Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Monday, 4 December 2017

Raisa, Kids Jaman Now

Kalau sudah rejeki memang gak kemana?! Dua minggu aku hunting ABG tidak membuahkan hasil, hampir semua usaha dan umpan yang aku tebar tidak satupun yang berbuah nikmat. Hal ini membuatku uring-uringan dalam bekerja dan terhadap istri termasuk saat berhubungan intim. Apalagi saat aku disuruh mengantar istriku kerumah kerabatnya yang meninggal, aku sangat-sangat keberatan karena lokasinya yang sangat pelosok tetapi apa mau dikata aku harus mengantarnya. Disepanjang jalan aku diam dan begitu juga saat tiba di tempat yang dituju, aku hanya bersikap dan berucap seperlunya saja itu pun dengan terpaksa. Aku semakin jengkel, karena istriku berniat untuk bermalam hingga 3 hari kemudian. Di hari kedua, aku diminta untuk menjemput keluarganya yang datang dari Medan karena memang cuma aku yang membawa mobil. Dari cerita yang aku dengar, yang aku jemput adalah anak dan cucunya kerabat istriku yang meninggal, sangat mapan dan sudah 10 tahun tidak mudik. Dan benar saja, saat bertemu aku melihat kemapanan di wajah dan pakaian mereka. Rossa usia 37 tahun, tinggi 165an cm, kulit putih dan rambut berwarna merah. Sedangkan anaknya, Raisa usianya 15 tahun, 170an cm, putih dengan bodi yang sangat bohay. Jujur saat itu Raisa menjadi obat galauku, pakaiannya yang press body dan serba mini sering menyita perhatianku. Mereka simpel dan mudah menyesuaikan keadaan sehingga dalam perjalanan itu kami sudah sangat akrab dan bercanda. Sesampainya di rumah semua keluarga menyambutnya berpelukan cium tidak terkecuali istriku, aku jadi iri dan pengin banget mencicipi pipi Raisa. Di sore harinya tanpa aku duga, Raisa meminta izin kepada istriku agar aku mengantarnya berbelanja di kota. Tentu saja tanpa curiga istriku menyetujui saja dan untuk menjaga suasana aku pun menyetujui tetapi dengan nada yang pura-pura agak jengkel. Sebelum berangkat, aku meminta pendapat istriku dan mbak Rossa (ibunya) bahwa kalau hujan kami di suruh pulang besok pagi saja dan menginap di rumahku. Dengan nada datar aku menjawab iya, padahal jauh di lubuk hati aku sangat senang karena diberi kesempatan untuk menaklukkanya. Raisa sangat terbiasa bercanda dengan pria bahkan tidak segan mengobrol tentang humor dewasa, aku semakin senang karena semakin lebar jalanku untuk menikmatinya. Dia lebih dewasa dari usianya! Aku menuruti semua maunya, ke mall untuk shoping, ke counter membeli HP dan bahkan bermain di arena permainan anak-anak, aku mengiyakan saja hingga tanpa terasa malam pun menyapa dengan gelapnya. "Bang, di dekat sini ada karaoke gak? tanya Raisa. "ada,…tapi…. jawabku ragu "tapi kenapa Bang, kok gak diterusin??" Tanya Ria penasaran "tempatnya kurang pas untuk ABG seperti kamu, disana cuma ada purel dan om-om hidung belang doang!! Gak baik untuk anak kecil seperti kamu..!!' Jawabku memancing "aahhh…sama saja kaya Mama, menganggap aku masih kecil! aku sudah punya pacar Bang, 3 malahan kok dibilang masih kecil? lagian tuh Abang hidungnya juga belang kan" jawabnya jutek. "enak saja…hidungku mulus tau, lagian aku belum Om-Om juga..!!! Jawabku "sudah.. ayo saja!! please… mumpung gak ada Mama" Jawabnya memohon. Dengan senang hati aku membelokkan mobil menuju tempat karaoke, memesan room dan minuman kesukaanku