Aku pun berbalik badan hingga aku tak kuasa karena di depan mataku tampak sosok gadis cantik tubuh indah dengan BH yang transparan.
Kontolku yang tiba-tiba tegang membuat aku panik penasaran, karena cewek itu memakai rok mini di atas lutut membuat
CDnya sungguh menonjol apalagi bokong yang bahenol, sesekali si cewek itu mengusap-usap bokongnya untuk merapikan posisi roknya yang agak naik keatas karena kependekkan, makin gemas aku ingin meremas bokong yang agak bulat dan sungguh indah itu.
Siapa lagi dia kalau bukan calon sekretarisku.
Sepenggal cerita panas mengenai Sekretaris yang akhirnya bisa aku salurkan hasrat sexku kepadanya.
Begini cerita awal mulanya.
Sebenarnya Aku sudah berkeluarga, tapi aku punya wanita lain yang juga sangat aku cintai. Aku sudah menganggap dia seperti istriku saja. Karena itu aku akan memanggilnya dalam cerita ini sebagai istriku. Dari obrolan selama ini, dia mengatakan bahwa dia ingin melihatku ‘bercinta’ dengan wanita lain. Akhirnya tibalah pengalaman cerita seks kami ini. Siang itu di hari Sabtu terasa panas sekali, tiupan AC mobil yang menerpa langsung ke arahku dan ‘istriku’ kalah dengan radiasi matahari yang tembus melalui kaca-kaca jendela. Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis. Seperti telah direncanakan, aku belokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tidak sempat aku mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada gadis-gadis penjual minuman. Sekilas cukup mencolok karena seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya. Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup serasi dengan warna-warni seragamnya. Dia terlalu manis untuk bekerja diterik matahari seperti ini meskipun menggunakan topi. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau dia tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika dia mengangguk, tersenyum dan menawarkan produknya. Akhirnya dengan wajah memohon dia berkata, “Buka dong kacanya” Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar. Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, “Kamu kenapa kerja seperti ini?” “Ma, kita masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia saja kita coba.” “Ya, boleh saja”, jawab istriku. “Gimana mau?” tanyaku kepada gadis itu. “Mau.. mau Mas”, katanya. Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, aku lanjutkan perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tau kalau maksudku yang utama hanyalah ingin ‘berkenalan’ dengannya. Dia sangat setuju dan sangat antusias. Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan dia akan datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat kemudian dia pun muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Dia cepat sekali akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari daerah yang sama. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Dia sudah berani menerima tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Dia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa malam itu dia tidak akan pulang.
Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini dia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat cerita dia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang dia belum begitu puas. Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin membuat photo ketika ‘bercinta’. “Sudah lah, kita sambil tiduran saja ngobrolnya”, ajak istriku. “Nih kamu pakai kimono satunya”, kata istriku sambil memberikan baju inventaris hotel. Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap akhirnya hanya menggunakan kaos dan celana dalam. Dia dan istriku sudah merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku menghampiri istriku langsung memeluknya dari atas. Aku mencumbu istriku dari mulai bibir, pipi, leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa. Tampak dia agak grogi, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya. Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang aku berikan itu, kemudian aku teruskan mencumbui istriku. Dengan telaten aku cumbu istriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah menguasai keadaan, dia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang senggamanya aku mainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan batang istimewaku. Sedangkan aku belum apa-apa. “Sekarang gantian Rin, kamu yang mainan, aku yang mengambil photo-nya”, kata istriku. “Ahhhh Mbak ini ada-ada saja”, kata Rindi malu-malu.
Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rindi yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapak tangannya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Kemudia aku raih kamera yang masih di tangan kanannya lalu aku berikan kepada istriku. Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, aku ciumi pipi dan lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan pantatnya.
Pundaknya beberapa kali bergerak merinding kegelian. Kedua tangannya kini ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Aku sedot-sedot bibir mungilnya, aku ciumi pipinya, aku gigit-gigit kecil telinganya, kemudian aku ciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Dia hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan kadang badannya bergerak-gerak karena nikmat, tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam Bra hitam yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih, bersih dengan postur badan yang cukup indah. Sejenak aku menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawannya. Sementara itu gundukan kecil di selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama keindahan. Dia tidak menolak ketika aku membuka Bra-nya, demikian juga ketika aku melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Aku teruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di bagian atasnya telah sku telusuri dan tidak ada yang terlewatkan, kini kedua bukti itu aku remas perlahan. Dia mendesah, “Eeehhh..” Tatkala aku mengenyot puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun jelas terdengar. Aku ulangi lagi cumbuanku dari mulai menciumi bibirnya, pipinya, kemudian lehernya. Kemudian aku ciumi lagi bukit-bukit indah itu, lalu aku permainkan kedua puting susunya dengan lidahku. Gerakannya semakin terasa mengiringi desahannya yang terasa sangat merdu. Petualanganku aku teruskan ke bagian bawahnya. Dia mencegah ketika aku akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa. “Mas, gak usah dibuka” ujarnya, “Aku elus-elus saja ya bagian atasnya pakai kontolku”, bujukku. Dia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Aku pegang kontolku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian aku elus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak lama dengan permainan itu, akhirnya mungkin karena dia juga penasaran, maka dia tidak menolak ketika aku lepaskan CD-nya. Kini kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa. Aku teruskan permainan kontolku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian cairan kenikmatannya pun sudah meleleh. Kontolku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih perawan agak susah juga untuk menembusnya. Ketika aku coba untuk memasukkan kontolku ke dalam lembah surganya, tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala kontolku. Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah di jamah, aku cukup sabar untuk melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul menerimanya secara alami. Gerakan, desahan, dan ekspresi wajahnya yang sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Dia sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Akhirnya kepala kontolku berhasil menembus lubang kenikmatan itu.
Aku teruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala kontolku. Dia merintih kenikmatan dan pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalau pun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya. Selanjutnya aku lihat kontol yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh kontolku ke tempatnya yang terindah. Kemudian aku rebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, aku ciumi pipinya sambil pantatku aku gerakkan naik turun. Sementara kontolku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya.
Akhirnya seluruh berat badanku aku hempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., "Blesss…." seluruh kontolku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Dia mengerang, gerakan kontolku pun segera aku hentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru. Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle. Kini dia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah surganya. "Eeehhh…" desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan ini, segera aku cabut kontolku kemudian aku muntahkan di luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehhh…" erangku juga. Kami berdua menarik nafas panjang. Setelah agak lama kemudian aku duduk, aku raih kaos dalamku kemudian aku mengelap selangkangannya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Dia pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap situasi yang telah di alaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi. Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out. Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya dia aku titipkan bekerja di perusahaan temanku.
Aku teruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala kontolku. Dia merintih kenikmatan dan pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalau pun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya. Selanjutnya aku lihat kontol yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh kontolku ke tempatnya yang terindah. Kemudian aku rebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, aku ciumi pipinya sambil pantatku aku gerakkan naik turun. Sementara kontolku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya.
Akhirnya seluruh berat badanku aku hempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., "Blesss…." seluruh kontolku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Dia mengerang, gerakan kontolku pun segera aku hentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru. Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle. Kini dia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah surganya. "Eeehhh…" desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan ini, segera aku cabut kontolku kemudian aku muntahkan di luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehhh…" erangku juga. Kami berdua menarik nafas panjang. Setelah agak lama kemudian aku duduk, aku raih kaos dalamku kemudian aku mengelap selangkangannya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Dia pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap situasi yang telah di alaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi. Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out. Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya dia aku titipkan bekerja di perusahaan temanku.

No comments:
Post a Comment