Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Sunday, 5 November 2017

Maya Sahabat Istriku

Yang ingin aku ceritakan pada adalah pengalaman ML dengan teman istriku. Pernikahan kami berdua sangat bahagia, jarang seumuran kami sudah berkeluarga. Menikah pada usia muda mungkin bukan rencana ku dan istriku.Tapi Tuhan sudah berkehendak lain inilah jalan yang harus ku lalui. Sungguh bahagia menyambut datangnya hari itu, peristiwa indah yang terukir dalam sebuah cinta. Tidak lama kemudian kami pun dikaruniai bayi mungil yang akan menambah kebahagiaan rumah tangga. Hari demi hari ku lalui tanpa terasa, anakku semakin besar dan usiaku pun juga semakin bertambah, perbedaan prinsip, ego ternyata sudah bisa kami kendalikan dan atasi hingga keluarga kami selalu terpisah dari kata bertengkar. Anak-anak sekarang sudah sekolah dan sebagai orang tua aku harus siap mendidik sedini mungkin agar kelak aku bisa menjembatani mereka agar bisa menjadi anak yang berguna dan tidak salah langkah. Tidak terasa liburan semester sudah tiba, rutinitas keluarga adalah mengajak mereka holiday. Kali ini aku aku merasakan kejadian luar biasa pada saat itu, ya Kisah ini terjadi beberapa bulan berselang saat kami sedang berada di kota Solo kota kelahiran istriku, kebetulan kami mempunyai rumah disana dan saat itu liburan anak sekolah.
Sudah 2 hari kami berada di kota, hampir seluruh sudut kota kami jelajahi dan anak anak juga sangat senang menikmati liburannya dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata di kota itu. Saat itu kami sedang berada disebuah mall ketika sebuah suara terdengar “Hey……, apa kabar ..? seorang wanita berusia sedikit di atas istriku tiba tiba setengah berteriak menegur Yani,
“Eh.., May….apa kabar..” jawab istriku yang langsung menghampiri wanita itu dan mereka berpelukan.
“Pak… ingat kan.. ini Maya….” kata istriku
“Tentu saja aku ingat… apa kabar..? “tanyaku
Maya adalah sahabat istriku saat masih kerja di solo…, wajahnya khas jawa, tidak terlalu cantik, kulitnya sedikit gelap tapi bersih, terakhir kami bertemu 5 tahun lalu di suatu pesta di Kota itu, ketika itu ia datang dengan tunangannya.
Keduanya lalu ngobrol entah apa yang dibicarakan namun tampak mereka bicara tak putus-putus, bahkan istriku nampaknya lupa kalau ia sedang belanja, dan aku pun melangkah meninggalkan mereka dan menggandeng anakku meneruskan belanja kami, Aku biarkan istriku melepas kerinduan dengan sahabatnya.
Sesaat kemudian keduanya menghampiriku dan Maya pamit mau pulang.
“Kasihan… dia tidak jadi menikah” kata istriku di mobil.
“Lho... kenapa…? tanyaku” calon suaminya kawin dengan wanita lain, dan dia pengin sendiri, dia menganggap lelaki sama habis manis sepah dibuang” panjang lebar istriku menjelaskan.
“Lalu…, apa hubungan mereka sudah jauh?” tanyaku lagi.
“Ya sudah dan menjelang lamaran lelakinya pergi dengan wanita lain, sementara Maya sudah menyerahkan kehormatannya untung saja tidak sampai hamil,… Maya sekarang bekerja di perusahaan lain untuk meninggalkan masa lalunya, memang banyak yang pengin memperistrinya tapi dia masih trauma” jelas Yani.
Percakapan berhenti sampai disitu karena anak anak mulai cerewet minta makan dan kami pun berhenti di sebuah restoran yang sejak dulu menjadi langganan kami.
“Pak... Maya aku minta kesini ya…, sebelum kita pulang, biar dia nginep disini…” istriku membuka percakapan sore itu ketika kami sedang santai di teras rumah kami yang terletak agak di bagian pinggir kota.
