkaraoke barangku) Gila deh, masih muda gini si Fifi sudah jago mengisap senjataku. Dia suka lagi.. tidak setetespun cairan maniku yang meleleh dari mulutnya. Wah di Bohongin film tuh, paling yang sampai meleleh gitu yah karena si ceweknya tidak mau menelan protein yang kita keluarkan, atau mungkin di film tu sperma meleleh karena memang asyik melihat dan menonton cairan yang meleleh. “Fiii… aduh.. enak sekaliii…” kataku merintih perlahan. Kencang-kencang takut orang tuaku mendengar lagi. Gila loh.. ini taboo, pamali.. incest. “Jon.. hadiahnya belum selesai.. ini baru foreplay-nya buat kamu…” Hah..! Gila bener.. apalagi ni? “Kamu basahin memekku dengan ciuman yang tadi aku ajarin yahl? sementara aku bikin burung kamu tegang lagi.” kata Fifi lalu berdiri dan membuka CD-nya secepat kilat. Kemudian dia menungging mengambil posisi 69 persis seperti gambar-gambar di internet yang kulihat kalau ada pasangan yang saling mengisap. Begitu Fifi dalam posisi mengangkang dengan pahanya terbuka lebar, harum liang kewanitaannya langsung tercium olehku.
Gila bener.. nikmat sekali.. enak loh mencium bau khas liang kewanitaan cewek, wah pantesan banyak gambar orang lagi jilat memek ya? Mula-mula aku jilati dulu belahan liang kewanitaan si Fifi yang terlihat sudah mulai basah, lalu setelah beberapa kali dijilat dengan ujung lidah sampai badan lidahku juga, gelambir bibir luar si Fifi yang warnanya sedikit kemerahan itu mulai membuka dan melebar. Setelah itu aku pastikan sasaranku bibir dalam mungil yang warnanya pink. Aku jilatin terus dari batas liang kewanitaan luar paling bawah dekat perbatasan anus sampai arah klitorisnya, tentu dengan jilatan panjang tanpa terputus, (dijamin kegelian tu cewek yang kita jilatin).aku ulangi beberapa kali.. asyik.. terasa sari buah segar dari tubuh cewek seperti yang aku lakukan pada Fifi, kalau terasa juice-nya mulai berkurang nanti kurang asyik, ganti lagi dengan menjilati seluruh bibir luarnya yang melambai-lambai,,, terus sambil sedikit jilat dan sedot terus, sehingga sisa juice dari tubuhnya dan sedikit sisa pada lidah kita tetap saja bisa kita nikmati terus. Biasanya cewek kegelian dan memproduksi lagi juice alami ini dari dalam tubuhnya. Wow.. asyik pasti kalau sama-sama normal menikmati kita dapat bonus lagi banyak juice. “Aaahh.. enak Jon.. terus.. terus..” kata Fifi. “Iya Fi.... aku juga keenakan.. slup.. slup.. dikaraokein kaku itu.. slup..” jawabku. “Blp.. blp.. ehm.. blp.. blp..” tidak jelas apa jawaban Fifi, yang jelas aku ingin sekali hadiahnya berlanjut terus sekalian juga aku membalas kenikmatan pada si Fifi, biar adil. Saling jilat dan hisap yang kami lakukan, aku ulangi lagi. Kali ini aku tambah dengan jurus baru, gara-gara melihat gambar di internet (lihat gambar porno berguna juga kadang-kadang). Aku mencoba memasukkan lidah ke dalam liang senggama si Fifi yang mungil tempat keluarnya juice nikmat tadi. Lubang itu terlihat nafsuin banget. Jelas terlihat empot-empotan membuka menutup dengan gerakan-gerakan merangsang nafsuku. Karena batang kejantananku letaknya jauh, yang paling praktis ya lidah. Aku dorong-dorong saja lidahku memasuki lubang di liang kewanitaan kakak sexy-ku ini, sambil sesekali jurus-jurus gerakannya aku gabung dengan menjilat celah liang kewanitaannya dan