Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Sunday, 12 November 2017

Jafar sang petualang sex 3

Setelah berhasil memikat dan menikmati anak ibu kost di petualangan 1 dan istri pak RT di Petualangan 2, gejolak nafsuku semakin menggebu beriringan dengan meningkatnya kepercayaan diri dan kenekatanku. Targetku selanjutnya adalah Regina yang biasa dipanggil mbak Gina, orangnya cukup tinggi sekitar 170cm, BH 36B, badan bohay dan kulit putih, perawakannya seperti artis Sarah Azhari. Dia berusia 25 tahun serta mempunyai seorang putri bernama Nania yang baru berumur sekitar 1 tahun. Sebenarnya aku ada niat untuk pindah kost ketempat mbak Gina agar lebih mudah PDKT tapi ternyata khusus tempat kost putri. Tapi aku terus berusaha mencari tahu kebiasaan, kesukaan dan kesempatan yang mungkin bisa aku manfaatkan untuk sekedar mencicipi tubuhnya. Waktu yang aku tunggu akhirnya tiba, saat itu suami mbak Gina sedang berada diluar kota tepatnya di Lumajang untuk membangun sebuah rumah sakit dan aku pun sempat dititipi untuk menjaga atau sekedar membelikan susu anaknya.
"Far… ikut titip ya, kalau susunya habis tolong kamu belikan" Pinta Mas Yanto
"iya Mas, jangan sungkan-sungkan ya mbak, kalau butuh bantuan bilang saja, kita kan bertetangga" sambungku pada mbak Gina.
Sepeninggal Mas Yanto pergi bekerja, otomatis hanya ada seorang ibu muda dan balita yang ada di rumah maklum tempat kostnya berada diseberang jalan dan kurang dekat walaupun yang ngekost cewek-cewek. Tiga hari berlalu, segala usaha sudah aku coba untuk memancing rasa dan memantik simpatik tapi belum membuahkan hasil. Sempat aku berfikir untuk menyerah karena Mbak Gina sepertinya istri yang setia. Hingga akhirnya pada hari keempat, sekitar pukul 22:30 malam aku terbangun oleh suara tangisan Nania, aku pun langsung berlari menuju rumahnya dan mencari tahu kenapa??? Ternyata cuma terbangun karena kegerahan.
"Far tolong gendong sebentar ya, soalnya kalau ditempat tidur akan semakin kencang tangisannya, aku mau masak air sebentar untuk membuat susu" kata mbak Gina.
"Iya Mbak, sini coba aku gendong" jawabku.
Saat aku ulurkan tangan untuk menggendong tiba-tiba sarungku melorot dan jatuh ke lantai, spontan aku merasa malu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena kedua tanganku sudah menggendong Nania.
"maaf Mbak, bisa pasangkan sarungku gak???" Pintaku dengan malu, tanpa menjawab Mbak Gina memakaikan sarung itu kebadanku dari belakang, saat melipat dan menggulung bagian depan tangan mbak Gina secara tak sengaja menyenggol CDku yang didalamnya ada kontol yang tegak lurus berdiri (maklum sebelum tidur membayangkan yang hot-hot dengan mbak Gina). Sesaat tangannya berhenti seakan menyadari apa yang di senggolnya kemudian memakaikannya kembali. Kenapa aku malu ya? Ini kan bisa memancing birahinya??? Pikirku dalam hati. Sepuluh menit berlalu mbak Gina datang membawa sebotol susu tapi tak aku sangka Nania sudah tidur di pelukanku.
"Sudah tidur mbak, kasihan kalau dibangunkan lagi untuk minum susu, coba aku tidurkan di kasur ya???" Kataku.
"ya sudah coba saja, terus susunya gimana???" Mbak Gina balik bertanya.
"nanti susunya buat aku saja mbak, Heeeee tapi gak pakai botol ya?!!!"  jawabku sambil bercanda sekaligus memancingnya.
"Memang susu yang mana?!" Mbak Gina balik bertanya lagi.
Belum sempat aku menjawab, Nania kembali menangis saat tanganku aku tarik perlahan.
"mbak, kelihatannya aku gak boleh pulang ini sama Nania??? Dikira bapaknya kali ya??? Candaku
"iya kali, tapi Nia selalu nangis kalau digendong bapaknya???" Jawab mbak Gina.