Chivas serta snack! Didalam room, Raisa langsung berjingkrak menyanyikan lagu Despacito dan bergoyang. Uuuuuhhh… sesekali toketnya bergoyang liar dengan memamerkan pinggang mulusnya saat dia meloncat dan kaosnya terangkat. Satu-dua hingga gelas ketiga aku menenggak Chivas dan serta merta membuat libidoku meningkat pesat. Aku menghampiri Raisa yang asyik menyanyikan lagu "Despacito" dan memeluknya dari belakang. Diluar dugaan Raisa tidak menolak, bahkan secara sengaja pantatnya bergeol menggesek penisku. Oooooohhh… benar-benar surprise buatku, mengingat usianya yang baru beranjak dewasa. "boleh minta minumnya gak? Aku pengen..!!" Jawabnya "nanti kalau mabuk bagaimana?" Jawabku "gak apa-apa, kan sudah pamitan sama Mama, tidur di rumah Abang kan?!" Jawabnya santai. "tapi…" jawabku agak ragu "sudah, boleh gak? Tapi jangan kasih tahu Mama yah?" Jawabnya centil, tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku tuangkan segelas penuh dan memberikan kepada Raisa. Dengan agak ragu, dia mencicipi dan kemudian baru menenggaknya hingga habis. Semuanya mengalir alami, hingga satu pasang Chivas kembali aku pesan dan kami nikmati bersama hingga batas jam karaoke habis. Tepat jam 00:00 kami keluar room dan langsung menuju rumahku yang hanya berjarak 4 km. Karena sempoyongan, aku pun memapah Raisa dan membawanya ke kamarku. "Bang… aku kegerahan nih, nyalakan Ac-nya dong! Igaunya "sorry banget, Ac-nya mati nih.." jawabku berbohong. "Aku gak bisa tidur kalau tidak berAC" Jawabnya merengek manja. "mmm… buka baju saja biar sejuk! Entar Ac ku pasti aktif" Jawabku merayu. "Iya… iya… bantuin lepasin dong" Jawabnya. "siap nona cantik" Jawabku dan mulai melucuti bajunya hingga hanya menyisakan CD dan BH saja "Bang… biar adil, copot baju juga dong" Jawabnya. "iya… jangan kaget ya? Jawabku sekenanya. "Gak bakalan, pasti sama dengan pacarku…" jawabnya Mendadak otakku berfikir bahwa Raisa sudah tidak perawan, karena sudah paham dan mengerti apa serta bagaimana kontol seorang pria. Secepat kilat aku membuang semua kain yang ada di tubuhku dan langsung mendekap tubuhnya dengan sangat erat. Tanpa aku duga tangan Raisa dengan cekatan meraih kontol besarku dan mulai mengelusnya dengan perlahan. Uuuuuuuhhhh… sejak detik itu, aku tanpa sungkan mulai mencicipi tubuhnya dan aku awali dengan meremas kedua toketnya dengan terlebih dahulu menanggalkan BHnya. "Bang, aku pengen ngomong… tapi jangan ketawain ya?" Bisiknya. "ngomong saja, Abang gak akan tertawa" Jawabku. sambil menciumi lehernya "sudah lama aku memimpikan burung yang segede ini, seperti punya bule" Jawabnya "memangnya… punya pacarmu gak gede?" Jawabku "gede sih tetapi tidak segede ini… juga tidak setampan kamu Bang" Jawabnya. "ya sudah, sekarang aku milikmu…nikmati saja ya?!" Jawabku Dan dengan aktif Raisa langsung memposisikan tubuhnya dengan gaya 69, bibirnya melumat kepala kontolku sementara pantatnya di sajikan tepat diatas mulutku. Aaaaaaaahhhh… memeknya sangat tembem dan berbulu halus, sementara pantatnya juga sangat bersih, indah dan menggugah selera. Aku yang biasanya hanya menjilat memek, kini sangat doyan meremas pantatnya dan menjilati belahan anusnya sambil jari-jariku mengorek kehangatan memeknya. "Huuuummm… aaaaahhhh.. ah… ah…ahhmmmmm… Bang… geli…" rengeknya "hmmmm... memek kamu wangi banget!" Jawabku.
