Aku meraba klitorisku dengan jari jariku, terasa nikmat sekali, beberapa saat kututup mataku. Cepat sekali vaginaku sudah licin, basah sekali, sentuhan jari jariku semakin menebarkan rasa nikmat. Sesekali aku tekan lebih keras, tubuhku rasanya tidak sanggup menopang tubuhku, lututku bergetar lemas tidak kuat menopang tubuhku.
Oh ya sampai lupa karena keasikan, perkenalkan namaku Aura, 23 tahun, masih single, aku bekerja sebagai seorang guru SD di Jakarta. Hobiku adalah masturbasi sambil mengkhayalkan pria pujaanku, fantasi-fantasi liar sering kali tidak dapat aku tahan, apalagi semenjak aku jomblo hampir setahun ini. Dan beginilah, belakangan ini jika sedang horny aku tidak kenal tempat untuk memuaskan gejolak birahiku.
Oh ya sampai lupa karena keasikan, perkenalkan namaku Aura, 23 tahun, masih single, aku bekerja sebagai seorang guru SD di Jakarta. Hobiku adalah masturbasi sambil mengkhayalkan pria pujaanku, fantasi-fantasi liar sering kali tidak dapat aku tahan, apalagi semenjak aku jomblo hampir setahun ini. Dan beginilah, belakangan ini jika sedang horny aku tidak kenal tempat untuk memuaskan gejolak birahiku.
Balik lagi ke cerita tadi, Sangkin nikmatnya masturbasi di toilet sekolah, aku sampai tidak menyadari kalau pintu toilet meski sudah aku tutup tapi lupa aku kunci. Aku semakin tidak peduli, yang aku tahu, aku harus memuaskan birahiku yang sedang terbakar, aku coba menahan desahanku, meski terkadang terlepas juga desisan kecil dari bibir tipisku. "sshh..emhhh".
Aku membayangkan bercinta dengan pak Glenn, guru olah raga baru di sekolah tempatku bekerja, pak Glenn sungguh tampan dan tubuhnya yang sangat kekar, tadi siang aku memperhatikannya yang sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu kekar, belum lagi ada tonjolan yang menggelembung di antara pahanya. Terus terbayang-bayang, aku jadi gak kuat lagi menahan birahiku sampai akhirnya berujung di toilet sekolah ini ketika jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aku membayangkan bercinta dengan pak Glenn di toilet ini, dia memompa kontolnya yang besar di vaginaku dari arah belakang, tubuhnya mendorong tubuhku sehingga aku terpaksa menahan tubuhku di tembok toilet dan sedikit menungging. Aku mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tanganku bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisku dari depan. "uuuh pak Glenn", desisku pelan. aku terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas keningku. Tidak lama aku merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, namun tiba-tiba, "braaak", pintu toilet tiba-tiba terbuka. "Bu Aura", kata orang yang berdiri di depan pintu toilet dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun melihatku. Aku tersentak kaget, "pak Atmo", kataku kaget ketika melihat pak Atmo, cleaning service sekolah yang umurnya sekitar 40 tahun. Sangkin kagetnya dan tidak tau berbuat apa, aku jongkok merapatkan kakiku, namun tanganku masih berada diantara selangkanganku, aku begitu kaget sampai lupa menarik tanganku. "pak Atmo keluar", kataku dengan suara pelan. Wajahku pucat sangkin takut dan malunya. Kurang ajar benar dia, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya. "ngapain pak… keluar", perintahku dengan tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yang tadinya tersingkap sampai ke pinggul. "Bu Aura", kata pak Atmo sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Aku bertambah kaget, tapi aku tidak berani berteriak, aku takut ada orang yang mengetahui kalau aku masturbasi di toilet sekolah. "jangan pak", kataku berusaha melepaskan dekapannya, aku geser tubuhku untuk melepaskan diri dari dekapannya, namun dia tetap mendekapku sampai aku menabrak dinding. "Jangan pak" kataku takut, dia tidak mendengarkanku, bahkan dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leherku, "jangan", kataku lagi. Melihat dia yang begitu beringas dengan nafas mendengus menciumi leherku dan tangannya mulai meraba-raba buah dadaku. Aku menyadari kalau aku terjebak, aku berusaha melawan, dengan sekuat tenaga aku dorong tubuhnya, berhasil, dia terjatuh di lantai toilet. Aku langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, namun