Kejadian ini adalah sebagian dari kisah nyataku, yang terjadi kurang lebih 4 tahun yang lalu. Terus terang, aku sangat menyukai wanita yang berusia 30-40 tahun, dengan kulit mulus. Bagiku wanita ini sangat menarik, apalagi jika jam terbangnya sudah tinggi, sehingga pandai dalam bercinta. Namun sebagai pegawai swasta yang bekerja, aku memiliki keterbatasan waktu, tidak mudah bagiku untuk mencari wanita tersebut. Hal ini yang mendorong aku untuk mengiklankan diriku pada sebuah surat kabar berbahasa Inggris, untuk menawarkan jasa *Full body massage*. Uang bagiku tidak masalah, karena aku berasal dari keluarga menengah dan gajiku cukup, namun kepuasan yang aku dapat jauh dari itu. Sehingga aku tidak memasang tarif untuk jasaku itu, diberi berapa pun aku terima. Sepanjang hari itu, sejak iklanku terbit banyak respon yang aku dapat, sebagian dari mereka hanya iseng belaka, atau hanya ingin ngobrol. Di sore hari, kurang lebih pukul 18.00 seorang wanita menelponku. "Hallo dengan Irvan?" suara merdu terdengar dari sana. "Ya saya sendiri" jawabku.
Kemudian dia mulai menanyakan ciri-ciriku. Selanjutnya, "Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjangnya senjata yang kamu punya?" katanya. "Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 6 cm". jawabku. "Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya", lanjutnya. "Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech" jawabku. Dan yang agak mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Namun aku rasa, wah ini pengalaman baru buatku. Akhirnya dia memintaku untuk segera datang di sebuah hotel yang berbintang lima di kawasan jalan jenderal Soedirman, tak jauh dari kantorku. Aku menduga bahwa pasangan ini bukanlah sembarang orang, yang mampu membayar tarif hotel semahal itu. Dan benar dugaanku, sebuah president suite room telah ada di hadapanku. Segera aku bunyikan bel di depan kamarnya. Dan seorang pria, dengan mengenakan kimono, berusia tak lebih dari 40 tahun membukakan pintu untukku. "Irvan?" katanya. "Ya, benar saya Irvan", jawabku. Lalu dia mencermati aku dari atas hingga bawah sebelum dia mempersilakan aku masuk ke dalam. Pasti dia tidak ingin sembarang orang menyentuh istrinya, pikirku. "OK, masuklah" katanya. Kamar itu begitu luas dan gelap sekali. Aku memandang sekeliling, sebuah TV berukuran 52″ sedang memperlihatkan blue film. Lalu aku memandang ke arah tempat tidur. Seorang wanita yang aku perkirakan umurnya tak lebih dari 30 tahun berbaring di atas tempat tidur, badannya dimasukkan ke dalam bed cover tersenyum padaku sambil menjulurkan tangannya untuk menyalamiku. "Kamu pasti Irvan? Perkenalkan saya Nafa" katanya lembut. Aku terpana melihatnya, rambutnya sebahu berwarna hitam, kulitnya putih & sepertinya mulus sekali, wajahnya cantik, pokoknya perfect! Aku masih terpana dan menahan liurku, ketika dia berkata "Lho kenapa bingung". "Akh gak juga" kataku sambil membalas salamnya. "Kamu mandi dulu dech biar segar, itu kamar mandinya", katanya. "Oke, tunggu yach sebentar", jawabku sambil melangkah ke kamar mandi. Sementara, suaminya hanya menyaksikan dari sofa di kegelapan. Cepat-cepat aku bersihkan badanku biar wangi. Dan segera setelah itu aku kenakan celana pendek dan kaos. Aku melangkah keluar, "Yuk kita mulai", katanya. Dengan sedikit gugup aku menghampiri tempat tidurnya. Dan dengan bodohnya aku bertanya, "Boleh aku lepaskan pakaianku?", dia tertawa kecil dan menjawab, "terserah kamu saja..". Segera aku lepaskan pakaianku, dia terbelalak melihatku dalam keadaan polos, "Ahk.. ehm.." dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga. "Kamu cantik sekali Nafa" kataku lirih. Aku tak habis pikir ada wanita secantik ini yang pernah aku lihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, Ahhh.. betapa beruntungnya aku ini. "Ah kamu bisa saja", kata Nafa. Segera aku masuk ke dalam bed cover, aku teliti tubuhnya satu-persatu. Kedua bulatan payudaranya yang cukup besar dan berwarna putih terlihat menggantung dengan indahnya, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar aku lihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. "Yaa ampun.." bisikku lirih tanpa sadar, "Ia benar-benar sempurna" kataku dalam hati. "Van.." bisik Tante Nafa di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan wajahku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Aku nikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., aku bayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik bed cover. Hmm.., betapa nikmatnya nanti saat batang kejantananku memasuki liang kemaluannya yang sempit dan hangat, akan aku tumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang kemaluannya sebagai bukti kejantananku. "Van.. mulailah sayang.." bisik Tante Nafa, membuyarkan fantasi seks-ku padanya. Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih & mancung mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, aduh cantiknya. Aku kecup lembut bibir tante Nafa yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Aku pejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis. Selama kurang lebih 10 detik kami saling mengikat bibir, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Aku raih tubuh tante Nafa yang masih berada di hadapanku dan aku bawa kembali ke dalam pelukanku. "Apa yang dapat kamu lakukan untukku Van.." bisiknya lirih setengah kelihatan malu. Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat, terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Sekal dan padat. Lalu perlahan aku usap mesra sambil berbisik, "Tante pasti tahu apa yang akan Irvan lakukan.. Irvan akan membuat tante tidak akan pernah bisa melupakan malam ini". bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Aku elus-elus seluruh tubuhnya, akhh.. mulus sekali, dengan sedikit gemas aku remas dengan gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik bed cover. "Oouuhh.." Tante Nafa mengeluh lirih. Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu birahiku saat itu terasa sudah di ubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Aku sedot dan aku kulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir tante Nafa. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat pada dan kenyal. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil beradu mesra dengan hidungku. Aku rasakan kedua lengan tante Nafa telah melingkari leherku dan jemari tangannya aku rasakan mengusap mesra rambut kepalaku. Batang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut tante Nafa yang empuk, sejenak kemudian aku lepaskan pagutan bibirku pada bibirnya. Wajahnya yang cantik tersenyum manis padaku, aku turunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling aku sukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu. "Ohh apa yang akan kamu lakukan.. Akhh.." tanyanya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan.., "Nyam-nyam.." nikmat sekali kemaluan tante Nafa. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku. Aku sibakkan kedua bibir kemaluannya dan, "Creep.." ujung hidungku aku paksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sedari tadi becek itu. "Aaahh.. kamu nakal", jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah aku cicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran aku tarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. "Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Irvan.." lirih tante Nafa. Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita ini dan betapa bodohnya suaminya yang hanya memandangku dari kegelapan. "Aahh.. sayang.. aku suka yang itu yaahh.. sedot lagi dong sayang oogghh", ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini. Lima menit kemudian.. "Sayang.. Aku ingin cicipi punya kamu juga", katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas kemaluannya. "Ahh.. baiklah tante, sekarang giliran tante", lanjutku kemudian berdiri mengangkang di atas wajahnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih batang kemaluan besarku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata. "Okh Van.. indah sekali punyamu ini.." katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala kemaluanku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu. "Mungkin ini gak akan cukup kalau masuk di.. aah mm.. nggmm," belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku kearah mulutnya dan, "Croop.." langsung memenuhi rongga mulutnya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras. "Aduh enak.. oohh enaknya Tante oohh.." sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana-kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya, "Mm.. hmm.." hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya. "Crop.." ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu aku serbu dan aku sedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya. "Aoouuhh.. Tante gak tahan lagi sayang ampun.. Vann.. hh masukkan sekarang juga, ayo.." pintanya sambil memegang pantatku. Segera aku arahkan kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang kemaluannya yang terbuka lebar, pelan sekali aku tempelkan di bibir kemaluannya dan mendorongnya perlahan, "Ngg.. aa.. aa.. aa.. ii.. oohh masuk.. aduh besar sekali sayang, oohh.." ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris. Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Dan tante Nafa merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur saja, ia adalah wanita setengah baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah aku tiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung aku hujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya di atas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, namun tetap menjaga pertahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pada setiap hitungan kelima. Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar-masuk semakin lancar dalam liang senggamanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya aku gigit kecil hingga wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur tersebut terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik kearah kelopak matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar liang senggama. "Ooohh.. aa.. aahh.. aahh.. mmhh geli oohh enaknya, Vann.. ooh," desah Tante Nafa. "Yaahh enak juga Tante.. oohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante, nikmat sekali seperti ini, oohh enak.. oohh Tante oohh.." kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk kontolku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula kemaluannya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku. Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Nafa terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, "Vann.. aahh aku nggak.. nggak kuat aahh.. aahh.. oohh.." "Tahan Tante.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya Tante.. tahan dulu .. jangan keluarin dulu.." Tapi sia-sia saja, tubuh Tante Nafa menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. "Ooo.. ngg.. aahh.. sayang sayang.. sayang.. ooh enak banget.. Tante keluar.. oohh.. oohh.." teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya di sekeliling kontolku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku. Sementara itu makin aku percepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang telah dibasahi oleh cairan dari kemaluan Tante Nafa. "Aaakhh.. enak!" desah Tante Nafa sedikit teriak. "Tante.. saya mau keluar nich.. eesshh.." desahku pada Tante Nafa. "Keluarkanlah sayang.. eesshh.." jawabnya sambil mendesah. "Uuugghh.. aaggh.. enak Tante.." teriakku agak keras bersamaan dengan spermaku yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Tante Nafa. "Hemm.. hemm.." suara itu cukup mengagetkanku. Ternyata suaminya yang sedari tadi hanya menonton kini telah bangkit dan melepas kimononya. "Sekarang giliranku, terima kasih kau telah membangkitkan aku, kau boleh meninggalkan kami sekarang", katanya seraya memberikan segepok uang padaku. Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Nafa mengantarkan aku sampai ke pintu kemudian menghadiahkan aku sebuah kecupan kecil, katanya "Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya". "Terima kasih kembali, kalau Tante butuh saya lagi hubungi saya saja", jawabku sambil membalas kecupannya dan melangkah keluar. "Akh.. betapa beruntungnya aku dapat "order" melayani wanita seperti Tante Nafa", pikirku puas. Ternyata ada juga suami yang rela mengorbankan istrinya untuk digauli orang lain untuk memenuhi hasratnya.
Salam.
**********
Cerita lainnya Disini.
Kemudian dia mulai menanyakan ciri-ciriku. Selanjutnya, "Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjangnya senjata yang kamu punya?" katanya. "Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 6 cm". jawabku. "Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya", lanjutnya. "Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech" jawabku. Dan yang agak mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Namun aku rasa, wah ini pengalaman baru buatku. Akhirnya dia memintaku untuk segera datang di sebuah hotel yang berbintang lima di kawasan jalan jenderal Soedirman, tak jauh dari kantorku. Aku menduga bahwa pasangan ini bukanlah sembarang orang, yang mampu membayar tarif hotel semahal itu. Dan benar dugaanku, sebuah president suite room telah ada di hadapanku. Segera aku bunyikan bel di depan kamarnya. Dan seorang pria, dengan mengenakan kimono, berusia tak lebih dari 40 tahun membukakan pintu untukku. "Irvan?" katanya. "Ya, benar saya Irvan", jawabku. Lalu dia mencermati aku dari atas hingga bawah sebelum dia mempersilakan aku masuk ke dalam. Pasti dia tidak ingin sembarang orang menyentuh istrinya, pikirku. "OK, masuklah" katanya. Kamar itu begitu luas dan gelap sekali. Aku memandang sekeliling, sebuah TV berukuran 52″ sedang memperlihatkan blue film. Lalu aku memandang ke arah tempat tidur. Seorang wanita yang aku perkirakan umurnya tak lebih dari 30 tahun berbaring di atas tempat tidur, badannya dimasukkan ke dalam bed cover tersenyum padaku sambil menjulurkan tangannya untuk menyalamiku. "Kamu pasti Irvan? Perkenalkan saya Nafa" katanya lembut. Aku terpana melihatnya, rambutnya sebahu berwarna hitam, kulitnya putih & sepertinya mulus sekali, wajahnya cantik, pokoknya perfect! Aku masih terpana dan menahan liurku, ketika dia berkata "Lho kenapa bingung". "Akh gak juga" kataku sambil membalas salamnya. "Kamu mandi dulu dech biar segar, itu kamar mandinya", katanya. "Oke, tunggu yach sebentar", jawabku