“Boleh” jawabku dan sungguh saat itu tidak ada satupun pemikiran yang aneh-aneh melintas di benakku, aku sedang melepas semua pikiran tentang pekerjaan dan benar benar bersantai, lagi pula anak anak juga tidak mau tinggal diam selalu ribut tidak karuan.
Yani mengambil HP nya, setengah jam dia ngobrol dengan sahabatnya itu, dan menjelang pukul 8 malam, ketika kami baru saja menyelesaikan makan malam kami, suara motor memasuki halaman.
“Hai…..” sapa Maya ketika kami menyambutnya, malam itu dia tampak segar dengan celana panjang yang mencetak bentuk pantatnya dan atasan pakai jaket, namun sampai saat itu kembali aku belum memikirkan nafsu sama sekali.
Istriku segera menarik tangan Maya dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
Kebetulan rumah kami agak besar dan masih memiliki sebuah kamar yang tidak terpakai, Malam itu aku masuk kamar duluan, setelah anak anak tertidur, sementara istriku masih asyik ngobrol dengan sahabatnya, dan tak lama kemudian aku terlelap.
Rasa hangat dan geli yang nikmat menyadarkan ku, dan aku tahu kalau mulut istriku sudah mengulum batang kemaluanku yang segera berdiri walau aku sendiri masih setengah sadar, entah kapan celanaku sudah turun sampai ke lutut aku benar benar tak tahu.
Sesaat kemudian tanpa melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, celanaku sudah terlepas seluruhnya, dan menyusul baju lainnya.
Setelah saling mencumbu, menjilat dan bergumul, akhirnya dengan posisi di atas Yani memasukan batang kemaluanku kedalam vaginanya yang hangat itu dan mulai bergoyang, mula-mula perlahan semakin lama semakin cepat, sementara mulutnya mendesis seperti orang kepedasan.
“Srrrt…” aku tak tahan lagi dan melepaskan air maniku duluan dalam vagina istriku yang masih terus bergoyang mengejar puncak kenikmatannya, dan akhirnya beberapa puluh detik kemudian istriku melenguh dan mendesis desis ketika ia menggapai klimax-nya, untung… pikirku, karena kalau telat sedikit saja kemaluanku sudah melemas dan bisa pusing dia kalau tidak berhasil mencapai klimax-nya.
Tubuh istriku ambruk di atas tubuhku, dan…plooop….. kemaluanku terlepas dengan sendirinya, kami berciuman dan saling memeluk, Ya…walaupun banyak acara kami namun setiap kali berhubungan sex. kami sangat puas dan nilai keintiman yang ada diantara kami kalau sedang berdua.
Kami tidak banyak bercakap malam itu, capek setelah seharian berputar putar dan belanja serta nikmatnya sex yang baru saja kami rasakan membuat kami segera terlelap dalam selimut berpelukan telanjang bulat.
Pagi pagi aku sudah terjaga…, melihat istriku masih tidur... aku lalu mengenakan celana pendek dan kaos oblong, masuk kamar mandi yang ada didalam kamar, cuci muka lalu keluar keruang makan mencari kopi.
Saat melintas dapur aku lihat Maya sedang asyik mengaduk kopi di gelas dan ketika melihatku Maya tersenyum.
Maya hanya mengenakan celana pendek dan kaos ketat sehingga buah dadanya yang montok itu membayang jelas, masih pagi, baru bangun melihat pemandangan seperti itu langsung saja ‘adik kecil’ di selangkangan berontak keras.
“Mas kopinya suka manis ?” tanya Maya
“Lho kenapa masa kamu yang bikin?” tanyaku
“Jangan terlalu manis nanti bisa diabetes” jawabku, hampir saja aku lanjutkan, kalau diabetes bisa impoten rugi. tapi kembali aku jaga lidahku.
Siang itu aku bersantai dikamar sementara istriku dan Maya asyik memasak, anak-anakku juga asyik dengan urusan mereka masing-masing di kamarnya.