ketika aku mencoba membuka grendel pintu toilet. Tanganku tertahan oleh tangannya yang kekar, "lepaskan", kataku, namun Atmo yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkanku, dia malah memutar tangan kananku ke belakang tubuhku dengan paksa, tangannya yang lain menahan tangan kiriku di dinding. Aku terjebak, tenaganya kuat sekali, tubuhku seperti terkunci dan tidak bisa bergerak, "pak Atmo jangan… sakit... lepaskan", kataku memohon dengan suara memelas. "Bu Aura… biarkan aku…", katanya didekat telingaku, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa telingaku. "Ahhh lepaskan", aku memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekarnya menekan tubuhku ke dinding. Aku sangat takut, ketika merasa ada benda yang keras kenyal menabrak bokongku. "ahhhh kontolnya sudah tegang, dia akan memperkosaku", jerit batinku Aku semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangannya yang menahan kedua tanganku. "Sebaiknya bu Aura jangan berisik, nanti ada orang yag dengar, biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau ibu Aura masturbasi di kamar mandi", katanya mengancam, aku mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Apalagi di sekolah aku dikenal sebagai wanita anggun yang berkarisma. Aku menghentikan perlawananku, berpikir sejenak. Kesempatan itu tidak di sia-siakannya, tangan kananku diletakkan keatas merapat di dinding bersatu dengan tangan kiriku, dengan tangan kirinya dia menahan kedua tanganku. "jangan pak, aku mohon jangan", aku memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah bebas meraba-raba buah dadaku, dia memeras buah dadaku keras sekali. Ingin rasanya menangis tetapi aku takut, malah ada yang mendengar. "aahh bu Aura.. toket bu Aura gede banget". kata-kata kotor yang memuji keindahan tubuhku keluar dari mulutnya. Kurang puas meraba buah dadaku yang masih ditutupi kemeja, dia menarik kemejaku keatas melepaskan dari dalam rokku. Tangannya yang kasar mulai terasa meraba-raba perutku, "ampun pak lepaskan", aku coba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaku. "emmh bu Aura, gede banget toketmu", katanya lagi dengan berbisik dari belakang, dengusan nafasnya yang menderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aku bisa merasakan penisnya sudah sangat keras sekali menabrak nabrak pantatku. Ini semua menandakan dia benar-benar sudah sangat ingin menyetubuhiku. "Bu Aura ijinkan saya ngentotin kamu", bisiknya pelan sambil menarik rokku keatas. Aku kaget mendengarnya, tetapi tenagaku tidak cukup kuat melepaskan kuncian tangannya. "Pak... jangan kasihanilah aku". kataku memelas. Sepertinya apapun yang aku katakan tidak dapat membendung nafsu setannya, sejenak tidak aku rasakan tangan kanannya meraba-raba tubuhku. Penasaran apa yang dilakukannya. aku menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya.. "oooh jangan pak", aku panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkan kontolnya, meski tidak begitu jelas aku bisa melihat penisnya yang besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kagetku, Atmo menekan tubuhku merapat ke dinding, aku merasakan benda kenyal dan keras menggesek dan menabrak pantatku. "Aduh pantat bu Aura montok banget", katanya sambil meremas-remas pantatku. Aku terkaget, aku baru teringat jika ketika masturbasi tadi aku melepas celana dalamku dan celana dalamku masih tergantung di pintu toilet. "Gawat ini", pekikku dalam hati mengetahui bokongku tidak dibaluti kain sedikitpun. Pasti dia dengan mudah mencari sasaran tembaknya apa lagi vaginaku sudah mengeluarkan cairan karena masturbasi tadi, aku menjadi panik kembali, aku takut membayangkannya. Aku coba lagi memberontak, tapi tetap sia sia. Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, aku rasakan ada benda kenyal sedang menggesek-gesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari-cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di mulut lubang vaginaku setelah mendapatkan sasaran tembak, kontol Atmo sudah berada tepat di depan mulut vaginaku, aku sungguh tidak berdaya. "Pak Atmo ampun pak", kataku memohon lagi menyadari dalam hitungan detik kontolnya akan segera masuk kedalam tubuhku. "Bu Aura sudah lama saya pengin setubuhi Bu Aura, Bu Aura seksi banget", katanya, dan tiba-tiba aku rasakan kontolnya mulai masuk, aku panik mencoba melawan dengan sisa-sisa harapanku, bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuhku kontol itu malah terbenam masuk ke dalam lubang vaginaku, "aaaah tidak", pekikku dalam hati ketika aku rasakan kontolnya terasa terbenam memenuhi vaginaku. Aku menarik nafas, ingin rasanya menangis. Sungguh sial, vaginaku yang sudah basah ketika aku masturbasi tadi malah memudahkan batang itu masuk, tetapi aku pikir itu lebih baik, jika tidak mungkin vaginaku bisa lecet karena ada benda yang memaksa masuk, tapi berkat cairan yang sebelumnya memang sudah membanjiri vaginaku membuat kontol Atmo yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang vaginaku perlahan. "emmmh Bu Aura, vagina Bu Aura enak banget, ooohhh", desahnya didekat telingaku ketika kontolnya dibenamkan sedalam-dalamnya dan terasa menyentuh rahimku, "Ya ampun panjang banget kontol laki-laki ini, ampun", pekikku dalam hati. Aku berharap kontol itu sudah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih karena jujur saja belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Ketika batang itu amblas, aku terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk di kepalaku, aku benar-benar terdiam, tidak bergerak. Aku pasrah, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak aku sangka khayalanku bercinta di toilet sekolah, dan disetubuhi dari belakang kesampaian juga, tetapi bedanya bukan dengan Pak Glenn dan aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi kenyataannya, laki-laki yang sedang mendesah-desah di belakangku, yang sedang membenamkan batangannya di lubang surgaku yang berharga adalah pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami. Kenyataan yang harus aku terima, Atmo sedang menikmati vaginaku, menikmati penisnya yang keluar masuk di lubang kemaluanku. "oooh Bu Aura… ohhh enaknya", desah Atmo gak karuan berkali-kali "emmmh", aku mendesis kecil, meski aku tidak suka tapi tiba-tiba aku merasakan rasa nikmat meski samar oleh rasa takutku. Atmo terus mengocok kontolnya tanpa henti, begitu dalam melesak masuk di lubang vaginaku. Kedua tanganku masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding toilet. "ooohh ya ampun kontolnya terasa banget", teriakku dalam hati. Ketika aku mulai tenang, aku menyadari kalau kontol Atmo memang besar dan keras sekali, gesekan dan tusukan kontolnya begitu mantap memenuhi lubang vaginaku. Terasa banget ada benda yang mengganjal selangkangan ku, mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhku. Diam-diam aku mulai menikmati diperkosa pria ini, tiap kali dia menggerakkan batang kontolnya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yang aku dapat. Ketika dia menancapkan penisnya kembali ke dalam liangku, aku mendesis pelan, aku coba tidak mengeluarkan suara, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau batang itu sungguh memberikan kenikmatan padaku, tetapi tetap saja desisan kecil keluar dari bibirku. "mmmh mmmmh", desisku pelan. "enakkan Bu?", katanya tiba-tiba. Ternyata dia mengetahui kalau aku mulai menikmati tusukan kontolnya. Aku terdiam malu, tidak berani berkomentar, kalau aku bilang tidak atau memaki-makinya, dia pasti tahu aku bohong karena vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan yang menandakan aku juga terangsang dan menikmati genjotan kontolnya. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menghindari ciuman bibirnya yang mengecup pipi kananku. "Angkat sedikit pantatnya Bu", katanya sambil menarik pantatku keatas. "Kurang ajar… berani-beraninya dia malah menyuruhku", umpatku dalam hati. Tapi aku tidak punya pilihan lain, selain menuntaskan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar semuanya secepat mungkin berakhir. Aku ikuti saja kemauannya dengan sedikit mengangkat pantatku. "Emmmmh pantat Bu Aura memang montok banget, gak salah apa yang aku khayalkan selama ini", katanya sambil meremas-remas bokongku gemas. "Gila, ternyata aku sudah lama jadi fantasi laki-laki ini", pikirku dalam hati. Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan kontolnya kembali. "emmh pak pelan-pelan", kataku ketika aku rasakan penetrasi kontolnya terasa lebih dalam dari sebelumnya,mungkin karena aku mengangkat pantatku sehingga posisi vaginaku benar-benar bebas hambatan. Atmo tidak memperlambat kocokannya, dia malah mempercepat, aku mulai mendesah-desah pelan masih menjaga sikapku, "emmh emmmh", desisku pelan merasakan gesekan batangnya di lubang vaginaku. Melihat tubuhku yang terdorong ke depan, Atmo sepertinya sengaja melepaskan kedua tanganku sehingga aku dapat menahan tekanan tubuhnya, dengan kedua tanganku bertopang pada tembok. "emmmh gila seret banget", erangnya. Kini kedua-tangannya meremas-remas bokongku yang bulat padat sambil tidak berhenti mengocok kontolnya. "ooh Bu oooh", Atmo semakin keras mendesah, aku jadi takut kalau-kalau ada orang yang mendengar desahannya itu. "pak... jangan berisik pak", kataku memohon takut desahannya didengar orang. "I..i..iya Bu emhhhh habis enak banget", katanya pelan dengan nafas menderu. Kocokan kontolnya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menggesek belahan pantatku, dan aku rasakan satu jarinya membelai anusku. Kontan saja aku menggeliat, pantatku bergoyang ke kanan ke kiri karena kegelian. "oooh pak Atmo... Oooh", aku bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa nikmat yang tercipta dari kocokan kontol Atmo ditambahi gesekan jarinya yang membelai anusku seperti racikan yang pas membuat aku lupa diri, dan membuatku tidak dapat membendung desahanku. Hebat sekali, rasanya aku mulai benar-benar menikmati semua ini, tubuhku terasa sangat geli, kenikmatan rasanya menyebar di seluruh tubuhku. "oooh ahhh", aku semakin menggila desahanku bertambah keras saja, Atmo bukan saja hanya membelai anusku dengan jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke anusku dan menusuk-nusuk jarinya ke anusku, refleks pantatku semakin bergoyang, tiap kali dia menarik kontolnya dia membalasnya dengan menusukkan jarinya ke anusku. Jujur saja terlintas di benakku untuk melakukan anal sex dengan pak Atmo, seperti yang dulu pernah aku lakukan dengan pacarku. Atmo semakin mengerang tak karuan, tidak aku hiraukan lagi apa yang dikatakan Atmo, rasanya aku sudah mau orgasme. "saya mau keluar... ahh Bu Aura", aku dengar samar-samar erangannya, namun tidak aku pedulikan karena aku juga merasa sudah mau orgasme. "ooh emmmh oooh" desahku lebih keras, aku rapatkan tubuhku ke dinding, Atmo mengikuti tubuhku dan menekan keras-keras kontolnya kedalam vaginaku, bahkan dia menusuk jarinya sampai amblas ke dalam anusku "ahhhh setan kau Atmo", lirihku panjang, aku orgasme, aku tidak dapat menahannya, sungguh luar biasa aku bisa orgasme ketika diperkosa. Aku telan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih aku rasakan penis Atmo memenuhi liangku, tetapi tidak aku rasakan lagi jari Atmo di anusku, kedua tangannya memegang pantatku dan memompa kontolnya dengan ganas. "oooh Bu Aura oooh", tiba-tiba Atmo mengerang keras dan menekan tubuhku keras, aku kaget menyadari dia mau orgasme, tapi terlambat, di iringi erangannya, kontol Atmo sudah menyemburkan sperma hangat menyirami rahimku. Berkali-kali dia menghentakkan kontolnya dalam-dalam membuat tubuhku terdorong ke tembok. "ooooh emmmh", entah kenapa aku ikut menikmati sensasi ketika Atmo orgasme di liangku, denyutan-denyutan kecil batang kontolnya terasa di dinding lubang vaginaku ketika cairan hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku. "Ahhh apa yang aku lakukan? Atmo orgasme di vaginaku", pekikku dalam hati. Aku tersadar kembali, aku rapatkan tubuhku ke dinding dan menarik nafasku, aku teringat kalau aku memang sudah mau haid, aku hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur di rahimku. "ahh Bu Aura emmmh", dia mencoba mencium pipiku tapi aku dorong dengan mata melotot. Melihatku protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan kontolnya yang masih dilumuri cairan vaginaku. "Cepat keluar pak", kataku dengan suara lantang sambil merapikan posisi rokku. Atmo tanpa berkata apa-apa langsung keluar dan aku kunci pintu toilet. Aku langsung membersihkan kemaluanku dari cairanku sendiri dan sperma Atmo yang mengalir keluar, "gila... banyak banget spermanya", umpatku dalam hati. Aku mengenakan celana dalam dan merapikan baju yang aku kenakan. Aku mengendap-endap keluar toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di toilet. Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, aku lihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang mereka lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sedikit bernafas lega meski perasaan kotor masih ada di pikiranku. Dan sore itu aku langsung pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu antara malu, takjub dan takut. Salam
***********
Cerita lainnya Disini
Aku membayangkan bercinta dengan pak Glenn, guru olah raga baru di sekolah tempatku bekerja, pak Glenn sungguh tampan dan tubuhnya yang sangat kekar, tadi siang aku memperhatikannya yang sedang memberi petunjuk cara meregangkan otot kepada murid kelas 6 SD. ototnya begitu kekar, belum lagi ada tonjolan yang menggelembung di antara pahanya. Terus terbayang-bayang, aku jadi gak kuat lagi menahan birahiku sampai akhirnya berujung di toilet sekolah ini ketika jam pelajaran berakhir dan sekolah sudah sepi. Aku membayangkan bercinta dengan pak Glenn di toilet ini, dia memompa kontolnya yang besar di vaginaku dari arah belakang, tubuhnya mendorong tubuhku sehingga aku terpaksa menahan tubuhku di tembok toilet dan sedikit menungging. Aku mempraktekkannya seolah-olah semuanya nyata, satu tanganku bertopang di dinding dan yang lain membelai klitorisku dari depan. "uuuh pak Glenn", desisku pelan. aku terus mengejar kenikmatan, keringatku mulai keluar dari atas keningku. Tidak lama aku merasa hampir tiba di ujung kenikmatan itu, namun tiba-tiba, "braaak", pintu toilet tiba-tiba terbuka. "Bu Aura", kata orang yang berdiri di depan pintu toilet dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun melihatku. Aku tersentak kaget, "pak Atmo", kataku kaget ketika melihat pak Atmo, cleaning service sekolah yang umurnya sekitar 40 tahun. Sangkin kagetnya dan tidak tau berbuat apa, aku jongkok merapatkan kakiku, namun tanganku masih berada diantara selangkanganku, aku begitu kaget sampai lupa menarik tanganku. "pak Atmo keluar", kataku dengan suara pelan. Wajahku pucat sangkin takut dan malunya. Kurang ajar benar dia, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar toilet dan menguncinya. "ngapain pak… keluar", perintahku dengan tetap berjongkok sambil merapikan rok ku ke bawah yang tadinya tersingkap sampai ke pinggul. "Bu Aura", kata pak Atmo sambil mendekatiku dan mendekap tubuhku. Aku bertambah kaget, tapi aku tidak berani berteriak, aku takut ada orang yang mengetahui kalau aku masturbasi di toilet sekolah. "jangan pak", kataku berusaha melepaskan dekapannya, aku geser tubuhku untuk melepaskan diri dari dekapannya, namun dia tetap mendekapku sampai aku menabrak dinding. "Jangan pak" kataku takut, dia tidak mendengarkanku, bahkan dia mendekatkan wajahnya dan menciumi leherku, "jangan", kataku lagi. Melihat dia yang begitu beringas dengan nafas mendengus menciumi leherku dan tangannya mulai meraba-raba buah dadaku. Aku menyadari kalau aku terjebak, aku berusaha melawan, dengan sekuat tenaga aku dorong tubuhnya, berhasil, dia terjatuh di lantai toilet. Aku langsung mengambil kesempatan, berdiri ke arah pintu, namun ketika aku mencoba membuka grendel pintu toilet. Tanganku tertahan oleh tangannya yang kekar, "lepaskan", kataku, namun Atmo yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkanku, dia malah memutar tangan kananku ke belakang tubuhku dengan paksa, tangannya yang lain menahan tangan kiriku di dinding. Aku terjebak, tenaganya kuat sekali, tubuhku seperti terkunci dan tidak bisa bergerak, "pak Atmo jangan… sakit... lepaskan", kataku memohon dengan suara memelas. "Bu Aura… biarkan aku…", katanya didekat telingaku, dengusan nafasnya sampai terasa menerpa telingaku. "Ahhh lepaskan", aku memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekarnya menekan tubuhku ke dinding. Aku sangat takut, ketika merasa ada benda yang keras kenyal menabrak bokongku. "ahhhh kontolnya sudah