Gabung Fasapay

FasaPay Online Payment System

Wednesday, 29 November 2017

Tetangga yang haus sex

Panggil saja aku Robert. Aku bisa dibilang sukses sebagai perantau di Jakarta, umurku 28 tahun, aku punya pekerjaan dan income yang stabil, cicilan mobilku sudah lunas dan aku tinggal di apartemen daerah Taman sari sendirian, lumayan kesepian. Dulu mungkin cewek-cewek pacarku sering tinggal di apartemenku. Namun kali ini aku lagi gak punya pacar alias jomblo.
Yang ingin aku ceritakan adalah pengalamanku dengan tetangga sebelah apartemenku, dia seorang wanita dewasa mungkin umurnya 35 tahunan. Namanya Gea Silvia, namun aku sering memanggil dia tante saja. Yang bikin aku takjub dari wanita-wanita umur segini selain si tante adalah mereka dalam masa dewasa-dewasanya. Mature dalam hal, berpakaian simple namun masih memancarkan aura keseksian tanpa berperilaku norak untuk memancing perhatian seperti ABG. Atau ini memang kelainanku yang lebih suka wanita dewasa. Aku dan tante sebenarnya sudah cukup akrab. Setiap pagi aku sering satu lift bareng menuju lobby. Yang aku tahu, Tante ini punya toko DvD di Glodok hasil patungan dia dengan keponakannya. Aku pun sering bertemu dengan dia setiap kali berenang rutin hari Sabtu pagi. Namun begitu saja. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan kami itu. Saat aku lagi fresh-freshnya putus dengan pacar, tiba-tiba pertemuanku dengan si tante lebih sering, bahkan terlalu sering seperti bukan kebetulan seperti tiba-tiba ketemu di minimarket dibawah lalu aku naik ke atas bareng, atau tiba-tiba parkirannya bersebelahan. Kepedeanku merasa tante ini mengikuti aku. Dari kedekatan kami ini, aku ambil kesempatan saja dengan meminta pin BBM-nya. Tante dengan senang hati memberikannya "aku pikir kamu gak bakalan minta Bert, hampir aku yang minta duluan" ujarnya menggodaku. Semenjak itu kami mulai bbm-an dari yang hanya pura-pura saling bertanya apakah berenang atau tidak hari sabtu, atau aku tanya DvD film apa saja yang sudah ori. Lama kelamaan chat kami semakin intim. Tante menanyakan kemana pacarku. "Aku kok gak pernah lihat pacar kamu ya? biasanya kalian berenang bareng?" Tanyanya. “Sudah putus dari kapan tau tante" jawabku. "Oooo… ceritakan dong ke tante", 
"Tante ini kepo juga, hahahaha" tante membalasku dengan emoticon *not interested* dan icon *:P* "Hehehehe, iya Tan, makin ke sini makin gak cocok sama dia, kerjanya marah-marah melulu, cemburu ini itu, dianya kelewat manja, minta jemput kesana-kesini, dikira saya gak kerja kali ya, sekali-kali okelah, lha ini hampir tiap hari minta dijemput. Egoislah, masih ABG sih maklum". "Lah memang dia umurnya berapa Bert?". "berapa ya, baru semester II dia". "ooo dasar om-om nyarinya ABG-ABG" Monyet nih si Tante bilang gue Om-om, "Daripada Tante" aku hentikan ketikanku, aku gak tau latar belakang si Tante ini apakah sudah punya pacar, kalau gak kenapa sendiri dll. "Ehh ngomong-ngomong Tante tinggal sendirian saja?", "Iya, kenapa? Kamu mau menemani" wah? agresif juga nih, dipancing sedikit kesambar. "Lah kan sudah ditemani terus Tan, tapi cuma terpisah tembok saja". dari chatting-an kami, aku jadi tau Tante ini gak mau pacaran karena dulu pernah dikecewakan. Yah standar lah cewek kecewa sama cowok. Akhirnya sekarang Tante lebih memilih hidup liberal, menerima siapa aja yang datang kehatinya tanpa ikatan. Hari demi hari, chatting kami semakin intim, kami jadi sering berenang bareng. Dan saat berenang ini kesempatanku untuk memanjakan mataku dengan memandangi tubuh tante di balut pakaian renang. Pakaian renang yang Tante pakai gak seberapa seksi, malah aku pikir sangat sopan karena model baju senam yang