semua bibir bawah si Fifi. Nikmat sekali, untung si Fifi sudah memberi kursus kilat cara ciuman dan sedot-sedotan. Sukar dilukiskan kenikmatan yang aku dapatkan, bayangkan saja, kakakku yang sexy sedang mengkaraoke senjataku, sambil liang kewanitaannya aku jilati. “Jon.. kayaknya kamu sudah siap menerima hadiah lanjutannya ni,” kata si Fifi yang buru-buru bangun dan ganti posisi, kali ini dia berjongkok di atas pinggangku. Hehehe.. dia yang tidak tahan tu. Asyik.. pasti aku akan bersenggama dengan kakak cantikku ini. Yang jelas memang batang kejantananku tidak ciut-ciut. Alasan si Fifi saja untuk membuat liang kewanitaannya lebih basah dulu supaya kami bersetubuhnya lebih gampang, daripada alasan membuat juniorku ngaceng lagi Dengan satu tangan memegang juniorku dan satu tangan lagi membuka celah liang kewanitaannya, Fifi menunduk melihat jelas-jelas supaya tidak meleset adegan persetubuhan kami yang pertama ini. Aku juga sampai menaikkan kepala walau sudah diganjal bantal tinggi. Gila kelihatan banget bibir kemaluan Fifi yang membuka dan siap disusupi oleh batang kejantananku yang ngaceng berat. Si Fifi perlahan-lahan menurunkan pinggulnya dan juniorku, helmnya terasa menyentuh belahan hangat basah liang kewanitaan Fifi. Makin si Fifi menurunkan pinggulnya, helm si Junior semakin tidak terlihat dengan perasaanku yang semakin keenakan. Si Fifi yang tidak sabar begitu helm si Junior hilang dari pandangannya langsung menduduki pinggulku, ya sudah amblaslah seluruh batang tubuh si Junior dan batang kejantananku itupun lenyap dari pandangan. “Aow… sakit Fi..” maunya aku si teriak, habis mendadak gitu kulit batang kejantananku tertarik oleh jepitan erat dinding kewanitaan si Fifi. Terasa sekali gesekan dan tarikan kulit itu. “Sstt.. jangan berisik.. aku juga sakit Jon.. kurang pas kali..” kata si Fifi lalu dia mencabut batang kejantananku dengan mengangkat pinggulnya lagi. Waw.. kenikmatan yang dirasakan tidak terlukiskan. Tidak sampai lepas semuanya, kali ini si Fifi menggoyang-goyang dulu pinggulnya sedikit untuk memperlancar pelumas atau arah yang tepat, aku tidak tahu. Lalu dia menurunkan lagi perlahan saja dulu. Yang ini baru mantap.. Pas masuknya. Sambil si Fifi goyang kiri kanan dikit dan maju mundur dikit, akhirnya batang kejantananku terbenam mantap di dalam liang kenikmatan kakak tersayangku. Aduh.. ujung batang kejantananku menyentuh apaan ya? Jangan-jangan rahimnya kali! “Oohhh.. Joni sayang..” si Fifi kakakku ini diam tidak bergerak lagi punggulnya tetapi bagian atas tubuhnya rebah menindihku. Dadanya yang padat berisi, menindih dadaku, dan wajahnya dekat sekali di depan wajahku. “Fi.. aku boleh mengusap-usap badan kamu nggak?” aku bertanya, takut melanggar janji. Dia tersenyum lalu mengangguk saja, dan buru-buru mulutku di cipok. Keras! bibirku sampai terbetot karena menciumnya dengan sedotan segala. Belum kaget aku atas kejadian itu, dia mencium lagi kali ini bibirku dilumatnya dan kamipun bersilat bibir lagi. Aku tersadar akan ujung si junior yang menyentuh sesuatu di dalam sana. “Fi.. kamu bisa hamil nggak ni?” tanyaku dengan nada khawatir. Ya iya.. gila kali menghamili kakak sendiri, bersenggama dengan kakak kandung saja sudah perbuatan gila-gilaan. Apalagi sampai hamil. “Tenang Jon.. baru saja gue