tegang, dia akan memperkosaku", jerit batinku Aku semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangannya yang menahan kedua tanganku. "Sebaiknya bu Aura jangan berisik, nanti ada orang yag dengar, biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau ibu Aura masturbasi di kamar mandi", katanya mengancam, aku mengurangi perlawananku, ancamannya begitu mengena. Apalagi di sekolah aku dikenal sebagai wanita anggun yang berkarisma. Aku menghentikan perlawananku, berpikir sejenak. Kesempatan itu tidak di sia-siakannya, tangan kananku diletakkan keatas merapat di dinding bersatu dengan tangan kiriku, dengan tangan kirinya dia menahan kedua tanganku. "jangan pak, aku mohon jangan", aku memelas kepadanya. Tapi sia-sia, tangan kanannya sudah bebas meraba-raba buah dadaku, dia memeras buah dadaku keras sekali. Ingin rasanya menangis tetapi aku takut, malah ada yang mendengar. "aahh bu Aura.. toket bu Aura gede banget". kata-kata kotor yang memuji keindahan tubuhku keluar dari mulutnya. Kurang puas meraba buah dadaku yang masih ditutupi kemeja, dia menarik kemejaku keatas melepaskan dari dalam rokku. Tangannya yang kasar mulai terasa meraba-raba perutku, "ampun pak lepaskan", aku coba lagi memohon ketika dia mulai memeras buah dadaku. "emmh bu Aura, gede banget toketmu", katanya lagi dengan berbisik dari belakang, dengusan nafasnya yang menderu menandakan dia sangat bernafsu. Dan aku bisa merasakan penisnya sudah sangat keras sekali menabrak nabrak pantatku. Ini semua menandakan dia benar-benar sudah sangat ingin menyetubuhiku. "Bu Aura ijinkan saya ngentotin kamu", bisiknya pelan sambil menarik rokku keatas. Aku kaget mendengarnya, tetapi tenagaku tidak cukup kuat melepaskan kuncian tangannya. "Pak... jangan kasihanilah aku". kataku memelas. Sepertinya apapun yang aku katakan tidak dapat membendung nafsu setannya, sejenak tidak aku rasakan tangan kanannya meraba-raba tubuhku. Penasaran apa yang dilakukannya. aku menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya.. "oooh jangan pak", aku panik ketika melihat ke belakang dia mengeluarkan kontolnya, meski tidak begitu jelas aku bisa melihat penisnya yang besar dan hitam legam sudah keluar dari sarangnya. Belum hilang rasa kagetku, Atmo menekan tubuhku merapat ke dinding, aku merasakan benda kenyal dan keras menggesek dan menabrak pantatku. "Aduh pantat bu Aura montok banget", katanya sambil meremas-remas pantatku. Aku terkaget, aku baru teringat jika ketika masturbasi tadi aku melepas celana dalamku dan celana dalamku masih tergantung di pintu toilet. "Gawat ini", pekikku dalam hati mengetahui bokongku tidak dibaluti kain sedikitpun. Pasti dia dengan mudah mencari sasaran tembaknya apa lagi vaginaku sudah mengeluarkan cairan karena masturbasi tadi, aku menjadi panik kembali, aku takut membayangkannya. Aku coba lagi memberontak, tapi tetap sia sia. Aku pasrah, rasanya tidak mungkin lepas, aku rasakan ada benda kenyal sedang menggesek-gesek belahan vaginaku yang licin seperti mencari-cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di mulut lubang vaginaku setelah mendapatkan sasaran tembak, kontol Atmo sudah berada tepat di depan mulut vaginaku, aku sungguh tidak berdaya. "Pak Atmo ampun pak", kataku memohon lagi menyadari dalam hitungan detik kontolnya akan segera masuk kedalam tubuhku. "Bu Aura sudah lama saya pengin setubuhi Bu Aura, Bu Aura seksi banget", katanya, dan tiba-tiba aku rasakan kontolnya mulai masuk, aku panik mencoba melawan dengan sisa-sisa harapanku, bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuhku kontol itu malah terbenam masuk ke dalam lubang vaginaku, "aaaah tidak", pekikku dalam hati ketika aku rasakan kontolnya terasa terbenam memenuhi vaginaku. Aku menarik nafas, ingin rasanya menangis. Sungguh sial, vaginaku yang sudah basah ketika aku masturbasi tadi malah memudahkan batang itu masuk, tetapi aku pikir itu lebih baik, jika tidak mungkin vaginaku bisa lecet karena ada benda yang memaksa masuk, tapi berkat cairan yang sebelumnya memang sudah membanjiri vaginaku membuat kontol Atmo yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang vaginaku perlahan. "emmmh Bu