menutupi hingga paha. Hingga suatu saat "Bert cerita dong kamu sudah ngapain saja sama pacar kamu", "ahh gak ngapa-ngapain kok tante, kami saling menjaga", "Heuuuu bohong amat, dikira gak kedengeran tiap malam kalian berdua kayak gimana?" Wah aku gak memperhatikan kalau ternyata permainanku dengan mantanku sampai terdengar ke kamar Tante. "Hah?" belum selesai aku ketik Tante membalas "Kamu putus kan sudah lama Bert, kalau tidak salah sudah hampir 2 bulan. Memang tahan gak begituan?", "Begituan gimana nih Tan, aku gak mengerti". "Robert nih ya, aku delete pin BBM-nya nih sekali lagi ngeles".  "ehhh, iya iya. Ya gimana Tante kepengen sih, cuma mau sama siapa? mau pakai pelacur takut kena penyakit. Minta jatah mantan gak mungkin banget gengsi hahahaha". Aku tekan enter dan menambahkan ketikanku. "Barangkali tante mau bantu” Chat bbm berubah dari centang menjadi *d* menjadi *r* artinya bbmku sudah kebaca sama Tante. Tapi lama aku menunggu, Tante gak balas BBM ku. Duh, bego banget, tersinggung deh si Tante. 15 menit berasa 5 jam menunggu balasan Tante. Apa aku samperin saja ya ke kamar Tante minta maaf. "TINUNG" bunyi tanda bbm masuk menyalak dari BBku. Ahhhh! Tante membalas. "Saling bantu lah Bert, aku begini juga butuh, kita sama-sama manusia" begitu bunyi bbm si Tante di ikuti dengan emoticon kiss. "Beneran Tante?" aku setengah tidak percaya, tidak menyangka sebentar lagi akan bercinta dengan sang Tante. "Enak nih mumpung masih terang, kamu ke kamarku ya Bert, 15 menit lagi, aku mau rapikan dulu". "Oke tan, btw aku request boleh?" "Apa say?" "Tante gak usah make up ya" "Sure beb" "Haiiiii….." begitulah Tante menyambut aku sambil membuka pintu setelah aku mengetuk 2x. Tante hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu. Sore itu sang tante terlihat fresh karena baru saja selesai mandi, tidak ada make up yang menempel di wajahnya sesuai permintaanku. Sang tante menggunakan lingerie warna hijau transparan. Dari pandangan mata elang ini, terlihat tante gak pakai daleman. Makanya pas buka pintu dia sembunyi di belakang pintu terus. Tanganku ditarik masuk lalu cipika-cipiki, aku sosor saja karena gak tahan dengan wangi nafas tante, sepertinya baru saja sikat gigi. "Eiittttsss…. sabar" "Maaf tan, habis tante bikin nafsu banget". Aku meletakkan BB dan kunci kamarku di meja dapur kamar tante. "Maaf Tan, aku gak sopan, datang cuma begini saja", Aku menunjuk ke pakaianku. Karena aku pikir hanya sebelah kamar jadi aku gak ganti baju, lagian ke kamar Tante mau ngentot, ngapain rapi-rapi Pakaian kebangsaan yang aku pakai tiap ML, kaos oblong dan celana gombrong tanpa CD. "Gak apa-apa, nanti Tante bongkar juga kan?" Tante sepikiran sama aku ternyata. Sang tante mengajakku ngobrol dulu di sofanya sambil nonton CNBC. Ha? CNBC? iya, saat itu beritanya lagi tentang Bom Boston yang baru-baru saja terjadi. Sang tante tanya-tanya soal ini itu, teori konspirasi, doktrin agama, sampai CIA/FBI. Sepertinya ini macam ice breaking sekalian mungkin mengetes intelektual sang tamu (aku sendiri) ini sejauh mana hahahaha aneh…. Ngobrol lumayan lama kami pun mulai bergumul, kali ini gak ada *entah siapa yang memulai* karena waktu itu aku duluan yang menyosor Tante. Kami ciuman hebat, tante selalu french kiss hot sekali, tapi sebenarnya aku gak suka, aku tenangkan tante untuk berciuman romantis. "Tangan kamu sopan ya" tante mengkomentari tanganku yang masih melingkar di belakang punggung tante, mendekap erat jangan sampai tumpah eh lepas. "kenapa tan? Sudah mau di raba-raba memangnya?" "Euh kamu…. bahasanya please deh, di-sti-mu-la-si!" sambil tersenyum. Aku rebahkan badan tante membelakangiku sambil aku tetap