Sebut saja aku Burhan (nama samaran), aku tinggal di kota Jakarta, dan sudah berkeluarga, aku memiliki istri yang cukup cantik dan 2 anak yang manis, dan pintar-pintar. 8 tahun sudah kami menikah, dan selama ini rumah tangga kami teramat sangat bahagia.
Semua ini bermula dari Indri pengasuh anakku berniat berhenti karena hendak menikah di kampungnya. Kami semua sangat kehilangan dia, maklum karena kami sudah terlanjur menganggapnya keluarga sendiri, dan anakku pun cocok dengannya. "Kamu boleh pulang ndri, cuma bisa gak kamu kasih kami waktu 2 minggu buat mencari yang mengasuh dedek (sebutan anakku yang kedua)" tanyaku. "gak apa-apa pak, sebulan juga gak apa-apa.
Pernikahan kami 2 bulan lagi, nanti saya kabari orang tua saya di kampung ya pak". "Ok Indri, terima kasih ya".
Saat itu kami pun sibuk mencari pengganti pengasuh anakku. Sulit juga mencari pengasuh anak yang benar-benar bisa dipercaya, dan mau menyayangi anakku sepenuh hati. Gak terasa sudah minggu ke 3 dari waktu yang sudah diberikan Indri ke kami buat mencari pengganti, namun kami belum bisa menemukan yang benar-benar cocok buat pengasuh anakku. Aku dan istriku sudah mulai gelisah, dan sejak itu kami sering bertengkar karena istriku menolak untuk berhenti dari kerjanya. Aduh kenapa ini bisa terjadi dikeluarga kami ..? Renungku di suatu malam hari. Disuatu malam, ketika aku sendirian saja diteras lantai 2 rumah, anak-anakku sudah tertidur dan istriku telepon mungkin bisa pulang malam karena ada meeting dengan klien dan masalah tender perusahaan yang penting. Aku dikejutkan oleh tepukan dari belakang, "Mati aku…. Ohhh kamu Indri, ngagetin saja". "Iya pak, saya melihat bapak melamun sendiri disini, daripada bapak nanti kemasukan setan ya aku temani saja" katanya sambil tersenyum manis dan Aku hanya tersenyum kecut, dan tiba-tiba saja aku jadi memandang Indri dengan tajam, Gak menyangka Indri cantik juga, mungkin selama ini kami hanya bertegur sapa sebentar saja, karena aku harus bergegas berangkat kantor, atau Indri yang sibuk mengurusi anakku yang kecil. Badannya kecil, kulitnya coklat sawo matang, kulitnya lumayan halus, alisnya tebal, cuman sayang toketnya yang agak rata. Dan waktu itu Indri mengenakan kaos putih yang longgar, dan celana pendek biru, sehingga pahanya terpampang indah mempesona. "Usiamu sekarang berapa Indri..?" tanyaku, "16 tahun pak, kalau di kampung usia 16 tahun belum menikah di katakan perawan tua, atau tidak laku pak" jelasnya. "Ooooo… terus calon suamimu kerja apa ..?" tanyaku lagi, "gak tau pak, saya saja melihat mukanya saja belum pernah, kadang saya jadi takut menikah, orang orangnya saja saya belum tahu. Cuma kata mama dikampung dia itu anak kepala Desa sebelah". "Kenapa begitu..?". "Gak tau pak, mungkin sudah nasib saya jadi perempuan kampung, pasrah sama kehendak orang tua, padahal sekarang jamannya gelobalisasi ya pak ?" protesnya. Aku hanya tertawa mendengar ucapannya yg polos. "Ahhh aku mau istirahat dulu Indri, aku gak enak badan, masuk angin kali ini, badanku pegal semua". "Bapak mau Indri pijat ..?". "Indri kasihan sama bapak, akhir-akhir ini banyak masalah semenjak Indri mau berhenti..? Maafin Indri ya pak" katanya. "Kamu bisa pijat …?" tanyaku, "Bisa