selesai mens kok tadi pagi baru bersih..” Haaaah? aku yang melongo.. pantesan saja dia juga sakit waktu kami baru bersatu tadi walaupun sudah becek sejak aku jilati liang kewanitaannya. “Fi.. kamu nggak perawan sejak kapan ni?” tanyaku. “Eh.. nakal yah tanya-tanya.. nggak usah di omongin ya.. nikmati saja Joni sayang..” kata si Fifi, ya sudah. Tapi aku lihat dia jadinya sedih tu gara-gara aku bertanya soal itu. Kami memang terdiam jadinya. Fifi cuma diam saat menindihku tanpa bergerak dengan memiringkan kepalanya di wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku menikmati sekali saat-saat ini. Saat-saat indah bersatu dengan kakak tersayangku. Hembusan nafas halusnya menyapu wajahku juga dengan keharuman nafas segarnya. (wah jangan-jangan tadi kumur-kumur dengan close-up cair dulu kali) Tanganku mengusap-usap punggungnya yang halus tapi sedikit berkeringat karena aku pegang dalam keadaan lembab. Mungkin posisinya kurang enak, si Fifi menggerakkan bagian bawah tubuhnya sedikit. Wow.. sensasi dalam lubang tempat kami bersatu itu nikmat sekali. “Fifi kakakku sayang, ngapain lagi ni sekarang..” tanyaku bingung, tanpa menjawab dia bangkit dari menindih badanku. Kali ini dia benar-benar menduduki pinggangku. Wow buah dadanya yang mantap memerah karena tertindih tadi terlihat semakin indah saja. Putingnya juga ngaceng banget lagi, mancung. “Nikmati ya Jon, jangan bergerak-gerak pinggulnya..” kata si Fifi. “Ok boss..” Lalu mulailah si Fifi bergerak-gerak. mula-mula si gerakannya cuma memajumundurkan pinggulnya saja sehingga batang kejantananku yang terbenam dalam-dalam tidak keluar sedikitpun, tapi didalam sana rasanya. Hmmmmm.. coba sendiri ya komentarku. Kalau aku bilang enak entar tidak percaya. Pokoknya sukar dilukiskan. Ujung kepala si Junior terutama helm junior tu yang menikmati banget gesekan-gesekan di dalam rongga persetubuhan kami, sepertinya si menyentuh-nyentuh sesuatu benda yang agak kenyal? seperti ada dodol bola di dalam sana. Apa iya itu rahim. Kepala si Junior mengelilingi dan menyenggol-nyenggol dodol bola itu. Gila bener.. sensasi yang ditimbulkan luar biasa enaknya, beneran aku terasa banget dan yakin, lubang kecil di helm si junior menyentuh dan disentuh sesuatu di dalam sana. “Oohhh Jon..” “Ya.. Fi..” “Oohhh Jon.. Sayang..” “Ya.. Fifi sayang..” “Jon.. aaahh..” “Ya Fifi kakakku tercinta.. eugh..” “Oohhh Jon.. Sayang.. enak sekali.. kamu enak Yang?” “Ya Fifi sayang… ahhhhhhh nikmat sekali aaah.. enak Fi..” “Pegang dan remas-remas tetekku Jon..” kata si Fifi dengan manja. “hmmmmmm tetek kamu mantap banget Fi.. pas susunya.. kenceng lagi..” pujian jujur dariku keluar. “Oohhh Jon… terus Jon.. lebih kuat remasnya..” “Ya Fi.. lebih enak?” “Ooohh Jon.. terus Jon.. putingnya juga..” “Oohhh.. aahhh Joniii..” “Eh Fi.. jangan kenceng-kenceng..” kataku khawatir juga, habis makin lama semakin kenceng saja desahan dan suara Fifi yang keluar dari bibir sexy-nya itu. Kali ini Fifi menunduk jadinya, mulutnya mencium mulutku lagi, suaranya cuma nafas doang guys.... ada yang seru lagi. Kali ini Fifi mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Gila, rasanya gesekan batang kejantananku pada dinding liang kewanitaan Fifi yang menggenggam erat itu. Wawewwwwww.. enak gila.. lebih enak dari Frozz pokoknya.