menciumi pundak, tengkuk dan kuping tante, tanpa basahan tentunya. Aku baru saja tau kalau wanita tetap saja mau diperlakukan halus, mau bagaimana pun latar belakang dia. "SSaaaaayyyyy…." tanganku mulai mengelus-elus perutnya. Perutnya tante ini gak buncit tapi gak kencang. Pas lah. Sesekali aku menyenggol toket tante yang ukurannya besar sekali. Benar-benar besar!!! mungkin ini 38C, meskipun putingnya tidak pink lagi namun tidak lebar. Sungguh seksi sekali. Puting tante sudah mengeras, aku main-mainkan seperti tombol switch on/off gitar lembek. Tante mulai mengerang dan badannya mulai belingsatan. Kedua tanganku menjamah kedua semangka lembek raksasa. Sambil menikmati kecupan demi kecupan di pundak punggung dan tengkuk, tante mulai terlihat tidak tahan, tangan kiriku pun mulai turun ke bawah, Aku pernah lihat video di youtube, cara terbaik merangsang vagina wanita bukanlah langung di colok tapi dibuat geli area sekitarnya dahulu (entahlah suhu-suhu lebih tau nih hehehe) Woooooow…. begitu tanganku sampai di memeknya, ternyata liang surganya lagi banjir, ohhh Pak presiden harus turun tangan nih, mencari tau banjirnya dari mana ahahahahaha…. setelah merangsang sebentar, aku masukkan satu jariku kedalam memek si Tante. Terasa sentakan di tubuh tante saat jari telunjukku masuk ke dalam.
"HHhhhhhhhhhh……… kamu iiiiihhhhh….." "Beeeeeebbb……." lah dia memanggil aku beb?? aku merasa di atas angin setiap kali bisa membuat seorang wanita tak berdaya (bukankah kita semua begitu ya?). "BBBbbbeeeeebbbbb…… jari kamu pinter amat….." "Hhhhhhhhhhh… kamu, aku lupa nama kamu", waduh..!!! sempat-sempatnya tanya nama. Aku lanjutkan lagi sodokan dengan jari telunjuk ini. Terasa badan tante mulai meronta-ronta. Perlu diketahui, sang tante ini ukurannya gak kurus, tinggi tante ini hampir setelingaku, dan beratnya mungkin antara 69-75kg jika di telaah dari beban yang diterima badanku ini. Tubuh tante makin mengejang hebat, dia berteriak "ML-in aku… ML-in aku….." aku makin semangat meremas buah dadanya dan mengobel memeknya. Terasa tante mau beranjak merubah posisi, aku dengan sigap memindahkan tanganku dari toket kanan tante ke toket kiri tante (ingat aku posisinya di belakangi tante dan kami pangkuan di sofa). Dengan posisi begitu, otomatis tanganku menahan badan tante dan tante makin mengerang mencoba keluar dari kuncianku. Tiba-tiba tangan tante mencakar tanganku yang sedang meremas toket ini. SSSSssssoooooooooooooorrrrrr……. si tante squirt, cairan hangat merembes dari lingerie tante, turun perlahan membasahai paha tante dan juga tanganku, untungnya sofa tante dari bahan kulit sintetis jadinya gak merembes. lantai kayu apartemen tante langsung becek. Nafas tante yang tadinya memburu mulai mereda tenang namun mukanya merah padam. Lalu berselang beberapa menit, tante merebut tangan kananku dan tante menarik badanku. Aku terjatuh diatas becekan squirtan tante, punggung kaos dalamku becek. tante menyusul menjatuhkan badannya ke atas badanku. Sepintas kami bergulat untuk mendapatkan posisi di atas satu sama lainnya. Namun aku seperti naluriah membiarkan tante menguasai badanku. Kami bergumul dan berguling-guling menjauhi becekan dan melanjutkan aksi kami di karpet bulu di lantai tidak jauh dari sofa, menghindari cairan squirt-an tante,* tante masih menyerangku dengan meniban badanku, menciumiku dengan brutal "tan… mmmm….pelan-pelan saja… mmmm" french kiss super sange. Aku baru sekali ini bercinta, bahkan belum sampai ML sudah begini sangenya. Sepertinya tante tidak mau mendengarkan permintaanku. Kami berciuman hebat, kontolku sudah mengeras sekali dan menggesek-gesekan ke celana lingerie tante. Tante makin