“Hey….makanan sudah siap.” teriak istriku di suasana yang nyaman sungguh membuat kami lapar.
Mataku sempat menelusuri tubuh Maya yang tampak sibuk mengambilkan nasi, menyiapkan lauk pauk dan dengan kaos ketat, celana pendek yang dikenakannya mencetak bentuk tubuhnya, sesungguhnya wanita ini menarik, berusia menjelang 35, wajahnya biasa saja tidak terlalu cantik, tubuhnya juga masih kencang apalagi payudaranya kelihatan padat berisi lebih besar dibanding milik Yani. Namum kulitnya sedikit agak gelap dibanding istriku tapi bersih, dari wajah serta penampilannya serta cara bicaranya terlihat jelas kalau dia bukan perempuan gatal, dan yang agak mengganggu pemikiran ku adalah lama memeknya tidak dipakai. Jangan-jangan sudah rapat kembali.
Pepes ikan Mas, sayur asam, sambal dan ayam goreng yang nikmat dalam waktu singkat bersih tandas dan beberapa saat kemudian aku ada acara ketemu teman lama sampai sore entah apa yang diperbuat istriku, sahabatnya dan anak anak sudah tidak aku pedulikan lagi.
Setelah mandi sore kami menyempatkan diri pergi ke pasar dekat rumah, beli jagung bakar, makan malam dan menjelang jam 8.00 malam kami sudah kembali ke rumah. Anak-anak langsung masuk kamar dan sesaat kemudian suasana sudah sepi.
Aku sedang membaca dikamar ketika istriku masuk dan duduk disampingku, dengan wajah yang berbinar-binar ia berkata
“Menurut papa, Maya bagaimana...?” tanyanya tiba tiba.
“Bagaimana apanya…” berbalik tanya.
“Ahhh mama melihat papa memperhatikan Maya, waktu makan siang tadi, …minat….?” lanjut istriku
“Mmmmm bukan begitu” lalu aku sampaikan isi pemikiranku siang tadi dan istriku mencubit ku “berartikan mau ? lubangnya masih ada atau nggak..? jawab Yani.
“Mmmm……….tapi kan dia teman mama dan masih trauma terhadap lelaki nanti malah semakin parah” jawabku.
“mau gak mama rela, hitung-hitung menyenangkan suami yang setia masak kontol sekuat ini tidak untuk berbagi” kata istriku sambil memijit kontolku dari luar”.
Benar ma, aku kan belum pernah ngentot sama wanita lain, jangan-jangan mama pengin mencoba papa” kataku.
“sudah pokoknya papa menurut saja. gak rugi” lalu sambil mencium pipiku ia beranjak keluar kamar.
Aku mencoba kembali ke bacaan ku, namun konsentrasi ku sudah buyar.
Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamar terbuka dan masuklah istriku serta Maya yang sudah berganti pakaian dengan daster, wajahnya tampak segar dengan rambut diikat kebelakang sementara dadanya tampak menggantung lepas, sayang daster batik yang dikenakannya agak tebal sehingga tidak ada bayangan yang timbul.
“Ngobrol disini saja ya May…, Pa boleh kan May ngobrol dulu disini ..?,”
“Walau awalnya agak canggung namun sebentar saja pembicaraan kami sudah relax, Yani duduk disisiku dan kami duduk di ranjang bersandar santai, sementara Maya duduk diujung ranjang. kami ngobrol segala hal sampai suatu saat istriku bertanya. (aku yakin dia sudah bertanya sebelumnya tapi diulangi lagi untuk ku),
“May kalau boleh tahu, kamu kan sudah pernah ML sama mantan mu. nah kalau ‘kepingin ML lagi, bagaimana kamu mengatasinya…? tanpa tedeng aling-aling Yani bertanya yang membuat wajah Maya merah bagai kepiting rebus.
“Ya… begitu deh enakan sendiri tidak beresiko, sudah ah malu sama suamimu, kenapa tanyain yang begituan sih…….” jawab Maya tersipu.