Sensasi yang di timbulkan sampai naik ke kepalaku, buktinya waktu melewati leher dan mulut nafasku semakin menderu-deru. Terbukti dong semakin enak... Cukup lama juga Fifi melakukan olahraga turun naik di atas pinggangku, pasti dia capek juga, habis biarpun AC kamarku dingin punggungnya keringatan juga. Tanganku sampai basah telapaknya waktu mengusap-usap terus dari tadi. Tiba-tiba saja Fifi menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam kearah batang kejantananku, makin mantap tusukan-tusukannya. Lalu lidahku disedot kuat-kuat dan dia roboh lemas setelah tegang-tegang sedikit sebelumnya. Waaaawwww…. ini orgasme kali ya? Kok aku kaga ngecret si kata siapa orgasmenya cewek dan cowok mesti barengan? Aku iseng ah, walau tidak disuruh aku goyang pinggulku menyodok naik dikit. Habis si Fifi diam si, padahal tadi lagi asyik menggoyangkan pinggulnya. “Oohhh Joni.. sayang.. nakal ya.. tapi enak Jon.. enak sekali.. iya terus Jon.. kamu enak saYang?” “Ya.. Fifiku sayang.. kamu sudah orgasme ya.. licin ni Fi jadinya tapi nikmat juga kok aaah.. enak Fi.. enak sekali..” “Iya Jon.. tadi aku mencapai surga tu.. lidah kamu nggak kegigitkan?” tanya si Fifi. Hhhhmmmm dia tidak sadar tadi menyedot kuat-kuat lidahku, dan dugaanku dia mencapai orgasme ternyata benar. Untung tidak digigit ya lidahku. Kalau tidak saat dia lupa begitu salah-salah aku jadi si bisu Joni lagi hehehe… habis lidahnya putus. “Jon.. biar kamu lebih menikmati hadiahnya, ganti posisi ya?” tawar si Fifi padaku. Asyik.. doggy style boleh aku praktikkan ni. “Gaya nungging ya Fi?” “kamu mau gaya begitu?” “Iya Fi.. kayak di foto dalam internet.” “Hayo berhubung ini hadiah..” Kamipun berganti gaya jadi doggy style. Cuma sebentar saja, walaupun seru aku melihat Fifi dari belakangnya, dengan kulit punggung mulus walau berkeringat, pinggangnya yang ramping dan buah pantatnya yang besar jelas pemandangan indah tersendiri. Tapi.. ada yang bikin gaya ini jadi sebentar. Setiap kali aku sodok maju batang kejantananku semakin ke dalam rongga liang kewanitaan si Fifi, dia seperti tersendak kesakitan. “Kamu nggak enak ya Fi?” tanyaku pelan-pelan takut menyakiti kakak tersayangku. “Nggak apa-apa, terusin saja, yang penting kamu senang..” jawab Fifi,  baru dua sodokan lagi reaksinya sama saja, kesakitan. Aku tidak mau jadi adik tidak berbudi. Dikasih hadiah sangat nikmat begini masak dengan tega menyakiti kakak tersayang si? “Fi.. ganti gaya lagi .. gaya apalagi yang kamu mau dan kamu anggap akan menyenangkan Joni?” “Oh.. Joni sayang.. aku bener-bener sayang sama kamu Jon..” kata Fifi begitu mengakhiri persetubuhan kami dan berbalik menghadap dan memelukku dengan erat. Lagi-lagi aku di cium olehnya, kali ini sebentar saja lalu dia mengambil posisi persis di tengah ranjang dan mengangkang lebar-lebar, dengkulnya ditekuk naik sampai dekat kepalanya. Waw.. ini posisi surga bagiku. Gila bener.. melihatnya saja si Junior terkejut. Bibir luar liang kewanitaan Fifi otomatis merekah (karena indahnya bentuk bibir itu kadang-kadang ada yang mengumpamakan