menggila, dia rebut kontolku dengan tangan kanannya dan di kocok-kocok sambil masih menciumi bibirku. Aku pun tak kalah sigap, aku coblos memek Tante dengan jari telunjuk. "AAAkkkkkkhhhhhhhhhh….. Bangsat!!!" PLAKKKK!!!!! OMG kenapa ini gue di gampar tante. "Lakukan lagi !!! Lakukan lagi !!!” wah ada potensi BDSM sepertinya. Lalu sambil masih menindih badanku seperti tidak mau melepaskan badanku, Tante memutar balikkan badannya, dan slubb !!! tiba-tiba mulutnya sudah ada di kontolku… dan sebagai balasannya, saya dihidangkan lembah gelap yang indah, aku jilati saja sampai tante mulai mengerang-ngerang. kurang lebih dari sejak perciuman kamu di sofa hingga posisi 69 ini sudah hampir lebih dari setengah jam. Tante mungkin mulai heran (dan takjub I don’t know) kenapa aku belum crot juga. "Kamu…. belum mau keluar???". "Belum tant…" belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tante squirt untuk yang kedua kalinya, menyemprot tepat di mukaku. Aku gak tau squirt ini cairan apa, katanya yang pasti bukan cairan kencing. Lagipula aku lagi sange di ubun-ubun begini gak menolak lah. "HHhhhhhhhhhh…. gila… permainan kamu hhhh.... hhhh hebat yah hhh hhhhhh aku mau kontol kamu sayyyyyy mmmm mmmmm" ujar sang tante sambil lanjut menyepong kontolku. "Aku sudah masukkan saja ya tant, tapi gak enak ni masa di lantai?" tante beranjak dari tubuhku sambil tetap menyepong kontolku. Aku dengan susah payah berdiri dan tante pun berlutut melanjutkan emutannya. "Taaaannn…. katanya mau dimasukkan?" aku yang tak tahan di sepong mulai blingsatan seperti mau crot. Tante mungkin melihat aku seperti mau crot, akhirnya melepaskan sepongannya dan secepat kilat menyambar bibirku, kami berdua bercumbu kembali. Cumbuan ini hebat sekali, seperti si tante ini benar-benar lagi mengeluarkan pusing di kepalanya. Kami berciuman sambil berdiri, tante berujar "Ke kamar saja yuk" sambil menarik badanku yang erat menempel dengannya. Dibukakan pintu kamar dia dengan posisi kami berjalan sambil berciuman. Terbukalah kamar tidur tante. Tempat tidur size 200 yang besar dan dengan bedcover yang masih tertata rapi. Aku angkat tubuh tante dengan memegang kedua paha tante, kedua kaki tante pun refleks melingkari tubuhku, kontolku yang tegang masih tertutup celana mulai memaksa masuk ke memek tante yang juga masih tertutup lingerie. Kemudian aku lemparkan sang tante ke kasur. Buuuuukkkkkk…… setelah itu aku membuka celana dan kaosku segera. Tante juga bermaksud untuk membuka lingerienya namun aku hadang "Jangan tan, nanti aku bantuin…" aku serang tante, mencumbunya dengan ganas, kami bergumul hebat dalam waktu singkat tempat tidur tante yang rapi sudah gak karuan. Aku yang sudah belingsatan mencoba membuka lingerie tante. Tapi aku tidak sabaran hingga lingerie tante robek. "Maaf tante… nanti aku ganti" "sudah gak apa-apa ayo ngentot saja”. And here is the moment of truth. Kepala si Otong sudah nangkring ke mulut goa si tante. Perlahan-lahan aku masukkan. "Blessssss…." "AaaaAAAAaaAAkkkkhhhh…. enak beeeeb" uuuuughhhh perasaaan tadi kontol kamu kecil deh, kenapa kalau sudah masuk berasa tebal banget". Sialan nih tante, sebagai hukuman, aku hentakkan keras-keras hujamanku sekali, cukup sekali itu Tante langsung banjir dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sebagai reaksi genjotanku. Aku lanjutkan genjotanku bervariasi, posisi kami masih misionaris. rpm rendah berganti-ganti cepat-pelan-cepat-pelan, biar gak terlalu capek. Terasa tante mesinnya sudah mulai panas, kami bercinta dengan posisi ini lama sekali, aku sangat menikmati setiap jengkal tubuh kenyal tante. Mungkin tante sudah mulai bosan, tante pun mengambil kendali