Tiba tiba Yani bangkit, lalu mengambil laptop yang biasa aku gunakan, meletakkannya dipangkuannya dan menyalakannya serta memanggil Maya mendekat.
Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukan istriku, sekejap kemudian terdengar suara Maya berteriak kecil…”Ihhh…gila ya kamu……..” sambil melirik ke arahku.
Berkali kali terdengar jerit tertahan Maya saat melihat apa yang tersaji di laptop ku, ya..kumpulan gambar photo koleksi pribadi kami ketika sedang ngentot.
“Sebentar ya…” kata Yani yang lalu beranjak ke kamar mandi Maya tidak menjawab namun matanya terus menatap layar laptop dengan wajah yang berubah-ubah antara percaya dan tidak antara ingin tahu dan tertarik. Dia masih asyik men-scroll gambar gambar itu tanpa peduli aku disitu.
Yani yang sudah kembali duduk di dekatku. tangannya langsung menyusup kedalam celana pendek yang aku kenakan. "papa kita bikin pertunjukan untuk Maya" bisik yani di telingaku. Aku hanya ikut antara nafsu dan kecemasan.
Istriku lalu merangkul leherku, mencium bibirku, lidah kami saling bertautan dan tangannya dengan nakal memainkan kemaluanku yang masih tersimpan didalam celana pendek yang aku kenakan beberapa saat kemudian celana yang aku kenakan sudah terlepas.
Ketika Maya menengok dia terpana karena saat itu istriku sedang asyik menjilat dan menghisap batang kemaluanku dan ketika istriku melihat bahwa sahabatnya memperhatikannya dia menghentikan gerakannya dan memberi tanda agar mendekat.
“kesini tak lihatin barang aslinya, gak usah malu aku rela” kata Yani.
Dengan ragu tapi kelihatan nafsu dan entah sadar atau tidak Maya mendekati kami duduk di samping tempat tidur.
Tiba –tiba istriku menarik tangan Maya dan meletakkannya di batang kemaluanku yang sudah mengeras.
Tangan yang terasa dingin bertemu dengan batang kemaluan yang sangat panas memberikan sensasi padaku dan benar seperti kata istriku.
Maya sudah terlalu lama tidak menyentuh laki-laki, sesaat kemudian dua mulut mungil menjadikan batang kemaluanku sebagai "mainan", saat Maya menghisap kepala kemaluanku istriku menjilati bijinya dan begitu bolak balik.
Aku julurkan tanganku, kutarik Maya agar merayap keatas dan sesaat kemudian bibirnya sudah bertautan dengan bibirku.
Ketika dasternya aku lepas buah dadanya terpampang jelas puting susunya lebih besar dari istriku merah agak kehitaman lebih montok dan padat mungkin karena jarang dipakai.
Mulutku melumat puting susu yang sudah mengeras itu dan tanganku menyusup ke bawah pusarnya terasa selangkangan yang lembab agak basah dengan bulu-bulu yang cukup lebat.
Istriku yang mengerti apa yang aku inginkan, menghentikan gerakannya menjilati kemaluanku lalu memberi kesempatan padaku untuk mengubah posisi.
Aku baringkan Maya terlentang dan aku cium bibirnya lalu perlahan jilatanku merambat turun ke lehernya, pundaknya dan buah dadanya ganti berganti aku jilat dan hisap putingnya sementara dia hanya memejamkan matanya dan mengerang lirih.
Lidahku turun terus kebawah dan ketika sampai di perutnya dia mulai menggelinjang, aku ambil bantal, aku minta dia mengganjal pinggulnya dan kini aku mulai konsentrasi pada vagina yang merekah membasah itu.
Dengan kedua tanganku. Aku sibak bulu-bulu di area itu aku buka vaginanya dan lidahku mulai menari-nari di klitoris-nya, sesekali menerobos masuk dan kembali menjilat, menghisap dan menjilat.
Yani yang rupanya tidak tahan dari belakang juga ‘menyerangku'.