sebagai bunga yang merekah) bibir dalamnya yang berwarna pink dan tidak kalah sexy-nya di mataku ikutan merekah juga, membuka gerbang surganya yang berupa lubang hitam menantang untuk ditutupi oleh batang kejantananku. Aku dengan masih berlutut bergerak mendekati pintu surga itu, dan dengan posisi sedikit berlutut itulah aku tempelkan juniorku di pintu surga yang gelap itu. Aku gesek sedikit seperti dalam film porno lalu karena memang masih becek-becek sedikit ya lancar saja aku celupin si junior dan batang kejantananku itu semuanya. Waw.. gesekan dinding liang kewanitaan kakakku ini masih saja mantap dan kesat, seret juga malah. “Aahhh..” si Fifi malah yang bersuara. “Enak Fi?” “Iya gerakin keluar masuknya Jon..” Aku menurut saja, aku gerakkan pelan-pelan saja. Tips; gerakkan ini sebaiknya divariasikan antara gerakan menusuk dengan seluruh tubuh dan gerakan menusuk menggunakan pinggul saja. Dengan gerakan pinggul saja tusukan batang kejantanan kita semakin dalam guys! dan semakin membuat cewek kita keenakan. Kata salah seorang teman cewekku si, membawa cewek tembus surga ke-7. Apalagi dengan tusukan perlahan-lahan tapi mantap. Gocekan kiri kanan saat menusuk sebaiknya memang melingkari dodol bola di dalam sana, alias memoles seluruh permukaan bola dodol itu. Waw.. gocekan begini selain kitanya enak juga, aku jamin, cewek normal akan segera mencapai orgasme dengan cukup cepat. Asal jangan lonte saja yang sudah kecapekan melayani langganan (dulu-dulu juga hooker high class senang sama aku gara-gara mereka mengaku mencapai orgasme dengan teknikku ini, maklum si Joni pantang mencapai orgasme dibawah 1/2 jam, biasanya malah lebih 1 jam, yang penting mengatur pernafasan dan pikiran kita). Memang tidak lama berlangsung, si Fifi kakak tersayangku ini buru-buru melebarkan kakinya lagi dan tangannya buru-buru meraih leherku untuk diciumi lagi. Gila ciumannya buas sekali, cepat dan srobotan terus. Pokoknya ciuman buas ya begitu kali. Tiba-tiba saja aku yang tetap mengatur enak-enak tusukan mantap dalam persetubuhan kami terkaget lagi. Bibirku disedot keras lagi. Kali ini karena aku tahu bahwa si Fifi mungkin mencapai orgasme. Aku siaga, sengaja mulutku makin merapat, menjaga giginya kalau-kalau menggigit. Berhasil.. tidak kena gigit. “Oohhh Jon.. sayang.. enak sekali.. ooohh Jonii.. sss.. kamu enak saYang?” “Ya.. Fifi sayang.. aahhh.. nikmat sekali Fi.. aaah.. enak Fi..” “Gila Jon.. kamu belum mau keluar lagi ya?” tanya si Fifi setelah agak reda capeknya. “Adik siapa dulu dong?” hmmmmm sempat-sempatnya kami yang sedang bercumbu begitu bercanda juga. hidungku dipencet si Fifi yang masih dalam posisi mengangkang heboh dan aku tusuk, eh pompa maksudnya. “Enak nggak Jon hadiahku?” “Bukan enak lagi Fi.. indah dan bagus sekali.. aku nggak mungkin bisa membalas hadiah seperti ini..” jawabku. “Ahhhh Joni.. Joni.. adikku sayang.. kalau bukan adikku.. aku mau saja pacaran sama kamu Jon..”  memangnya sekarang kagak bisa apa?” Akhirnya sambil bercinta dengan hot terus sebelum aku ngecret lagi kami ngobrol-ngobrol