Mendadak Ria menekan pantatnya kebawah hingga membuatku sulit bernafas, ditambah sedotannya yang disertai kocokan cepat membuatku terengah-engah. AAAAAAHHHH…lidahnya menari diujung kepala kontolku, membuat seluruh tubuhku bergetar dan mengejang. Dalam hitungan detik, Raisa pun menyusul dengan kedutan di pantat dan disertai tetesan lendir hangat dari dalam memeknya. tidak bau dan aku pun menghisapnya dengan lahap sambil menekan-nekan anusnya. "Aauw… jangan anus Bang, Vagina saja…" rengeknya. Aku gigit bibir memeknya dengan bibirku dan memasukkan lidahku kedalam memeknya hingga membuatnya menjerit panjang dan gigitan di pahaku. Sejenak kami berhenti dan berganti posisi, Raisa langsung menduduki kontolku dan memaju-mundurkan pantatnya sehingga jembut halusnya menggesek pelan batang kontolku, aku mendesis, meringis tetapi Raisa kian cepat memainkanya. "OOOOOOOOOOOOOOOHHH…HEEMMMMMMMM…" gumamku sambil aku remas kuat kedua toketnya sebagai balasannya. Kini dengan tangan kanannya Raisa mengurut kontolku dan berusaha memasukkan kepala kontolku ke bibir memek beceknya. Baru kepala kontolnya yang masuk tetapi Raisa sudah mengaduh dan meringis kesakitan. Raisa mengangkat pantatnya, menurunkan kembali terus berulang-ulang hingga aku rasakan seperempat kontolku sudah tertelan oleh memeknya. "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH… OOOOOOOOOOOUUHHHHH……. BLES…BLESSSSSSSSSSSSSS… BLES… BLESSSSSSSSSSSS".
Raisa menjerit panjang saat tumpuan kakinya aku dorong dan membuat pantatnya turun kebawah sehingga memeknya menelan kontolku bulat-bulat hingga tanpa sisa. Raisa terdiam, matanya berkaca-kaca dan aku rasakan otot dalam memeknya berkedut, bergerak menyesuaikan ukuran kontolku yang jumbo. Aku mengambil inisiatif dan menggoyangkan kontolku naik-turun secara perlahan, terus dan terus hingga aku rasakan memeknya semakin licin dan mudah aku tusuk. Mata Raisa terpejam, bibirnya mendesis dan tangannya mencengkeram kuat dadaku. "AH…AH..AH..AH…AH..AH…AH…AH..AH… MANTAP BANG, aku suka penismu". Gumamnya Dan mulailah pantat Raisa melakukan free dance, menggoyangkan kontolku semaunya, sekuatnya dan secepat yang dia bisa. Jujur aku menjadi agak kewalahan dengan keliarannya, nikmat dan ritme goyangannya sangat menyengat nikmat, tidak terduga tetapi sangat berasa. PLAK…PLAK…PLAK…PLAK…PLAK…PLAK…PLAK…. seperti goyangan Inul, Raisa memutar-mutar pinggulnya dengan cepat bahkan sambil naik turun. Suara becek dari memeknya kian membuat nafsu kami membumbung tinggi, semakin geli dan semakin membuat kami lupa diri. Dengan posisi WOT, Raisa mendominasi permainan ini dan semakin membuatku terhimpit oleh gejolak orgasme yang hampir mencapai puncak. "aaahhh… aku…aku…hampir keluar..!!" Rengekku. "mmm… diluar atau didalam?' Tanyaku, Tetapi mau apalagi, Raisa tidak menjawabnya bahkan meningkatkan kecepatan dan kedalaman goyangannya. Terus dan semakin liar goyangannya. "ah..ah…ah..ah..ah…ah.. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH…CROT…CROT…CROOT… CROOOOTTTTTTT" Spermaku menyemprot dengan kecepatan penuh dan serta merta memenuhi ruang di memeknya, Raisa sejenak terdiam dan mengejang karena juga mencapai titik orgasme. Kami pun bermandi peluh, saling berpelukan dan berciuman mesra. Kembali bercumbu dan merayu, hingga kami ketiduran dengan posisi kontolku masih di dalam memeknya. di pagi harinya, Raisa tersentak kaget dan membangunkan aku. Entah apa yang terjadi, kontolku seakan lekat dan lengket dengan memeknya. Aku coba menarik tetapi Ria mengaduh sakit, begitu juga saat dia yang menarik pantatnya. Kami sangat panik dan terus berusaha hingga setengah jam lamanya. Semua menjadi semakin sulit saat kontolku mendadak menegang dan mendorong dinding memeknya hingga seukuran kontolku. Raisa merintih perih dalam tangisan, merengek… seakan menyesali apa yang terjadi. Entah kenapa, kontolku mendadak terlepas dengan sendirinya dari hisapan memeknya. Kami pun bergegas mandi bersama dan kembali menuju pelosok desa dimana istriku dan Mama Rossa menunggu kami karena tidak ada kabar berita. Sesampainya disana kami bersikap normal dan tidak membuat curiga siapa pun, sehingga tetap aman dan menjadi sebuah rahasiaku dengan Raisa. Setelah kejadian itu dan menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya.
Tapi kejadian itu akan selamanya aku kenang.
Semoga kamu membaca ini Raisaku.
Salam.
******************
Cerita lainya Disini



No comments:

Post a Comment