Aura, vagina Bu Aura enak banget, ooohhh", desahnya didekat telingaku ketika kontolnya dibenamkan sedalam-dalamnya dan terasa menyentuh rahimku, "Ya ampun panjang banget kontol laki-laki ini, ampun", pekikku dalam hati. Aku berharap kontol itu sudah mentok karena terasa sangat keras menabrak rahimku dan terasa sedikit perih karena jujur saja belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Ketika batang itu amblas, aku terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya berkecamuk di kepalaku, aku benar-benar terdiam, tidak bergerak. Aku pasrah, tidak mengeluarkan sepatah katapun, tidak aku sangka khayalanku bercinta di toilet sekolah, dan disetubuhi dari belakang kesampaian juga, tetapi bedanya bukan dengan Pak Glenn dan aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi kenyataannya, laki-laki yang sedang mendesah-desah di belakangku, yang sedang membenamkan batangannya di lubang surgaku yang berharga adalah pegawai kebersihan alias cleaning service di sekolah kami. Kenyataan yang harus aku terima, Atmo sedang menikmati vaginaku, menikmati penisnya yang keluar masuk di lubang kemaluanku. "oooh Bu Aura… ohhh enaknya", desah Atmo gak karuan berkali-kali "emmmh", aku mendesis kecil, meski aku tidak suka tapi tiba-tiba aku merasakan rasa nikmat meski samar oleh rasa takutku. Atmo terus mengocok kontolnya tanpa henti, begitu dalam melesak masuk di lubang vaginaku. Kedua tanganku masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding toilet. "ooohh ya ampun kontolnya terasa banget", teriakku dalam hati. Ketika aku mulai tenang, aku menyadari kalau kontol Atmo memang besar dan keras sekali, gesekan dan tusukan kontolnya begitu mantap memenuhi lubang vaginaku. Terasa banget ada benda yang mengganjal selangkangan ku, mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar di seluruh tubuhku. Diam-diam aku mulai menikmati diperkosa pria ini, tiap kali dia menggerakkan batang kontolnya, darahku berdesir, sungguh luar biasa nikmat yang aku dapat. Ketika dia menancapkan penisnya kembali ke dalam liangku, aku mendesis pelan, aku coba tidak mengeluarkan suara, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau batang itu sungguh memberikan kenikmatan padaku, tetapi tetap saja desisan kecil keluar dari bibirku. "mmmh mmmmh", desisku pelan. "enakkan Bu?", katanya tiba-tiba. Ternyata dia mengetahui kalau aku mulai menikmati tusukan kontolnya. Aku terdiam malu, tidak berani berkomentar, kalau aku bilang tidak atau memaki-makinya, dia pasti tahu aku bohong karena vaginaku sudah mengeluarkan banyak cairan yang menandakan aku juga terangsang dan menikmati genjotan kontolnya. Aku menundukkan kepalaku dan mencoba menghindari ciuman bibirnya yang mengecup pipi kananku. "Angkat sedikit pantatnya Bu", katanya sambil menarik pantatku keatas. "Kurang ajar… berani-beraninya dia malah menyuruhku", umpatku dalam hati. Tapi aku tidak punya pilihan lain, selain menuntaskan birahinya secepat mungkin, dan berharap agar semuanya secepat mungkin berakhir. Aku ikuti saja kemauannya dengan sedikit mengangkat pantatku. "Emmmmh pantat Bu Aura memang montok banget, gak salah apa yang aku khayalkan selama ini", katanya sambil meremas-remas bokongku gemas. "Gila, ternyata aku sudah lama jadi fantasi laki-laki ini", pikirku dalam hati. Merasa posisiku sudah siap, sambil tangan kirinya menahan pinggulku, dia kembali menggerakkan kontolnya kembali. "emmh pak pelan-pelan", kataku ketika aku rasakan penetrasi kontolnya terasa lebih dalam dari sebelumnya,mungkin karena aku mengangkat pantatku sehingga posisi vaginaku benar-benar bebas hambatan. Atmo tidak memperlambat kocokannya, dia malah mempercepat, aku mulai mendesah-desah pelan masih menjaga sikapku, "emmh emmmh", desisku pelan merasakan gesekan batangnya di lubang vaginaku. Melihat tubuhku yang terdorong ke depan, Atmo sepertinya sengaja melepaskan kedua tanganku sehingga aku dapat menahan tekanan tubuhnya, dengan kedua tanganku bertopang pada tembok. "emmmh gila seret banget", erangnya. Kini kedua-tangannya meremas-remas bokongku yang bulat padat sambil tidak berhenti mengocok kontolnya. "ooh Bu oooh", Atmo semakin keras mendesah, aku