sedikit. Aku tidak menyinggung soal keperawanan dan pacarnya sekarang. Dia cuma cerita batang kejantananku adalah yang terpanjang dan terbesar yang pernah dia rasakan, padahal dia baru mencoba 2 batang kejantanan selain punyaku. “Fi.. gara-gara cerita ngesek dan soal batang kejantananku yang super menurut kamu, kayaknya aku mau keluar lagi ni..” “Aahhh.. Joni.. Sayang.. jangan takut.. aku sayang banget sama kamu Jon.. silakan saja keluarkan di dalam rahimku Jon.. jangan khawatirkan apa-apa..” kata si Fifi sambil mengusap-usap perutku segala sekaligus mengusap-usap wajahku. Ahhhhy mana tahan aku melihat wajah manisnya yang cantik dan tersenyum terus melihatku. Aku pompa semakin cepat dikit dan dalam-dalam setiap tusukannya. “Oohhh.. oh.. ah.. ahhh.. heh.. heh.. eh.. eh..” begitulah suara kami berdua akhirnya gara-gara aku mempercepat irama persetubuhan kami. “Jonn.. aku keluar lagi nih.. aaahh Joniii…” tampang sexy si Fifi saat mencapai Orgasmenya yang ketiga kali ini tidak bisa aku tahan lagi, apalagi wajahnya yang memerah berusaha tetap tersenyum senang dan tidak memejamkan matanya tapi melihat ke dalam mataku. Hmmmmmm.. sudah nyobain belum bersetubuh sampai ceweknya mencapai orgasme tapi tidak merem tu cewek, tampangnya cewek begitu menurutku adalah tercantik darinya. Dan biasanya nikmat melihat wajah cewek saat mencapai orgasme, sepertinya lebih enak dari orgasme itu sendiri bagiku. Makanya hobiku bikin orgasme cewek, bukannya aku orgasme duluan, tidak sedikit aku malah tidak orgasme saat bersatu dengan cewek. Sumpah.. mula-mula aku pikir aku impoten, tetapi ternyata sebagian cewek bilang malah aku terlalu perkasa urusan ranjang dan senggama begitu, Well nggak tahu juga, walaupun hobby bercinta, aku pikir tidak perlu setiap bersenggama kita mengeluarkan sperma ? “Cret.. cret.. cret..” entah berapa kali saat ini aku ngecretnya. Yang jelas cairan hangatku menembak bola dodol dalam medan tempur kami berdua. Kami terkejut, membayangkan begitu Nikmat dan sukar dilukiskan juga. Aku sampai roboh kecapaian dalam pelukan si Fifi yang masih ngangkang terus. “Oohhh Fifi sayang..” “Ya..... Joni adikku sayang..” “Hadiah kamu tidak ternilai Fi..” Malam itu kami tidur seranjang. Bohong besar kalau aku cerita senggama sampai pagi. Aku kecapaian tau. Sepertinya waktu baru berbaring sama-sama sebelum tidur, karena kami sama-sama capek untuk matiin lampu, aku melihat hari sudah pukul 3 pagi. Dalam ngobrol-ngobrol sebelum pulas, sepertinya si Fifi cerita, perawannya hilang waktu SMA kelas 2, saat pergi ke luar kota bareng kakak kelas lalu sekarang ini sehabis menikmati dan tahu si Fifi tidak perawan lagi, pacarnya yang di kampus mulai menjauhinya, jadi dia kosong tu saat ini, belum ketemu cowok yang pas. Dan sebelum pulas kami juga berandai-andai, siapa tahu saja bisa sama-sama terus setiap malam minggu pergi barengan saja. Soal tidur malam si, sepertinya pintu penghubung antar kamar kami mesti dicari kuncinya itu, maklum sudah lama tidak pernah dibuka. 

Cerita lainnya Disini


No comments:

Post a Comment