“Ssshh…..aduh….sudah gak tahan……” sesekali kepalaku dijepitnya dengan pahanya dan aku mengerti, sudah terlalu lama dia ‘haus sex’, maka ketika aku menyudahi permainan lidahku dan merayap naik keatas tubuhnya dengan serta merta tangannya menyambut dan memelukku, dan setelah batang kemaluanku terarah tepat dengan perlahan mulai aku benamkan, Maya mengerang, membuka pahanya semakin lebar, setelah kepala kemaluanku masuk dengan satu hentakan yang diiringi desahan keras dari wanita ini aku benamkan batang kemaluanku hingga habis.
”aduh...sakit” teriak Maya tapi tanpa mau melepaskan vaginanya terasa rapat seperti perawan lagi.
Aku biarkan sesaat kemaluanku terendam dalam vagina yang sangat hangat namun ‘legit’ itu, memang kelebihan wanita jawa umumnya bisa membuat vaginanya enak tidak kering agak basah sedikit..? dan baru kemudian aku tarik sedikit lalu aku benamkan lagi, demikian berulang-ulang.
Sementara Maya memeluk dan kakinya bahkan melingkari pinggangku.
Tiba-tiba aku rasakan sensasi lain.
Ooohhh……. Ternyata istriku mengusap dan memegangi bijiku saat batang kemaluanku bergerak memompa naik turun di vagina Maya, bahkan sesaat kemudian bukan lagi usapan yang aku rasakan namun jilatan, gila rasa nikmat yang luar biasa menyerangku, batang kemaluanku terbenam dijepit kemaluan Maya dan lidah Yani menjilati bijiku. Sesekali kontolku terjilat saat tertarik keluar.
Aku tahu kalau begini terus tidak lama lagi pasti tumbang, maka, aku merubah posisi, tanpa melepaskan batang kemaluanku dari vaginanya , ku balik posisi hingga Maya kini diatasku, kini aku punya ‘mainan tambahan’, buah dada yang bergoyang dan mengayun diatasku dengan leluasa aku remas, sesekali putingnya aku hisap, disisi lain istriku juga jadi lebih leluasa ‘menggarap’ kemaluan ku yang sedang menyatu dalam vagina sahabatnya itu.
Maya mulai bergerak teratur, mungkin terlalu lama tidak merasakan kemaluan laki-laki membuatnya tidak tahan terlalu lama, dia naik turun diatasku dengan teratur semakin lama semakin cepat.
kemaluannya mulai menghangat dan aku ‘membantunya’ dengan menghisap puting susunya dan akhirnya dengan satu teriakan tertahan dia melemparkan kepalanya kebelakang. mencengkeram pundakku dan mendesah lirih” Ahhhh….........ssssssss…………….hhh……………..ah…….aduh….. keluar………..” lalu ia ambruk di atas dadaku.
Aku cium bibirnya dan dengan perlahan dia aku rebahkan kesamping, sesungguhnya aku yakin kalau aku teruskan sedikit lagi dia masih bisa menggapai satu klimax lagi walau tidak sedahsyat yang barusan, namun aku juga tahu kalau istriku sudah menanti.
Aku suruh Yani menungging dan dari belakang batang kemaluanku yang masih basah kuyup dangan lendir Maya menerobos memasuki lubang vagina istriku yang juga sudah basah.
Kami sudah mengenal satu sama lain dengan sangat baik. maka irama yang berkembang sudah dalam kontrol kami dan karena desakan di bijiku sudah sedemikian mendesak. Aku beri tanda pada Yani untuk meningkatkan ‘speed’ dan akhirnya…srrrrt…..creeet………. air maniku menyembur deras mengisi vagina istriku sementara istriku juga mencapai klimax pada saat yang sama dan mendesah desah keras.
Cukup lama kami terdiam dan berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang, ganti berganti kedua wanita itu mencium bibirku dan tangan mereka mengelus serta mengusap-usap kemaluanku yang masih basah itu, namun juga masih susut.
