Perkenalkan nama panggilanku Prilly (hehehe biar keren dikit). Aku baru berusia 17 tahun (SMA kelas III). Tinggiku lumayan sekitar 168 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model. Dan aku belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP. Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Februari tahun lalu. Pengalaman ini tidak aku karang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang aku alami sendiri tahun lalu.
Begini Ceritanya, Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Ali. Orangnya tampan, tingginya sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 5 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas III di sekolahku. Sekolahku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Ali sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan sekolah kami. Pada saat itu Ali hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah. Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor Hp. Kira-kira tiga jam kemudian, Ali meneleponku. "Hallo selamat sore", "iya selamat sore, Ada apa, perasaan baru tadi deh kita pisah". "Gak takut kamu lupa saja". "Ahhhh kamu ada-ada saja", "Prill, ada acara gak malam minggu ini". "Aku sempat kaget Ali mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa jam ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku. "Hmmm… belum tau, mungkin gak ada, dan mungkin juga ada", jawabku. "Kenapa bisa begitu", balas Ali. "Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalau batal acaranya, aku gak bakalan terima telepon kamu lagi", balasku lagi. "Ooo begitu, kalau gitu aku jemput ke rumah kamu, sabtu sore, kita jalan-jalan saja. Di mana alamat rumahmu", Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Joglo. Dan ternyata rumah Ali tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak. Tepat hari sabtu sore, Ali datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Ali menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat. "Prill, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu", bisik Ali mesra. "Ali, kita baru saja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar", "Kalau aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku", "Ali, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik", Tiba-tiba tangan Ali memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat. "Aku juga Prill, begitu melihat kamu langsung tertarik", Dan Ali menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Ali memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa aku sadari bibir Ali sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Ali mencium bibirku. Pertama-tama, sempat aku lepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Ali dan mencium bibirnya. Ciuman Ali sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Ali mulai meraba sekitar dadaku. "Jangan, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu". jawabku. Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Ali karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. "Prill, bagaimana kalau kita nonton saja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok". Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Ali sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Ali langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Ali meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju. Tiba-tiba Ali membisikkan sesuatu di telingaku, "Prilly, kamu membuat nafsuku naik". "Aku juga Li". balasku manja. Dan Ali menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. "Astaga", pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Ali sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. "Teruskan Prill, remas yang kuat dan lebih kuat lagi." Tak lama kemudian, tangan Ali sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan. Akhirnya tangan Ali berhasil meremas toket ku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru aku kenal. Ali meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Ali memegang puting susuku yang sudah keras. "Teruskan, aku enak sekali.." Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Ali untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Ali yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu.
“Teruskan, aku merasa enak sekali.” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa. “Kita langsung pulang ya Prill, sudah malam,” minta Ali. “Ali, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 23:30 malam, sekarang masih jam 22:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra. Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila aku katakan pada Ali. Mudah-mudahan dia mengerti apa yang aku inginkan. “Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan saja, sambil melihat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Ali dengan nada gembira. Sampai di senayan, Ali memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Ali menghentikan mobilnya, tiba-tiba Ali langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Ali begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang aku tunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi. Tiba-tiba Muki melepaskan ciumannya. “Prill, aku ingin mencium toketmu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang aku pakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar-mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Ali. Dan aku lihat Ali begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang toketku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki. “Prill, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi toketmu,” bisik Ali. “Iya, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar-benar aku inginkan,” balasku manja. Tak lama kemudian, Ali dengan lembutnya menciumi toketku dan memainkan lidahnya di seputar putingnya yang sedang mengeras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu. “Jangan berhenti sayang, teruskan ya… aku merasa enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Ali untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Ali mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Ali dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Ali sudah terbuka dan tiba-tiba Ali menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalamnya. Dan dia menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penisnya yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Ali masih terus menjilati toketku dan sekali-kali dia menggigit putingnya. “Ali, teruskan ya… jilat saja, sesukamu..” desahku tak karuan. Sementara aku masih terus memegang penisnya. Dan sepertinya dia makin bernafsu dengan permainan seks-nya. Akhirnya dia sudah tidak tahan lagi. “Prill, kamu hisap punyaku ya… mau gak?” “hisap bagaimana..” “Tolong keluarkan punyaku di mulutmu.” Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dia mau, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan dia merubah posisi duduknya, dia menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaannya. “Li, besar sekali punyamu.” “Langsung saja Prill, aku sudah tidak tahan..” Aku langsung menyedot pelan-pelan penisnya, Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang aku tarik dalam mulutku kepunyaan Muki. Sekali-kali aku jilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga aku jilati dan aku hisap buah zakarnya. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan aku ulangi lagi seperti itu. Dan kepala penisnya aku jilati terus. Ah… benar-benar nikmat. Sekitar lima menit aku menikmati permainan penisnya, tiba-tiba, Ali menahan kepalaku dan menyuruhku menghisap lebih kuat. "Terus Prill, jangan berhenti, terus hisap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi.." Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis itu dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Ali. Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Ali. Aku terus melanjutkan hisapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di dalam mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku. "Prill, aku sudah keluar, banyak ya..". "Banyak sekali, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa." "Tidak apa-apa". Kemudian Ali mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruhnya ke toketku. Aku pun memperhatikan kelakuan Ali. Dan Ali mengelus-elus toketku. Akhirnya jam sudah tepat jam 23 malam. Dan aku diantar oleh Ali tepat jam 23 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan aku lakukan lagi bersama Ali esoknya. Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Ali yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat aku ulangi lagi peristiwa malam itu. Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah. Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Ali menjemputku dan Ali membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku. "Tempat apa ini?" tanyaku. "ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini saja, dan lebih aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau", "Entahlah, aku masih takut tempat seperti ini". "Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan". Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang aku bayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV LED 32 inch, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang. "Prilly, kita santai di sini saja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau.." minta Ali. "Aku setuju saja, terserah kamu", Setelah siang, kami ngobrol-ngobrol dan Ali membaringkan badanku di tempat tidur. "Prill, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku." "Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir semalaman apa yang akan kami lakukan berikutnya. Ali berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Ali daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Ali lebih besar dari yang aku bayangkan. Dan, dalam sekejap Ali sudah terlihat bugil di depanku. Ali memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Ali menarik ke atas baju kaos ketat yang aku pakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang aku pakai. Dan pelan-pelan tangan Ali mengelus toketku yang sudah keras. Dan lama-kelamaan tangannya sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Ali jongkok tepat di depan vaginaku. Ali memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku. "Prill, bodi kamu bagus sekali". Ali sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku. "Prill, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana". "Terserah kamu sayang, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengin sekali melakukannya denganmu". Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan olehnya. Kemudian dia meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Dia bebas menciumiku dan aku juga bebas menciuminya. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Ali menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibirnya sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku, Ali membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin aku lakukan dari dulu. Ternyata Ali sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangannya sambil meremas toketku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak aku sia-siaka kenikmatan ini tiap detik. Ali sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku. Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa aku tahan lagi, aku katakan padanya. "Li, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan-pelan", mintaku lalu bangkit dari arah bawah. Dan menciumi bibirku. "Prill, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya", "Tidak, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya". Lalu dia melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Ali yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan aku bimbing penis Ali agar tepat masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang aku rasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Ali berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku. "Oh… enak sekali", jeritku.
Begini Ceritanya, Bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Ali. Orangnya tampan, tingginya sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku. Perbedaan umur kami sekitar 5 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas III di sekolahku. Sekolahku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Ali sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan sekolah kami. Pada saat itu Ali hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah. Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor Hp. Kira-kira tiga jam kemudian, Ali meneleponku. "Hallo selamat sore", "iya selamat sore, Ada apa, perasaan baru tadi deh kita pisah". "Gak takut kamu lupa saja". "Ahhhh kamu ada-ada saja", "Prill, ada acara gak malam minggu ini". "Aku sempat kaget Ali mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa jam ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku. "Hmmm… belum tau, mungkin gak ada, dan mungkin juga ada", jawabku. "Kenapa bisa begitu", balas Ali. "Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalau batal acaranya, aku gak bakalan terima telepon kamu lagi", balasku lagi. "Ooo begitu, kalau gitu aku jemput ke rumah kamu, sabtu sore, kita jalan-jalan saja. Di mana alamat rumahmu", Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Joglo. Dan ternyata rumah Ali tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak. Tepat hari sabtu sore, Ali datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Ali menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat. "Prill, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu", bisik Ali mesra. "Ali, kita baru saja kenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar", "Kalau aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku", "Ali, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik", Tiba-tiba tangan Ali memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat. "Aku juga Prill, begitu melihat kamu langsung tertarik", Dan Ali menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Ali memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa aku sadari bibir Ali sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Ali mencium bibirku. Pertama-tama, sempat aku lepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Ali dan mencium bibirnya. Ciuman Ali sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Ali mulai meraba sekitar dadaku. "Jangan, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu". jawabku. Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Ali karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. "Prill, bagaimana kalau kita nonton saja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok". Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Ali sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Ali langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Ali meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju. Tiba-tiba Ali membisikkan sesuatu di telingaku, "Prilly, kamu membuat nafsuku naik". "Aku juga Li". balasku manja. Dan Ali menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. "Astaga", pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Ali sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. "Teruskan Prill, remas yang kuat dan lebih kuat lagi." Tak lama kemudian, tangan Ali sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan. Akhirnya tangan Ali berhasil meremas toket ku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru aku kenal. Ali meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Ali memegang puting susuku yang sudah keras. "Teruskan, aku enak sekali.." Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Ali untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Ali yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu.