agar kami berubah posisi. Kami berguling kesamping, kontolku terlepas sebentar namun tante dengan sigap langsung memasukkan kembali kelubang memeknya. "Oooooouuuhhhhhh…..mmmm……" tante menggenjot perlahan-lahan hingga akhirnya dengan ritme konstan. Sesekali tante menciumi bibirku dengan begitu basahnya. Tante juga sesekali menggigiti putingku, selama posisi ini tanganku tidak pernah lepas dari kedua belah dadanya, bergantian aku menjilati puting ranum tante. Seperti yang aku bilang, puting tante sudah tidak pink lagi, namun aku tak peduli aku sangat menikmati menggoda tante dengan jilatan-jilatan ini. Terasa genjotan tante semakin menjadi, moaning tante semakin keras "Aaaaaakhhhhh….. terus... terus... beeeebbbbbbbaaaaaakkkhhhhhh" Kemudian dia menarik kedua tanganku dari toket-nya dan dengan satu tangan meletakkannya jauh di atas kepalaku sedangkan tangannya yang lain dengan erat menjambak rambutku, aku seperti tawanan yang disekap agar tidak kabur. Lalu masih dalam posisi woman on top kedua kaki tante mencoba melingkari badanku sampai-sampai aku harus mengangkat pantatku agar kaki tante ini bisa masuk ke bawah. Aku serasa di lilit ular anakonda. Seperti sedang bergulat aku pun berusaha keluar dari kuncian tante, kakinya memiting tubuhku sambil tetap menggenjot kontolku. Saat erangan tante semakin keras dan genjotannya semakin kencang, akhirnya…. SRRRRrrrtttt aku merasakan dinding vagina tante berdenyut-denyut hebar memijat batang kontolku. Tante sedang orgasme. "Oooouuuuhhhhhhh……hhhhhhhhhhhhhh…. hhhhhhhhhh….. hhhhhmmmmmhhhhh..... hhhhhhhh" Nafas tante yang tadinya gak karuan, perlahan seperti terbuang lega semua. "Nikmat sekali bercinta dengan kamu Bert" "Enak sih enak, aku belum keluar nih Tan" ujarku protes. "Iya deh… cowok itu makin lama makin bagus? Istirahat sebentar ya, Tante janji pasti bikin kamu crot kok, kalau gak juga berarti kamu ini hebat sekali, dan tante gak akan ngasih kamu izin pulang sebelum kamu crot", Aku memang ada 'kelainan', Aku ini lama sekali crotnya, aku bisa 3 jam bercinta dan tidak crot juga. Apalagi kalau menggunakan kondom. Aku setengah bangga, kebanyakan wanita-wanita yang aku entotin malahan protes karena aku terlalu lama. Dan dikala si otong lagi cape, bukannya cepet crot, yang ada malah mengambek total. Ah goblok. GGggrrrrkkkkkkkkggrkkgrrrkkk…. "Ehh bunyi apa tuh?" tanya Tante. "Perut kamu ya? hahahaha, sudah gendut, lagi tengah-tengah ML kok bisa-bisanya laper?" "Yah si tante, kepalaku, perutku sama kontolku itu yang mengatur departemennya beda-beda, jadi bisa saja laper", "ya sudah kita break dulu deh ya Bert, aku pesan bakmi dulu, habis makan kita lanjut gulat lagi, Tante mau ber-ronde-ronde sama kamu, Wek..!!!" Aku lihat jamku sudah jam 7 malam. Bisa balik subuh nih? Akhirnya setelah makan dan istirahat sebentar dengan ngobrol-ngobrol, kami melanjutkan pertarungan kami. Malam itu hingga pagi, kami bercinta 4 ronde, aku ngecrot 2 kali jadi total dengan yang sore/siang 5 ronde dengan skor 2-5. Itu diluar squirt-an Tante. "Tante, makasih ya hari ini aku puas sekali", "Aku yang terima kasih Bert, kamu hebat sekali, sepertinya ini dendam 2 bulan gak ML ya? kapan-kapan kita main lagi ya", "Pasti Tant, aku siap melayani Tante kapan pun Tante mau", "Aku juga sebaliknya Bert, kalau kamu yang perlu bilang aku saja". Aku tersenyum dan bilang "Aku balik ya Tant" jam di posisi 3 pagi. "Tanggung beb, nginap saja sampai besok, ehh ini udah besok ya? Kalau pulangnya besok aku janji aku mandiin kamu deh".
Siapa yang bisa menolak ditawarin begitu.
Akhirnya tau sendirilah....
Hahaha...
TAMAT.
****************
Cerita lainnya Disini


No comments:

Post a Comment