“gimana May, enak masturbasi apa yang nyata” Tanya yani
“enak banget Yan, belum pernah sepuas ini, gak takut kalau aku ketagihan suamimu” kata Maya.
”gimana pa... Maya” tanya istriku.
”kaya perawan memek Maya sempit banget” kataku.
Belum terlalu rasanya beristirahat Msya sudah mulai memainkan kembali mulutnya di selangkanganku sementara Yani berjongkok di atas wajahku dan lidahku langsung saja menerobos masuk ke lubang vaginanya, vagina istriku walau sudah sering aku nikmati namun tetap terawat dan terasa nikmat. juga klitorisnya masih tetap mungil kemerahan, sekitar lima menit kami dalam posisi itu sebelum berbalik. kini kembali aku di atas Maya yang dengan melebarkan kakinya menerima kemaluanku dan Yani memelukku dari belakang menjilati leher dan belakang telingaku. Kadang lidahnya turun ke bawah hingga ke belahan pantatku.
Aku menggenjot Maya yang terlentang dibawah tubuhku dengan teratur dan pada irama yang tetap, bibir kami saling bertemu dalam ciuman yang panas, istriku mengelus dan mengusap-usap bijiku yang memberikan sensasi nikmat dan seperti tadi. Maya yang masih haus itu kembali mencapai klimax duluan”  Mas……….ah……. cepat …. cepat .... . Aduh………… enak ....hhhhhh………” dan setelah seluruh tubuhnya menegang dia tergolek lemas, aku berhenti sebentar tanpa mencabut kemaluanku yang masih terbenam dalam vagina yang berdenyut denyut itu. Dan semenit kemudian mulai lagi aku gerakan maju mundur secara teratur….” Ouhhhhh………. geli ….ahhh…….. aduh”. Maya merintih dan mendesah…. namun aku meneruskan gerakan ku dengan cepat mengejar ejakulasi kedua yang ingin aku gapai…dan “Aduh……. keluar… lagi…… ah……” dan istriku juga semakin giat mengusap dan meremas bijiku dan ketika aku merasa tak tahan lagi…… aku cabut kemaluanku dari vagina Maya dan istriku segera membuka mulutnya menerima kemaluanku yang basah penuh lendir itu.
Tidak sampai dua menit, aku setengah menjambak rambutnya menembakan air maniku dalam mulut Yani yang tanpa ragu langsung menelannya.
Setelah melemas, kemaluanku dilepas dari mulutnya namun bukan berarti berhenti karena lidahnya masih terus menjilati hingga batang kemaluanku bersih dari cairan.
Sekali ini aku perlu waktu setengah jam untuk dapat ‘bangkit’ kembali dan setengah jam lebih dikocok dalam vagina Yani untuk kemudian melepaskan isinya yang sudah semakin sedikit dalam vagina yang sejak awal ‘belum sempat diisi’ air maniku.
Entah jam berapa Maya kembali ke kamarnya karena saat aku berada dalam pelukannya dengan wajahku terbenam diantara buah dadanya, aku terlelap.
Saat terjaga paginya aku diberi ciuman yang amat manis dari istriku, sambil berbisik ”Maya bilang terima kasih, punya papa jauh lebih enak dari mantannya dulu katanya” aku hanya tersenyum karena benar-benar merasa ‘habis’, terkuras energi dan air maniku.
Pagi hari kita sarapan bersama, seolah –olah tidak terjadi apa-apa semalam. Kata istriku hari ini dia diajak ke pantai bareng saudaraku, anak-anak menyambutnya penuh ceria, aku bilang pengin istirahat. Maya pamit pulang karena harus masuk kerja. Istriku dan anak-anak sudah berangkat ke Jogja mungkin sampai malam karena mau ke malioboro. Aku langsung tidur sampai jam 11 aku mandi lagi biar segar. Selesai mandi ada yang mengetuk pintu. Aku lihat ternyata Maya…. ngapain dia kembali ?
Lanjut gak ni........!!!!!!!
Cerita lainnya Disini


No comments:

Post a Comment