Berulang kali aku coba menjauh dari Nania, tapi anehnya dia tahu kalau aku akan pergi. Akhirnya dengan terpaksa mbak Gina menyuruh aku tidur di kamarnya menemani Nia.
"tolong kamu tidur disini ya??? Biar aku tidur didepan tv saja tapi nanti waktu pulangnya jangan sampai ketahuan tetangga!" Pinta mbak Gina
"iya mbak" (Horeeeee) teriakku dalam hati
Satu jam berlalu, aku terjaga sendirian tak ada mbak Gina untuk sekedar obat kantuk, Mbak Gina dimana ya, kenapa gak ada suaranya???? Tanyaku dalam hati.
Aku pun mencari akal, aku tarik tanganku dan menggantinya dengan tangan Winnie The Pooh dan ternyata berhasil. Pelan-pelan aku langkahkan kakiku, mencari tau dimana mbak Gina tidur. Niat awalku hanya untuk sekedar dekat atau mengintip kalau-kalau ada pemandangan cantik. Dua kamar sudah aku periksa dan tidak ada, terlihat lampu kamar mandi menyala tapi kenapa pintunya terbuka??? Tanyaku penuh kebingungan. Aku terus mendekat dan mengendap-endap, hingga aku sangat terkejut melihat mbak Gina sedang martubasi memeknya dan bersabun ria tengah malam.
Spontan kontolku langsung mengeras dan nafsuku semakin menggebu-gebu melenyapkan batas malu dan ragu. Aku buka sweeter, kaos, sarung dan CDku, aku bulatkan tekad dan aku hampiri mbak Gina yang merem melek lagi martubasi memeknya sendiri.
"aku bantu ya mbak", kataku sambil memegang dan mengocok-ngocok kontolku yang panjang dengan urat dan otot yang kekar menjalar.
"mbak Gina tak berkata apa-apa, rasa malu, terkejut, takut dan nafsu bercampur dengan birahi tinggi. Aku pun langsung menyodorkan kontolku didepan mbak Gina yang sedang duduk, tepat didepan mulutnya yang berkilau terbias sinar lampu. Mbak Gina ragu, diam membisu seakan terpaku terhipnotis kontolku.
"wooooww" kata mbak Gina.
Saat mulutnya terbuka aku langsung mengarahkan kontolku ke mulutnya, aku gesek-gesekan hingga ke wajah dan leher, perlahan tangan mbak Gina memegang kontolku dan mengelusnya, mengurutnya, dan mengocoknya dengan pelan.
"OOOOHHHHH….. nikmat banget mbak, ayo terus jangan berhenti" kataku dengan nada mendesah.
Mbak Gina sangat pandai blowjob, sampai-sampai membuat kakiku gemetar karena nikmat yang teramat sangat. Sepuluh menit kemudian blowjob-nya semakin dahsyat hingga kakiku lemas dibuatnya.
"pindah ke sofa saja ya mbak???" Ajakku padanya.
"iya…. ayooo" jawabnya singkat.
Kami berjalan beriring dengan bibir saling berpagut dan berpelukan, seakan tak rela bila ada nikmat yang terlepas walau hanya sedetik saja. Sampai di sofa mbak Gina langsung mengambil posisi duduk dengan kaki mengangkang membentuk huruf "M". Aku ciumi sekujur tubuh mbak Gina, bahkan aku selingi dengan hisapan dan gigitan, dari ciuman di bibir, turun ke leher, menghisap toketnya bergantian di kiri dan kanan sambil tangan kananku membelai-belai bulu jembutnya yang yang tumbuh subur disekitar memek tembemnya.
"Hhmmmm…..aaaahhhhhmmmmm" Mbak Gina mendesah, tubuhnya bergerak tak menentu. Melihat itu aku semakin bersemangat menggelitik titik-titik G-spot-nya terutama disekitar memek tembemnya. Aku jilati bibir memeknya dan aku kocok-kocok dengan jari telunjukku.
"Aaahhh…. Ooooouughh…… heemmmmmmmmmmmmmmm" Mbak Gina semakin mendesah liar sambil menjambak rambutku.
"Far.... ayo Far…. masukan saja, aku sudah gak tahan jni" rengek Mbak Gina memohon.
"Iya…. Mbak, tahan sedikit ya" jawabku.
Sebelum aku masukkan, kontol aku gesek-gesekan bibir vaginanya.
"ayo… Far masukkan, geli banget" kata Mbak Gina memanja sambil menjepit kontolku dengan pahanya.
"Iya….. Mama Gina sayang". jawabku
aku masukkan ujung kontolku sedikit demi sedikit, tarik, dorong. pelan-pelan dan terus.