jadi takut kalau-kalau ada orang yang mendengar desahannya itu. "pak... jangan berisik pak", kataku memohon takut desahannya didengar orang. "I..i..iya Bu emhhhh habis enak banget", katanya pelan dengan nafas menderu. Kocokan kontolnya terasa semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokongku, dia menggesek belahan pantatku, dan aku rasakan satu jarinya membelai anusku. Kontan saja aku menggeliat, pantatku bergoyang ke kanan ke kiri karena kegelian. "oooh pak Atmo... Oooh", aku bukan lagi mendesis tetapi desahan mulai keluar dari bibirku, rasa nikmat yang tercipta dari kocokan kontol Atmo ditambahi gesekan jarinya yang membelai anusku seperti racikan yang pas membuat aku lupa diri, dan membuatku tidak dapat membendung desahanku. Hebat sekali, rasanya aku mulai benar-benar menikmati semua ini, tubuhku terasa sangat geli, kenikmatan rasanya menyebar di seluruh tubuhku. "oooh ahhh", aku semakin menggila desahanku bertambah keras saja, Atmo bukan saja hanya membelai anusku dengan jarinya tetapi memasukkan satu jarinya ke anusku dan menusuk-nusuk jarinya ke anusku, refleks pantatku semakin bergoyang, tiap kali dia menarik kontolnya dia membalasnya dengan menusukkan jarinya ke anusku. Jujur saja terlintas di benakku untuk melakukan anal sex dengan pak Atmo, seperti yang dulu pernah aku lakukan dengan pacarku. Atmo semakin mengerang tak karuan, tidak aku hiraukan lagi apa yang dikatakan Atmo, rasanya aku sudah mau orgasme. "saya mau keluar... ahh Bu Aura", aku dengar samar-samar erangannya, namun tidak aku pedulikan karena aku juga merasa sudah mau orgasme. "ooh emmmh oooh" desahku lebih keras, aku rapatkan tubuhku ke dinding, Atmo mengikuti tubuhku dan menekan keras-keras kontolnya kedalam vaginaku, bahkan dia menusuk jarinya sampai amblas ke dalam anusku "ahhhh setan kau Atmo", lirihku panjang, aku orgasme, aku tidak dapat menahannya, sungguh luar biasa aku bisa orgasme ketika diperkosa. Aku telan air liurku menikmati sisa kenikmatan, masih aku rasakan penis Atmo memenuhi liangku, tetapi tidak aku rasakan lagi jari Atmo di anusku, kedua tangannya memegang pantatku dan memompa kontolnya dengan ganas. "oooh Bu Aura oooh", tiba-tiba Atmo mengerang keras dan menekan tubuhku keras, aku kaget menyadari dia mau orgasme, tapi terlambat, di iringi erangannya, kontol Atmo sudah menyemburkan sperma hangat menyirami rahimku. Berkali-kali dia menghentakkan kontolnya dalam-dalam membuat tubuhku terdorong ke tembok. "ooooh emmmh", entah kenapa aku ikut menikmati sensasi ketika Atmo orgasme di liangku, denyutan-denyutan kecil batang kontolnya terasa di dinding lubang vaginaku ketika cairan hangat spermanya berhamburan keluar menyirami lubangku. "Ahhh apa yang aku lakukan? Atmo orgasme di vaginaku", pekikku dalam hati. Aku tersadar kembali, aku rapatkan tubuhku ke dinding dan menarik nafasku, aku teringat kalau aku memang sudah mau haid, aku hanya bisa berharap spermanya tidak membuahi telur di rahimku. "ahh Bu Aura emmmh", dia mencoba mencium pipiku tapi aku dorong dengan mata melotot. Melihatku protes, dia segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan kontolnya yang masih dilumuri cairan vaginaku. "Cepat keluar pak", kataku dengan suara lantang sambil merapikan posisi rokku. Atmo tanpa berkata apa-apa langsung keluar dan aku kunci pintu toilet. Aku langsung membersihkan kemaluanku dari cairanku sendiri dan sperma Atmo yang mengalir keluar, "gila... banyak banget spermanya", umpatku dalam hati. Aku mengenakan celana dalam dan merapikan baju yang aku kenakan. Aku mengendap-endap keluar toilet dengan hati berdebar, takut ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di toilet. Suasana sekitar sekolah sepi, memang saat itu sudah hampir jam 4 sore. Dengan hati berdebar aku memasuki ruangan guru, aku lihat kepala sekolah dan 2 orang guru belum pulang mereka lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sedikit bernafas lega meski perasaan kotor masih ada di pikiranku. Dan sore itu aku langsung pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu antara malu, takjub dan takut. Salam
***********
Cerita lainnya Disini

No comments:
Post a Comment