sedikit-sedikit, dulu waktu dikampung saya sering diminta bapak saya pijat kalau bapak pulang dari sawah". "Ya sudah , ayo di kamar tamu saja kita mijitnya, pakai minyak ya, kamu ambil di kamar, aku tunggu di kamar tamu". "Ya pak". Lalu Indri pun mengambil minyak dikamar. "Ayo pak dimulai" kata Indri. "aduh kaget aku, kamu kenapa senangnya mengagetkan orang melulu..?" jawabku sambil mencubit paha si Indri pelan. "Ahhh bapak saja yang suka melamun, nanti kemasukkan setan lho pak". "enak juga Ndri pijatan kamu", tangan mungilnya mulai memijat punggung dengan minyak. "Pak celananya dicopot saja , nanti kena minyak malah kotor pak" katanya tiba-tiba. "Ya sudah terserah kamu saja, kamu yang buka deh" jawabku sekenanya. "Punggungnya sudahan pak, sekarang bapak berbalik deh" katanya. Walah kontan saja aku agak kaget, karena mungkin Indri akan melihat rudal aku. Aku menurut saja, dan setelah aku berbalik Indri tertegun melihat rudalku yang cukup gede untuk ukuran orang Indonesia. "Aduh punya bapak gede sekali, pantas saja ibu sayang sama bapak, maaf pak, Indri gak sengaja mengintip bapak sama ibu waktu lagi main, seru banget, kayaknya ibu nikmati banget. Enak gak sih pak kalau main begitu ?" tanyanya polos. "Tentu enak sekali ndri, kalau gak mana bisa ibu nikmati benar, kamu mau mencoba..?” Jawabku sekenanya. Aku lihat Indri hanya tertunduk malu, mukanya merah, dan aku raih tangannya dan aku pegangkan ke rudalku. Dia diam saja menggenggam rudalku. "Ya sudah kamu kan pernah mengintip aku main sama ibu, coba kamu praktekkan ke aku, gak usah malu-malu, kamar sudah aku kunci kok". Tanganku menyusup ke balik kaos, dan meremas lembut payudaranya yang kecil, "ihhhh… bapak" dan aku melepaskan kaos longgarnya, sekali sentak, lepaslah tali pengait bra itu, terpampang badan mungil dengan payudara gadis lugu pengasuh anakku itu, kecil dan puting kemerahan. Aku dekap tubuh kecil itu membungkuk, dan dadanya pas di mukaku, aku sedot puting payudara kiri, kanan, kiri lagi. "Uhhh pak… geli pak…." Aku rasakan tangan Indri yang megangi kontolku mulai bergerak mengocok-ngocok kontolku hingga berdiri tegak. Aku baringkan Indri di tempat tidur, aku sedot bibirnya yang indah, lidahku mengorek semua rongga mulutnya. Sambil tanganku mulai membuka celana pendek Indri. Kini Indri hanya mengenakan celana dalamnya yang kecil, dan perlahan aku buka celana dalam yang agak basah, hehehehe sudah terangsang juga dia, pikirku. Aku belai-belai payudaranya, terus kebawah ke perutnya yang mulus, dan berakhir di vagina Indri yang hanya ditumbuhi bulu yang masih jarang. Nafsuku mulai naik, dan aku kehilangan akal sehatku. Aku renggangkan kedua paha Indri dan aku jilati vaginanya, aku sedot klitoris-nya, aku kucek-kucek vaginanya dengan lidahku. Indri mengejang kegelian, sambil mengerang-ngerang, gak terasa keluar cairan mani dari vaginanya, aku teruskan aktivitasku menjilati seluruh vagina Indri. Setelah puas, aku tarik Indri untuk berposisi 69, aku dibawah dan Indri diatas, "Ndri, hisap punyaku, kamu sudah mengertikan, kamu kan sudah mengintip aku sama ibu main..?". Gak ada jawaban dari Indri, cuma rasa nikmat di ujung kepala kontolku yang sudah sangat mengeras mulai dihisap Indri. Akupun melanjutkan dengan menjilati