“Teruskan, aku merasa enak sekali.” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa. “Kita langsung pulang ya Prill, sudah malam,” minta Ali. “Ali, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 23:30 malam, sekarang masih jam 22:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra. Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila aku katakan pada Ali. Mudah-mudahan dia mengerti apa yang aku inginkan. “Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan saja, sambil melihat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Ali dengan nada gembira. Sampai di senayan, Ali memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Ali menghentikan mobilnya, tiba-tiba Ali langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Ali begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang aku tunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi. Tiba-tiba Muki melepaskan ciumannya. “Prill, aku ingin mencium toketmu, bolehkan..” Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang aku pakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar-mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Ali. Dan aku lihat Ali begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang toketku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki. “Prill, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi toketmu,” bisik Ali. “Iya, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar-benar aku inginkan,” balasku manja. Tak lama kemudian, Ali dengan lembutnya menciumi toketku dan memainkan lidahnya di seputar putingnya yang sedang mengeras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu. “Jangan berhenti sayang, teruskan ya… aku merasa enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Ali untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya. Kemudian Ali mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Ali dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Ali sudah terbuka dan tiba-tiba Ali menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalamnya. Dan dia menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penisnya yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Ali masih terus menjilati toketku dan sekali-kali dia menggigit putingnya. “Ali, teruskan ya… jilat saja, sesukamu..” desahku tak karuan. Sementara aku masih terus memegang penisnya. Dan sepertinya dia makin bernafsu dengan permainan seks-nya. Akhirnya dia sudah tidak tahan lagi. “Prill, kamu hisap punyaku ya… mau gak?” “hisap bagaimana..” “Tolong keluarkan punyaku di mulutmu.” Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dia mau, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan dia merubah posisi duduknya, dia menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kepunyaannya. “Li, besar sekali punyamu.” “Langsung saja Prill, aku sudah tidak tahan..” Aku langsung menyedot pelan-pelan penisnya, Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang aku tarik dalam mulutku kepunyaan Muki. Sekali-kali aku jilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga aku jilati dan aku hisap buah zakarnya. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan aku ulangi lagi seperti itu. Dan kepala penisnya aku jilati terus. Ah… benar-benar nikmat. Sekitar lima menit aku menikmati permainan penisnya, tiba-tiba, Ali menahan kepalaku dan menyuruhku menghisap lebih kuat. "Terus Prill, jangan berhenti, terus hisap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi.." Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis itu dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Ali. Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Ali. Aku terus melanjutkan hisapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di dalam mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku. "Prill, aku sudah keluar, banyak ya..". "Banyak sekali, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa." "Tidak apa-apa". Kemudian Ali mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruhnya ke toketku. Aku pun memperhatikan kelakuan Ali. Dan Ali mengelus-elus toketku. Akhirnya jam sudah tepat jam 23 malam. Dan aku diantar oleh Ali tepat jam 23 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan aku lakukan lagi bersama Ali esoknya. Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Ali yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat aku ulangi lagi peristiwa malam itu. Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah. Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Ali menjemputku dan Ali membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku. "Tempat apa ini?" tanyaku. "ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini saja, dan lebih aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau", "Entahlah, aku masih takut tempat seperti ini". "Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan". Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang aku bayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV LED 32 inch, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang. "Prilly, kita santai di sini saja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau.." minta Ali. "Aku setuju saja, terserah kamu", Setelah siang, kami ngobrol-ngobrol dan Ali membaringkan badanku di tempat tidur. "Prill, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku." "Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir semalaman apa yang akan kami lakukan berikutnya. Ali berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Ali daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Ali lebih besar dari yang aku bayangkan. Dan, dalam sekejap Ali sudah terlihat bugil di depanku. Ali memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Ali menarik ke atas baju kaos ketat yang aku pakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang aku pakai. Dan pelan-pelan tangan Ali mengelus toketku yang sudah keras. Dan lama-kelamaan tangannya sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Ali jongkok tepat di depan vaginaku. Ali memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku. "Prill, bodi kamu bagus sekali". Ali sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku. "Prill, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana". "Terserah kamu sayang, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengin sekali melakukannya denganmu". Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan olehnya. Kemudian dia meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Dia bebas menciumiku dan aku juga bebas menciuminya. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Ali menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibirnya sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku, Ali membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya. Ah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin aku lakukan dari dulu. Ternyata Ali sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangannya sambil meremas toketku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak aku sia-siaka kenikmatan ini tiap detik. Ali sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku. Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa aku tahan lagi, aku katakan padanya. "Li, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan-pelan", mintaku lalu bangkit dari arah bawah. Dan menciumi bibirku. "Prill, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya", "Tidak, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya". Lalu dia melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Ali yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan aku bimbing penis Ali agar tepat masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang aku rasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Ali berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku. "Oh… enak sekali", jeritku.
Seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar Ali. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Ali, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Ali membisikkan sesuatu di telingaku, "Prilly, kamu sudah tidak perawan lagi", "gak apa-apa sayang, jangan dilepas dulu ya…" "Terus Liii, goyang lebih kencang, aku enak sekali..". Dengan posisi aku di bawah, Ali di atas, kami melakukannya lama sekali. Ali terus menciumi toketku yang sudah keras, penis Ali masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga. "Ali sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar". "Keluarkan terus Prill, aku tidak akan melepaskan punyaku". "Liii, aku tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. aku keluar Liii, aku keluar.. keluar Liii..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaahh… aaaahh.." Pada saat orgasme yang pertama, Ali langsung menciumi bibirku. Oh… benar-benar luar biasa sekali enaknya. Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Ali dan aku masih memeluk badannya. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin. "Prill, aku masih mau lagi, tidak akan aku lepaskan… sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu hisap punyaku dan aku hisap punyamu". Kemudian kami berubah posisi ke 69, Ali bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang. "Prill, punyamu lebar sekali", "hisap terus Lii, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali". Aku terus menghisap punya Ali sementara Ali terus menjilati vaginaku dan kami melakukannya sangat lama sekali. Penis Ali yang sudah sangat keras sekali membuat nafsuku bertambah naik. Dan permainan mulut Ali di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin aku akhiri. "Lii… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi honey…" "Tahan sebentar, aku juga mau keluar". Tiba-tiba Ali langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Ali melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Ali ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penisnya yang besar. "Dorong yang keras sayang, lebih keras lagi". desahku. Ali menggoyangan badannya lebih cepat lagi. "Iya, seperti itu… terus… aaahh..aaahh… enak sekali, aku mau melakukannya terus-menerus denganmu". "Prill, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…". "Aku juga sayang, sedikit lagi, kita keluar sama-sama ya… aaahh..." "Prill… aku keluar.." "Aku juga… aaahh… aahh… terasa hangat sekali spermamu.." "Aduh, Prill… goyang terus, punyaku lagi keluar…" "Aduh… enak sekali…" Bibirku langsung menciumi bibir Ali yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur. "Prill… spermaku sekarang ada di dalam punyamu". "Iya…" Tidak lama kemudian, Ali membersihkan cairan spermanya di vaginaku. "Prill, kalau kamu hamil, aku mau bertanggung jawab". "Iya sayang..." jawabku singkat. Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali. Sekali keluar pada saat Ali menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Ali memasukkan penisnya ke vaginaku. Ali pun mengalami hal yang sama. Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kami melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitung-hitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah 10 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar dihisap oleh Ali hanya 3 kali. Jadi sudah 13 kali aku keluar. Sementara Ali sudah 7 kali. Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Ali bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari) ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Ali sepulang dari sekolah. "Ali, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil". "Iya Prill… syukurlah…". "Ali aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau gak..". Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Ali sambil menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan spermanya keluar yang tentunya semua aku telan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Ali memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Ali, tapi aku langsung menghisap penisnya sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Ali sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku. Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Ali langsung mengajakku ke penginapan. Inilah pengalamanku yang pertama.
Salam.

No comments:
Post a Comment