"OOOOooouuuuhhhh…..sesak banget Far, dua kali punya mas Yanto….HHMMmmmmm….."
Setelah berulang kali maju-mundur akhirnya kontolku masuk juga,Tapi belum sepenuhnya masuk. aku goyang…. goyang. …..goyang….terus dan terus.
ZLEB….ZLEEEBB……ZLEEEEEE….EEEEEEEEEEBBBBBBB BBBBB……
"ooUUUUUhhhh….. nikmat banget mama" bisikku lirih.
Memek mama Gina semakin becek dan banjir, licin dan nikmat.
"Oh….ooooouuuggghhh…..Far aku mau keluar….uuuutanuuuhhhhhhh……aaahhhhhhh"
Aku rasakan semprotan hangat dari memeknya, aku angkat kedua kakinya dan mempercepat goyanganku, semakin dalam dan terus mendalam.
Toket mama Gina bergoyang-goyang mengikuti irama hentakan kontolku.
"kontol kamu mantap banget Far, aku belum pernah merasakan yang kayak gini" kata Mama Gina dengan nafas yang terengah-engah. "Ganti posisi ya maaa, doggy style saja biar lebih mantap" ajakku, Mama Gina pun memutar tubuhnya dan menungging di sofa tanpa melepaskan kontolku dari memeknya, isyaratkan bahwa kontolku adalah miliknya. Aku masukan kontolku hingga pangkalnya dan menggenjot goyangan "…..PLAK….PLAK….PLAAAKKK…." suara becek bercampur dengan suara pahaku menghentak pantatnya.
"Aaahhhh…..ouuuhhmmmmmmmm……enak banget maaa" bisikku lembut sambil berpegangan pada kedua toketnya.
"ayo keluarkan bareng ???" Pinta mama Gina dengan manja.
"Iya mama….. ayo……. Satu…. Dua.... Tiga……
AAAAAHHHHHHHHH…..CROT….CROOOOTTT……CROOOOOO TTTTTTTTTTTTTT………
OOOOOOUUUuughhhhh…..aaaaaaaaaaaaaa" desah mama Gina merasakan puncak kenikmatan. Aku sempat panik, takut ada yang mendengar desahan mama Gina, aku tutup bibirnya dengan ciuman dan aku gulingkan tubuhnya dalam posisi tidur miring, aku gerakkan kontolku yang masih keras pelan-pelan.
Aku rasakan memeknya benar-benar penuh terisi spermaku, begitu hangat menghangatkan kebersamaan kami. "Oooohhhhh sungguh nikmat aku rasakan" entah mengapa kontolku masih begitu keras bahkan ingin terus menggoyang memek mama Gina sampai pagi.
"maa…. lanjut yuuuk???? Masih tegang ini". bisikku ke telinga mama Gina.
"sama aku juga masih pengen, tapi perutku sakit banget" rengek mama Gina.
"kontol kamu gede dan panjang banget, masih ada 4 hari sebelum Mas pulang, asal aman kita bisa mengulangnya semau kita" sambungnya dengan kata yang mesra.
Tak terasa kami ketiduran di sofa, berpelukan tanpa sehelai baju dan kontol yang masih menancap kuat di memeknya. Hingga menjelang subuh, kami dibangunkan oleh tangis Nania.
4 hari rumah mbak Gina bagaikan Surga dan kami adalah Adam dan Hawa yang sedang dimabuk cinta (terlarang) bahkan berbulan madu. bahkan dihari terakhir sebelum suaminya datang, sepulang kuliah aku langsung menghampirinya dan otak kami dipenuhi sex, sex dan sex hingga pagi menjelang. kami benar-benar hypersex yang tak pernah terpuaskan.
Tiga hari saat suaminya di rumah, aku sangat tersiksa. ada cemburu di hatiku sangat sakit dan ini dirasakan juga oleh Mbak Gina, memeknya mati rasa saat disetubuhi suaminya, hatinya menolak bahkan dia sempat berfikir sedang 'diperkosa' suaminya. Setidaknya itulah yang diceritakan mbak Gina kepadaku.
Perasaan kami sangat dalam, namun karena resiko 'selingkuh' yang terlalu tinggi karena kostku di samping rumahnya dan sudah kenal baik dengan suaminya. aku berniat mundur teratur tapi Mbak Gina menolaknya bahkan meminta suaminya untuk membujuk aku agar tinggal di kostnya gratis dengan alasan aku sudah dianggap adiknya mbak Gina. Tapi aku tetap menolaknya dan terpaksa pindah kost lagi.
Sampai aku lulus dan pulang ke kampungku.

Cerita sebelumnya Disini


No comments:

Post a Comment