sambil melangkah ke kamar mandi. Sementara, suaminya hanya menyaksikan dari sofa di kegelapan. Cepat-cepat aku bersihkan badanku biar wangi. Dan segera setelah itu aku kenakan celana pendek dan kaos. Aku melangkah keluar, "Yuk kita mulai", katanya. Dengan sedikit gugup aku menghampiri tempat tidurnya. Dan dengan bodohnya aku bertanya, "Boleh aku lepaskan pakaianku?", dia tertawa kecil dan menjawab, "terserah kamu saja..". Segera aku lepaskan pakaianku, dia terbelalak melihatku dalam keadaan polos, "Ahk.. ehm.." dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga. "Kamu cantik sekali Nafa" kataku lirih. Aku tak habis pikir ada wanita secantik ini yang pernah aku lihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, Ahhh.. betapa beruntungnya aku ini. "Ah kamu bisa saja", kata Nafa. Segera aku masuk ke dalam bed cover, aku teliti tubuhnya satu-persatu. Kedua bulatan payudaranya yang cukup besar dan berwarna putih terlihat menggantung dengan indahnya, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar aku lihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. "Yaa ampun.." bisikku lirih tanpa sadar, "Ia benar-benar sempurna" kataku dalam hati. "Van.." bisik Tante Nafa di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan wajahku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Aku nikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., aku bayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik bed cover. Hmm.., betapa nikmatnya nanti saat batang kejantananku memasuki liang kemaluannya yang sempit dan hangat, akan aku tumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang kemaluannya sebagai bukti kejantananku. "Van.. mulailah sayang.." bisik Tante Nafa, membuyarkan fantasi seks-ku padanya. Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih & mancung mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, aduh cantiknya. Aku kecup lembut bibir tante Nafa yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Aku pejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis. Selama kurang lebih 10 detik kami saling mengikat bibir, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Aku raih tubuh tante Nafa yang masih berada di hadapanku dan aku bawa kembali ke dalam pelukanku. "Apa yang dapat kamu lakukan untukku Van.." bisiknya lirih setengah kelihatan malu. Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat, terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Sekal dan padat. Lalu perlahan aku usap mesra sambil berbisik, "Tante pasti tahu apa yang akan Irvan lakukan.. Irvan akan membuat tante tidak akan pernah bisa melupakan malam ini". bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Aku elus-elus seluruh tubuhnya, akhh.. mulus sekali, dengan sedikit gemas aku remas dengan gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik bed cover. "Oouuhh.." Tante Nafa mengeluh lirih. Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu birahiku saat itu terasa sudah di ubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Aku sedot dan aku kulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir tante Nafa. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat pada dan kenyal. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil beradu mesra dengan hidungku. Aku rasakan kedua lengan tante Nafa telah melingkari leherku dan jemari tangannya aku rasakan mengusap mesra rambut kepalaku. Batang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut tante Nafa yang empuk, sejenak kemudian aku lepaskan pagutan bibirku pada bibirnya. Wajahnya yang cantik tersenyum manis padaku, aku turunkan wajahku sambil terus menjulurkan lidah di permukaan perutnya terus turun dan sampai di daerah yang paling aku sukai, wangi sekali baunya. Tak perlu ragu. "Ohh apa yang akan kamu lakukan.. Akhh.." tanyanya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan.., "Nyam-nyam.." nikmat sekali kemaluan tante Nafa. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku. Aku sibakkan kedua bibir kemaluannya dan, "Creep.." ujung hidungku aku paksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sedari tadi becek itu. "Aaahh.. kamu nakal", jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah aku cicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran aku tarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. "Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Irvan.." lirih tante Nafa. Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita ini dan betapa bodohnya suaminya yang hanya memandangku dari kegelapan. "Aahh.. sayang.. aku suka yang itu yaahh.. sedot lagi dong sayang oogghh", ia mulai banyak menggunakan kata sayang untuk memanggilku. Sebuah panggilan yang sepertinya terlalu mesra untuk tahap awal ini. Lima menit kemudian.. "Sayang.. Aku ingin cicipi punya kamu juga", katanya seperti memintaku menghentikan tarian lidah di atas kemaluannya. "Ahh.. baiklah tante, sekarang giliran tante", lanjutku kemudian berdiri mengangkang di atas wajahnya yang masih berbaring. Tangannya langsung meraih batang kemaluan besarku dan sekejap terkejut menyadari ukurannya yang jauh di atas rata-rata. "Okh Van.. indah sekali punyamu ini.." katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala kemaluanku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu. "Mungkin ini gak akan cukup kalau masuk di.. aah mm.. nggmm," belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku kearah mulutnya dan, "Croop.." langsung memenuhi rongga mulutnya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras. "Aduh enak.. oohh enaknya Tante oohh.." sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana-kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya, "Mm.. hmm.." hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya. "Crop.." ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu aku serbu dan aku sedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya. "Aoouuhh.. Tante gak tahan lagi sayang ampun.. Vann.. hh masukkan sekarang juga, ayo.." pintanya sambil memegang pantatku. Segera aku arahkan kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang kemaluannya yang terbuka lebar, pelan sekali aku tempelkan di bibir kemaluannya dan mendorongnya perlahan, "Ngg.. aa.. aa.. aa.. ii.. oohh masuk.. aduh besar sekali sayang, oohh.." ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris. Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Dan tante Nafa merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur saja, ia adalah wanita setengah baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah aku tiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung aku hujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya di atas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, namun tetap menjaga pertahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pada setiap hitungan kelima. Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar-masuk semakin lancar dalam liang senggamanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya aku gigit kecil hingga wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur tersebut terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik kearah kelopak matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar liang senggama. "Ooohh.. aa.. aahh.. aahh.. mmhh geli oohh enaknya, Vann.. ooh," desah Tante Nafa. "Yaahh enak juga Tante.. oohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante, nikmat sekali seperti ini, oohh enak.. oohh Tante oohh.." kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk kontolku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula kemaluannya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku. Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Nafa terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, "Vann.. aahh aku nggak.. nggak kuat aahh.. aahh.. oohh.." "Tahan Tante.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya Tante.. tahan dulu .. jangan keluarin dulu.." Tapi sia-sia saja, tubuh Tante Nafa menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. "Ooo.. ngg.. aahh.. sayang sayang.. sayang.. ooh enak banget.. Tante keluar.. oohh.. oohh.." teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya di sekeliling kontolku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku. Sementara itu makin aku percepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang telah dibasahi oleh cairan dari kemaluan Tante Nafa. "Aaakhh.. enak!" desah Tante Nafa sedikit teriak. "Tante.. saya mau keluar nich.. eesshh.." desahku pada Tante Nafa. "Keluarkanlah sayang.. eesshh.." jawabnya sambil mendesah. "Uuugghh.. aaggh.. enak Tante.." teriakku agak keras bersamaan dengan spermaku yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Tante Nafa. "Hemm.. hemm.." suara itu cukup mengagetkanku. Ternyata suaminya yang sedari tadi hanya menonton kini telah bangkit dan melepas kimononya. "Sekarang giliranku, terima kasih kau telah membangkitkan aku, kau boleh meninggalkan kami sekarang", katanya seraya memberikan segepok uang padaku. Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Nafa mengantarkan aku sampai ke pintu kemudian menghadiahkan aku sebuah kecupan kecil, katanya "Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya". "Terima kasih kembali, kalau Tante butuh saya lagi hubungi saya saja", jawabku sambil membalas kecupannya dan melangkah keluar. "Akh.. betapa beruntungnya aku dapat "order" melayani wanita seperti Tante Nafa", pikirku puas. Ternyata ada juga suami yang rela mengorbankan istrinya untuk digauli orang lain untuk memenuhi hasratnya.
Salam.
**********
Cerita lainnya Disini.

No comments:
Post a Comment