lagi vagina perawan desa yang cantik ini. Aku baringkan Indri terlentang, dan aku renggangkan pahanya sehingga celah vaginanya tampak licin mengkilat, karena air liurku, bercampur dengan cairan vagina dia. Aku arahkan kepala kontolku ke liang vagina dia yang masih sempit. Aku gesek-gesekan perlahan. "uuhhhh….ahhhhh…. pak geli.. pak…. enak pak…. ayo masukkan pak, aku sudah gak tahan ingin merasakan kalau ditusuk kontol yang panjang seperti itu" pintanya kacau. Aku masukkan kontolku pelan-pelan menembus celah vagina Indri, yang sudah licin sekali, aku tekan sedikit. "auhhhhhh… sakit pak.. pelan-pelan pak, kenapa sakit pak.. tadi enak… kenapa sekarang sakit…?". protes Indri. "Gak apa-apa Ndri sakit sedikit, tapi itu hanya pertama dan sebentar saja kok, selanjutnya akan enak lagi, malah lebih enak dari yang tadi , tahan ya" Jawabku. Perlahan aku masukkan lagi, sampai pada akhirnya hampir ¾ kontolku amblas ke lubang vagina Indri, dan tidak bisa di masukkan lagi (mentok kali). "Auh…. uhhhh sakit pak…. sakit…. ?" jerit Indri perlahan. Aku diamkan saja sambil perlahan aku genjot kontolku. Sampai pada akhirnya jeritan sakit berganti dengan erangan kenikmatan yang luar biasa, mata Indri sampai merem melek, dan aku pun tanpa ragu melanjutkan genjotanku ke lubang vaginanya. "Ahhhh ahhhhh ahhhh pak… Indri mau pipis pak… Indri mau pipis…….?". dan tubuh Indri meregang kuat dan orgasme lagi untuk sekian kalinya. Aku teruskan genjotanku dengan gerak statis dan konstan, sampai pada akhirnya aku merasakan akan orgasme, cuma aku masih berpikir, gak akan aku biarkan air maniku masuk ke vagina Indri. Takut kalau Indri hamil. Akhirnya jebol sudah pertahananku, aku cabut kontolku dan aku semburkan air maniku diatas perut Indri. Kami sama-sama terkulai lemas, dan Indri tampaknnya juga kelelahan. Sementara aku berpakaian, aku lihat ternyata Indri tertidur dengan tubuh yang masih telanjang bulat. Aku kenakan semua pakaian dia, dan aku gendong dia ke kamarnya. Aku baringkan Indri ke tempat tidurnya, tiba-tiba Indri memeluk aku, dan berkata "Pak, Indri sayang sama bapak…., Indri gak mau pulang pak… Indri gak mau kawin sama laki-laki lain selain sama bapak…. Indri serahkan kesucian Indri sama bapak, sekarang Indri punya bapak. Apapun status Indri akan Indri terima, asalkan Indri tetep bisa sama bapak". Aku diam saja dan tersenyum, lalu aku cium kening Indri, dan aku segera berlalu dari kamar Indri, yang kini sudah tertidur karena kecapaian. Selamat tidur Indri sayang, aku juga menyayangimu, kataku dalam hati sambil menutup pintu kamarnya. Dan diluar terdengar suara pintu pagar dibuka oleh kang Darmo, penjaga rumahku, dan ternyata Linda istriku baru pulang. Sejak malam itu, kami berdua selalu mengulang perbuatan kami jika ada kesempatan, Indri semakin betah tinggal bersama kami, dan memutuskan untuk tidak akan pernah pulang ke kampungnya. Indri mengasuh anak-anakku dengan kasih sayang ibu kepada anaknya. Mungkin secara badan dia sudah menjadi istri kedua aku. Maafkan aku Lin, aku telah selingkuh dengan pengasuh anak-anakmu. Tapi sampai kapan…? Mungkin hanya waktu yang akan bisa menjawabnya.
************
Cerita lainnya Disini
************
Cerita lainnya Disini

No comments:
Post a Comment